
Usia kandungan Sephia sudah memasuki tujuh bulan. Awal-awal kehamilan yang katanya menyiksa bisa Sephia lalui dengan santai atas bantuan suaminya dan juga mbok Marni. Mama Diana dan ibu Widya juga setiap bulan sekali menyempatkan datang berdua atau saling bergantian.
Bahagianya Danar saat usia kandungan Sephia berusia 12 minggu, untuk pertama kalinya ia mendengar detak jantung benih yang ia tanam di rahim istrinya. Janin yang sudah bernyawa itu benar-benar mengalihkan dunianya. Sayangnya pada Sephia semakin menjadi, Danar memang sosok penyayang. Kehidupannya sedari kecil sudah dilimpahi kasih sayang oleh ibu yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya.
"Dia gerak ya?" tanya Danar saat dia meraba perut bulat istrinya pagi ini.
"Iya, baru bangun kayaknya."
"Sayang."
"Hhmm," jawab Sephia masih berada di atas dada bidang Danar.
"Kita gak nyari perlengkapan bayi? ibu bilang kalo udah masuk tujuh bulan udah boleh cari perlengkapan bayi."
"Aku nunggu kamu gak sibuk, tapi ada yang udah aku beli dari online shop ... aku gak tahan liatnya lucu-lucu banget Sayang."
"Kok aku gak tau?"
"Aku sembunyiin, kamu pasti ngomel ... kok udah beli kan belom tujuh bulan, pamali loh bla bla bla ... kamu cerewetnya ngalah-ngalahin ibu," gerutu Sephia.
Danar menarik hidung istrinya, ia gemas kalau Sephia terlalu cerewet. Sama seperti saat-saat mereka baru kenal, cerewet dan selalu berdebat.
"Siap-siap, hari ini kita cari perlengkapan bayi," ajak Danar, mengecup kening istrinya lalu beranjak ke kamar mandi.
Sephia tersenyum, jauh di lubuk hatinya dia berharap semua ini akan berlangsung lama hingga mereka menua. Walau Sephia tahu cobaan kehidupan berumahtangga pasti akan selalu ada, bagai ombak yang kadang tenang kadang juga membahayakan. Atau bagai rollercoaster yang kadang pelan menghanyutkan kadang juga memacu adrenalin saat menaiki tanjakan dan turun begitu cepat.
Siang itu mereka menuju salah satu Mall, berjalan beriringan saling bergandengan. Sephia mengenakan overall jeans sebatas lutut dengan sneaker berwarna putih, sedangkan Danar memakai celana pendek bahan berwarna krem serta kaos hitam, dikombinasikan dengan sneaker berwarna senada dengan Sephia.
Memasuki salah satu baby shop, wajah Sephia berseri-seri saat tangannya menyentuh baju-baju mungil yang bergantungan. Melihat sepatu mungil yang nanti dia pasangkan di kaki mungil bayi mereka.
"Ya ampun Sayang, ini lucu-lucu banget."
Semakin masuk ke dalam, Sephia di buat takjub dengan banyaknya perlengkapan bayi mulai dari stroller sampai pada car seat.
"Sayang, kita ambil ini ya," ujar Danar yang sudah berada di salah satu sisi di deretan box bayi.
"Tapi aku maunya adek tidur bareng kita loh, gak di box bayi."
"Masa mau tidur sama kita terus," ujar Danar.
"Emang kenapa? aku kasih tau, kedekatan anak dan ibunya akan tercipta karena kebersamaan begitu juga dengan tidur bersama."
"Iya tau, tapi kan ini juga butuh ... coba kami pikir saat kamu mandi terus tiba-tiba dia bangun gak ada yang jagain ... apa gak bahaya, tiba-tiba dia ...." Danar memperagakan dengan tangan saat yang ditakutkan anaknya menggelinding ke bawah.
"Ok lah ...." Sephia akhinya mengalah setelah di pikir-pikir Danar ada benarnya.
"Mbak saya ambil yang ini, terus car seat mau yang mana Sayang? sama itu ya Mbak, stroller nya." Danar menunjuk barang-barang yang akan ia beli.
__ADS_1
"Sayang, ini bagus ya ... buat tidur," ujar Sephia menunjukkan beberapa jumper tidur untuk bayi.
Danar mengangguk, dia membiarkan istrinya sesuka hati memilih kebutuhan untuk bayi mereka.
"Udah? cukup?" tanya Danar saat akan melakukan transaksi pembayaran.
"Udah ... nanti kalo kurang kesini lagi," ujar Sephia tersenyum.
"Alasan doang itu mah, bilang aja mau shopping cari yang lain," Danar terkekeh.
"Semua diantar ya ... ini alamatnya," kata Danar pada salah satu pelayan toko.
