Sephia

Sephia
Persalinan Wulan


__ADS_3

Hari masih terlalu pagi bagi Danar untuk membuka matanya, namun Sephia sudah berada di dapur rumahnya. Hari ini Sephia membuatkan tunangannya nasi goreng seafood dengan telur mata sapi, serta kebiasaan Danar adalah roti bakar selai coklat yang harus ada di meja makan jika pagi tiba.


"Bikin apa?" tanya lelaki itu dengan suara paraunya dan bergelayut manja memeluk Sephia dari belakang, menempelkan bibirnya di ceruk leher gadis itu.


"Nasi goreng seafood, roti bakarnya udah ada di meja ... kamu mau aku buatin kopi apa susu?" tanya Sephia menolehkan wajahnya sedikit.


"Aku mau kamu," jawab Danar semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepas dulu ... ayo makan." Melepaskan tubuhnya dari pelukan Danar.


Lelaki yang hanya memakai boxer itu pun duduk memperhatikan tunangannya sibuk mengambilkan makanan untuknya.


"Besok kalo udah punya anak, kamu pasti lebih sibuk ya ... ngurus aku ngurus anak-anak, belum lagi rumah dan kantor," ujar Danar.


"Kalo nikah aku masih boleh kerja?"


"Boleh dong ... aku gak larang, itu hak kamu asal ada batasan-batasan yang harus kamu ingat selaku istri dan ibu dari anak-anakku," kata Danar menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sayang, kamu mau kopi atau susu?"


"Susu ...." Namun mata itu tertuju pada dada Sephia yang hanya mengenakan piyama satin tanpa memakai bra.


"Hari ini mau kemana?" tanyanya pada Sephia.


Belum sempat Sephia menjawab, dering telpon dari dalam kamar mereka pun berbunyi. Sephia berjalan ke dalam, meraih ponsel Danar di atas nakas, tertera nama mas Agung di sana.


"Siapa?" tanya Danar lalu meraih ponselnya.


"Mas Agung," jawab Sephia lalu membereskan piring kotor.


"Ya Mas?"


"Dimana lo?" tanya Agung di seberang sana.


"Di rumah Sephia, kenapa?"


"Masih pagi udah di sana aja."


"Nemenin tidur, kasian sendirian," kekeh Danar.


"Dasar lo."


"Kenapa lo nelpon hari libur, tumben."


"Wulan masuk rumah sakit, mau lahiran."


"Lah ... udah mau lahiran?"


"Maju dari perkiraan," jawab Agung. "Lo balik gak?"


"Kenapa gue harus balik? kan bapak nya lo Mas."


Sephia hanya menggelengkan kepalanya mendengar percakapan kakak beradik itu.


"Iya, gue balik ... sekalian deh hampir dua bulan gak berkunjung tempat calon mertua," ujar Danar melirik tunangannya.

__ADS_1


"Halaah ... udah dapet anaknya juga ntar lupa mengunjungi mertua ... biasanya sih gitu." Suara Agung tertawa di seberang sana.


"Jadi mau pulang ke Jakarta?" tanya Sephia.


"Malam ini yuk," jawab Danar lalu menggulir layar ponselnya mencari tiket pesawat penerbangan malam ini.


"Malam ini?"


"Done, beresin baju Sayang, abis itu ke rumah aku," pungkas Danar melangkah masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya.


"Enak banget maen pergi aja, gak di pikir besok kerjaan ada meeting atau gak, astaga," gerutu Sephia sambil memegang gagang sapu.


...----------------...


Pukul 10 malam, Danar dan Sephia sudah sampai di Jakarta. Mereka langsung menuju ke rumah sakit yang terletak di daerah Semanggi Jakarta.


"Gimana?" tanya Danar pada Agung yang sedang berada di depan pintu ruang operasi.


"Lagi di siapin ... gak ada pembukaan, udah nunggu seharian ... ini gue mau siap-siap masuk," ujar Agung dengan wajah terlihat panik.


Sementara Sephia sudah duduk bersama kedua orang tua Danar.


"Berapa lama operasinya?" tanya Sephia pada Danar.


"Gak tau, aku gak ngerti," jawab Danar. "Papa gimana?" tanyanya pada lelaki paruh baya yang sudah terlihat mengantuk.


"Papa gak apa-apa, sebentar lagi kita pulang kalau bayinya sudah keluar," ujar Pak Hermawan.


