Sephia

Sephia
Welcome back, Phia


__ADS_3

Menikmati sore hari memandang senja di pinggiran pantai dengan seseorang yang kita sayang itu, artinya sangat mendalam. Itulah yang dirasakan Sephia saat ini. Siapa sangka ia dapat mengulang kembali momen kebersamaan ini.


Danar sibuk mengarahkan ponselnya dengan mode kamera, seperti seorang fotografer yang membidikkan jepretannya untuk hasil yang memuaskan,diambil dari berbagai angel memfoto Sephia secara candid.


Sephia berlari kecil kearahnya, Danar hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


"Happy?" tanya Danar.


"Banget." Sephia memberikan kecupan di pipi lelaki itu.


"Kaget aku," ujar Danar lalu membalas mengecup bertubi-tubi pipi hingga bibir Sephia.


Merangkulkan tangannya pada pundak Sephia, lalu menuntunnya untuk menjauh dari bibir pantai.


"Mau kemana?"


"Legian, ayo."


Danar mengemudikan motornya menuju wilayah Legian, lalu memarkirkannya di depan salah satu store ternama.


"Masuk bentar yuk," ajaknya.


"Mau beli apa?"


"Cari hoodie, yang lama udah jelek."


Menemani lelaki itu memilih beberapa pakaian, mata Sephia tertuju pada salah satu dress bermotif bunga, bermodel baby doll.


"Cakep ... yang ini sekalian, Mbak," kata Danar meminta pelayan toko untuk sekalian membungkusnya.


"Aku cuma liat kok, gak mau beli," ujar Sephia.


"Ya udah berarti di simpen sampe kamu mau make nya."


"Ish, selalu gitu."


"Ayo." Ajak Danar lagi setelah membayar barang belanjaannya.


Malam itu mereka habiskan dengan keluar masuk toko-toko yang ada di deretan Legian, entah apa maksudnya Danar, ada saja yang ia beli entah itu untuk nya atau untuk Sephia.


"Kamu itu konsumtif ya," ucap Sephia saat mereka duduk di suatu kafe yang menyajikan alunan musik slow.


"Kok konsumtif?"


"Ya iyalah ... kamu belanja-belanja begini tuh kalo gak penting-penting amat buat apa? Nanti kalo udah berkeluarga aku gak mau keseringan kayak gini ... sama saja membiasakan anak-anak kita untuk hidup tau 'gampang' nya aja, tanpa tau perjuangannya," ujar Sephia panjang lebar.


"Seiring waktu juga nanti anak-anak kita tau kok."


"Gak bisa ... gak bisa kaya gitu, mereka harus dibiasakan dari kecil hidup gak terlalu berlebihan, minimal mereka tau ayahnya bekerja banting tulang untuk mereka, jadi mereka tau ... oh untuk mendapatkan sesuatu itu gak mudah, harus kerja dulu."


"Ya ampun ... tunangan aku mikirnya keren sih," Danar mengacungkan jari jempolnya.


"Ya iyalah ... jangan tau nya bikin anak tapi ngasih pengertian ke anak gak bisa," timpal Sephia lagi.


"Gimana kalo malem ini kita bikin?" bisik Danar di telinga Sephia.

__ADS_1


"Tuh kan, baru di bilangin udah gini."


"Marah ... tuh jelek tau kalo marah," ujar Danar menarik lengan Sephia untuk lebih dekat padanya. "Besok, urusan mendidik anak aku serahin ke kamu, aku percaya anak-anak aku di dalam arahan kamu akan menjadi anak-anak yang bisa diandalkan, anak-anak yang bertanggung jawab."


Sephia tersenyum lalu tertawa.


"Serem amat tiba-tiba ketawa ... Sayang, kamu kenapa?" Danar bergidik ngeri.


"Kita ngomongin anak, nikah aja belum tau kapan."


"Kamu diajakin cepet nikah belum mau, kalo mau besok juga hayo aku mah."


