Sendiri

Sendiri
Episode 15


__ADS_3

Sepulang kampus Naomi bergegas pergi bekerja kembali, Ia mendapatkan pekerjaan di supermarket meski gajinya tidak sebesar sewaktu di restoran, Ia menerimanya.


Naomi tidak berputus asa untuk kehidupannya dikota orang. Tidak mau membuat orangtua Rayyan terbebani.


Bertemu dengan bos yang baik, membuatnya betah bekerja meski gajinya lumayan menurutnya.


"Sore, Naomi". Sapa Pak Dika.


"Sore, Pak. Maaf hari pertama terlambat beberapa menit".


"Tidak apa, tidak mudah bagimu kerja sambil kuliah, saya paham".


"Terima kasih, Pak Dika sudah mau mengerti".


"Bapak berterima kasih sama kamu, karena mau bekerja disini dengan gaji yang tidak besar".


"Setidaknya Pak Dika mau mengerti kondisiku".


"Ya sudah, kamu ganti baju lalu jaga toko yah. Saya mau pulang, menghitung-hitung stok dirumah saja".


"Baiklah, Pak Dika". Ucap Naomi sambil bergegas keruang ganti.


"Na, saya pulang ya. Jam 9 malam kamu tutup toko sendiri bisakan?" Tanya Pak Dika.

__ADS_1


"Bisa Pak, tenang saja. Naomi akan merapikannya sebaik mungkin, hati-hati dijalan Pak". Kata Naomi sambil melambaikan tangannya.


Pak Dika orangtua yang hidup bersama istri tanpa adanya anak, mereka pasangan yang sangat baik. Sudah 10 tahun supermarket kecilnya berdiri, selalu bersama istri menjaganya. Naomi bekerja di supermarket milik Pak Dika, karena kasihan setiap pelamar yang mendaftarkan diri, mereka selalu mempertanyakan gaji.


Sejam kepulangan Pak Dika, istrinya datang.


"Sore, Nao". Sapa Bu Lia sambil menenteng rantangan.


"Bu Lia. Kesini sama siapa bu?" Tanya Naomi


"Sendirian, mau bawakan kamu makanan". Ucap Bu Lia sambil menyodorkan rantangannya.


"Astaga Bu Lia kok repot".


"Tidak repot, kebetulan selalu masak banyak, karena cuma makan berdua sama bapak, jadi kami tidak sanggup".


"Ayo makan dulu, Ibu tunggu kamu. Masakannya biasa saja, maaf ibu tidak tahu apa makanan kesukaan, Naomi".


Melihat ketulusan dari Bu Lia, Naomi sangat senang. Tidak menyangka pasutri ini akan baik dengannya.


"Naomi, makan apa saja kok bu, tidak pilih". Ucap Naomi sambil memasukkan makanan ke mulutnya. "Wah, enak sekali masakan Bu Lia". Puji Naomi.


"Ah, Naomi. Terima kasih loh, kalau kamu suka setiap kamu bekerja, Ibu akan bawakan".

__ADS_1


"Jangan, bu. Naomi tidak mau merepotkan Bu Lia".


"Tidak repot kok, Justru senang kalau Naomi suka masakan Ibu".


"Tapi Bu Lia jangan mengantar yah, Biar Naomi saja yang singgah mengambilnya".


"Tidak apa-apa biar Ibu sekalian jalan-jalan, kalau dirumah suntuk, mana si Bapak juga kadang sibuk. Ada Naomi Ibu tidak kesepian".


"Kalau begitu makannya sama-sama saja bu".


"Wah, bagus itu. Jadi keluarga harmonis ya".


Mendengar ucapan Bu Lia, Naomi keheranan. Ia bertanya-tanya dalam benaknya, Apakah Pak Dika dan Bu Lia merindukan seorang anak sampai mereka sibuk dengan diriku? Gumamnya dalam hati.


"Tentu saja, kalau Ibu Lia mau seperti hal itu Naomi bisa setiap jam makan".


"Terima kasih, Nao". Ucap Bu Lia terharu.


"Kenyang sekali Bu, terima kasih sudah mengenyangkan perutku". Ucap Naomi tersenyum.


"Ibu senang kalau Nao suka. Besok kesini lagi makan bertiga sama Bapak ya". Kata Bu Lia sambil bergegas pulang.


"Iya, Bu. Hati-hati dijalan. Sekali lagi terima kasih makanannya".

__ADS_1


Mendapat perlakuan sederhana tapi begitu istimewah bagi Naomi, Ia akan betah dengan pekerjaannya yang sekarang. Makanan yang biasa bagi mereka, tapi bagi Naomi luar biasa.


Hari-hari Naomi jadi lebih indah menemani pasutri yang tidak memiliki anak, Naomi merasakan seperti ada diantara keluarganya sendiri, rasa rindunya kepada orangtuanya sedikit terobati dengan adanya Pak Dika dan Bu Lia. Mereka juga senang dengan kehadiran Naomi.


__ADS_2