
Pada akhirnya Naomi kembali ke kota B selama beberapa minggu tidak ada kabar dari Darvin, hatinya dipenuhi rasa cemas dengan sikap Darvin yang tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar darinya. Naomi pergi ke kampusnya untuk memberhetikan dirinya, karena Ia tidak berhasil mendapatkan bukti selama seminggu sesuai perjanjiannya dengan pihak kampus. Naomi berjalan di setiap lorong kampus melewati kelas-kelas, di tengah perjalanannya Ia bertemu Pak Ardi Dosen bahasa inggrisnya.
"Hai, Naomi". Sapa PaK Ardi menghentikan langkahnya ketika berpapasan dgn Naomi.
" Hai, Pak". Sapa balik Naomi langkahnya pun juga terhenti
"Naomi, kamu sudah lama tidak datang kekampus ini, untung Tuan Darvin mengutus asistennya meminta izin karena Ayahmu meninggal". Ucap Pak Ardi. Naomi kaget, Darvin selama ini membantunya dari belakang.
" Hm, iya Pak. Ayah saya meninggal jadi saya meminta tolong pada Tuan Darvin". Kata Naomi senyum getir.
"Kamu sangat beruntung bisa dekat dengan Tuan Darvin, Dia tidak pernah sedikitpun seperti ini kepada seorang wanita".
"Pak Ardi terlalu berlebihan, saya dan Tuan Darvin hanya sebatas guru dan murid saja kok".
" Guru dan murid?!" Pak Ardi keheranan.
"Iya, Pak. Tuan Darvin guru bela diri saya sebelum saya masuk ke kampus ini, saya terlebih dulu belajar bela diri dengan Tuan Darvin, tapi hanya dua tahun".
" Baiklah, kamu keruangan rektor dulu, disana ada Pak Riko dan beberapa rektor menunggumu". Ucap Pak Ardi sambil pergi meninggalkan Naomi.
Naomi menghela nafas yang panjang dan sudah siap menerima hukumannya dari dosen, Ia juga sudah menyiapkan dirinya dikeluarkan dari kampus. Naomi berjalan dengan penuh rasa khawatir dan cemas karena tidak bisa membuktikan orang yang menyebarkan fotonya. Tiba di depan ruangan rektornya, Ia kembali menghela nafas yang panjang lagi dan mengetuk pintu.
Tok.. Tok.. Tok.. Terdengar dari luar suara ketukan pintu, Pak Riko berteriak dari dalam "Iya, silahkan masuk". Ucap Pak Riko dengan suara keras. Naomi masuk dengan gugup. " Naomi, akhirnya kamu masuk kembali".
"Pak, saya kesini mau minta maaf... " Ucap Naomi tapi dipotong oleh Pak Riko.
"Naomi kami sudah tahu siapa orang yang menyebarkan fotomu dengan Ayah angkat mu, mereka juga sudah datang dan menjelaskan kepada kami". Kata Pak Riko senyum. Naomi kaget mendengar hal itu, siapa yang membantunya selama Ia berada di kota X.
__ADS_1
" Maksud, Pak Riko mereka siapa?" Tanya Naomi penasaran.
"Pak Dika dan Bu Lia, mereka datang ke kampus. Setelah itu asisten Tuan Darvin yang bernama Ram membawa bukti bahwa Tasyi pelakunya. Tasyi juga sudah mengakuinya, sekarang kami tunggu bagaimana kamu mau memproses Tasyi? " Tanya Pak Riko.
"Apa?" Naomi kaget mendengar nama Tasyi. "Kenapa Tasyi melakukan ini?" Tanya Naomi balik.
"Urusan pribadi antara kau, Tasyi dan Hans". Jawab Pak Riko. Naomi tidak menyangka hanya karena Hans, Tasyi sampai senekat ini melakukan hal buruk padanya.
"Bagaimana pihak kampus akan memberinya hukuman?" Tanya Naomi dingin.
"Pihak kampus hanya memberinya skorsing selama dua minggu".
" Ini tidak adil". Gertak Naomi sambil teriak mengepalkan kedua tangannya yang mengarah ke bawah.
"Apa? Kenapa kau berteriak?!"Tanya Pak Dani kaget rektor kampus.
