
Dokter mengatakan kandungan Sephia berusia tujuh minggu, karena memiliki riwayat pernah terjadi keguguran dokter berpesan padanya agar lebih berhati-hati. Jangan tanya bagaimana antusiasnya Danar mendengar usia kandungan janin di rahim Sephia.
"Saya sarankan berhubungan badannya jangan terlalu sering ya ... mengingat kandungan masih rentan, akan kuat setelah tiga bulan jadi Bapak harus bisa menahan diri," ujar dokter mengulum senyum.
Seketika wajah Danar berubah, bagaimana tidak berhubungan badan dengan istrinya bagai seperti meminum obat bagi Danar. Sephia mengusap punggung suaminya sambil menahan geli.
"Pokoknya semua baik-baik semua, janin berada di kantung rahim, semua bagus ... cuma ya memang harus di jaga, jangan terlalu capek dan stress," ujar dokter lagi.
Setelah keluar dari ruang praktek dokter kandungan, suami istri yang sedang bahagia ini saling bertatapan, jari jemari mereka saling bertaut. Berjalan beriringan menuju parkiran mobil masih dengan mengulum senyum.
"Kamu mau ngomong apa dari tadi senyum-senyum," ujar Sephia geli.
"Kamu seneng ya aku gak sering-sering nengokin anak aku," kata Danar mencubit hidung istrinya.
"Haha ya gak lah ... aku kan juga mau di tengokin," ujar Sephia tertawa. "Kamu harus nahan dulu sampe bener-bener anak kita kuat ya." Sephia membelai lembut ujung rambut suaminya.
"Sayang, kita mau kemana?"
"Ke taman Puputan mau gak?" tanya Sephia. "Di sana banyak jajan."
"Jangan suka sembarangan, kamu lagi hamil."
"Tapi anak kamu yang mau loh ini."
"Mau apa anak Ayah," ujar Danar menciumi perut istrinya.
"Anak Ayah, pengen makan cilok." Sephia memohon.
"Gak banyak tapi ya ...." Danar menyalakan mobilnya membelah jalan raya sore itu menuju taman kota di sana.
Teringat kembali oleh Sephia, di taman kota ini dia merayakan Valentine tahun lalu dengan Danar. Saat itu mereka belum berstatus apapun, malah saat itu Sephia meminta penjelasan hubungan mereka sebenarnya apa.
"Inget gak taun lalu kita ada di sini juga ... waktu itu valentine kalo gak salah," ujar Sephia.
Mereka duduk di kursi panjang menunggu makanan dan minuman yang mereka pesan tadi pada penjual cilok dan jus di sana.
"Yang aku kasih kamu coklat, kan?" Danar kembali mengingat.
"Iya, coklatnya meleleh di tangan aku, karena kelamaan kamu taro di mobil." Sephia tersipu malu mengingat itu.
"Iya, coklatnya meleleh kayak hati aku udah meleleh karena kamu," ujar Danar tersenyum manis.
"Kamu pinter banget nge gombal ya, sayangnya aku suka." Sephia merangkul lengan Danar.
__ADS_1
Pasangan itu melihat menikmati pemandangan di depan mereka, anak-anak kecil yang bermain bola dengan canda tawa.
"Nanti kalo anak aku cowok mau aku masukin ke club bola, aku kenalin ke Irfan Bachdim biar bisa kayak dia, ganteng lagi," kata Sephia.
"Emang ayahnya gak ganteng? penting gitu di kenalin ke Irfan Bachdim?"
Sephia tertawa melihat raut wajah sebal suaminya.
"Ya gak penting juga sih, tapi aku suka liatnya dia family man banget, sayang sama keluarga."
"Kamu liat suami kamu Phi, aku lebih dari itu ... sayang banget sama kamu dan anak-anak kita."
"Iya aku percaya," jawab Sephia lalu menerima makanan pesanan mereka.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu," ujar Sephia.
"Apa?" Danar memasukkan satu bulatan cilok ke mulutnya.
"Selingkuh itu untuk apa sih?"
"Kok nanya nya gitu? aku gak pernah yang selingkuhin kamu," ujar Danar.
"Masa? Waktu itu?"
"Itu menurutku bukan selingkuh tapi kesalahpahaman. Kamu sendiri?" Danar bertanya balik.
"Hhmm gak ya."
"Gak ... emang sama siapa aku selingkuh?" tanya Sephia dengan alis yang mengkerut.
"Gak tau makanya aku nanya ... tapi pernah ada niatan gak?"
"Gak ... sama sekali gak ada. Sehijau apapun rumput tetangga aku memilih memupuk rumputku sendiri bagaimana memberikan kehangatan di dalam hubunganku dengan pasanganku." Sephia menampakkan wajah tak senang.
