Sephia

Sephia
Kulo nuwun


__ADS_3

Malam semakin larut, acara semakin malam semakin meriah, sementara Danar sudah merasa gelisah dengan keberadaan debar jantungnya.


"Muka lo gak asik banget, Dan." Kalla memperhatikan gerak gerik Danar yang duduk di sebelahnya.


"Ini kapan kelar sih acaranya?" tanya Danar.


"Lo kayak orang kebelet," Kalla terkekeh.


"Capek gue Kal, pengen tidur," Danar menghisap asap rokoknya.


"Gue balik ya," ujar Kalla.


"Kapan balik ke Jakarta?"


"Lusa lah ... kan modal hotel dari lo abis lusa," kekeh Kalla.


Sephia menghampiri Danar saat Kalla dan Nami berpamitan.


"Udah ngantuk ya?" tanya Sephia merapatkan tubuhnya pada suaminya.


"Hooh, balik ke hotel yuk ... udah bolehkan?" Lelaki itu merangkul istrinya.


Sephia mengangguk, lalu mereka berpamitan pada semua orang disana. Candaan dari keluarga besar pun membuat rona wajah pengantin baru ini pun memerah.


...----------------...


"Aku mandi dulu ya," kata Sephia melepaskan satu per satu jepit di rambutnya.


"Aku bantuin sini."


Danar perlahan membantu istrinya melepaskan jepitan di rambut. Tangannya tetap saja berkeliaran kemana-mana membuat Sephia tersenyum melalui pantulan kaca di depan mereka. Perlahan Danar menyusuri leher jenjang itu, Sephia pun menegang. Satu lengan bajunya sudah turun, pundak putih wanita itu membuat Danar tak lagi dapat memusatkan pikirannya.


Tangan kekar itu mulai meremat kedua dada istrinya, Sephia yang membelakangi Danar pun mulai bergerak menahan keinginannya. Sephia menolehkan sedikit wajahnya dan menyambut tautan bibir Danar. Sephia perlahan berbalik menghadap Danar, membalas ciuman itu dengan liar. Satu per satu kancing kemeja Danar pun terlepas, dada bidang lelaki itu Sephia sentuh dengan tangannya. Netra mereka saling menatap, memberikan kehangatan dan menuntut hasrat yang semakin dalam.


Danar kembali meraup bibir istrinya, kedua tangannya menahan leher jenjang istrinya. Ciuman lembut yang saling berbalas itu semakin lama semakin liar. Gaun pengantin itu sudah lepas dari tubuh Sephia, Danar mengamati setiap lekuk tubuh istrinya, semua yang melekat di tubuh Sephia pun sudah terlepas dari tempatnya. Ini bukan yang pertama bagi mereka saling bertatap tanpa sehelai benangpun tapi entah mengapa rasanya ini sungguh luar biasa, tak ada lagi rasa takut, tak ada lagi rasa harus menahan.


"Kita gak mandi dulu," ucap lirih Sephia.


"Kamu mau mandi?" tanya Danar dan Sephia mengangguk. "Gimana kalo mandinya setelah ini," ujar Danar menuntun Sephia mendekati tempat tidur mereka.


Danar merebahkan tubuh Sephia pelan-pelan, membiarkan tubuh istrinya berbaring tanpa sehelai benang pun. Danar merangkak naik setelah dia berhasil menurunkan celananya dan hanya tertinggal boxer yang ia kenakan.


"Sayang ...."


"Iya ... aku tau, aku pelan-pelan," ujar Danar seolah tahu yang di takutkan oleh Sephia.

__ADS_1


Kembali ia tautkan bibirnya, memberikan gigitan kecil-kecil serta sesapan di bibir yang hangat dan manis itu. Nafas mereka kembali memburu, Sephia mendesah saat lidah Danar sudah bermain di puncak dadanya. Tanpa sadar pun Sephia meremat sendiri dadanya, memberikan sensasi yang membuatnya semakin menegang. Suaminya mulai turun menyusuri perut dan semakin turun, Sephia menatap suaminya yang sudah bermain di bawah sana.


Desahan Sephia membuat adrenalin Danar semakin terpacu, lelaki itu melepaskan pembungkus tubuhnya yang terakhir, merangkak naik lagi menciumi istrinya memberikan kenyamanan untuk Sephia, sementara sesuatu di bawah sana sudah menegang dan siap pada posisi yang seharusnya. Danar mulai memasuki tubuh Sephia, perlahan namun pasti gerakan itu ia buat senyaman mungkin. Tatapan mata sendu pasangan suami istri itu pun tak dapat lagi terelakkan. Seakan mencari celah, Danar terus bergerak masuk dengan ritme yang lembut. Sephia semakin tak dapat menahan rasa sakit ketika Danar berusaha menghentak kelakiannya. Sephia menggigit bibir bawahnya seakan berusaha menahan rasa itu.


"Rileks Sayang," ucap Danar, "sebentar lagi ... rileks."


Peluh keringat keduanya sudah semakin banyak seakan pendingin ruangan itu tak lagi berfungsi. Danar melakukan gerakan itu perlahan hingga dua kali hentakan mampu membuat Sephia menjerit.


