Sephia

Sephia
Bapak Asep Sudrajat


__ADS_3

Danar baru saja menghempaskan tubuhnya pada sofa ruangan kerja Kalla. Ada Sephia di sana, Kalla ikut duduk di sana bersama mereka. Bisa bayangkan perasaan Kalla saat melihat gadis yang baru saja mengatakan untuk tidak membuat kekacauan pada hubungan bersama pasangan masing-masing itu kini kembali bermesraan dengan kekasihnya.


Kalla hanya bisa menelan kasar salivanya. Biarlah, biar saja perasaan ini hanya ia dan Sephia yang tahu, setidaknya Kalla pernah merasakan mencintai gadis itu. Dan dia juga tahu, bahwasanya Sephia bisa jadi merasakan hal yang sama.


"Kal, gue minta ijin ya ... besok Sephia gak kerja, dua hari lah."


"Udah gue approve, mau kemana sih? gak ngajak gue?"


"Mau ke tempat calon mertua, biasa minta ijin." Danar meraih tangan Sephia yang berada di atas paha lelaki itu.


Kalla benar-benar harus terlatih patah hati, harapan itu pupus sudah, meski memang tidak akan pernah bersama sampai kapanpun, dan dia tahu itu.


Mata gadis itu menatap perubahan wajah Kalla, dan ini adalah yang terbaik. Semua harus berada di posisinya seperti semula. Seperti awal sebelum dia hadir di kehidupan lelaki itu. Dan langkah selanjutnya yang akan Sephia ambil adalah mencari waktu yang tepat untuk benar-benar pergi dari kehidupan mereka.


"Ayo Kal, bokap lo sama Mas Agung udah nunggu kayaknya," ujar Danar lalu mengecup pucuk kepala kekasihnya, "bentar doang, habis ini kita pulang." Danar melangkah lebih dulu.


Kalla menoleh pada Sephia, Sephia hanya membalas dengan tersenyum, lalu berjalan di belakang Danar. Tak ada lagi yang dapat Sephia lakukan kecuali menyatukan semuanya seperti sedia kala.


...----------------...


Sore itu, Sephia pulang sebentar menuju kostnya bersama Danar untuk mengambil beberapa baju dan perlengkapan untuk di bawa ke Purwakarta.


Sephia sudah menghubungi Ibu Widya, bahwa ia akan memperkenalkan seseorang pada mereka. Sephia juga berpesan untuk tidak membuat apa-apa, karena hanya berkenalan tidak ada acara atau sesuatu hal yang bersifat formal.


Selama perjalanan menuju Purwakarta, suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya di temani beberapa alunan musik sendu yang semakin membuat pikiran mereka melayang entah kemana-mana.


"Mau mampir makan malam dulu gak?" tanya Danar memecah keheningan.


"Kata ibu, ibu masak untuk kita ... tapi, ini hampir jam tujuh, kemaleman gak kita sampe nya ya?"


"Sebentar lagi kita kita keluar tol, berarti kita makan di rumah aja ya, kasian ibu pasti masak banyak."


Sephia mengangguk, kembali dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan menoleh menatap Danar.


"Kenapa sih ngeliatin terus, kangen ya?"


"Kamu baik banget sih." Sephia membelai lembut pipi Danar.


"Dari tadi kenapa diem aja, baru ngomong sekarang."


Sephia menghela nafasnya panjang. Apakah ia harus jujur pada Danar? atau menyimpannya sendiri, mengubur perasaan bersalahnya dalam-dalam.


"Kamu nya juga diem terus, jadi aku ikut diem," kata Sephia dengan bibir mencebik.

__ADS_1


"Aku boleh tanya?"


"Apa?"


"Bapak galak gak?" Danar melirik Sephia.


Sephia tertawa, "ya ampun, aku kira ngajakin ketemu bapak, kamu udah siap mental."


"Aku bekal nekat, Sayang ... kalo gak nekat, kapan aku bisa bawa kamu pulang ke Bali tanpa restu."


"Nanti di Bali, aku tinggal dimana?" tanya Sephia. "Keluar tol kita terus aja, setelah flyover muter balik," ujar Sephia menunjukkan arah ke daerah rumahnya.


"Kamu tinggal sama aku, kalo kamu mau ... atau bisa di apartemen atau ke kost kamu yang dulu juga boleh, tapi aku lebih nyaman kamu di rumah aku, kalo di kost kamu ntar dengar suara-suara itu lagi." Danar terkekeh mengingat kejadian yang sering terjadi di sana saat tengah malam.


"Ini muter balik? kemana lagi?" tanya Danar.


"Ambil kiri masuk ke jalan itu ... yang ada angkotnya," jawab Sephia.


"Kayaknya aku pernah deh ke daerah ini, padat angkot yang lewat kan?" Sephia mengangguk. "Angkotnya rame banget, aku inget banget ngasih klakson panjang gara-gara nunggu mobil Hiace, travel gitu ngangkut penumpang lama banget." Danar mengingat kejadian saat awal-awal dia mencari Sephia.


