
Darvin tiba di kota S, langsung menuju rumah sakit X. Ia berlari menuju kamar Naomi yang ternyata sudah sadar, Naomi kaget melihat Darvin ada di depan matanya.
"Omi". Raut wajah yang cemas, berjalan pelan menuju kearah Naomi yang melihatnya keheranan.
" Loh, Tuan Darvin kenapa kamu bisa tahu aku ada disini?"
"Aku menelpon mu, dokter yang mengangkatnya".
" Tuan Darvin datang karena khawatir denganku?"
"Tentu saja".
" Aku tidak apa-apa".
"Kenapa kamu bisa pingsan dari semalam tidak sadarkan diri?"
"Aku hanya kurang istirahat, kelelahan dan stres".
" Kamu memikirkan kuliahmu?"
"Bukan, aku tidak memikirkannya lagi, kondisi Ayahku lebih penting. Aku sudah pasrah jika harus dikeluarkan dan mengulang lagi semua".
" Aku ada disini, tidak usah khawatir". Ucap Darvin menenangkan Naomi, sambil mengelus-elus kepalanya.
"Aku tidak ingin merepotkan siapapun, lagian Tuan Darvin bukan siapa-siapa ku".
" Hei, kamu ini masih belum mau mengakuiku sebagai calon suami".
__ADS_1
Raka yang mendengar hal itu kaget dari balik pintu. Ia telah lama menunggu Naomi, alasannya pergi dari kota S karena dari awal Raka menyimpan perasaan terhadap Naomi. Kembalinya ke kota S tujuan utamanya agar Ia bisa memiliki Naomi, tapi tidak menyangka Ia membiarkan Naomi pergi meninggalkan kota S dan berharap setelah kembali Naomi bisa melupakan kakaknya, ingin mencoba mendekati Naomi. Ia pun kesal dan langsung menerobos masuk.
"Apa? Calon suami?"
"Mas Raka".
" Omi, apa benar dia calon suami kamu?" Tanya Raka penasaran.
"Siapa kamu langsung main masuk tanpa permisi?"
"Aduh kalian ini, tenanglah. Aku tambah stres nih kalau kalian emosi".
" Dokter ini masuk tidak sopan". Ucap Darvin ketus.
"Mas Raka, kenalkan ini Tuan Darvin guru bela seni ku selama di kota B. Tuan Darvin, ini Mas Raka adik iparku, adik dari Mas Rayyan".
Kelihatan dari ekspresinya, kalau Ia menyukai Omi. Tidak akan ku biarkan siapapun memilikinya, hanya aku yang boleh memiliki Naomi seutuhnya. Batin Darvin dengan sorot mata tajam kearah Raka. Raka juga membalas tatapan Darvin dengan penuh kebencian.
Beberapa jam setelah Naomi pulih, Ia keruang rawat ayahnya. Ia terus menerus menangis, sesekali mencium tangan Pak Arka. Darvin dan Raka yang menemani mereka diluar, dibalik kaca memperhatikan kesedihan Naomi.
" Aku tahu kau mencintai mantan iparku kan?" Tanya Darvin memulai.
"Itu bukan urusan anda, Tuan Darvin". Jawab Raka ketus.
" Ku beritahu, Naomi hanya milikku".
"Kau belum memiki Naomi sepenuhnya, Ia juga belum menjadi apa-apamu".
__ADS_1
" Cepat atau lambat Naomi akan memilihku, selama dikota B akulah yang menemaninya".
"Kau pikir, bisa memenangkan hatinya? Kau salah. Naomi tidak bisa melupakan kakakku".
" Jadi kau berpikir, karena mirip dengan Tuan Rayyan, Omi akan memilihmu? Jangan terlalu kepedean".
"Kita berdua sama-sama tahu, Omi tidak bisa melupakan sosok kakakku. Hanya aku yang tahu bagaimana cara agar Omi menjadi milikku".
" Oh, apa kamu ingin menggunakan trik cara kakakmu memperlakukannya selama hidup?"
"Bagaimanapun caraku, itu adalah urusanku".
" Apa kamu tidak berpikir sebelumnya? Orangtuamu akan setuju kau menikahi mantan adik iparmu?"
"Terus apa kau pikir, orangtuaku akan melepas Naomi keorang lain? Naomi itu menantu kesayangan dirumahku, sangat disayangi oleh ibuku".
Darvin terdiam mendengar hal itu, Ia berpikir dan mengingat kata-kata Naomi soal Ibu Rayyan yang tidak akan mau melepasnya menikah lagi. Raka yang melihat Darvin terdiam berlalu meninggalkannya dan masuk keruangan Pak Arka.
" Omi, makanlah dulu". Ajak Raka.
"Aku tidak lapar, Mas".
" Omi, kalau kau sakit lagi, bagaimana bisa kau menjaga Ayahmu".
"Aku tidak lapar, aku hanya ingin bersama Ayahku, aku hanya ingin terus menemaninya" Teriak Naomi terisak-isak. Raka yang melihat air mata Naomi sangat sedih, Ia mengerti dan paham perasaannya.
"Baiklah, aku keluar. Jika kau ingin makan, pergilah mencariku, ingat jaga kondisimu jangan sampai kamu pingsan seperti kemarin". Ucap Raka sambil mengusap-usap bahu Naomi dan meninggalkan Naomi.
__ADS_1