
Rumor di universitas B, yang tidak bisa membuat aku mundur itu memang benar. Anak laki-laki itu menyebarkannya ke orang-orang aku ini pendiam yang sangat kejan ketika diganggu. Ibaratnya, jangan menginjak ekor singa, jika tidak ingin diterkam. Tasyi tahu hal itu, hingga ia hanya berani menggertakku dan selalu mengusirku, ia takut kalau aku berbuat hal nekat kepadanya, terlebih lagi nama baiknya dikampus dan orangtuanya sangatlah dijaga dari hal-hal negatif.
Pukul 4 sore, Darvin mengirimkan ku pesan "Aku berada di parkiran kampusmu, untuk menjemputmu, kemarilah dan pulanglah bersamaku". Aku menghela nafas, dan bergegas ke parkiran kampus, ternyata benar disana terparkir mobil Darvin dan ia berdiri sambil menyender dimobilnya dengan melipat kedua tangannya.
Aku masuk ke mobil yang ia buka pintunya untukku. Diperjalanan, kami diam. Akupun bertanya "Ada apa? Tiba-tiba dikampusku menjemput".
"Tidak salahkan kalau menjemput calon istriku", katanya tersenyum.
"Tuan Darvin, aku belum memberimu keputusan soal masa laluku yang ingin ku ceritakan padamu, kenapa kau mengambil keputusan ini sendirian?"
"Aku tidak peduli, aku tetap menginginkanmu", katanya tersnyum.
Akupun terdiam, sambil bersandar dikursi mobil dan menatap jendela luar, akupun memerhatikan setiap jalan yang ku lalui, entah apa yang memasuki pikiranku, sehingga terlintas lagi Rayyan di benakku.
__ADS_1
Dalam lamunanku, Darvin tiba-tiba mengagetkanku. "Aku ingin mempertemukanmu dengan orangtuaku", katanya dengan wajah senang.
"Apa katamu? Apa kamu sadar dengan keinginanmu itu?" Tanyaku dengan keheranan dan mulai emosi. Darvin hanya terdiam. "Kamu belum tahu pasti masa laluku, belum mengenalku dimasa lalu aku seperti apa!" Lanjutku.
"Apa yang sudah ku katakan tidak bisa ditarik lagi". Kata Darvin dengan santai.
"Tidakkah kamu berpikir bagaimana perasaan orangtuamu, ketika kau memilihku yang asalnya tidak jelas." Kali ini nada suaraku meninggi karena sudah emosi menghadapi Darvin yang selalu seenaknya terhadapku.
"Pilihanku pasti mereka akan menyetujuinya. Tenanglah, orangtuaku pasti akan menyukaimu". Bicara yang masih tetap santai, sementara aku sudah semakin emosi.
Ia menghentikan mobilnya, "baiklah, lusa adalah penentuannya. Aku akan memikirkannya, setelah mengetahui masalalu mu". Akupun turun dengan penuh emosi, Darvin meninggalkanku seorang diri di jalanan, ini kemauanku.
Setiap jalan beberapa langkah aku berpikir, harus menceritakannya kepada Darvin, agar Ia berhenti mengejarku. Aku lelah dengan orang-orang egois yang tidak pernah memikirkan ku, memaksakan sesuatu yang tidak ku inginkan. 3 tahun Darvin benar-benar tidak pantang menyerah mengejarku, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku yang tidak pernah bisa melupakan Rayyan. Disaat seperti ini aku merindukan Rayyan, pelukannya, kasih sayangnya, ciumannya yang hangat, sentuhannya, belaiannya kepadaku dan caranya memanjakanku.Terbiasa dengan segala hal yang Ia berikan padaku dimasa lalu, sehingga aku menutup diriku untuk tidak menerima laki-laki manapun. "Mas Rayyan, aku rindu kamu. Hiks hiks hiks". Gumamku sambil terisak-isak dalam perjalanan pulangku.
__ADS_1
Tanpa ku sadari perutku merasakan lapar, aku singgaj di warung biasa dimana tersedia makanan favoritku Nasi Goreng Hati/Ampela.
Disaat makan sendiri, seorang perempuan menghampiriku. Keponakan dari Darvin "Vania Larasati".
"Tante Naomi, kamu sendirian ya?" Tanyanya dengan riang, Ia memang terlihat selalu ceria, karena usianya masih 15 tahun.
"Vania, bisakah kamu berhenti memanggilku Tante? Aku ini bukan tantemu loh". Kataku protes.
"Tapi, Om Darvin bilang tante Nao akan jadi Tanteku".
"Itu kata Om mu, bukan kataku Vania".
"Baiklah, jika kamu tak menyukainya, akan ku panggil kakaka saja".
__ADS_1
"Terserah dirimu, ayo duduk makan bersamaku", kataku mengajaknya. Ia pun duduk dimeja yang sama denganku, tepat didepanku.