Sephia

Sephia
Kita buat lagi


__ADS_3

Pagi sudah menunjukkan pukul tujuh, Sephia beranjak bangun dari tempat tidurnya. Dilihatnya Danar masih tertidur pulas, terhitung sudah tiga hari pasca keguguran, Sephia sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasa, namun Danar masih melarangnya untuk ke kantor.


"Bikin apa?" tanya Danar memeluk tubuh Sephia dari belakang.


"Roti omelette buat kamu."


"Ibu sama mama mana?" Danar menciumi ceruk leher istrinya.


"Tadi keluar aku gak tau, mungkin cari sayur," ujar Sephia menolehkan wajahnya hingga menyentuh hidung mancung Danar.


"Mandi gih, ke kantor ... kamu udah terlalu lama di rumah."


Hampir dua minggu sudah Danar bekerja dari rumah, segala urusan kantor ia bawa ke rumah jika butuh tanda tangannya maka Made atau Ni Luh yang akan datang ke rumah mereka.


"Aku ke kantor besok aja, masih pengen di rumah sama kamu."


"Udah selesai ... makan yuk." Sephia membalikkan tubuhnya, memberikan kecupan di pipi suaminya.


"Mama sama ibu sore nanti ngajakin ke Legian, aku udah boleh kan jalan-jalan," tanya Sephia menyodorkan secangkir teh hangat pada Danar.


"Boleh ... siapa bilang gak boleh," ujar Danar melahap roti omelette buatan istrinya.


Bunyi bel di pintu pun terdengar,


"Kayaknya itu Made, aku buka dulu," ujar Danar berdiri dari tempat duduknya.


"Sayang."


"Iya." Danar menoleh.


"Pake celananya, masa ketemu orang cuma pake boxer," ujar Sephia mengingatkan.


"Oh iya aku lupa," ujarnya mengecup pucuk kepala istrinya.


...----------------...


Satu bulan berjalan setelah peristiwa itu, kehidupan kembali normal begitupun hubungan suami istri di atas tempat tidur. Hanya saja Sephia belum menginginkan Danar membuahi rahimnya. Sephia hanya mengikuti saran dokter, agar membiarkan rahimnya kembali sehat.


"Kamu hari ini ada meeting dengan tim marketing mengenai produk baru, jam 2 nanti," Sephia mengingatkan suaminya, lalu meletakkan laporan-laporan keuangan yang diserahkan padanya oleh Ni Luh.


"Meeting terus udah seminggu ini, kamu ikut ya," ajak Danar.


"Kan kali ini di kantor meeting nya, aku gak usah ikut lah ...."


"Sini." Danar mengulurkan tangannya pada Sephia agar mendekat.


"Aku bosen di Bali, kita jalan-jalan yuk," ujar Danar.


"Kemana?"

__ADS_1


"Kemana kamu mau, keluar negeri juga boleh," kata Danar membawa Sephia ke pangkuannya.


"Kemana ya ... kita pulang aja ke Jakarta gimana?"


"Hhmm ... itu namanya bukan jalan-jalan, tapi pindah tidur, ujung-ujungnya aku tetep bahas kerjaan sama mereka." Danar terlihat tak tertarik dengan ajakan Sephia.


"Terserah kamu deh, aku ikut aja."


"Atau kita ke villa aja Sayang, mau gak?"


"Gak ah serem kalo cuma berdua doang,"


"Dulu waktu di ajak kesana kok kamu gak bilang serem," Danar terkekeh.


"Kan terpaksa, tiba-tiba kamu bawa aku kesana ... gak mungkin aku minta pulang," sungut Sephia mengingat masa-masa mereka sebelum menikah.


"Sayang," ujar Danar yang sudah memainkan kancing kemeja istrinya.


"Apa?"


"Semalem kan gak jadi, sekarang aja yuk," ujar Danar yang sudah melepaskan dua kancing kemeja Sephia.


Sephia tertawa, dia ingat kejadian tadi malam, saat mereka akan bercumbu tiba-tiba Mama Diana menelpon, hanya untuk memberitahukan jika anak Agung sudah bisa membalikkan badannya sendiri. Wanita paruh baya itu terlihat senang sekali ketika Lintang berceloteh saat kamera ponsel diarahkan padanya.


Hingga Danar kesal sendiri dan meninggalkan istri dan ibunya berbicara entah sampai berapa lama.


"Semalem ngomongin apa aja sama mama?" tanya Danar.


"Ayo Phi, sekarang aja." Danar sudah berhasil membuka seluruh kancing kemeja istrinya.


"Ya ampun, kamu ngobrol jalan, tangan juga jalan," ujar Sephia seketika tubuhnya menegang ketika tangan suaminya sudah meremat dada Sephia.


"Sayang, ini di kantor." Sephia sudah menempelkan bibirnya di ceruk leher suaminya.


"Kamu gak kepikiran manggil aku Mas?"


