
Setelah bercumbu dengan Naomi semalam, Darvin terbangun dari tidurnya dalam keadaan memeluk Naomi dan masih tak memakai sehelai apapun hanya selimut hotel yang menutupi tubuh mereka berdua. Melihat Naomi yang masih tertidur pulas, Darvin mengecup keningnya dengan mesra.
"maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukannya. Kau akan mengerti kelak, maksud keinginan ku kamu memiliki anak dariku". Bisik Darvin ke telinga Naomi yang masih tertidur, Ia membelai rambutnya dan menatapnya penuh dengan rasa sayang, matanya tak berhenti memandang wajah Naomi sesekali Darvin membelai pipinya. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sesaat Darvin masih berada di kamar mandi Naomi terbangun dan melihat sekelilingnya tak ada Darvin, Ia sangat marah dan kecewa. Melihat dirinya tak memakai apapun, Ia menangis sejadi-jadinya. Tak lama Darvin keluar dari kamar mandi memakai handuk sebatas pinggangnya saja. Naomi terkejut melihat Darvin yang dikiranya Ia telah pergi setelah mengambil keuntungan darinya.
"kau sudah puas?" teriak Naomi dengan kesal. "aku tidak akan mau melahirkan anak dari laki-laki yang tidak bertanggungjawab seperti dirimu". sambungnya. Darvin menghampiri Naomi yang masih terlihat tak bisa tenang, Ia duduk di pinggir kasur dengan tenang dan santai menghadapi sikap Naomi.
" kau harus mau, aku akan bertanggungjawab jika kau hamil anakku". tutur Darvin senyum kecil. Naomi menatap Darvin dengan penuh amarah, meski Ia menikmatinya namun bukan hubungan terjebak yang diinginkan Naomi, Ia tak akan bisa melanjutkan apapun jika harus hamil anak Darvin, Ia benar-benar dalam ketakutan, bahkan emosi yang tak stabil. Darvin mengecup kening Naomi dengan mesra, serta lembut. Lalu Ia menurunkan ciumannya ke bibir Naomi, hingga tatapan Naomi ke Darvin penuh kekosongan. Darvin menidurkan tubuh Naomi ke kasur, lalu Ia kembali menindihnya. Pagi itu Darvin kembali tergoda dengan Naomi hingga Ia tak mampu menahan hasratnya untuk mencumbui Naomi pagi itu. Naomi tak memberontak Ia membiarkan Darvin menggauli lagi tubuhnya, entah mengapa Naomi lagi-lagi menikmati rasa itu di pagi hari, Darvin makin ganas menyetubuhi Naomi, mencium bibir Naomi dengan lembut bahkan merabanya di bagian dada. Gesekan tubuh Darvin membuat Naomi sesekali mengeluarkan suara yang membuat nafasnya tersenga-senga. Pagi itu mereka masih saling menikmati kecumbuan yang terjadi di antara mereka.
*****
Raka yang semalam pulang tepat 00:00 tak mendapati Naomi di kamarnya hingga pagi menjelang. Ia sangat khawatir dengan Naomi yang akan berbuat sesuatu, Ia mencoba menghubungi Livy agar membantunya mencari Naomi. Ia juga takut memberi kabar ibunya, jika tahu caranya menjaga Naomi tidak becus, Manda pasti akan marah besar terhadap Raka dan takut jika Manda khawatir. Raka tak mau memberi tahu ibunya, padahal Ia sudah berjanji untuk terus memberi kabar soal Naomi setiap 1 jam.
"Vy, aku mau minta tolong padamu". tutur Raka bingung dari balik telpon. Livy mendengar suara Raka yang tak seperti biasanya, Ia sudah mengerti pasti soal Naomi.
" Dok, aku akan ketempat mu segera". ucap Livy memutus sambungan telponnya dan bergegas ke mobilnya menuju rumah Raka. Tiba dirumah Raka, Ia membuka pintu tanpa mengetuk karena khawatir tentang Naomi. Raka yang sedang duduk di sofa terkejut melihat kedatangan Livy yang Ia kira Naomi.
__ADS_1
"kamu buat aku kaget, aku pikir Omi". seru Raka yang masih terduduk gelisah di sofa. Livy memandang Raka dengan menaikkan alisnya, Ia menghampiri Raka.