Tentu saja Sephia belum ingin segera menikah, tahun ini umurnya baru genap 24 tahun, dia masih ingin menikmati masa mudanya dengan bekerja dan berbahagia.


Dan saat ini dia sudah merasakan semuanya, bekerja dengan posisi yang lumayan untuk seorang gadis seumur Sephia. Dan bahagia, tentu saja karena memiliki Danar di dalam hidupnya. Seharusnya tidak ada yang kurang, semua sudah dia raih tapi Sephia meminta sedikit waktu lagi untuk menikmatinya.


"Sebentar lagi." Sephia meletakkan dagunya pada pundak Danar yang duduk di sebelahnya.


...----------------...


Hari ini, hari pertama Sephia menginjakkan kakinya kembali ke kantor yang pernah memberikan pengalaman yang luar biasa dalam hidup dan kisah cintanya. Siapa sangka dia akan kembali lagi dengan posisi sebagai karyawan sekaligus tunangan pemilik perusahaan.


Sejak turun dari mobil, tangan Danar tak lepas menggenggam tangannya. Seakan ingin mengumumkan bahwa Sephia adalah orang yang spesial baginya.


"Sayang, tangan aku." Sephia berusaha melepaskan genggaman tangan Danar.


"Biarin aja."


"Tapi di liatin semua orang, aku malu." Sephia menunduk karena banyak pasang mata memperhatikan mereka.


Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka pun hanya tersenyum, lalu mengarahkan mata mereka pada tangan Sephia yang saling bertaut dengan tangan pemimpin perusahaan itu.


Keluar dari lift, Sephia melewati ruangan yang dulu ia tempati, ketiga temannya biasanya saat seperti ini sudah sibuk dengan hitungan dan angka-angka. Namun, tak Sephia dapati mereka di dalam sana.


Menyusuri koridor menuju ruangan Danar, Sephia juga tak menemukan Made di ruangannya. Entah kemana semua orang yang ia kenal hingga tak satupun ia temui.


Sepasang kekasih itu pun memasuki ruangan, betapa terkejutnya Sephia saat melihat penyambutan dari ketiga temannya serta Made yang sudah berada di dalam sana.


Tulisan Welcome back, Phia serta Happy Engagement pun terlihat diantara balon-balon serta kertas bling-bling yang mewarnai kemeriahan ruangan kerja Danar pagi itu. Beberapa makanan dan minuman pun sudah tersaji di meja.


Pantas saja, pagi tadi Danar menolak untuk sarapan di rumah, pikir Sephia.


Ni Luh merentangkan tangannya pada Sephia, mata wanita itu sudah berkaca-kaca sedari tadi. Dua sahabat itu pun saling berpelukan, hanya mereka berdua yang tahu isi hati mereka masing-masing. Sephia sempat menghilang pun sempat membuat Ni Luh khawatir.


Ardi dan Bu Ratna serta Made yang berada di sana pun hanyut dalam suasana. Arti seorang sahabat adalah mereka yang selalu ada di saat kita sedang merasakan masalah, mendengarkan segala keluh kesah, susah senang kita selama ini, itu yang terjadi pada Sephia dan Ni Luh, mereka saling melengkapi.


"Ini udah belum pelukannya, bisa gantian gak?" Ardi yang sedari tadi menunggu untuk sekedar berjabat tangan pun harus antri menunggu.


"Enak aja gantian," sahut Danar yang sudah berada di belakang Ardi.


Cengiran serta garukan kepala yang sebenarnya tak gatal pun menjadi tingkah serba salah dari Ardi.


Danar merengkuh pinggang Sephia agar gadis itu kembali dekat dengannya. Sungguh perilaku posesif dari seorang Danar. Semua orang yang berada di ruangan itu hanya bisa tersenyum.


"Ini kok bisa begini ... ya ampun," ujar Sephia tak percaya.