Sephia tergelak, tawanya tak berhenti. Geli rasanya ketika mendengar permintaan suaminya yang satu ini.


"Loh kenapa dengan panggilan Mas? kok ketawa," ujar Danar iktu terkekeh.


"Aku geli ... jangan Mas deh,"


"Ya udah Aa ... Akang, kamu kan Sunda."


Sephia menggeleng lalu menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum.


"Aku panggil kamu Sayang aja, aku kan romantis."


"Emangnya Mas, akang, aa gak romantis?"

__ADS_1


"Romantis ... romantis kok tapi aku lebih suka panggil kamu Sayang, dan nanti kalo anak kita sudah ada aku bakal panggil kamu Ayah ... Ayah Danar yang ganteng," ujar Sephia mendekatkan bibirnya pada bibir Danar, namun bukan menciumnya namun menggigit bibir lelaki itu.


"Sakit, Phi."


Sephia beranjak dan merapihkan kemejanya.


"Kok udah, kan aku mau."


"Jangan di kantor, kamu jadi kebiasaan kalo di kantor," ujar Sephia mencium pipi suaminya, dan berlalu meninggalkan suaminya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


...----------------...


Sephia baru saja selesai membersihkan dirinya, dia tak menemukan Danar di dalam kamar. Biasanya lelaki itu berbaring di tempat tidur sembari menunggu Sephia selesai mandi.


Sephia membuka lilitan handuk putih itu dari tubuhnya, berjalan santai membuka lemari pakaiannya. Kulitnya yang putih dengan tubuh proporsional yang ia miliki membuat Danar yang baru saja masuk ke dalam kamar terkesima.


Perlahan tanpa bunyi ia mendekati Sephia, membuka kemeja yang ia pakai, lalu menempelkan tubuhnya pada tubuh belakang Sephia.


"Astaga, kamu ngagetin aku." Sephia tersentak saat tiba-tiba Danar mencium lembut tengkuk lehernya.


"Aku mau Phi, dari kantor aku nahan," ujarnya seraya berbisik, perlahan tangannya naik ke dada Sephia, merematnya lembut.


"Tapi aku mau pake baju," ujar Sephia, namun Danar membalikkan tubuhnya.


"Aku suka kamu tanpa pake apapun," Danar menggoda.


Dituntunnya Sephia untuk berbaring di tempat tidur mereka, wanita itu terlalu pasrah menunggu apa yang akan suaminya lakukan selanjutnya. Danar membuka celana chinos berwarna hitam itu turun hingga menyentuh lantai. Dia merangkak naik mengungkung istrinya yang berada di bawah tubuhnya.


"Kita buat lagi ya?" Mata Danar terlihat sendu, Danar menciumi Sephia dengan lembut dan semakin menuntut.


Bibir itu menyusuri leher hingga berhenti di atas dada Sephia, memainkan lidahnya sehingga membuat darah yang mengalir di tubuh Sephia berdesir. Wanita itu mendesah perlahan saat Danar menekan bagian bawah mereka lalu bergerak turun naik.


"Kata dokter masih sebulan lagi ... ah Sayang," Sephia mendesah kala jari jemari Danar menyentuh bagian sensitifnya.


"Aturan untuk di langgar Sayang, sekali-kali kita langgar," ujar Danar melihat Sephia yang sudah mengangkat kepalanya melihat Danar sudah berada di bawah sana melakukan sesuatu yang Sephia sukai.


"Hhmm ...."


"Kenapa?" tanya Danar menciumi kembali bibir istrinya. "Mau sekarang?" lelaki itu seakan mengulur waktunya.


Sephia mengangguk, tubuhnya semakin tak bisa ia kontrol, melingkarkan tangannya di leher Danar, dan mencengkeram lengan Danar saat suaminya itu memasukinya. Danar memompa istrinya dengan sangat lembut, ritme itu perlahan namun membuat Sephia melambung ke angkasa. Gerakan itu perlahan semakin cepat, erangan Danar terdengar mengisi seisi ruangan. Sementara Sephia menatap wajah suaminya, sesekali Sephia meremat sendiri dadanya dan Danar suka melihat itu.


"Sekarang, Phi," ujar Danar terbata menahan buncahan yang akan menerobos masuk di dalam sana.


"Sekarang Sayang," jawab Sephia.


Desahan dan erangan itu menjadi satu ketika pelepasan itu sama-sama terjadi dalam satu waktu. Danar merebahkan dirinya, ia bawa Sephia ke dalam pelukannya.


"Kita buat lagi nanti ya." Danar memberikan kecupan di kening Sephia, istrinya itu masih menata debaran jantungnya yang berdetak tak menentu.

__ADS_1


***enjoy reading 😘


lima part lagi menuju TAMAT ya dukung terus karya Chida dengan like dan komen dari teman-teman semua ... sungguh dukungan itu menjadi mood booster buat aku... aku sayang kalian 😘😘😘😘***


__ADS_2