
Keesokan harinya, ruang kerja Darvin. Ram masuk dengan tergesa-gesa tanpa mengetuk pintu, membuat Darvin marah. "Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?"
"Maaf Bos, kali ini gawat". Ucap Ram dengan nafas tersenga-senga.
" Apanya yang gawat?" Tanya Darvin yang duduk santai di kursi kerjanya.
"Pengawal yang kau surukan padaku untuk menjaga Nona Naomi, mereka berkata kemarin sore Naomi dirumah dan tidak keluar rumah sampai sekarang".
"Apa?!" Darvin kaget, tanpa berkata Ia mengambil jasnya dan segera ke loby parkiran mobilnya, menancap gas kearah rumah Naomi.
Tiba dirumah Naomi, Ia melihat keadaan rumahnya sangat sepi dan pintu rumahnya tidak terkunci, Darvin berpikir "Mungkin kah Naomi sudah dibawah mereka".
Ia bergegas kekamar Naomi, membuka pintu kamar Naomi dengan sergap. Ia terperangah mendapati Naomi berbaring di kasur dengan mata terpejam dibalut selimut, Ia mendekati pelan kearah kasur Naomi. Saat mendekati tiba-tiba Naomi mengigau menyebut nama Darvin.
Apa kau telah mencintaiku? Kenapa kau terus memanggil namaku?" Batin Darvin dengan pandangan sayu kearah Naomi. Ia kemudian mencium dahinya, dan merasakan panas yang tinggi. Darvin kaget dan segera membuka selimut Naomi dan menggendongnya membawa kedalam mobil, menuju kerumah sakit.
Apa yang habis dilakukan wanita ini? Kenapa tiba-tiba tubuhnya sangat panas? Wajahnya begitu sembab, mungkinkah Dia menangis? Gumamnya lagi.
Setelah dokter menengani Naomi, Ia keluar dan berkata pada Darvin, "Tuan, pasien demamnya tinggi 40 derajat, harus diinfus beberapa hari. Sepertinya pasien kelamaan berendam".
"Apa". Darvin tercengang. " Terima kasih dok". ucapnya lagi dan berlalu menemui Naomi.
"Apa yang terjadi? Apa semua salahku?" Tanya Darvin lembut yang saat ini Naomi belum sadarkan diri. "Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu". Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Naomi kemudian tersadar dan membuka matanya perlahan-lahan, Ia merasa masih setengah sadar ketika membuka matanya Ia seperti merasa mimpi Darvin yang dilihatnya. Kemudian Naomi berkata dengan lembut, " Tuan Darvin".
"Jangan bicara lagi, aku disini. Istirahatlah, aku akan menemanimu". Tandas Darvin sambil menunduk dan mencium kening Naomi.
" Jangan pergi. Aku terbiasa dengan gangguanmu". Ucap Naomi sembari menitikkan air mata.
"Aku tidak akan pergi, istirahatlah". Kata Darvin sambil menyeka air mata Naomi.
" Kau tidak akan berbohong padaku? Bagaimana ketika aku bangun kamu sudah pergi?"
"Hei, aku tidak berbohong. Kau tahu akukan setiap kali berjanji akan menepatinya". Balas Darvin dengan lembut lalu membelai pipi Naomi.
" Aku takut, jika bangun yang ku lihat bukan Tuan Darvin". Ucap Naomi dengan pandangan sayu.
" Selamanya?" Tanya Naomi lagi.
Sembari menghela nafas yang panjang dan memberikan senyum kecil pada Naomi, Darvin menjawabnya dengan lirih, "Yah".
Naomi kemudian menutup matanya sambil menggenggam tangan Darvin, Ia benar-benar tidak ingin Darvin menjauh. Ketika tidurnya nyenyak, Darvin pun melepas tangannya dari genggaman Naomi dan berjalan kearah sofa rumah sakit yang sudah ada dikamar pasien. Dengan perasaan lelah Ia pun tertidur.
Pagi harinya, Darvin terbangun lebih dulu dan melihat Naomi belum bangun. Ia pun berinisiatif membeli makanan untuk dirinya dan Naomi tanpa membangunkannya.
Beberapa saat Darvin pergi, Naomi terbangun dan melihat Darvin tidak ada. Ia bergumam sambil menangis dan memegang dadanya yang terasa sesak. Harusnya aku tidak percaya padanya, Ia membohongiku. Aku harusnya tidak mendengar kata-katanya semalam yang menyuruhku untuk tidur agar bisa meninggalkanku.
__ADS_1
Saat tiba dikamar Naomi, Darvin membuka pintu dan kaget melihat Naomi menangis. Ia bergegas menghampiri dan bertanya, " ada apa?"
Naomi yang mendengar suara Darvin langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Darvin.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Darvin lagi dengan penuh keheranan.
"Aku pikir Tuan Darvin membohongiku dan pergi meninggalkan ku".
" Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan mengingkari janjiku".
"Kau bilang semalam, aku akan tetap melihatmu bangun, tapi aku tidak melihatmu". Imbuhnya dengan mengencangkan pelukannya semakin erat.
" Aku tidak tahu kau akan bangun saat aku beli sarapan untukmu, sekarang lepaskan aku dan kita makan bersama".
"Aku tidak mau. Kamu pasti akan pergi". Semakin erat memeluk.
"Yang ada aku akan mati dalam pelukanmu, karena pelukanmu semakin kencang".
" Hah?!" Tercengang dan melepaskan pelukannya dari Darvin.
"Setakut ini kah dirimu jauh dariku?" Tanya Darvin menatap Naomi lembut.
"Tidak perlu aku jawab". Balasnya dengan sombong.
__ADS_1
" Yah sudahlah, ayo makan. Aku akan menyuapi mu". Kata Darvin sembari menyiapkan makanan yang dibawahnya dari luar.