
Darvin mendatangiku saat tiba jam makan malam, Ia membawakan makanan kesukaan ku "nasi goreng hati/ampela".
"Kamu, belum makan malam kan?" Tanyanya sambil meletakkannya di meja ruang tamu.
"Hmm", jawabku. Ia kemudian berjalan mengarah kearahku dan duduk di sampingku.
"Apa kau sudah makan?" Tanyaku sambil menundukkan kepala ku. Ia terdiam dan menatapku. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanyaku lagi.
" Saya hanya heran, kenapa kamu tiba-tiba perhatian kepadaku?"
Sambil menghela nafas, "setidaknya setelah Tuan Darvin tahu masa laluku, kita bisa berteman saja".
"Lupakan, apapun yang terjadi dimasa lalumu saya akan tetap terima kamu". Kata Darvian dengan tegas.
__ADS_1
"Tuan Darvin, bertanyalah padaku apa yang ingin kamu tahu dimasa laluku, aku akan menjawabnya dengan jujur". Kataku sambil melihat kearahnya dan melemparkan senyum kepadanya.
"Ehem.. Ehem.. Ehem.. Baiklah". Katanya. "Siapa Rayyan & Ranvie?" Tanya Darvin dengan wajah dingin.
" Suami dan anakku". Jawabku sambil menundukkan wajahku, menyembunyikan kesedihanku.
"Apa!!!" Dengan wajah kaget. "Jangan berbohong kepadaku" Kata Darvin dengan nada geram.
"Kalau kau sudah menikah kenapa kau berada disini dan meninggalkan mereka di tempat asalmu".
"Mereka sudah tidak ada 3 tahun yang lalu". Kataku sambil mengeluarkan air mata. Aku sudah tidak tahan lagi, sehingga air matakupun jatuh. Darvin yang melihatku menangis, tiba-tiba memelukku.
"Jangan menangis, maafkan aku". Katanya dengan nada lembut. Aku terdiam mematung lagi saat dipeluknya, tangisanku makin meledak dalam pelukannya. "Menangislah sepuasmu, lalu pelan-pelan ceritakan padaku".
__ADS_1
"Maafkan aku, Tuan Darvin. Aku tidak bisa cerita kepadamu". Kataku sambil terisak-isak. "Aku tidak bisa". Lanjutku. Darvin melepas pelukannya perlahan-lahan lalu menyeka air mataku.
"Aku akan menunggumu sampai kamu siap". Katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku berdiri lalu berjalan kearah lemari yang berada diruang tamu dan mengeluarkan sebuah buku dan kembali kearah Darvin. "Ambillah ini Tuan Darvin". Kataku sambil menyerahkan buku itu kepadanya. "Semua pertanyaan mu akan terjawab dalam buku ini". Lanjutku, Ia pun menerima buku itu dengan wajah keheranan, Darvin berdiri dan memegang buku itu. "Ku harap setelah kamu membacanya, kamu bisa berhenti mencintaiku". Lanjutku sambil tersenyum dan penuh harapan Darvin berhenti mengejarku lagi. Ia hanya terdiam menatapku sesaat lalu berbalik kearah pintu berjalan keluar.
"Aku tidak tahu hatiku seperti apa setelah mengetahuinya". Kata Darvin sambil menutup pintu.
Setelah kepergiannya, aku berlari kekamar ku dan menangis sejadi-jadinya. "Maafkan aku Tuan Darvin, aku tak pantas untukmu, kamu berhak mendapatkan gadis daripada orang sepertiku", gumamku dalam hati dan bercucuran air mata yang membasahi pipiku.
Entah apa yang dipikirnya setelah membaca buku yang berisi tentang Rayyan dan Ranvie, akhirnya rasa penasaran Darvin selama tiga tahun tentangku pun akan Ia tahu. Aku ingin fokus kuliahku sesuai janjiku kepada Mama Manda (ibu mertua) setelah itu aku pulang, kembali dengan keluargaku, merindukan mereka semuanya.
Selama tiga tahun aku tak pernah pulang, hanya karena hatiku belum siap berada di tempat yang banyak kenangan bersama Rayyan dan Ranvie, terlebih lagi aku tidak bisa terima kenyataan saat pergi mengunjungi makam mereka, Mama Manda pasti akan mengajakku. Sebelum itu terjadi aku harus sudah siap, mereka tidak akan pernah kembali bersamaku. Gumamku lagi sambil menyeka air mataku.
__ADS_1