" siapa omi?" tanya Livy dingin kini Ia dipenuhi rasa cemburu, Ia tak tahu jika Omi adalah panggilan Naomi di keluarganya. Raka menatap Livy dengan penuh keheranan.
"apa kamu bercanda? kamu tidak tahu siapa Omi?" Tanya Raka balik.
"kalau aku tau, aku tidak akan bertanya". jawab Livy sewot.
" huh". Raka menghembuskan nafasnya. "Omi itu panggilan Naomi dirumah, katanya kamu temannya masa gak tau. aku yakin Darvin pasti tahu". jelas Raka. Livy tertegun, meski Naomi adalah temannya, tapi Ia tak pernah tahu apapun soal Naomi, yang Ia tahu Naomi bisa memainkan musik piano, melukis dan murid dari kakaknya yang artinya Ia bisa bela diri, lebih dari itu Livy tak tahu apapun tentang Naomi.
" ada apa dengan Naomi?" tanya Livy mengalihkan pembicaraan karena niatnya datang hanya untuk Naomi.
" ini semua gara-gara Mas Darvin, jika sesuatu terjadi pada Naomi aku tidak akan pernah memaafkannya ". geram Livy sembari mengepal kedua tangannya.
" kamu duduk dulu". Raka menarik tangan Livy yang sejak tadi berdiri tepat di depannya dan mendudukkannya di sampingannya.
__ADS_1
"dok, apa kamu sudah hubungi ponselnya?" tanya Livy.
"sudah, tapi tertinggal dikamar. kita tunggu sampai siang jika tak ada kabar kita minta bantuan polisi untuk mencarinya". jelas Raka putus asa. Livy hanya mengangguk. itulah yang membuat Raka sangat cemas karena handphone Naomi tak dibawahnya pikirannya jadi kemana-mana memikirkan hal aneh yang akan dibuat Naomi.
*****
Setelah mereka keluar dari hotel jam 10 pagi, Darvin menatap Naomi dengan diamnya tak berbicara apapun. " apa kau lapar?" tanya Darvin, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Naomi, Ia hanya terdiam. meski Ia merasakan perutnya sangat keroncongan, karena dari siang kemarin tak ada makanan yang masuk. "Naomi aku tahu, aku salah telah melakukan hal ini padamu, bicaralah. kita makan lalu aku akan mengantarmu pulang". tutur Darvin sedih. Lagi Naomi hanya diam, pandangannya menatap kosong kearah depan, Ia memikirkan kehancuran dalam dirinya sejak semalam, ingin rasanya Ia mengakhiri hidupnya karena semua yang ada dalam dirinya kepahitan. saat itu Darvin membawa Naomi makan di tempat yang terpencil jauh dari orang-orang, setelah pesenan datang Naomi melahap habis makanannya tanpa mengindahkan Darvin di yang berada tepat di depannya. Darvin tak peduli sikap Naomi yang dingin terhadapnya, baginya setelah ini Naomi akan hamil anaknya dan Ia benar-benar mengunci Naomi dalam hidupnya. Setelah Darvin mengantar Naomi pulang, Ia bergegas kembali ke kantor, Raka yang melihat dari kejauhan kedatangan Naomi yang tampak lain, terlihat sangat pendiam dan tatapannya kosong. Raka dan Livy menghampirinya, namun Naomi tak memperdulikan mereka Ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Raka bingung dan putus asa menghadapi Naomi, namun Ia tak berani mengadukannya ke Manda.
"dok, sudahlah yang terpenting Naomi sudah pulang". imbuh Livy menenangkan Raka seraya mengusap pundak kekasihnya itu.
" yah, aku bingung harus berbuat apa! maukah kau menolong ku?" pinta Raka sembari memegang kedua tangan Livy.
"apa itu?"
"aku tidak terlalu memahami kota X, tolong bantu aku cari pembantu untuk membantu ku menjaga Naomi, aku tidak ingin terjadi lagi hal seperti ini. mama bisa-bisa menghabisi ku jika aku tak menjaga Naomi dengan baik". jelas Raka menatap Livy penuh harapan.
__ADS_1
" tenanglah, dirumah banyak pembantu, nanti aku suruh salah satu dari mereka kerumah dan menjaga Naomi ".
" Terima kasih". ujar Raka tenang.