"Sa--kit ...." Sephia meringis, mencengkeram sprei di sisi kanan dan kirinya.


Danar masih terus bergerak kembali ia benamkan bibirnya pada bibir Sephia.


"Masih sakit?" tanya Danar ketika gerakan itu semakin lama semakin menuntut.


Sephia menggeleng lalu tersenyum. Dada wanita itu ikut serta turun naik sesuai ritme yang Danar berikan. Satu tangan Danar kembali merematnya. Sephia mengangkat sedikit tubuhnya merasakan sensasi yang luar biasa.


"Sayang ... hhmm," lirih Danar masih terus bergerak. "Ya ampun," katanya lagi saat menatap Sephia yang sudah mulai tak dapat menahan pelepasannya. "Bareng ya ... sekarang, Phi."


Hingga sahutan desahan serta erangan yang saling berbalas itu pun memenuhi kamar hotel mereka. Danar memberikan kecupan di bibir dan kening istrinya, sedikit meringis saat dia menarik keperkasaannya. Merebahkan tubuhnya di sisi sang istri yang sudah terkulai lemas. Saling mengatur nafas dan detak jantung mereka.


"Aku lupa," ujar Danar merapikan helai-helai rambut Sephia yang sudah basah karena keringat.


"Lupa apa?" tanya Sephia yang memainkan jemarinya di dada suaminya yang tidur menyamping menghadapnya.


"Bilang kulo nuwun," Danar terkekeh.


"Sama kamu tadi."


"Buat apa?" Sephia semakin bingung.


"Biar gak kaget, saat dia masuk," ujar Danar tertawa.


"Astaga," ujar Sephia tertawa, ia baru saja mengerti apa yang di maksud oleh Danar.


"Masih penasaran?" tanya Sephia pada Danar yang sedang menyelimuti tubuh polos keduanya.


"Udah gak ... udah gak penasaran lagi, kamu?"


"Udah gak ... aku capek," ujar Sephia mulai menutup matanya.


"Jangan tidur dulu, Sayang."


"Kenapa?"


"Aku mau lagi," ujar Danar.

__ADS_1


Tangan Danar sudah membelai paha istrinya di balik selimut tipis berwarna putih itu.


"Astaga."


"Masih perih ya?" tanya Danar yang sudah berada di atas tubuh Sephia.


Sephia menggeleng, tapi bagaimana mungkin baru saja mereka selesai melakukannya lelaki itu sudah ingin melakukannya lagi pikir Sephia.


"Sekali lagi ya ... ternyata dia masih penasaran," ujarnya mengarahkan tangan Sephia ke bagian bawah tubuhnya.


Dan untuk kedua kalinya, pasangan pengantin baru ini pun melakukannya hingga pukul tiga pagi.


...----------------...


Awal hari dimana dimulainya kehidupan dengan status baru mereka. Sephia mengamati wajah Danar yang tertidur pulas di sampingnya. Lelaki itu dengan gagahnya semalam membuatnya terkulai atas aksinya berkali-kali di malam pertama mereka.


Tubuh Sephia benar-benar seperti tertimpa tumpukan bata, entah dengan berbagai macam gaya Danar memberikan kenikmatan batin kepadanya. Danar benar-benar melakukan kewajiban batiniah dengan sangat bertanggung jawab. Sephia tersenyum geli saat semalam Danar memintanya berada di atas tubuhnya. Menuntun Sephia untuk bergerak seperti yang Danar mau, hingga Danar mengerang berkali-kali saat pelepasan itu tiba. Tangan Danar dengan bebasnya memijat kedua benda di dada Sephia dengan sangat lembut membuat Sephia terhanyut seakan tak lagi menapak di bumi. Lelaki itu suaminya, hanya dia yang berhak atas Sephia.


"Pagi Sayang," suara parau Danar mengejutkan Sephia yang sedang memandang wajah suaminya.


Sephia memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya.


"Pagi," Sephia mengeratkan pelukannya.


"Seneng banget," ujar Danar.


"Ho oh ... banget, aku bahagia karena setiap pagi akan melihat kamu selalu berada di sisi aku setiap aku membuka mata," kata Sephia membenamkan wajahnya di dada Danar.


"Aku juga bahagia, akhirnya kamu jadi milik aku," ujar Danar membelai lembut rambut istrinya.


"Sayang," ujar Sephia memandang dada Danar


"Apa?"


"Ini banyak banget," ujar Sephia ia lalu bangkit dari posisinya saat melihat bercak merah di dada Danar.


"Ulah siapa ini?" tanya Danar menggoda istrinya. "Ternyata sesudah halal kamu semakin ganas ya." Danar tertawa membawa Sephia kembali ke dalam dekapannya.


***hayoooo looo 🤣


yang mau mandi monggooo yang mau lanjut lagi monggo juga... udah yaaa udah kan? udah dooong.


jangan lupa Chida di kasih like sama komen ✌️


enjoy reading 😘

__ADS_1


Chida ❤️***


__ADS_2