Sephia

Sephia
Fakta


__ADS_3

"Ngapain kamu di sini?" tanya Agung yang sudah menunggu Wulan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang semakin pucat.


"Urus-urusan kamu sendiri!" kata Wulan ketus.


Agung menarik tangan gadis itu, membawanya ke balkon, menyudutkannya di sana.


"Kasih tau aku, ngapain kamu di sini!' tekan Agung pada Wulan. "Ada hubungan apa kamu sama adikku?"


"Mana aku tau kalo dia adik kamu ... le--pas!' Wulan berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Agung.


"Jawab aku ... apa hubungan kamu sama Danar," ucap Agung.


"Kami sepasang kekasih," ujar Wulan melepaskan cengkraman tangan Agung.


"Bullshit! jangan bilang ini alasan kamu menghindari aku ... apa kurang aku Lan? APA!! Jawab ... jawab aku Lan!" Agung meluapkan emosinya.


"Kamu gak ngerti aku butuh apa ... kamu gak pernah ada di saat aku butuh orang yang perduli sama aku ... kamu datang hanya di saat kamu butuh ... kamu bahkan cuma mau tubuh aku ... setelahnya kamu pergi gitu aja, Mas." Wulan terisak.


Dia mencintai Danar, tapi dia lebih mencintai Agung, sayangnya Wulan merasa seperti persinggahan selama ini. Wajar jika Wulan lebih memilih Danar untuk bersama.


"Ini ...." Agung menunjukkan foto USG berumur 6 minggu yang ia temukan di apartemen Wulan sore kemarin saat ia berkunjung kesana dan bertengkar dahsyat dengan wanita itu. "Ini milik aku?" tanyanya lirih.


"Bukan ... ini bukan milik kamu, Mas ... ini milik Danar." Wulan semakin terisak.


"Bagaimana ini bisa milik Danar ... jika Danar gak pernah nyentuh kamu ... terakhir kita berhubungan satu bulan lalu di Singapura ingatkan aku dengan kejadian satu minggu kita menghabiskan waktu disana," ujar Agung mengingat kejadian ketika dia mendapatkan kabar Wulan sedang berada di Singapura untuk pemotretan dari manager Wulan. "Jawab jujur ke aku ... Danar gak pernah nyentuh kamu, IYA KAN? JAWAB!!"


"Sepertinya ada yang gue lewatkan di sini." Suara itu membuat Agung dan Wulan menoleh.


"Danar ... Danar, aku bisa jelasin," ujar Wulan meraih tangan Danar.


"Memang harus lo jelasin ... jangan ada yang terlewatkan karena gue gak suka satu kata dan kejadian terlewatkan begitu saja." Rahang Danar mengeras menahan emosi dan menghempaskan tangan Wulan.


"Gak ada yang harus dijelasin ... semua sudah jelas Wulan hamil anak gue," seloroh Agung.


"Harus dijelasin Mas, biar gue gak ngerasa kalo gue pernah melakukan kesalahan sama perempuan ini .... Gimana Wulan, lo siap jelasin ini semua mulai dari mana?" Danar melipat tangan di dadanya.


"Aku--- Danar ini gak seburuk yang kamu kira, aku bahkan gak tau kalo Mas Agung kakak kamu."


"Jadi kalo Mas Agung bukan kakak gue, lo akan lebih senang lagi ... tiba-tiba kita menikah dan anak dalam kandungan lo itu gue akui sebagai anak gue? iya Lan? itu kan rencana lo? IYA KAN?" Danar meninggikan suaranya karena dia tak habis pikir dengan cara licik Wulan.


"Danar ...." lirih Wulan.

__ADS_1


"Gue bahkan harus kehilangan orang yang tulus cinta sama gue karena gue merasa bertanggungjawab sama lo Lan, bahkan gadis itu pergi karena gak mau jadi benalu diantara kita, brengsek!" Danar menendang kursi yang ada dihadapannya.


"Kapan kalian berhubungan?" tanya Danar pada Agung yang bersandar di pagar pembatas.


"Belgia, gue rasa awal tahun 2019, gue ketemu lagi sama Wulan ... dia adik tingkat gue saat di UK," jelas Agung.


"Belgia? hhmm ... gue mulai ngerti permainan lo Wulan, licik lo ... jelasin sama gue malam di saat gue mabuk, saat gue bilang kita akhiri hubungan kita, coba ingatkan gue sekali lagi malam itu ... kenapa gue ngerasa, lo begitu pintar bermain dalam drama yang lo bikin, ingetin lagi gue PERISTIWA itu!!"


"Peristiwa apa?" Mama Diana sudah berada di antara mereka.


Mama Diana merasa kedua anaknya terlalu lama berada di atas, hingga dia mendengar suar lantang dari Danar. Mama Diana bergegas naik namun perlahan ia menghentikan langkah kakinya, dan mendengarkan semua perkataan yang terlontar dari anak-anaknya serta Wulan, wanita yang kini sudah dalam keadaan terjepit dalam situasi.


"Mama ...," ujar Danar dan Agung bersamaan.


"Mama minta kalian berdua ... dan kamu Wulan, menjelaskan semua ini! Mama tunggu kalian di bawah ... SEKARANG!"


Wanita yang sangat mengagungkan nama baik keluarga dan selalu mewanti-wanti kedua anaknya agar tak berbuat sesuatu yang berlebihan itu sekarang merasa kecewa. Mati-matian dia meminta anak-anaknya untuk selalu mengingat pesannya, hingga yang ia dapati sekarang adalah kedua anaknya berada di keadaan yang rumit bersama satu wanita.


