Sephia

Sephia
Kekasih Gelap


__ADS_3

Matahari hampir menyembunyikan dirinya ke peraduan, Danar dan Sephia masih duduk di bangku taman, melihat banyak orang yang hilir mudik, suara anak-anak yang riuh bermain. Banyak pedagang kaki lima yang siap menjajakan makanannya di sana.


Sepiring siomay dan es jeruk sudah habis Sephia santap begitu pun Danar. Danar menikmati suasana seperti ini, tidak ada kata malu jika harus menghabiskan banyak waktu duduk di taman kota atau makan di lesehan pinggir trotoar.


Beda sekali memang jika ia menghabiskan waktu dengan Wulan, Wulan yang high class, pergaulan standar sosialita, kehidupan glamor para artis, model dan kalangan pengusaha. Perbedaan itu sangat jauh jika ia bandingkan dengan keadaan sekarang saat dia bersama Sephia. Danar rasa jika pun dia tak mempunyai harta dan menjadi orang biasa maka Sephia juga tak akan memperdulikan masalah kasta dan harta.


"Masih mau di sini?" tanya Sephia melirik Danar yang memperhatikan anak-anak di depan mereka yang sedang bermain bola.


"Sebentar lagi," ujar Danar menggulung lengan bajunya dan membuka sepatunya lalu berlari di rumput hijau itu bergabung dengan anak-anak bermain bola yang sedari tadi menarik perhatiannya.


Sephia tersenyum kadang tertawa melihat tingkah Danar yang mengecoh dan menggiring bola membuat anak-anak berteriak semakin riuh karena kesal saat Danar menggoda mereka. Berguling di lapangan itu dan di kerumuni anak-anak yang saling timpa tindih di atas tubuh lelaki itu.


Keadaan Danar sudah kacau saat kembali mendekati Sephia, banyak rumput yang tertinggal di bajunya bahkan di rambutnya. Danar berkali-kali membersihkan serpihan rumput-rumput itu.


"Sini aku bantu," ujar Sephia lalu berdiri di hadapan Danar.


Memunguti satu demi satu rumput yang hinggap di kepala Danar. Mata Danar tak lepas dari gadis itu, wajah Sephia begitu cantik alami walaupun make up yang ia kenakan sudah luntur. Sesekali Sephia mengibaskan tangannya di pundak bahkan di dada Danar.


"Sudah selesai," ujarnya, "ah sebentar yang di belakang belum aku bersihin," kata Sephia meletakkan tangannya pada pinggang Danar lalu meminta lelaki itu berputar.


"Sekarang sudah bersih," katanya lagi.


"Makasih," ujar Danar mencuri satu kecupan di pipi Sephia.


Wajah Sephia merona, malu iya, senang iya, bahagia apalagi. Seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Sephia membalas dengan tersenyum.


"Pulang?" Sephia menjawab dengan anggukan.


...----------------...


Mobil melaju bukan ke arah tempat tinggal Sephia. Mengarah keluar dari kota menuju Uluwatu Bali. Sephia mengamati Danar, gadis itu tak mengerti maksud Danar membawanya jauh kesana.


"Kita mau kemana?"


"Villa."


"Ngapain?"


"Tidur," jawab Danar tersenyum pada Sephia lalu membelai rambut gadis itu. "Aku cuma mau menghabiskan waktu dua hari ini sama kamu di sana ... jangan mikir yang iya-iya nanti bawaannya curiga terus sama aku," kekeh Danar.


"Kok tiba-tiba?" Sephia bertanya lagi.

__ADS_1


"Sudah aku siapin dari siang tadi," ujar Danar bahkan ia sudah membeli pakaian ganti untuk Sephia tanpa memikirkan sesuai tidaknya ukuran pada tubuh Sephia.


"Maksudnya?"


"Kamu cukup nikmati liburan kamu dua hari ini sama aku, dua minggu aku kira cukup buat kita berdua saling menjauh, dan aku gak bisa," mata Danar beralih pada Sephia lalu fokus kembali dengan jalanan di depan sana.


Jarak tempuh satu jam setengah, akhirnya mereka tiba di sebuah villa mewah dan asri. Mungkin villa keluarga Danar di Bali, Sephia hanya menebak, berada di atas bukit. Karena keadaannya sudah malam, mereka memasuki villa itu, beberapa menu makanan sudah tersaji di sana.


