
Setelah seseorang mengantarkan mobil ke kediaman Sephia, Danar mengajak Sephia untuk pergi berkencan. Tiga hari ini akan Danar habiskan bersama kekasihnya. Mereka pergi ke sebuah mall, memulainya dari menonton film dan di akhiri dengan duduk bersama di sebuah kafe menikmati makan malam romantis diiringi alunan musik.
"Pulang ke rumah aku ya," ujar Danar pada Sephia.
"Kenapa harus ke rumah kamu?"
"Gak papa, kamu belom pernah kesana kan?"
"Aku gak bawa ganti."
"Yang kamu beli tadi itu kan bisa di pake buat besok dan besoknya," ujar Danar berjalan bersisian menggenggam tangan kekasihnya.
"Kok besok dan besoknya? mau berapa lama di sana?"
"Kalo bisa sampe selamanya," ujar Danar melirik Sephia.
"Kalo itu harus ijin sama Bapak." Sephia terkekeh.
"Oh iya, apa kabar orang tua kamu?" Danar sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Baik semua, aku jadi kangen mereka." Sephia memiringkan tubuhnya menghadap Danar yang sedang menyetir.
"Kemarin diajak balik gak mau, sekarang kangen." Danar membelai pipi gadis itu.
"Sayang ... di rumah kamu ada siapa?"
"Gak ada ... cuma ada yang bersih-bersih rumah tapi datengnya setiap pagi setelahnya pulang, kenapa?"
"Gak papa, gak enak aja kalo ada orang."
"Gak bebas ya?" goda Danar.
"Ish, kamu itu pikirannya ... bukan itu, maksud aku kalo ada orang selain kamu di rumah kamu kan aku gak enak, ntar di kira mo ngapa-ngapain," jelas Sephia.
"Kan emang mau ngapa-ngapain, gimana sih." Danar puas menggoda kekasihnya.
"Kamu tuh ya, nyebelin." Sephia mendaratkan cubitan ke perut Danar.
"Jangan cubit di situ dong," ujar Danar meringis "Harusnya di sini," ujarnya lagi menuntun tangan Sephia ke bawah perutnya.
"Danar ... ih apaan sih."
Di sebuah lampu merah, tawa sepasang kekasih itu pun terdengar. Danar mendekatkan wajahnya pada Sephia, memberikan ciuman lembut yang saling berbalas. Bunyi klakson di belakang mobil mereka pun akhirnya menyadarkan mereka. Setelah mengusap bibir kekasihnya, Danar kembali menjalankan mobilnya menuju cluster perumahan yang dulu pernah Sephia datangi saat pertama kali mengenal lelaki itu.
"Ayo masuk," ajak Danar membukakan pintu dan menuntun Sephia masuk ke dalam.
Rumah itu tak terlalu besar, hanya terdiri dari tiga kamar tidur. Ada taman kecil di belakangnya yang tersambung langsung dengan dapur. Dua kamar lagi berada di atas, sementara satu kamar berukuran besar ada di bawah, dan sepertinya itu adalah kamar Danar.
"Kamu tinggal di rumah seperti ini sendiri, apa gak kesepian?" tanya Sephia duduk di sebelah Danar di sebuah sofa.
__ADS_1
"Makanya aku lebih suka ke tempat kami di banding tinggal di sini sendiri," Danar meletakkan kepalanya di pangkuan Sephia. "Apa mulai besok kamu tinggal di sini aja, Phi ... nemenin aku."
"Halalin dulu Mas," Sephia terkekeh sementara Danar seperti dihujam belati ke jantungnya.
Seandainya yang dihalalkan itu Sephia, mana mungkin dia sepusing ini.
"Kenapa?" Sephia membelai rambut lelaki itu. "Gak mau halalin aku?"
"Mau lah ... ngapain aku pacarin kamu kalo ujungnya gak ke situ, tapi kan semua butuh proses."
"Nah, kalo butuh proses berarti gak bisa sembarangan ngajakin buat tinggal bareng," ujar Sephia menepuk kening Danar.
"Aduh ... sakit Phi," Danar mengaduh.
"Biar tetep waras," ujar Sephia kesal.
"Kamu bahagia gak sih Phi?"
"Bahagia," kata Sephia memandang netra itu. "Bahagianya aku, itu kamu." Sephia mencium sekilas bibir Danar.
"Bahagia itu, sama kamu," ujar Danar menyambut ciuman dari kekasihnya.
Sofa malam itu menjadi saksi cumbu manis mereka berdua. Mencari kebahagiaan itu tidak lah sulit jika kebahagiaan itu ada di depan mata. Dan semua orang berhak untuk itu, tanpa terkecuali Danar dan Sephia.
