
"Kenapa kau menangis diluar?" Tanya Darvin yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Naomi.
Naomi sesegera mungkin menghapus air matanya dengan tangan, "tidak ada aku hanya teringat Ayah". Jawab Naomi bohong.
" Kau memang tidak pandai berbohong". Ujar Darvin seraya mendekatkan wajahnya ke Naomi. "Apa kau pikir aku mudah di bohongi? Biar ku tebak kau menangis karena Raka?" Tanya Darvin suram.
"Ti.. Ti.. Tidak, aku benar-benar lagi mengingat ayahku, tidak ada hubungannya dengan Mas Raka".Jawab Naomi ketakutan.
"Kalau bukan karena Raka, kenapa kau menangis diluar?" Tanya Darvin menaikkan alisnya.
"Itu.. Itu.. Itu karena aku tidak mau ditahu oleh Mas Raka aku lagi menangis".
Darvin kemudian menarik wajahnya yang terlalu dekat dengan Naomi. " Apa kau benar-benar masih ingin merahasiakannya padaku?" Tanya Darvin datar.
Naomi tertegun, Ia tidak paham apa yang di bicarakan Darvin. "Apa maksud mu?" Tanya Naomi balik dengan keadaan bingung.
Darvin menarik tangan Naomi dengan kesal dan mengajaknya masuk ke mobil lalu menancap gas mobilnya. Naomi patuh mengikuti Darvin. Mobil Darvin berhenti di sebuah hotel berbintang lima, Naomi keheranan. Ia menarik tangan Naomi keluar dari mobil dan mengajaknya masuk ke hotel lalu memasan kamar. Naomi terkejut dan memikirkan hal yang tidak-tidak soal Darvin, tapi Naomi hanya terdiam saja, Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Darvin kepadanya. Tiba di kamar Ia menarik tangan Naomi lalu menghempaskannya ke tempat tidur.
"Aa.aa.. Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Naomi ketakutan.
Darvin mendekatkan dirinya ke Naomi dan Ia berada tepat di atasnya, Naomi ketakutan dan gemetar. "Aku ingin kau membuktikan cintamu". Jawab Darvin datar.
"Tunggu, maksud mu bukti seperti apa?" Tanya Naomi lagi.
"Tentu saja kau pasti sudah pernah melakukannya, tidak perlu bertanya lagi". Jawab Darvin sembari membelai pipi Naomi.
__ADS_1
" Mas Darvin bukankah kau berjanji tidak akan menyentuh ku sampai aku menjadi istrimu?"
"Aku berubah pikiran". Balas Darvin dingin.
" Aku tidak mau, aku ingin pulang". Ujar Naomi sembari memberontak dan mendorong tubuh Darvin yang terus berada di atasnya, tapi gagal karena tubuh Darvin yang begitu kuat menahan serangan Naomi.
"Jujur pada ku apa hubunganmu dengan Raka". Ucap Darvin sembari tangannya terus meraba tubuh Naomi dan mencium lehernya.
"Ah,, ah,, ah.. Baik, baik aku akan jujur, jangan seperti ini". Ucap Naomi menangis. Melihat Naomi menangis Darvin kemudian bangun, berhenti mencium leher dan meraba tubuh Naomi. Ia kemudian menarik Naomi dalam pelukannya karena merasa bersalah hampir hilang kendali akibat cemburu butanya. Naomi pun menceritakan semuanya.
"Kenapa kau tidak jujur padaku dari awal?" Tanya Darvin geram seraya melepaskan pelukannya dari Naomi.
"Maafkan aku, aku pikir Mas Darvin tidak akan peduli masa-masa SMA ku". Jawab Naomi sedih.
"Apa itu?" Tanya balik Naomi.
"Bolehkah aku mencium bibirmu?" Tanya Darvin malu-malu.
"Hah!" Naomi tertegun. Tanpa menunggu jawaban dari Naomi, Darvin pun pelan-pelan memajukan wajahnya lalu mereka saling berciuman mesra, tidak ada perlawanan dari Naomi, mereka berdua sama-sama menikmatinya.
Naomi merasakan ciuman lembut dari bibir Darvin, Ia menikmatinya bahkan Ia lupa dengan rasa takutnya saat Darvin hampir meminta hal yang lebih dari dirinya. Ciuman pertama kalinya setelah 4 tahun Ia mengenal Darvin, Ia tak menyangka jika Darvin meminta izin untuk mencium bibirnya. Setelah mereka menikmatinya beberapa menit, Darvin kemudian mencium jidat Naomi sembari berkata dengan lembut, "maafkan aku jika aku keterlaluan hari ini".
" Hmm, ya". Jawab Naomi singkat seraya masih menundukkan kepalanya karena malu-malu.
"Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi sebelum kamu menjadi istriku". Jelas Darvin tersenyum. Naomi hanya terdiam, Ia masih tak bergeming. " Kecuali ciuman di bibir". Tegas Darvin. Naomi mengangkat kepalanya karena kaget.
__ADS_1
"Tidak, jangan lagi". Tolak Naomi.
" Bukankah kamu juga menikmatinya barusan?"Tanya Darvin senyum menyeringai.
"Pokoknya aku tidak mau merasakannya lagi". Ucap Naomi kesal.
" Oh tapi aku akan tetap ingin, bahkan masih ingin sekali lagi sebelum keluar dari kamar hotel". Sergah Darvin tertawa. Ia kemudian mendekat Lagi kearah Naomi yang tidak beranjak dari tempatnya. "Aku tahu kau juga pasti masih menginginkannya".Bisik Darvin tersenyum nakal. Naomi mengarahkan wajahnya ke Darvin dengan sangat kesal.
" Ayo kita pulang, aku lapar". Tegas Naomi.
"Tunggu aku disini, aku ada rapat, jika kau lapar pesanlah makanan dan diam duduk disini sampai aku kembali". Tandas Darvin sembari merapikan kemeja dan jasnya.
" Uangku tidak cukup untuk membayar makanan disini". Ucap Naomi merendah.
Darvin melirik ke arah Naomi tiba-tiba wajahnya menjadi suram, "apa aku bilang kau yang membayarnya?"
"Hm, baiklah aku akan makan membuatmu sampai bangkrut". Ejek Naomi seraya mengeluarkan lidahnya.
Darvin berjalan kearah Naomi lalu mengangkat dagunya dan berkata, " Hanya memberi makan seekor badak rakus seperti mu tidak akan membuatku miskin".
"Apa!" Naomi kesal dan tidak ada habisnya mencercah Darvin karena mengatainya, tapi Darvin tidak mengindahkannya.
"Makan dengan tenang disini, jika kau macam-macam aku akan menghukum mu melebihi ciuman tadi". Ancam Darvin senyum nakal. Ia pun keluar dari kamar dan meninggalkan Naomi sendirian.
" Orang macam apa kamu, tiba-tiba lembut, tiba-tiba meyebalkan dasar manusia bunglon". Teriak Naomi kesal sembari melempar bantal hotel karena geram kepada Darvin.
__ADS_1