
"Aku bahagia, karena sebentar lagi bakal bisa sama-sama terus dengan kamu, gak ada yang ganggu ... gak ada yang diam-diam suka sama kamu, gak ada yang bakal nikung aku dari belakang."
Sephia mengerutkan alisnya, sepintas teringat olehnya ketukan Danar di pintu ruang kerja Kalla saat mereka berpelukan. Apakah Danar mendengar atau melihat semuanya?
"Siapa yang nikung?" tanya Sephia penasaran.
"Gak tau ... mungkin aja."
Sephia merubah posisi tidurnya, menyingkir ke sisi Danar dan memiringkan tubuhnya mengarah pada lelaki itu.
"Kok kamu bisa bilang gitu?"
"Kamu ngerasa? atau mungkin ada yang mau kamu ceritain ke aku?"
Sephia terdiam, menghela nafasnya perlahan lalu menggeleng.
"Gak ada, kalau pun ada itu gak penting buat kita ... ingat Sayang, arah aku itu ke kamu ... jadi jangan pernah mengubah arah itu pada arah yang berlawanan, karena tujuan aku sebenarnya adalah kamu."
Danar membelai pipi Sephia, merapihkan helai demi helai rambut yang sedikit berserakan di wajahnya.
"Aku tau tujuan kamu itu aku, aku hanya memastikan di saat kamu menuju ke arah aku, gak ada penghalang yang menghalau jalan kamu." Danar mengecup bibir Sephia dengan lembut. Mendekatkan dirinya, memeluk gadis itu.
"Masih mau tidur sendiri? apa tidur sama aku?tanya Danar.
"Tidur sama kamu ... nunggu seminggu lagi lama ya Sayang," kata Sephia membuat bantalan di lengan Danar.
"Kenapa?"
"Takut kangen." Sephia tersenyum lalu membenamkan wajahnya di antara dada dan lengan Danar.
...----------------...
__ADS_1
Sebelum kepulangannya ke Bali, Danar mengantarkan Sephia lebih dulu ke kantornya. Dia ingin menyempatkan diri bertemu Kalla sekaligus membicarakan tender yang akan di mulai minggu depan.
"Kamu mau tunggu di sini atau di ruangan Kalla?" tanya Sephia.
"Di sini aja, aku mau liatin kamu siap-siap memulai hari kerja." Danar bersandar pada meja kerja Sephia.
Ia memperhatikan gadis itu mulai dari membuka laptop, lalu tablet lalu berjalan menuju lemari penyimpanan arsip kembali lagi duduk di kursi kerjanya.
"Aku kangen kita satu kantor, Sayang," kata Danar.
Suara langkah kaki mengarah kepada mereka, Kalla baru saja sampai rupanya.
"Pagi, Phi." Sapaan yang khas dari Kalla setiap paginya. "Loh, ada lo Dan ... ada perlu sama gue? masuk yuk ... kenapa gak nunggu di dalam?" tanya Kalla saat melihat Danar ada di dekat meja kerja Sephia. "Phi, jadwal aku hari ini apa?"
Sephia mengikuti langkah Kalla memasuki ruangan itu dengan membawa tablet dan laporan yang berada di atas mejanya tadi. Lalu Danar mengikuti mereka dari belakang, setelahnya Danar duduk di sofa tamu.
Memperhatikan kekasih dan sahabatnya sedang berinteraksi membahas beberapa jadwal hari ini, serta pembahasan laporan yang akan di tandatangani.
"Notulen meeting jangan lupa di bawa nanti Phi," ujar Kalla ketika Sephia akan meninggalkan ruangan itu.
"Lo balik ke Bali hari ini Dan?" tanya Kalla setelah Sephia keluar dari ruangan itu.
"Iya, siang jam 12 ... gue mau sekalian nge bahas, pilihan furniture yang lo ajuin proposal kemarin Kal ... jadi desain interior di hotel itu kan klasik modern jadi yang gue tawarkan di sini untuk di setiap kamar antara VIP dan VVIP itu gue tambahin satu item yang gue bedain." Danar membuka laptopnya memulai membahas pekerjaan mereka.
Hampir dua jam berlangsung Danar berada di sana membahas proyek mereka, Sephia kembali masuk mengantarkan dua cangkir kopi dan beberapa cake yang ia pesan delivery.