Di villa itu terdiri dari tiga kamar, ruang keluarga yang lumayan luas dan tergabung dengan dapur bersih. Terdapat jendela kaca serta pintu kaca yang terhubung ke balkon. Pemandangan dari balkon adalah lautan lepas. Sephia menyukai ini, udara yang sejuk bahkan sayup-sayup terdengar suara deburan ombak di bawah sana.


"Suka?" Danar sudah berdiri di samping Sephia di pinggir pagar pembatas.


"Villa kamu?"


"Keluarga," jawab Danar. Sephia mengangguk tanda mengerti.


"Bagus ... indah, walau malam pun masih terlihat indah lampu-lampu di bawah sana."


"Banyak hotel di bawah sana, kapan-kapan kalo kamu mau kita bisa kesana."


"Ngapain?"


Danar membalikkan tubuhnya bersandar pada pagar pembatas, lalu memandang Sephia. Rambut gadis itu berterbangan di tiup angin. Sephia sibuk merapikannya hingga Danar sendiri gemas melihat rambut itu menghalangi pandangannya.


"Phia ...."


"Hhmm."


Danar terdiam menghela nafasnya. "Aku rasa ... maksud aku, kamu mau mencoba memulai hubungan serius sama aku?"


Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirnya, lama Danar memikirkan ini. Dua Minggu dia memutuskan untuk mengambil resiko terbesar yang akan ia hadapi nantinya. Egois memang tapi bagi Danar melepaskan Sephia adalah hal terbodoh dalam hidupnya.


"Maksud kamu?" Sephia menatap lelaki itu tak percaya.


"Aku jatuh cinta sama kamu," jawab Danar.


"Aku gak tau semua tentang kamu," ujar Sephia.


"Kamu gak perlu tau, yang kamu harus tau adalah aku sayang kamu, aku cinta kamu cuma itu Phia," Danar meyakinkan gadis itu.


Danar berjanji pada dirinya akan segera menyelesaikan masalahnya dengan Wulan, namun Sephia tidak akan dia biarkan menjauh dari dirinya. Bagai menemukan berlian maka Danar tidak akan menyia-nyiakannya.

__ADS_1


"Dingin?" tanya Danar, "masuk?" Sephia mengangguk.


"Aku mau bersih-bersih badan aku," ujar Sephia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kamar mandi.


Danar meraih tangan gadis itu mendekatkannya pada tubuh Danar, menyematkan helaian-helaian rambut yang terjuntai.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku," katanya.


"Apa?" Sephia menahan tangannya di dada Danar.


"Kamu mau kita serius ngejalanin ini?"


"Aku gak tau," ujar Sephia menatap mata laki-laki itu lalu mengarah pada bibir Danar.


"Kamu gak usah mikir tentang aku, yang harus kamu pikir kamu bahagia sama aku, udah itu aja ... dan aku janji buat kamu bahagia," ujar Danar membalas tatapan Sephia. "Jangan ragu Phi ... aku bener-bener."


"Entah lah," jawabnya.


"Kamu cukup jawab iya Danar aku mau ... maka semuanya akan baik-baik aja," Danar membelai pipi gadis itu, lalu perlahan meraba bibir yang sudah ia lupa rasanya terakhir yang ia lakukan hanya mengecup singkat bibir itu.


"Jawab Phi," ujarnya mendekatkan wajahnya pada Sephia.


Sephia merasakan sapuan nafas hangat di wajahnya, sumpah demi apapun jantungnya seakan berdetak jutaan kali dari detak manusia normal. Adrenalinnya terpacu lebih cepat saat Danar menautkan bibirnya pada bibir Sephia mengecupnya lembut mata itu menatapnya dengan sendu.


"Kamu cuma jawab iya ... aku janji semua akan baik-baik aja."


"Iya ... aku mau," jawab Sephia lalu tersenyum dan terhanyut dalam ciuman yang memabukkan itu.


Membawanya melayang, Danar menyesap dan berulang kali menggigit bibir atas dan bawah milik Sephia. Saling bertautan dan memainkan lidah mereka di dalam sana. Danar menyudutkan Sephia pada sandaran sofa, tangan Danar berada di leher gadis itu sementara Sephia berkali-kali menarik ujung kemeja Danar.


Danar menarik ciumannya, ia melihat sendu mata gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya ... lebih tepatnya kekasih gelap sampai permasalahannya dengan Wulan ia selesaikan.


Danar tersenyum melihat gadis itu menatapnya malu-malu.


"Mau lagi? masih kangen kan?"


***weeessss angel iki angeel pokoknya


(Chida ngumpet di pojokan, takut di santet online 😂)


enjoy reading 😘***

__ADS_1


__ADS_2