__ADS_1


"Kita hadiahkan ini buat kamu, Phia ... karena sudah kembali hadir di tengah-tengah kita lagi, dengan status yang berbeda tentunya," kata Ni Luh terharu.


Bunyi ketukan pintu membuat Sephia menoleh ke arah luar, beberapa kepala divisi ikut hadir di sana memberikan selamat atas pertunangan mereka. Sekaligus Danar memberitahukan posisi terbaru Sephia saat ini.


"Jadi, saya hanya ingin mengumumkan bahwa Sephia, tunangan saya ... akan kembali bekerja di sini, tapi bukan sebagai staff keuangan seperti dulu lagi melainkan menjadi sekretaris pribadi saya," ujar Danar.


"Dan, satu hal lagi ... untuk kenyamanan bersama saya tidak ingin ada selentingan-selentingan yang tidak enak di dengar sehingga akan mengakibatkan karier anda semua menjadi terancam, saya rasa kalian paham maksud saya ... jika memang ada sesuatu dan lain hal yang mengganjal bisa langsung tanyakan kepada saya, oke," tegas Danar.


Sephia menatap lelaki itu, menurutnya ini terlalu berlebihan. Tapi, ada benarnya juga Danar memagari privacy mereka berdua agar tak banyak selentingan di luar sana.


"Terus ruangan aku dimana?" tanya Sephia setelah acara penyambutan itu selesai.


"Sini." Danar melambaikan tangannya agar Sephia mendekat pada meja kerjanya.


"Apa?" Danar menautkan kedua tangannya di pinggang Sephia yang berdiri di depannya.


"Ruangan kamu belum ada ... jadi sementara, ruangan kamu masih bareng aku di sini," ujar Danar yang sudah memainkan kancing kemeja Sephia.


"Duduk dimana?"


"Di sini," ujar Danar menarik Sephia duduk di pangkuannya.


"Danar aku serius."


"Aku lebih serius."


Tangan lelaki itu sudah masuk melewati celah kemeja yang salah satu kancingnya sudah terbuka.


"Danar ... yang bener dong."


Danar terkekeh, dia tahu betul jika tunangannya ini kalau menyangkut pekerjaan maka akan berubah menjadi serius.


"Iya ... iya, nanti kamu menempati ruangan Made, lalu Made menempati ruangan wakil direktur."


"Serius, Made diangkat jadi wakil direktur?"


"Kenapa jadi kamu yang riang."


"Haha ... aku kan cuma nanya, posisi wakil direktur itu kan sudah lama tak terisi seingat aku "


"Memang ... dan memang Made di persiapkan untuk itu, selama satu tahun ini." Jelas Danar.


Tangan Danar tak berhenti sampai di atas perut Sephia namun juga kembali naik mendapati dada yang menjadi tempat kesukaannya itu.


"Udah ah, nanti tiba-tiba Made masuk loh, bahaya!" ujar Sephia yang membusungkan dadanya menandakan dia sedang menegang karena ulah kekasihnya.


"Jadi apa yang akan saya kerjakan pertama kali, Pak?" tanya Sephia yang berusaha menyingkirkan tangan Danar.


"Yang pertama kamu lakukan adalah ini."


Danar membawa kepala Sephia sedikit menunduk, mencium bibir gadis itu dengan lembut. Tangannya masih asik meremat perut hingga pinggang Sephia. Begitupun Sephia kembali terhanyut dalam dekapan Danar. Sephia Membalas setiap ciuman yang diberikan oleh Danar sama lembutnya. Menikmati kehangatan matahari yang mulai meninggi sama dengan kehangatan yang Danar berikan pada Sephia melalu ciuman di pagi menjelang siang itu.


***enjoy reading 😘


mau bantu karya aku masuk di ranking karya baru lagi gakπŸ˜‚?? bantu like dan komen yaaaah 😘 lalu share ke teman-teman kalian, tentang karya aku πŸ™matur tengkyuuuhh 😘***

__ADS_1


__ADS_2