"Mama udah siapin kamar buat Wulan setelah persalinan, nanti setelah bayinya lahir kita pulang saja ya ...pagi baru kesini lagi, kasian Papa, kalian juga pasti capek." Mama Diana memberikan titah pada mereka.


"Gimana, Mas?" tanya Danar berdiri melangkah ke arah Agung.


"Cewek Dan ... anak gue cewek," ujar Agung girang dan mata berkaca-kaca.


"Selamat, Mas." Danar memeluk dan menepuk-nepuk punggung Agung.


Ucapan selamat pun terucap dari orang tua mereka juga Sephia.


"Terus bayi nya dimana sekarang Mas?" tanya Sephia.


"Di ruang perawatan, udah di bawa ke sana, mungkin besok sudah bisa di lihat," ujar Agung.


"Berarti kita udah bisa pulang ya?" Danar sudah terlihat mengantuk.


"Iya, kasian Papa ... besok kesini lagi aja Pa," kata Agung memeluk sang ayah.


Malam itu juga mereka pulang ke kediaman Hermawan Wicaksana, seperti biasa Danar akan meminta Sephia untuk tidur di kamarnya, sementara dia akan memilih tidur di ruang keluarga yang berada di lantai atas dekat dengan kamarnya, di bandingkan kamar tamu yang berada di bawah.


Sephia sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur ketika suara ketukan di pintu beberapa kali terdengar. Sephia sudah mengira lelaki itu mana tahan tidur tanpa dirinya. Sephia membuka pintu kamar, mendapati Danar dengan membawa guling sudah bersandar di sisi pintu.


"Aku gak bisa tidur ... aku tidur sama kamu ya," ujar Danar.


"Gak enak sama mama, tidur di sana gih." Sephia menunjuk ruangan keluarga dengan dagunya.


"Mama kan di bawah ... gak mungkin ke atas." Danar masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Sini, aku janji gak ngapa-ngapain." Danar tersenyum tipis.


Sephia mendekat, masuk ke dalam selimut dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Danar.


"Lusa kita ke Purwakarta, membicarakan rencana pernikahan kita ya." Danar membelai pipi Sephia.


"Terus, bilang ke mama papa kamu?"


"Ya besok, sekalian jenguk Wulan ... biar suasana gembiranya double. Mama papa dapet cucu terus tiga bulan lagi dapet menantu lagi." Danar membawa ke pelukannya.


"Wulan pasti seneng banget punya bayi ya, Sayang," kata Sephia menatap lelaki itu.


"Kamu juga bakal punya bayi dari aku, banyak lagi.


"Banyak?" tanya Sephia.


"Iya, aku mau punya tiga anak dari kamu."


"Sayang ...."


"Kenapa?"


"Gak jadi."


"Mau bikin sekarang?" Danar terkekeh.


"Kamu tuh," sungut Sephia.


"Ya udah tidur ... udah malam."


Sephia mulai memejamkan matanya, namun pikirannya masih berkelana.


"Danar."


"Hhmm."


"Seandainya aku gak bisa kasih anak ke kamu, apa yang kamu lakuin?" Pertanyaan itu memang terlintas di benaknya.


"Maksudnya?"


"Kemungkinan terburuk jika nikah sama aku, dan aku gak bisa punya anak dari kamu, gimana?"


"Kamu kebanyakan nonton sinetron di TV, ayo tidur." Danar menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Helaan nafas panjang seperti terasa begitu berat. Tak ada salahnya berpikir yang terburuk, bagaimana jika ketika mereka menikah nanti susah mendapatkan keturunan, apa yang akan Danar lakukan. Danar begitu menginginkan keluarga kecil begitupun Sephia.


"Gak usah mikir yang macem-macem, ayo tidur," ajak Danar lagi.


Apapun yang terjadi, jika hal seperti itu terjadi pada kita ... aku bersumpah tidak akan pernah sedetikpun ninggalin kamu, Phi. batin Danar dalam hati.


***enjoy reading 😘


makasih buat temen-temen yang udah dengan suka rela memberikan like dan komen, hadiah-hadiah bahkan vote tanpa ada paksaan sedikit pun. Makasih banyak ya🙏 komen-komen kalian sudah pasti aku baca maaf aku belum bisa balas semuanya, tapi yang pasti kalian adalah sesuatu untuk karya ini.


Chida ❤️***

__ADS_1


__ADS_2