
Seorang wanita dengan pakaian minim mendatangi ruangan Sephia siang itu.
"Siang Mbak," ujar wanita berambut pirang itu.
"Siang, ada yang bisa di bantu?" tanya Sephia ramah.
"Saya ada janji temu dengan pak Danar, ada?"
Sephia mengerutkan keningnya, "janji temu?"
"Ah iya, saya sudah telpon beliau tadi," jawabnya lagi.
"Oh ... kalo begitu, mari saya antar."
Setelah beberapa kali ketukan di pintu, Sephia masuk beserta tamu yang katanya tadi sudah membuat janji bertemu dengan Danar.
"Danar, apa kabar?"
Wanita yang tadinya berjalan di belakang Sephia, sekarang sudah mendahului Sephia berjalan ke arah Danar yang baru saja beranjak dari duduknya.
Tautan kedua pipi antara Danar dan wanita tadi, disaksikan oleh Sephia. Wajah Danar yang merasa tak enak dengan Sephia pun jelas terlihat. Entah bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba datang bak soang dengan sok akrabnya menyapa Danar.
"Apa kabar, Dan?" ulang wanita itu
"Baik gue, kok lo di sini?" tanya Danar namun matanya tertuju pada Sephia yang masih berdiri terpaku di sana. "Oh ya Tes, kenalin ini ...."
"Iya, tadi gue udah kenalan di depan, sekretaris lo, kan?"
Dengan wajah kecewa, Sephia membalikkan badannya untuk pergi dari ruangan itu. Danar hanya menatap dengan raut wajah yang tak enak.
Tessa adalah teman semasa Danar melanjutkan S1 nya dulu. Bukan teman dekat apalagi pacar, tapi yang Danar tahu Tessa pernah menyukainya. Lalu pertemuan di group chat satu minggu lalu, membawa Tessa mendatanginya. Alih-alih ingin menawarkan asuransi pada Danar dan kebetulan sekali wanita itu sekarang tinggal di Bali.
"Duduk, Tes." Danar mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Lo kemana aja setelah kelar kuliah gak ada beritanya, menghilang begitu aja," ujar Tessa menggeser duduknya mendekati Danar.
"Oh gue ... langsung kerja di kantor bokap dulu, setelahnya gue lanjutin S2 di UK," jawab Danar.
"Jadi apa yang mau lo tawarkan ke gue kemarin, Tes?"
"Oh ... gue mau nawarin lo ini," Tessa menyodorkan beberapa lembar brosur tentang asuransi kepada Danar. "Lo belum berkeluarga kan? gue sarankan ambil yang ini aja."
Tak berapa lama, Sephia kembali masuk membawa beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh Danar. Melihat kedekatan interaksi antara Danar dan tamunya membuat dadanya bergemuruh. Kekesalannya memuncak, wajahnya mulai terlihat kesal.
"Phia," panggil Danar saat Sephia melintasi mereka.
__ADS_1
"Oh Dan, aku air mineral aja," sahut Tessa.
"Hah?" wajah Sephia benar-benar terlihat kesal, "air mineral? dikata aku apa?" gerutu gadis itu.
"Phia, sini," ujar Danar. "Tessa, kenalin ini Sephia tunangan gue sekaligus merangkap sebagai sekretaris pribadi gue."
"Hah?" Tessa terkejut saat Danar mengatakan jika sekretarisnya itu adalah tunangan Danar.
Nampak senyum kecut yang terukir di wajah Tessa. Niatnya untuk mencuri perhatian lelaki di hadapannya itu pun akhirnya pupus sudah. Tadinya dia ingin berusaha menemui Danar adalah untuk menjalankan rencananya mendekati Danar kembali.
Sephia mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya. Tangan Danar yang berada di pinggangnya itu sudah membuktikan bahwa dia memang patut untuk dikenalkan sebagai orang terdekat Danar saat ini. Ada senyum kemenangan terukir di wajah gadis itu.
Setelah Tessa berpamitan, Sephia melepaskan tangan Danar dari pinggangnya. Lalu berjalan menjauh dari lelaki itu dengan wajah yang kesal.
"Eh, mau kemana?" Danar mencegah Sephia keluar dari ruangannya.
"Mau balik ke ruangan aku ... senengkan bisa duaan di sini sama cewek lain," ujar Sephia kesal.
Danar meraih lengan Sephia, menahan gadis itu.