...----------------...
Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela, Danar masih memperhatikan wajah gadis yang tidur di sampingnya. Sephia yang polos, Sephia yang pintar, Sephia yang selalu punya pendirian tapi goyah setelah bertemu dengannya.
Kali ini tidur Danar cukup nyenyak, tidak ada lagi kata kegerahan malah Sephia meringkuk bak bayi di dalam dekapannya. Sumpah demi apapun Danar sungguh-sungguh merasa Sephia adalah segalanya.
"Pagi, Sayang," ucap Danar saat melihat mata Sephia perlahan terbuka.
"Hhmm," Sephia semakin membenamkan wajahnya di antara pelukan lelaki itu.
Tangan Danar membelai lembut punggung kekasihnya, merabanya sampai ke bokong gadis itu.
"Danar ...." Sephia mendongak melihat Danar.
Danar terkekeh geli. "Iya ... gak kok, cuma pegang doang."
"Masih pagi."
"Pagi-pagi itu yang bagus katanya," Danar tertawa lalu mengaduh karena pukulan di lengannya.
"Mau kemana hari ini?"
"Gak kemana-mana ... di rumah aja, gimana? atau kita bisa ke kebun binatang? kamu belum pernah kan? iya, kita kesana aja," ujarnya bersemangat.
"Iya, belum pernah ... berarti sekarang aku bikinin kamu sarapan dulu," Sephia beranjak bangun dari tempat tidur, menguncir rambutnya tinggi.
__ADS_1
Danar memperhatikan gadis itu berjalan hanya memakai kaos kebesaran miliknya dengan pakaian dalam yang sedikit memperlihatkan bokongnya. Sungguh menggemaskan batin Danar lalu tersenyum dan kembali menaikkan selimut sampai batas dadanya.
Bali Safari & Marine Park, tiba di sana Sephia begitu terpesona. Seingatnya dia ke kebun binatang di daerah Puncak terakhir kali adalah saat dia masih berstatus sebagai murid sekolah menengah pertama. Kesana pun dia harus merengek kepada kedua orangtuanya, karena merasa iri dengan cerita teman-temannya yang sudah pernah ke kebun binatang.
"Sini Phi, jangan deket-deket," ujar Danar menarik lengan Sephia yang terlalu bersemangat ketika melintas di area gajah.
"Belalainya kuat buat angkat orang itu, Sayang."
"Belalai aku juga kuat buat angkat kamu," bisik Danar di telinga Sephia.
Sephia tertawa sekaligus menghujani lengan kekasihnya dengan pukulan.
"Eh bener gak?"
"Tau ah ... kesana yuk," tunjuknya pada sebuah kandang yang berisi badak bercula.
Beberapa tempat sudah mereka datangi, ada yang menarik perhatian Sephia ketika melintas di sebuah restoran yang berada di tengah-tengah kandang singa.
"Mau kesitu? kamu udah laper?"
"Ayo, sekalian makan siang," ajak Sephia.
Memasuki restoran dengan menu yang menarik, Danar duduk di sisi gadis itu. Tangannya tak pernah berhenti memberikan belaian di punggung Sephia.
"Panas di sini ya," ujar Danar.
"Aku jadi inget, waktu ketemu kamu pertama kali di pantai Kuta, kamu gak suka banget sama terik matahari, kenapa? takut hitam?"
"Masa sih? gak ah ... kalo aku takut hitam gak mungkin aku sering main golf dan berenang kadang di siang hari."
"Ya gak tau, waktu pertama kali ketemu kamu nya gitu."
"Mungkin modus aku aja kali ya," Danar mendekatkan wajahnya.
"Iya, sama kayak sekarang modus banget, nempel-nempel," kata Sephia menggeser tubuhnya saat pelayan datang menghampiri mereka.
Tak berapa lama, ponsel Danar pun bergetar. Tertera satu nama yang sangat ia hindari jika sedang bersama Sephia.
"Siapa?" ujar gadis itu sambil memotong daging steak di piringnya.
"Bukan siapa-siapa, gak penting," jawab Danar menyeruput ice lemon tea nya.
"Angkat aja, Sayang ... siapa tau penting."
"Mau angkat gimana, nomernya aja aku gak kenal ... udah biarin aja, emang sebaiknya waktu libur itu ponsel dimatikan maka dijauhkan dari orang-orang gak berguna," ujarnya kesal. Sephia menatap lelaki itu dengan alis yang terangkat karena melihat wajah Danar tiba-tiba berubah.
***jeng jeng jeng
jangan lupa tinggalin jejak kalian ya 😘
__ADS_1
enjoy reading 😘***