Pak Riko cemas jika Naomi akan membuktikan kata-katanya. "Bagaimana ini, Pak Dani?" Tanya Pak Riko.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini kepada orangtua Tasyi, agar mereka mau berkompromi dengan Naomi". Balas Pak Dani tenang.
" Bagaimana kalau orangtua Tasyi tidak mau berkompromi? Pak Dani tahu dibelakang Naomi ada Tuan Darvin".
"Tenanglah, Tuan Darvin pasti akan berpihak pada kita, orangtua Tasyi pasti akan meminta pada Tuan Darvin". Ucap Pak Dani senyum menyeringai.
Naomi tidak menyangka, Darvin ternyata membantunya selama ini dari belakang. Ia berjalan keluar menyusuri setiap sudut kampus dan taman kampus sembari berpikir ingin menemui Darvin. Ia pun bergegas ke kantor Darvin.
Tiba dikantor Darvin, Naomi menuju ke ruangan Darvin. Di depan ruangan Darvin, ada sekretarisnya yang sedang duduk fokus dilayar komputernya, menyadari kedatangan Naomi.
__ADS_1
" Maaf, Nona anda mencari siapa?" Tanya Bella sopan sekretaris Darvin yang telah berdiri mencegat Naomi masuk.
"Saya ingin ketemu Tuan Darvin". Balas Naomi.
" Mohon tunggu sebentar, saya sampaikan kepada Tuan Darvin". Ucap Bella yang kemudian masuk keruangan Darvin memberi tahukan seseorang mencarinya. Tidak lama kemudian, Bella keluar dan menyuruh Naomi masuk.
Naomi akhirnya bertemu Darvin selama beberapa minggu tidak saling mengabari dan bahkan bertemu.
"Ada apa?" Tanya Darvin ketus dan dingin sembari duduk di kursinya dan menatap layar laptopnya tanpa melihat Naomi sedikitpun bahkan tidak menyambutnya sama sekali. Naomi kaget mendengar ucapan Darvin yang sedingin es tidak seperti sebelumnya yang selalu lembut dan santai kepadanya, bahkan senang setiap bertemu Naomi.
"A.. A.. Aku... " Ucap Naomi gugup. Sikap Darvin membuatnya canggung dan tidak tahu harus berkata apa.
"Jika tak ada urusan keluarlah, aku sibuk". Usir Darvin dengan lantang. Naomi semakin tidak percaya, Darvin mengusirnya secara tidak sopan bahkan begitu kasar. Naomi semakin heran dengan sikap Darvin.
" Itu.. Eng.. Aku mau mengucapkan terima kasih telah membantuku masalah dikampus". Ucapnya dengan senyum getir.
"Tidak masalah, itu sebagai permohonan maafku karena sudah menamparmu". Ucap Darvin dingin.
" Apa boleh aku membalasmu dengan meneraktirmu makan siang hari ini?" Tanya Naomi canggung.
"Tidak perlu, itu bantuan terakhir dariku". Jawab Darvin lagi.
Hah? Ada apa sebenarnya? Kenapa Darvin berubah? Apa aku berbuat salah kepadanya? Tapi kenapa Ia tidak ngomong padaku soal kesalahanku? Sikapnya membuatku bingung. Huh. Gumam Naomi sambil menghela nafas yang panjang.
" Apa aku berbuat salah kepadamu?" Tanya Naomi lagi sembari meneteskan air mata. Darvin yang melihat hal itu jadi kaget. "Maaf aku mengganggumu, aku akan pergi dan ini juga pertemuan terakhir kita". Ucapnya lagi sambil menyeka air matanya dan berlari keluar dari ruangan Darvin.
Darvin terdiam mematung duduk dikursinya. Tidak bisa berkata apa-apa lagi kepada Naomi, Ia bersikap dingin terhadap Naomi karena memutuskan untuk berhenti mengejarnya, melihat air mata Naomi jatuh Ia kembali luluh. Darvin sebenarnya tidak bisa menahan diri tidak bertemu Naomi dalam sehari, tapi setelah tahu mendalam tentang masalalu Naomi Ia makin cemburu. Beberapa minggu Ia berusaha melupakan Naomi, tapi tetap saja tidak bisa, Ia bahkan diam-diam mencari tahu tentang Naomi.
__ADS_1