"Kok jadi marah? tadi kan udah aku kenalin."
"Iya di kenalin, coba kalo aku gak masuk tadi, pasti asik-asik aja kan duaan sama dia."
"Siapa yang cemburu?"
"Ini cemburu," ujar Danar menyudutkan Sephia ke dinding.
"Aku gak cemburu." Gadis itu bersikukuh.
"Masa?" Bibir Danar sudah menyusuri leher Sephia.
"Terus aku harus apa kalo liat tunangan aku berduaan di ruangan kantornya sama cewek lain ... harus senyum-senyum gitu?" ujar Sephia kesal.
"Tuh kan cemburu." Danar mulai membuka kancing kemeja Sephia satu demi satu.
"Danar ... mau ngapain?" Tangan gadis itu menahan tangan Danar yang sudah membuka tiga kancing kemejanya.
"Mau bikin biar kamu gak cemburu lagi."
"Apaan sih ... gak mau aku," katanya.
"Sebentar doang ... aku gak mau kamu keluar ruangan ini masih dengan mode marah sama aku."
Danar melabuhkan ciumannya di bibir Sephia, menggigitnya kecil-kecil, menyesap bibir manis itu lama-lama. Ciuman itu lalu turun ke leher Sephia, meninggalkan sedikit warna kemerahan yang samar di sana. Sephia mulai menegang saat Danar lebih merapatkan tubuhnya menekan tubuh gadis itu. Tangan Danar mulai turun pada dada Sephia yang sudah terbuka karena kancing kemejanya sudah semua terlepas. Perlahan Danar memberikan pijatan hangat di dada itu hingga Sephia melenguh pelan.
__ADS_1
"Sayang ...," lirih Sephia.
"Hhmm ...." Danar menarik dirinya, lalu melangkah ke arah pintu untuk mengunci pintu terlebih dahulu lalu kembali pada Sephia.
Memulai kembali kegiatannya tanpa melepaskan pagutannya, Danar menuntun Sephia pada sofa. Lelaki itu mulai merebahkan gadis itu perlahan. Membenamkan wajahnya di dada Sephia, mengangkat sedikit penutup dada itu hingga lidahnya bermain-main di sana. Tubuh Sephia mulai bergerak menahan hasrat yang mulai memuncak, alam sadarnya berpikir jika ini ada di ruangan kerja tunangannya, namun pikirannya yang lain tak mampu menolak sentuhan demi sentuhan lelaki itu.
"Masih marah?" tanya Danar dengan senyum tipis.
"Masih," Sephia menjawab dengan tatapan mata sendu.
"Kalo ini masih marah?" Danar membenamkan kembali bibirnya pada bibir Sephia.
Danar membiarkan Sephia terhanyut di bawah kungkungannya, sentuhan tangannya yang sudah masuk di antara sela paha Sephia membuat gadis itu semakin menegang.
"Danar ... ud--ah."
"Nanti ...." Danar kembali mencium Sephia, saling bertukar saliva dan membelitkan lidah mereka di dalam sana.
Deru nafas yang saling memburu seakan tak dapat lagi mereka hentikan, Danar semakin menggila. Tangannya di bawah sana mulai menyentuh bagian sensitif Sephia.
"Sayang ... stop."
"Kenapa?" Danar menatap Sephia terengah-engah.
"Kamu gak bawa ganti," ujar Sephia membelai lembut pipi tunangannya.
Bagian bawah yang mulai mengeras itu memang harus di tahan agar tak membuat kerusuhan dengan harus berganti pakaian nantinya.
Danar terkekeh. "Iya, aku lupa ... mulai besok bawain ganti ya."
"Niat banget," tawa renyah Sephia lalu mendorong pelan tubuh lelaki yang berada diatasnya itu.
"Jangan pernah cemburu lagi untuk sesuatu yang gak penting kayak tadi," ujar Danar membawa Sephia ke dalam pelukannya.
"Kata orang kalo gak cemburu atau marah sama pasangannya itu berarti gak cinta," ucap Sephia sambil mengancingkan kemejanya kembali.
"Kamu gak marah, gak cemburu aja masih cinta sama aku," kata Danar lalu memberikan kecupan di pucuk kepala Sephia.
"Kata siapa?"
"Kata aku dan semesta," ujarnya mengangkat dagu kekasihnya lalu menautkan kembali bibir mereka.
***enjoy reading 😘
jangan lupa like dan komennya 😍***
__ADS_1