Sephia

Sephia
Menghapus jejak


__ADS_3

Hari ini, hari dimana pernikahan Agung dan Wulan yang diadakan secara sederhana oleh keluarga Hermawan Wicaksana. Rumah besar itu berubah ramai dengan datangnya keluarga besar dan beberapa kerabat, serta rekan bisnis.


Mama Diana yang meminta pernikahan ini biasa-biasa saja, yang penting SAH dulu katanya. Perkara akan diadakan resepsi akan di pikirkan nanti selanjutnya. Dari pihak Wulan pun tak dapat meminta lebih dikarenakan Wulan yang sudah berbadan dua.


Sepasang pengantin baru yang terpaksa menikah karena keadaan itu pun, sebenarnya merasakan kebahagiaan. Namun keduanya sepertinya masih malu mengakui itu. Kebahagiaan itu terpancar dari sudut bibir mereka yang kadang saling melempar senyum satu sama lain.


Danar yang berdiri di sudut taman, terlihat ingin cepat-cepat meninggalkan acara itu dan berlari menemukan kekasih hatinya. Tapi harus dia tahan sebentar lagi karena acara baru saja selesai di mulai.


"Mama liat dari hari kejadian itu kamu seperti uring-uringan Dan," suara Mama Diana mengagetkan Danar.


"Ah Mama, kaget Danar."


"Ada yang kamu pikirkan? gak mau cerita sama Mama? terkadang Mama kangen, mendengarkan keluh kesah anak-anak Mama seperti dulu, terlebih kamu jika ada masalah pasti selalu cerita sama Mama."


"Gak ada apa-apa Ma, Danar cuma ...."


"Apa ini ada hubungannya dengan yang bernama Sephia?"


Danar menoleh, tak disangkanya Mama Diana masih mengingat jelas nama gadis itu.


"Sephia, korban dari permasalahan kalian?" tanya Mama Diana pada Danar dan Danar menjawab dengan anggukan.


"Kalo menurut kamu dia layak kamu perjuangkan kenapa gak kamu cari dia dan bawa dia menemui Mama," ucap Mama Diana.


Mata Danar terbelalak mendengar ucapan dari Mama Diana, sumpah demi apapun wanita yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu mempunyai hati yang luar biasa baiknya. Bersyukurnya Danar bertemu dengan Ibu tiri yang bahkan mungkin lebih baik dari seorang ibu kandung.


"Danar pasti bawa dia kehadapan Mama, Mama pasti suka sama Phia, sesuatu yang ada di diri Phia juga ada di diri Mama, Phia tulus mencintai Danar Ma, bahkan dia berkorban demi Danar meski hatinya sakit," ujar Danar dengan mata berkaca-kaca.


"Bawa dia kesini, cari dia sampai dapat Dan, jika memang dia patut kamu perjuangkan."


Danar mencium pipi wanita yang masih terlihat cantik itu lalu mencium punggung tangannya. Danar meninggalkan acara itu menuju Bogor, dengan alamat yang ia punya walaupun sedikit info yang ia dapat namun Danar yakin bisa menemukan gadis yang sudah meluluhlantakkan isi hatinya itu.

__ADS_1


"Permisi, maaf ... tau alamat ini dimana ya?" tanya Danar pada seorang penjaga warung kelontong di depan sebuah gang saat dia sudah sampai di Ciomas, kelurahan Ciapus.


"Oh kalo ini mah RT 01, kalo RT 03 mah masih jauh Kang, kira-kira 200 meter lah dari sini ... mau cari siapa? kali saja saya teh kenal."


"Saya cari guru Matematika SMA Bu, anaknya ada perempuan namanya Sephia, mungkin Ibu kenal?"


"Wah kalo Sephia mah saya gak tau, tapi kalo guru di sini yang ngajar di SMA mah setau Ibu, namanya Pak Asep ... iya Asep Sudrajat, kalo memang itu yang di maksud, Akang mah dari sini nanti di gang ke tiga masuk rumah nomer 10 dari mulut gang, tanya aja rumah Pak Asep atau Bu Wid nama istrinya, tapi kalo nama anaknya saya teh gak tau." Jelas Ibu pemilik warung.


"Oh gitu ... kalo gitu saya coba dulu Bu, makasih informasinya." Danar lalu meninggalkan warung itu menuju alamat yang di berikan tadi.


"Ini gang ke dua ... berarti sebelah sana gang ke tiga," gumam Danar lalu berhenti di sebuah gang yang hanya bisa di lalui oleh satu mobil itu.