Pak Hermawan dan Mama Diana, sudah menunggu mereka bertiga di ruang keluarga. Wulan terlihat pucat dan menunduk, hilang sudah image nya sebagai seorang model yang profesional dan calon menantu idaman.


"Siapa yang akan menjelaskan duluan?" tanya Mama Diana.


"Ada apa ini?" Pak Hermawan bertanya dengan pelan.


"Mama mungkin bisa tanya langsung ke Mas Agung," kata Danar.


"Agung?"


"Ya Ma ...."


"Ada apa ... apa yang terjadi?"


Agung terdiam, seorang pemimpin perusahaan yang terkenal dengan kepiawaiannya menjalankan perusahaan hingga ke mancanegara itu kali ini terlihat seperti anak kecil yang mencari perlindungan saat melakukan kesalahan.


"Agung ... bisa kamu cerita apa yang terjadi?" tanya Pak Hermawan lagi.


"Em ... Wulan hamil Pa," ujar Agung pelan dan Wulan yang mulai terisak.


Pak Hermawan meremas dadanya, menghela nafasnya kasar. Terlihat kekecewaan pada raut wajah lelaki tua itu.


"Wulan hamil anak Agung, Pa." Agung menatap lelaki itu, takut jika terjadi pada sang Papa.

__ADS_1


"Bagaimana bisa hamil dengan kami pacaran sama adik kamu? lucu kalian ini."


"Saya gak pernah tau kalo Mas Agung dan Danar adalah saudara, Tante," kata Wulan terbata-bata.


"Lalu kenapa kamu meminta pertanggungjawaban kehamilan kamu pada Danar?"


Wulan terdiam.


"Peristiwa apa yang terjadi pada Danar saat Danar katakan tadi di balkon? jawab saya Wulan!"


"Danar ... Danar sudah merenggut kesucian saya Tante ... dalam keadaan mabuk." Wulan menunduk.


"Bohong Ma," ujar Agung tegas. "Agung yang sudah merenggut kesucian Wulan saat di Belgia ... dia menjebak Danar karena dia benci sama Agung, karena Wulan ngerasa Agung gak bisa mengerti dan peduli sama Wulan, Ma .... sedangkan Danar, walaupun gak cinta sama Wulan ... tapi Danar masih perduli sama Wulan, itu sebabnya kenapa Wulan memilih Danar dibandingkan Agung, begitu kan Lan, koreksi aku bila aku salah ... begitu kan rencana kamu? JAWAB!"


Wulan menangis, tak disangkanya akan seperti ini kejadiannya. Rasa sakit hatinya pada Agung dan rasa bersalah pada Danar karena telah menjebaknya.


"Aku akan bertanggungjawab atas anak yang ada di kandungan kamu," kata Agung tegas.


Pak Hermawan dan Mama Diana terkejut, jelas-jelas kedua anaknya sudah dipermainkan oleh wanita ini. Namun pasangan suami istri ini juga tidak mungkin membiarkan bayi di kandungan Wulan lahir tanpa seorang ayah.


"Aku---" Wulan menatap Agung tajam dengan mata yang sudah sembab karena menangis. "Tapi kamu gak mencintai aku, aku gak mau hidup dengan orang yang gak perduli sama aku, bahkan sama anak aku nantinya ...." Wulan menggeleng dengan cepat.


"Aku cinta kamu Lan, bukan cuma sekedar nafsu bahkan sekedar butuh ... aku sadar aku salah, ijinkan aku menebus kesalahan masa laluku dengan meminta kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anak aku," kata-kata itu terucap dari Agung dengan sungguh-sungguh.


"Agung mohon Mama dan Papa merestui kami ... meski cara kami salah, tapi kami mohon beri kesempatan bagi Agung dan Wulan untuk memperbaikinya." Agung memohon kepada orangtuanya.


"Mama no comment," Mama Diana masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


"Lakukan kewajiban dan tanggungjawab kamu sebagai seorang lelaki ... kesalahan yang kalian perbuat setidaknya bisa menjadi satu pelajaran hidup." Pak Hermawan masih memijat keningnya.


"Ma ... restui Agung, Agung janji pernikahan ini pertama dan terakhir, Agung janji selalu mengingat pesan yang Mama sering ingatkan pada Agung ... Agung janji bisa membimbing istri Agung nantinya menjadi lebih baik lagi."


Mama Diana masih diam, sungguh dia masih merasa kecewa atas apa yang di perbuat oleh Agung.


"Saya ... dari hati yang paling dalam, memohon maaf atas segalanya pada keluarga Om dan Tante, maafkan saya yang sudah lancang masuk ke dalam kehidupan kedua putra Tante," Wulan semakin terisak. "Tapi, saya mohon beri saya kesempatan untuk menebus semuanya ...." Wulan mendekat dan bersimpuh di lantai.


"Ma ... maafin Agung," Agung meraih tangan wanita tua itu dan menciumi punggung tangan nya. "Kasih kami kesempatan," tatap Agung bersungguh-sungguh.


"Kalian buktikan saja sama Mama ...."Mama Diana lalu menoleh pada Danar, anak tiri kesayangannya itu adalah korban yang sesungguhnya.


Danar hanya menikmati drama kehidupan yang terjadi di dalam keluarganya. Namun pikirannya masih berkecamuk kekesalan karena harus kehilangan orang yang benar-benar dia inginkan.

__ADS_1


***enjoy reading 😘


jangan lupa like dan komen yaaaah 😘***


__ADS_2