Sendiri

Sendiri
Episode 48


__ADS_3

Raka melihat Darvin yang sedang menggendong perempuan lain dengan tergesa-gesa. Ia pun menghampiri Darvin, "siapa dia?" Tanya Raka geram. Livy yang melihat Raka keheranan.


"Raka kamu tolong adik saya". Pinta Darvin khawatir.


"Baiklah bawa Dia kesini". Tunjuk Raka yang mengarah ke ruangannya.


Livy terpesona melihat Raka, Ia terus menatapnya tanpa henti, sehingga Livy lupa dengan tangan kirinya yang terkilir dan tapi Raka terus memeriksa tangan Livy, Raka mulai merasa terganggu sehingga Ia berdehem agar Livy berhenti menatapnya.


" Sudah, hanya sedikit terkilir tidak apa-apa".


"Mas, Ia siapa mu?" Tanya Livy penasaran pandangannya tetap ke arah Raka.


"Hm, Ia". Darvin kebingungan menjawab pertanyaan Livy.


" Aku Kakaknya Naomi". Sergah Raka kilat.


"Kok aku baru tahu Naomi punya kakak dokter". Ucap Livy lirih.


" Kau tahukan Naomi orang yang tertutup". Tandas Darvin.


"Oh iya, Dok. Kenalin nama ku Livy adiknya Mas Darvin dan teman kuliahnya Naomi". Ucap Livy memperkenalkan dirinya seraya menjulurkan tangan kanannya.


" Hai, aku Raka". Raka membalas tangan Livy.


"Sudah, ayo kita pulang". Cegat Darvin menarik adiknya untuk pulang.


" Dokter Raka, tinggal dimana?" Tanya Livy.


"Dirumah Naomi". Balas Raka tersenyum.


" Kapan-kapan aku main kesana ya". Kata Livy lalu pergi meninggalkan Raka.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang dalam mobil...


"Mas, kakaknya Naomi ganteng ya". Ucap Livy terpesona.


" Kamu tertarik ya?" Tanya Darvin melirik sinis ke Livy.


"Kenapa Mas tatapannya seperti itu?" Livy bertanya balik. "Mas kita kerumah Naomi yuk". Ajak Livy.


" Iya nanti saat tanganmu telah sembuh".


Wah aku tidak nyangka Naomi punya kakak yang begitu ganteng, jarang-jarang bisa lihat orang seganteng itu di kota B, di banding Hans orang paling ganteng di kampus dan Mas Darvin, Dokter Raka lebih ganteng. Gumam Livy senyum-senyum sendiri. Darvin yang melihat hal itu jadi merasa adiknya mulai gila.


"Apa kamu butuh dokter kejiwaan?" Tanya Darvin membuyarkan lamunan Livy.


Dengan tatapan tajam melihat ke arah Darvin karena kesal mendengar pertanyaannya, "Mas tuh yang butuh". Balas Livy sewot.


" Yah kamu senyam senyum sendiri ". Sergah Darvin tertawa.


" Mas kamu emang gak pernah senyam senyum sendirian selama merasakan cinta?" Tanya Livy mengejek.


"Yah aku lupa Mas Darvin manusia gunung es, yang ketika jatuh cinta tidak pernah bisa jadi bucin". Cercah Livy sewot.


" Apa itu bucin?" Tanya Darvin penasaran.


"Astagaaaa, hari gini Mas Darvin gak tahu apa itu bucin? Helllloo Mas kudetnya jangan terlalu kampungan". Ejek Livy.


" Jawab ya jawab saja tidak usah mengejek". Sewot Darvin geram.


"Kasihan banget Naomi punya pacar dari luarnya modis, tapi dalamnya nol". Cercah Livy.


" Kenapa kamu dari tadi cerewet? Aku hanya tanya satu, kamu jawabnya panjang kali lebar"

__ADS_1


"Yah, Mas sih bucin aja gak tau malu-maluin banget". Livy nyerocos.


" Hah, sudahlah. Apa susahnya sih tinggal jawab". Kata Darvin geram.


"Makanya Mas sekali-kali bergaul jangan hanya kantor dan Naomi aja terus, akhirnya Mas jadi kudetkan". Lanjut Livy yang tidak berhenti mengejek Darvin.


" Cukup yah Livy, Mas tidak suka kamu cerewetnya terlalu ngedrama". Tegur Darvin geram. Livy pun diam dan duduk dengan tenang di mobil.


Ketika mereka tiba dirumah, Darvin dan Livy melihat Sarah sedang menangis dalam pangkuan Bu Alma sembari mengelus-elus rambut panjang Sarah. Livy yang geram langsung menarik Sarah dengan tangan yang satunya.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Livy dengan tatapan melotot.


"Tante". Tanpa menjawab pertanyaan Livy, Sarah menangis manja dan berlari kearah bu Alma. Darvin yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala.


" Mah, ngapain bela orang kasar seperti dia". Ucap Livy emosi. "Mama tau tidak, Ia mendorong ku sampai tangan kiriku terkilir". Lanjut Livy. Bu Alma melepaskan genggaman Sarah lalu kearah Livy dengan rasa khawatir.


" Sayang, anak Mama. Jadi tangan mu kenapa?" Tanya Bu Alma.


"Untung saja terkilirnya tidak apa-apa. Apa mama mau orang seperti dia masuk ke keluarga kita?" Tanya Livy sewot.


"Sarah, kamu keterlaluan". Bu Alma melotot tajam ke arah Sarah.


" Tante, aku minta maaf. Aku gak sengaja, aku pikir yang pelukan sama Darvin itu Naomi". Sergah Sarah lirih.


"Alasan aja kamu, mendingan Naomi yang jadi ipar ku dari pada dia". Tegas Livy emosi dan pergi meninggalkan mereka.


" Sarah kamu tuh yah cari gara-gara. Livy itu kesayangan Darvin, bisa-bisa tante gak akan tolong kamu". Ucap Bu Alma panik.


"Tante aku beneran gak sengaja, aku gak tahu itu Livy".


" Makanya jadi perempuan tau aturan". Sergah Darvin sinis. "Mama lain kali tolong perjelas wanita yang mau di perkenalkan padaku, masih mending pilihanku meski asal usulnya tidak jelas, tapi sangat tahu sopan santun. Daripada yang jelas tapi tidak mengerti tata krama". Lanjutnya sambil senyum sinjs dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Sarah, lebih baik kamu berhenti mengejar Darvin. Tante tidak bisa menolong kamu karena sudah membuat Livy celaka. Kamu pulang yah". Ucap Bu Alma lirih seraya menyeret Sarah keluar dari rumahnya. Bu Alma sangat mengerti ketika Darvin marah besar Ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan Pak Aldi, meski usahanya untuk membuat Darvin menerima perjodohan dengan pilihannya, tapi ketika Livy dan Vania di sakiti maka Darvin akan membuat perhitungan dengan orang yang menyakiti mereka tanpa harus peduli siapa orangnya.


Dasar nenek tua peyot, aku tidak terima diusir secara tidak terhormat saat di kantor Darvin dan dirumahnya pun aku harus di usir seperti ini lagi, aku tidak akan tinggal diam untuk merebut Darvin. Gerutu Sarah dalam hati, Ia teramat kesal dan pergi meninggalkan rumah Darvin dengan emosi yang tak menentu.


__ADS_2