"Tuh kan kamu yang bahas selingkuh kamu yang mood nya langsung gak enak."
"Maksud aku gini, hubungan pernikahan kita masih sangat muda niat awal adalah membina satu keluarga yang harmonis sampai kita menua itu saja sudah cukup bagi aku, tapi terkadang celah itu selalu ada dan menggoda seiring waktu berjalan aku yakin cinta juga akan berubah bukan hilang pasti masih ada hanya saja butuh perhatian dan pengertian, aku sebagai pasangan kamu akan selalu mencoba memberikan yang terbaik dan aku harap kamu melakukan hal yang sama, mendengar kata selingkuh saja rasanya hati ini gak rela apalagi kalo mengalaminya sendiri."
Danar memperhatikan wajah Sephia, dia yakin istrinya itu masih trauma atas hubungan mereka di masa lalu, kesalahpahaman yang berbuah hati yang tersakiti.
"Aku selalu ada buat kamu, kamu yakin aja aku akan selalu ada buat kamu," ujar Danar merangkul pundak Sephia.
"Aku tau, kamu akan selalu ada buat aku ... aku juga yakin kamu gak akan pernah pergi dari aku."
__ADS_1
Tatapan mata mereka lurus ke depan, dengan pikiran masing-masing dan berjanji dalam hati untuk saling setia.
"Kamu gak ngidam apa gitu, Sayang." Danar memecah keheningan.
"Gak ... kamu kali yang ngidam kayak waktu itu."
"Cuma pengen-pengen aja sih, gak berasa mual-mual kayak waktu itu, kamu?"
"Masih sama aku suka gak enak badan kalo pagi, liat cahaya masih suka pusing.
"Phia," ujar Danar hati-hati.
"Hhmm."
"Kalo kamu sementara berhenti kerja gimana?"
"Kamu takut ya?" tanya Sephia menatap Danar.
"Lebih tepatnya aku khawatir, pekerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya ... satu bulan ini aja aku meeting udah gak bisa di hitung sama jari belom di tambah kerjaan yang lain," ujar Danar.
"Kalo aku sementara berhenti, terus yang handle kerjaan aku siapa?" Sephia terlihat sekali khawatir jika Danar akan merekrut orang lain dan itu adalah wanita.
"Nanti aku dan Made yang bakal selesai in sampe waktunya kamu siap untuk kerja lagi ... tapi, aku berharap sih kamu fokus sama aku dan anak kita," kata Danar lagi.
Sephia terdiam, sumpah demi apapun trauma itu masih ada, dia takut jika sesuatu terjadi. Mungkin Danar bisa menahan tapi mana bisa kita tahu godaan itu datang seperti apa. Namun, selayaknya pasir jika di genggam terlalu erat maka ia akan menghilang sama halnya dengan cinta.
"Kamu mikirin apa sih?"
Sephia menggeleng, ia hanya bimbang seperti apa ia akan mengalihkan rasa traumanya ini.
"Atau begini saja ...." Danar sepertinya mengetahui isi hat istrinya. "Tiga bulan pertama ini aku pengen kamu benar-benar ada di rumah, pokus dengan anak kita ... setelahnya kalo kamu mau balik kerja lagi, ya gak papa kerja lagi." Danar mengamati raut wajah istrinya.
"Sayang, aku tau kamu pasti mikirin sesuatu kan? tanya Danar. "Aku mau kamu buang jauh-jauh pikiran semacam itu, kamu cukup yakin. Sudah sejauh ini kita melangkah, rasa saling mempercayai harusnya kita pupuk semakin banyak, bukan hanya mencurigai. Yang ada hubungan ini akan gak sehat nantinya."
Sephia terdiam.
"Maaf ya," ujar Sephia.
"Gak papa ... ini wajar, tapi aku minta percaya aku demi keutuhan keluarga kecil kita. Kita pokus membinanya ada si kecil yang akan mewarnai hidup kita nantinya, jadi jangan rusak dengan pikiran-pikiran kamu yang sensitif itu." Danar memberikan kecupan pada kening istrinya.
Ini awal bulan Juni 2021, awal dimulainya kehidupan mereka sebagai satu keluarga. Awal dimana rasa percaya harus terus di bina dengan kesetiaan dan komitmen dari diri mereka masing-masing.
**note dari Chida :
__ADS_1
Apapun alasannya, perselingkuhan adalah sesuatu kesalahan besar yang dilakukan oleh sebagian orang. Entah itu dimulai dari kenyamanan, atau sesuatu yang tak sengaja terjadi. Selayaknya hati jika tersakiti tak akan mampu lagi kembali seperti semula, trauma itu pasti selalu ada. So, jangan main-main sama hati, karena dampaknya hingga akhir hayat.
enjoy reading 😘**