
Tiba dirumah, Naomi heran pintu rumahnya tidak terkunci, padahal sebelum keluar Ia sudah menguncinya. Masuk ke dalam rumah dan menguncinya dengan rapat, masuk ke kamar. Betapa kagetnya Naomi melihat Darvin yang tertidur diatas ranjangnya.
Ia baru teringat, pintu rumahnya tidak terkunci karena Darvin masih saja tetap masuk dalam rumahnya meskipun Ia sebentar lagi akan menikah.
Mendengar bunyi-bunyi suara langkah kaki, Darvin pun terbangun. Melihat Naomi berdiri sambil membelakanginya, Darvin bangun dan langsung memeluknya tiba-tiba dari belakang.
"Aarrgggh", teriak Noami kaget.
"Ini aku, jangan ribut". Ucap Darvin dengan lembut.
"Tuan Darvin, lepaskan". Kata Naomi sambil meronta-ronta, tapi Darvin mengabaikannya, semakin Naomi menolak pelukannya, semakin Darvin mengencangkan pelukannya.
"Naomi, kamu hebat. Aku makin kagum denganmu", puji Darvin.
"Tuan Darvin, ini sudah malam. Pulanglah, aku ingin beristirahat". Pinta Naomi.
"Aku ingin disini malam ini".
"Tidak, aku tidak mau. Pulanglah". Usir Naomi.
"Kalau begitu, aku akan pergi asal kau mau menikah denganku".
"Bukankah kamu sudah memutuskan berhenti mengejarku?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa. Sudah ku putuskan aku hanya ingin menikahimu dan melupakan masa lalumu".
"Aku tidak mau. Aku lebih senang kamu sama Mona atau perempuan lain".
"Yah, sudah aku akan disini. Aku akan sering-sering disini, nginap disini sampai kamu mau menjadi istriku".
"Tuan Darvin, bisakah kita bicara baik-baik?" Tanya Naomi kesal
"Bicara saja, dari tadi juga bicara baik-baik. Kamunya saja meronta-ronta tidak jelas". Jawab Darvin dengan santai.
"Kita bicara baik-baik tidak berpelukan seperti ini, lepas". Pinta Naomi yang mulai tenang.
"Oke, kalau begitu ayo kita bicara sambil baring ditempat tidur". Goda Darvin.
"Tuan Darvin jangan makin aneh-aneh". Kata Naomi yang mulai kesal kembali.
"Kita duduk saja diruang tamu".
"Baiklah, kalau itu mau mu", kata Darvin sambil melepas pelukannya. "Ganti bajumu dulu, kamu bau asem". Lanjut Darvin kali ini mengejek Naomi.
Naomi makin kesal, tapi Ia menahannya. Karena mengingat Darvin adalah gurunya.
"Siapa suruh kamu meluk, keluar sana. Aku mau bersih-bersih diri, tunggu aku di ruang tamu".
__ADS_1
"Aku mau menunggu kamu disini saja".
"Tuan Darvin jangan uji kesabaranku". Ucap Naomi amarahnya makin memuncak diubun-ubunnya.
Darvin tertawa jahat sambil keluar dari kamar Naomi, Ia begitu puas mengganggu Naomi.
Beberapa saat kemudian, Naomi keluar dan menuju keruang tamu. Ia melihat Darvin duduk santai sambil meminum kopi yang Ia buat sendiri.
"Sejak kapan ini menjadi rumahmu? Buat apa-apa sendirian". Ucap Naomi dengan ketus.
"Sebentar lagi aku akan tinggal disini, harus terbiasa buat apa-apa dengan sendiri".
"Aku tidak mengiyakannya". Kata Naomi sambil duduk.
"Naomi, aku sudah memutuskannya. Aku akan mendatangi orangtua dan mertuamu, memintamu sama mereka baik-baik". Kata Darvin serius.
Naomi menghela nafas yang panjang, "Harus bagaimana membuatmu mengerti dengan statusku yang akan sulit diterima keluargamu".
"Tidak perlu mempedulikan mereka, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak ku cintai".
"Tapi aku tidak mencintaimu".
"Aku tidak peduli, nanti cinta itu akan tumbuh setelah kita menikah".
__ADS_1
"Pemikiran Tuan Darvin benar, kenapa Tuan tidak menikahi perempuan lain?" Tanya Naomi dengan sinis. "Cinta akan tumbuh nantinya setelah Tuan menikah, apa bedanya".
"Kamu benar, bedanya aku tidak suka mengenal perempuan baru. Kamu sudah lama ku kenal, jadi aku makin yakin sama kamu". Ucap Darvin yang tidak ingin kalah dari Naomi.