Sendiri

Sendiri
Episode 77


__ADS_3

Di pemakaman Darvin Naomi terdiam berdiri memakai pakaian dress hitam selutut sembari menggendong anaknya, Ia menatap kosong makam Darvin yang telah banyak orang hadiri saat itu. Alma histeris berteriak memanggil nama Darvin saat jasadnya telah terkubur, terlihat penyesalan mendalam di dalam dirinya. Sungguh tragis kematian Darvin, Naomi yang kala itu berdiri mematung tak bisa berkata apapun. Air matanya hanya bisa jatuh, Ia sangat syok dengan kepergian Darvin. Disampingnya ada Hans dan Manda, sementara Raka menenangkan Livy dan Vania, mereka menangis sejadi-jadinya di pemakaman Darvin. Naomi yang sedari tadi menatap dengan tatapan kosong, telinganya mendengar suara tangisan yang selalu menyebutkan nama Darvin. Ia kembali teringat dengan semua memori tentang Darvin termasuk perkataan Darvin yang menginginkannya hidup tanpa memikirkan dirinya. Entah perasaan apa yang saat ini menjelma direlung hatinya, Ia seperti ingin teriak sekencangnya, tapi memandang wajah putranya membuatnya jadi bisa mengontrol diri. Naomi menatap putranya yang masih berumur 3 hari itu, sedang tertidur lelap dengan di bodong, wajahnya yang seperti Darvin membuatnya sadar jika saat ini Tuhan telah mengirimkan pengganti Darvin. Angin kala itu berhembus sangat kencang, sehingga Manda mengambil anak Naomi dari gendongannya dan membawanya masuk ke mobil, namun Naomi tak bergeming. Ia tetap di temani Hans disisinya.


Terima kasih untuk hari-hari ku selama 4 tahun bersamamu, maafkan aku jika pernah membuat mu kecewa. Terima kasih telah memberiku penggantimu, aku tahu saat ini kau tersenyum menatapku dari kejauhan. Tenanglah disana, aku disini dengan putramu akan baik-baik saja. Batin Naomi dengan air mata yang tak mampu Ia bendung lagi, kini Ia pun menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hans yang terus berada di sampingnya menariknya kedalam pelukannya. Setelah pemakaman selasai, Naomi berjongkok di samping makam Darvin seorang diri, anaknya di bawa pulang oleh Manda dan Hans. Ia berjongkok menangis menatap lisan Darvin.

__ADS_1


"kau tau hal yang paling terberat dari kehilangan adalah kematian, kau tau Mas Darvin aku bukan orang yang kuat seperti perkiraan mu saat bertemu pertama kali denganku". ucap Naomi sembari menyeka air matanya. " apa kau tau hatiku saat ini? apa kau tau bagaimana aku menghadapi putramu kelak yang mencarimu? apa kau tau aku harus apa tanpamu?" Naomi seorang diri berbicara menatap lisan itu lalu memegangnya. "aku tidak menyangka semua ini, aku benar-benar terluka kehilanganmu". ucapnya lagi dengan air mata yang semakin deras. Tak lama hujan turun begitu deras, membasahi seluruh tubuh Naomi. Air matanya semakin deras diikuti hujan yang turun.


Naomi membaringkan tubuhnya di kasur menghadap ke kiri menatap jendela dan di sampingnya putranya yang masih tertidur. Ia terdiam membatu, menatap malam yang masih diguyur hujan keras kearah jendela. Naomi teringat beberapa hari saat Ia melahirkan. Ia teringat dengan Darvin yang berlumuran darah saat mendampinginya melahirkan buah hati mereka. Entah apa yang terjadi kala itu membuat Naomi tak bisa berpikir saat melihat orang yang dicintainya sedang berjuang untuk hidup.

__ADS_1


flashback 3 hari lalu...


"Omi, hiduplah untuk anak kita, jangan pedulikan aku. Aku sangat mencintai kalian berdua". ucap Darvin dengan suara parau, tubuhnya makin melemah dan kemudian batuk keras mengeluarkan darah. Raka cemas dan panik hingga Ia menyuruh para suster membawa Darvin keruang UGD agar ditangani sesegera mungkin, Darvin pun tak sadarkan diri. Membuat Naomi dihantui rasa cemas, Ia ingin pergi melihat Darvin namun tubuhnya masih lemah tak berdaya sehabis melahirkan, Ia hanya bisa menangis dan memohon pada Tuhan agar Darvin selamat. Namun takdir berkata lain, karena terlalu lama ditangani dan kehilangan banyak darah akhrnya Darvin meninggal dunia.

__ADS_1


" Omi, Darvin sudah tiada". ucap Raka lembut, Ia juga bersedih atas kepergian darvin. Saat itu juga detak jantung Naomi berhenti setelah mendengar ucapan Raka. Ia terdiam mematung sejak saat itu, tak berbicara hanya bisa menangis. Namun yang membuatnya kuat agar bisa mengontrol diri saat mendengar fakta, adalah putranya. Naomi menggendong putranya pergi mendekati jasad darvin yang terbaring kaku, wajahnya penuh luka dan lebam.


"mas aku membawa putramu untuk kau lihat" ucap Naomi dengan tatapan berbinar sembari menggendong buah hatinya. "mas kau bilang padaku kau akan jadi ayah yang paling bahagia, bangun dan kita urus bersama anak kita". sambungnya lagi dengan suara serak. Darvin tetap tidak merespon, Ia tetap menutup matanya. Sang bayi menangis keras di depan jasad Darvin, membuat Naomi tak menyerah untuk membangunkan Darvin. Usahanya gagal Ia hanya bisa pasrah dan mencoba menerima semuanya, Naomi menangis keras sembari masih menggendong anaknya.

__ADS_1


__ADS_2