"Serius? kapan?"


"Waktu awal-awal aku nyari kamu, saat kamu baru pindah ke Purwakarta dari Bogor."


"Terus mobil travelnya berhenti di situ?" tanya Sephia lagi.


"Nanti kamu masuk ke rumah itu ya ... kita turun di sana."


"Jangan bilang itu rumah kamu, Sayang."


"Iya, itu rumah bapak ...." Sephia mengulas senyum.


"Astaga ... berarti waktu itu harusnya aku sudah nemuin kamu ya ...." Danar benar-benar tak menyangka sedekat itu dia dengan Sephia. "Emang kalo jodoh gak kemana ya, sejauh apapun kamu atau aku yang pergi, kalo jodoh pasti ketemu lagi," ujar Danar menghentikan mobilnya saat masuk ke sebuah halaman yang cukup luas itu.


Sephia menatap Danar, mendekatkan wajahnya. "Karena cinta tau, dia akan menuju kemana." Sephia mengecup sekilas bibir Danar. "Terimakasih karena kamu gak ragu untuk menuju ke arah aku."


Danar menangkup wajah Sephia, dia usap bibir gadis itu lalu menyatukan kembali bibir mereka berdua. Ciuman yang semakin dalam itu membawa Danar semakin merapatkan tubuhnya pada Sephia, gadis itu menyandarkan posisi duduknya. Tangan Danar sudah menarik kemeja gadis itu keluar dari selipan celana bahan yang dia pakai hingga tangan itu masuk ke dalam celah yang semakin lebar terbuka.


Ketukan di kaca jendela, menyadarkan mereka kalau ternyata mereka ada di depan rumah Bapak Asep Sudrajat. Beruntungnya, kaca mobil itu terlalu gelap.


"Sayang, keliatan gak dari luar?" tanya Sephia dan Danar pun hanya menggeleng mengartikan tidak.


Sephia keluar dari mobil, diikuti oleh Danar. Danar mengukir senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Kok malah di dalam mobil, bukannya turun," kata Bu Widya menyambut kedatangan putrinya.


"Ada yang menyiapkan mental Bu," Sephia terkekeh melirik Danar yang salah tingkah. "Ibu, kenalin ini Danar ... pacar Sephia." Sephia berbisik di telinga sang ibu.


Danar mengulurkan tangannya, lalu mencium tangan wanita paruh baya itu yang masih terlihat segar.


"Bapak mana, Bu?"


"Ada di dalam, tadi sih lagi ngasih makan ikan di aquarium, ayo ... ayo masuk."


Baru saja masuk ke ruang tamu, seorang lelaki dengan perut yang sedikit buncit memakai kaos dalam berwarna putih dengan sarung yang melilit sebagai bawahannya.


"Bapak?" bisik Danar, Sephia mengangguk.


"Bapak ...," Sephia mencium punggung tangan lelaki tua itu.


"Naha nembé sumping?" suara bariton itu sedikit membuat hati Danar ciut.


"Macet, Pak," jawab Sephia lembut ketika sang ayah menanyakan mengapa mereka baru saja sampai. "Pak, nepangkeun ieu réréncangan abdi ... namina Danar." Sephia mengenalkan Danar sebagai temannya.


Danar mengulurkan tangannya di sambut oleh Pak Asep.


"Danar ... saya teman Sephia, Pak." Sumpah demi apapun, nyali Danar seakan ciut berhadapan dengan ayah dari kekasihnya ini.


Perawakan Pak Asep yang dingin tanpa banyak bicara serta senyum yang jarang terukir membuat Danar seakan berhadapan dengan guru matematika yang killer pada masa SMA.


"Teu acan tuang? ayo ... makan dulu, Bapak sama Ibu mah udah makan tadi," ajak Bu Widya menuju ruang makan.


Sementara Pak Asep dengan wajah datarnya kembali duduk di ruang tengah.


"Phi, aku kok serem ya sama bapak," bisik Danar saat mereka di meja makan berdua.


"Emang gitu bapak mah ... datar, dingin tapi nanti kalo udah kenal asik kok ... muka kamu keliatan banget sih kaku gitu ...." Sephia terkekeh. "Pemimpin perusahaan besar, nyali nya ciut ketemu calon mertua." Sephia tertawa.


"Beda Phi, ini masalahnya mau nge dapetin kamu, bukan nge dapetin tender." Danar menepuk dahinya.


"Makan dulu buat persiapan," goda Sephia.


"Persiapan apa?"


"Ngadepin bapak," ujar Sephia melirik kekasihnya.


"Aduh ... tuh kan." Danar lagi-lagi menepuk keningnya.

__ADS_1


***enjoy reading 😘


jangan lupa like dan komen temen-temen.. matur tengkyuuuhh 🙏😘***


__ADS_2