Danar terpaksa berjalan kaki, untuk mencapai rumah yang dia cari. Menghitung dari nomer rumah paling awal di mulut gang hingga berhenti di rumah nomer 10. Danar berdiri di depan pagar berwarna putih itu, rumah itu nampak sepi. Rumah yang mungkin hanya di terdiri dari tiga kamar itu terlihat begitu sederhana, halamannya tak terlalu luas namun rapih.


"Cari siapa?" tanya seorang bapak-bapak memakai sarung.


"Oh ... maaf Pak, saya mau tanya ini benar rumah guru Matematika SMA? punya anak gadis namanya Sephia?" tanya Danar pada bapak itu.


"Kalo setau Bapak, Pak Asep itu guru tapi teu ngerti Matematika apa agama apa olah raga ya," ujar lelaki yang sudah berambut abu-abu itu.


"Anaknya ada yang cewek memang, tapi di panggilnya mah Teteh, Bapak gak tau namanya siapa," kata lelaki itu lagi


Danar menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, hingga ada seorang wanita bertubuh tambun melintasi mereka.


"Maaf Bu, ini bener rumahnya Sephia?"


"Oh, neng Phia? bener ini mah rumah neng Phia ... tapi mereka sudah pindah ke Purwakarta sehari lalu."


"Pindah?"


"Iya, pulang ke kampung halaman Pak Asep, yang saya denger dari tetangga karena Pak Asep pensiun."

__ADS_1


"Semua keluarganya?"


"Iya, cuma anaknya nomer dua yang saya tau nge kost deket kampus ... kalo neng Phia sendiri kayaknya belum kerja, rumah ini juga sudah laku terjual," jelas ibu itu lagi.


"Terjual?"


"Iya, sudah laku ...."


"Ya ampun," gumam Danar menyugar rambutnya.


"Teman neng Phia?"


"Iya Bu ... tapi, Ibu tau alamat di Purwakarta dimana?"


"teu terang ...." Ibu itu menggeleng.


Aku cari kamu dimana lagi, Phia batin Danar seakan tersayat, sepertinya memang Sephia ingin menghapus jejaknya dari kehidupan Danar.


"Ah, sebentar ... itu Pak RT, mungkin tau," ujar bapak yang memakai sarung tadi.


"Punten, ieu si Akang bade naroskeun alamat Pak Asep di Purwakarta, mugia Pak RT terang aya dimana?" tanya bapak itu ketika Pak RT menghampiri mereka.


"Oh Pak Asep ... kemarin sih sempet ngobrol, Beliau bilang di Purwakarta daerah Sadang, teu terang daerah mananya ... cuma bilang Sadang aja ceunah."


Danar mengangguk angguk, lalu berterima kasih atas informasi yang di berikan. Kembali dia melajukan mobilnya ke arah Purwakarta, pikir Danar hari ini harus selesai semua, dia harus menemukan dimana Sephia, meski hanya berbekal nama daerah Sadang yang entah seluas apa Sadang itu yang pasti Danar harus mencobanya. Waktunya hanya sampai besok, lusa dia harus kembali ke Bali tak mungkin juga dia meninggalkan perusahaannya sudah hampir dua minggu.


Hampir menempuh waktu tiga jam, Danar sampai di depan kantor kecamatan Sadang guna menanyakan seberapa besar wilayah Sadang ini. Namun sayang, nasib belum berpihak padanya, kantor itu sudah tutup satu jam yang lalu.


Mencoba bertanya pada beberapa penduduk, akhirnya Danar menemukan titik terang darimana dia akan memulai untuk mencari. Lelah sudah pasti, namun sesuatu yang diperjuangkan untuk orang yang kita sayang jelas tidak akan terasa berat, karena yang diharapkan adalah pertemuan yang indah nantinya.


Tepat pukul 10 malam, Danar menyudahi pencariannya. Ternyata nama Asep Sudrajat itu benar-benar banyak, namun Asep Sudrajat yang baru pindah dari Bogor belum ia dapatkan.

__ADS_1


Perjuangan ini masih akan berlangsung hingga besok, apapun hasilnya setidaknya Danar sudah berusaha, jikapun tak mendapatkan hasil yang ia inginkan, Danar hanya berharap semesta berpihak padanya mempertemukan kembali ia dan Sephia, meski dengan keadaan yang berbeda dan menyakitkan.


enjoy reading 😘


__ADS_2