Sephia meletakkan semua di meja, seketika mata Kalla tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Sephia. Hal itu di tangkap oleh Danar, Danar memperhatikan bagaimana perubahan wajah Kalla saat melihat cincin itu berada di jari Sephia.
"She is mine," ujar Danar pada Kalla saat Sephia tak berada lagi di sana.
"Sorry?"
__ADS_1
"She is mine," ulang Danar. "Kemarin di Purwakarta gue lamar dia di depan kedua orang tuanya." Danar mempertegas. "Minggu depan, kalo gak ada halangan kita resmi mengadakan lamaran untuk pertunangan."
Hati Kalla benar-benar mencelos, dia sandarkan perlahan punggungnya pada sandaran sofa.
"Selamat Dan ... lo layak dapetin dia," ujar Kalla.
"Iya, akhirnya perjuangan gue selama ini membuahkan hasil, dan gak akan gue biarkan kesempatan itu lewat begitu saja ... dan gak akan gue beri kesempatan orang lain mendahului gue." Danar tersenyum tipis.
"Sudah terlalu banyak yang kami lalui Kal, mulai dari masalah gue yang buat dia lari dari gue, kesalahpahaman dalam hubungan kami hingga kemarin gue mendengar sendiri bagaimana sahabat gue menyatakan perasaannya pada Sephia." Danar melemparkan pandangannya pada Kalla.
"Apa yang lo harapkan dari seorang Sephia, Kal ... sedangkan di hadapan lo sudah menunggu seseorang yang selama ini selalu ada buat lo ...."
Kalla terkejut, tapi dia berusaha sebisa mungkin memendam perasaan kacau balau di hatinya. Rasa bersalah pada sahabatnya dan kekasihnya.
"Sayangnya, gue terlalu percaya sama Sephia ... dia yang selalu menanamkan rasa percaya pada diri gue tentang hubungan ini ... dan gue bangga sama dia, dia tetap milih gue seperti yang dia bilang cinta tau tempat yang dia tuju."
"Gue cuma mau menanggapi ini secara dewasa aja Kal, apalagi kita sudah berteman lama ... kayak lo bilang sama gue, dari dulu selera kita sama ... dan yang perlu lo tau adalah, kita juga sama-sama pernah menyakiti perasaan orang yang kita sayang yaitu Sephia dan Nami."
Kalla rasanya ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya terkatup begitu saja. Bahkan kata maaf saja begitu susah terlontarkan. Entah bagaimana Danar bisa tahu, apakah Danar mendengar ungkapan perasaannya pada Sephia saat di Puncak atau Danar melihatnya memeluk Sephia untuk terakhir kalinya beberapa hari yang lalu.
"Lo gak harus ngomong apa-apa Kal, anggap saja ini balas budi dari gue karena lo sudah baik mempertemukan kembali gue sama Sephia, karena lo sudah berbaik hati menjaga Sephia selama ini dan juga sebaiknya ini di rahasiakan dari Nami ... gue kalo jadi lo gak bakal tega menyakiti hati wanita selembut dia," ujar Danar menirukan kata-kata Kalla saat Danar memintanya mempertemukan dirinya dengan Sephia sesaat dulu.
"Gue pamit ya ... ketemu minggu depan, ini undangan khusus dari gue agar lo ikut merasakan hari bahagia gue sama Sephia." Danar mengulurkan tangannya, lalu memeluk sahabatnya itu menepuk bahu Kalla.
"Oh, by the way ... kerjasama kita masih terus berlangsung kan?" Danar mengulas senyumnya lalu melangkah keluar, menemui kekasihnya.
"Aku pulang ya, sampai ketemu minggu depan," Danar memberikan kecupan di pipi Sephia dan mengacak rambut gadis itu.
Dari celah pintu yang tak tertutup rapat itu, Kalla menyaksikan semuanya. Semua rasa berkecamuk namun yang terjadi sudah terjadi tak adalagi yang harus di sesalkan, sekarang bagaimana semuanya bisa seperti dulu lagi meski akan sulit untuk mengembalikan keadaan itu lagi.
***makasih untuk bunga mawar sekebon dan secangkir kopi buat Chida begadang setiap malamnya... 😘
__ADS_1
enjoy reading 😘
dibanyakin komen dan like nya yaaaah***