"Kamu gak mau cari sesuatu gitu?" tanya Danar saat mereka melewati Victoria Secret store.
"Aku? apa kamu?" Sephia terkekeh tapi tetap langkahnya masuk ke toko pakaian dalam wanita itu.
Setelah mendapatkan apa yang di cari, sepasang suami istri ini keluar dari toko itu seraya tersenyum.
"Di coba ntar malem," bisik Danar di telinga Sephia. Sephia mencubit pinggang lelaki itu lalu tertawa.
...----------------...
"Box nya di taruh di situ aja, Sayang." Sephia menunjuk sisi sebelah tempat tidur yang dekat dengan jendela kaca.
"Siap, Nyonya Danar."
"Mbok, alat-alat pompa dan sterilnya di letakin di atas lemari pakaian adek aja ya, dispenser letakin di samping kulkas," titah Sephia.
"Gak sekalian bawa kompor masuk ke kamar kita, Sayang," ujar Danar yang melihat isi kamarnya terdapat barang-barang baru milik bayi mereka.
Sephia tertawa sambil memegang perutnya, terkadang janin yang berada di dalam kandungannya itu ikut bergerak jika mendengar suara gelak tawa.
"Capek?" tanya Sephia mendekati Danar yang terduduk di sofa kamar mereka.
Danar menggeleng lalu menarik tangan istrinya untuk mendekat padanya.
"Malem ini yuk ... katanya kalo sudah mendekati masa-masa melahirkan harus sering-sering Sayang," ujar Danar.
"Masa? tau darimana?"
"Nanya sama mbak Google," ujar Danar mengulum senyum.
"Ih, suami aku tambah pinter," kekeh Sephia. "Aku mandi dulu ya ... biar seger." Sephia mengedipkan sebelah matanya.
Setengah jam berlalu, Sephia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian berbahan transparan berwarna hitam yang ia beli siang tadi. Mendapati Danar yang sudah bersandar menunggunya sedari tadi, lelaki itu memperhatikan istrinya berjalan mengarah padanya.
Sephia menggulung rambutnya tinggi, perutnya yang membulat semakin membuatnya terlihat seksi. Dada yang semakin berisi membuat Danar tersenyum melihat kelakuan istrinya yang sudah merangkak naik ke atas tubuhnya.
__ADS_1
"Seksi," ujar Danar membelai pundak dan menurunkan tali sejari berenda berwarna hitam.
"Kan yang pilih kamu tadi," bisik Sephia di telinga suaminya.
Danar melepas kaosnya, lalu mencium bibir Sephia. Melepaskannya kembali lalu menciumnya lagi.
"Apa gak terlalu sore Sayang," ujar Sephia mesra.
"Apa bedanya sore dan malam, kalo yang kita lakuin sama aja," Danar terkekeh lalu kembali mencium bibir Sephia.
Lelaki itu menyusuri leher jenjang Sephia, membuat Sephia mendesah. Tangan Danar masih berada di luar pakaian transparan itu, masih asik meremat dada Sephia. Sementara Sephia mulai bergerak maju dan mundur.
"Sayang," ujar Danar.
"Iya."
"Di buka dong," titah Danar agar Sephia membuka celana suaminya.
Sephia menurunkan celana itu hingga balutan terakhir, melemparkannya sembarang tempat.
"Di cium Phi," pinta Danar.
"Sebentar ya ... aku gak tahan kalo lama, nafas aku engap."
Danar terkekeh, lalu menuntun istrinya melakukan apa yang ia minta. Memperhatikan wajah Sephia di bawah sana, Danar mengigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang akan membuncah.
"Sini," ujar Danar, Sephia mengikuti perintah lelaki itu lalu mencium bibir Danar dengan liar.
Danar membantu Sephia untuk masuk ke dalam tubuh istrinya.
"Pelan-pelan," ujar Danar memberikan belaian lembut pada perut Sephia.
Sedangkan Sephia, bergerak perlahan diatas tubuh Danar. Semakin lama gerakan itu membuat keduanya terbang ke angkasa.
"Sayang."
"Iya, sekarang yuk," ujar Danar lirih.
Desahan semakin sering terdengar seiring Sephia memberikan tempo yang sedikit cepat.
"Ah ... Phia," lirih Danar, Danar meremat dada istrinya kencang.
Sephia semakin bergerak tak beraturan hingga mereka sama-sama melepaskan hasrat itu sore ini.
***enjoy reading 😘
next part ceritanya akan melangkah satu tahun ke depan ya ... biar gak kaget hanya mengingatkan awal cerita ini ada di akhir tahun 2019.
__ADS_1
jangan lupa like dan komen kalian... matur tengkyuuuhh yang udah ngasih aku bunga, kopi vote bahkan tips atas dasar tulusnya kalian mengapresiasi karya Chida 😘***