
"Pagi Phi," sapa Kalla pagi itu, lelaki itu sungguh tampan, dengan dua lesung pipi dan senyum yang selalu terukir di wajahnya pasti membuat siapa saja akan jatuh hati.
Termasuk Sephia? Namun sayangnya tidak, Sephia dan Kalla adalah sebuah tim yang kompak, sudah satu bulan Sephia bekerja di perusahaan Kalla, Kalla selalu memberikan wejangan pada Sephia. Kalla selalu membantunya dalam hal pekerjaan, juga selalu mendengarkan Sephia berkeluh kesah.
Sephia tahu jika Kalla memiliki seorang tunangan? Tentu Sephia tahu, seisi kantor ini pun tahu, namun sayang Sephia belum diberikan kesempatan bertemu dengan gadis yang beruntung itu. Kabarnya lagi dia adalah seorang dokter spesialis kandungan, berasal dari kota Yogyakarta.
Pernah sekali waktu Kalla menceritakan pertemuannya dengan tunangannya itu. Di sebuah warung makan biasa, saat itu Kalla sedang berkunjung ke rumah adik dari ayahnya yang berada di Yogya. Pertemuan tanpa sengaja itu yang membawanya berkenalan dengan gadis cantik bertubuh mungil itu.
Siapa sangka ternyata Nami, nama gadis beruntung itu adalah anak seorang pengusaha hotel di Yogyakarta, yang merupakan rekan bisnis ayah Kalla. Bak gayung bersambut, Nami yang saat itu adalah dokter koas, akhinya menerima cinta yang Kalla berikan hingga hampir empat tahun berjalannya hubungan mereka.
Sempat terjadi ketegangan di saat Kalla mengajak Nami untuk menikah, namun Nami tolak karena dia masih ingin melanjutkan pendidikannya serta berkarir. Dan hingga saat ini Kalla masih setia menunggu gadis itu, hingga nantinya gadis itu bosan mengejar cita-citanya.
Hari ini, rencananya Kalla dan Sephia akan mengadakan meeting di sebuah restoran bergaya Eropa, restoran milik sepupu Kalla. Sephia sudah membuat janji temu dengan klien saat pukul dua siang ini. Setelah itu, Kalla akan memperkenalkan Sephia pada Nami. Karena selama ini Nami hanya mendengar tentang Sephia melalui cerita Kalla.
"Phi, aku tinggal sebentar ya," ujar Kalla saat melihat pasangan suami istri bersama seorang anak berusia dua tahun masuk ke restoran itu, sepertinya mereka adalah pemilik restoran ini.
Sephia mengangguk lalu menyeruput lychee tea. Sephia usap layar pada ponselnya, mencoba menghubungi Ni Luh. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menghubungi sahabatnya satu itu.
"Mbok ... apa kabar?" sapa Sephia. Suara diseberang sana bersorak gembira lalu menanyakan kembali kabar Sephia.
"Aku baik ... gimana di sana?"
"Masih biasa aja, gak ada yang berubah. Kamu udah dapet kerja?"
"Udah Mbok, ini baru selesai meeting sama klien."
"Gimana bos nya? eh posisi apa?"
"Bosnya masih muda, kayak bos Mbok Ni Luh," Sephia terkekeh saat menyebut kata bos Ni Luh.
"Eh, ngomong-ngomong tentang bos aku---"
"Mbok, aku tutup dulu ya ... kapan-kapan ngobrol lagi," ujar Sephia mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
Kalla datang dengan seorang gadis manis, bertubuh tidak terlalu tinggi, mengenakan kemeja berwarna hitam dengan paduan rok Aline berwarna senada, rambutnya di gerai sebahu, wajahnya memang terlihat pintar, sudah pasti orang akan mengira dia seorang dosen bahkan seorang dokter.
"Phia, kenalin ini Nami ... tunangan aku," ujar Kalla dengan bangga mengenalkan Nami pada Sephia.
"Hai ... Sephia." Sephia beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan.
"Hai Phia, aku Namira ... panggil Nami aja," ujarnya lembut.
Senyum gadis itu manis sekali, suaranya halus dan lembut.
"Kalla banyak cerita tentang kamu," ujarnya lagi lalu duduk pada kursi di sebelah Kalla.
"Kalla juga banyak cerita tentang Nami," jawab Sephia.
"Masa? bener Sayang?" tanya Nami pada Kalla.
"Bener lah masa bohong ...."
Pandangan seperti ini dulu sering dia lakukan bersama Danar, perasaan menyayat itu kembali datang. Sephia hanya tersenyum getir, meratapi nasib cintanya.
"Tuh kan Phia nya jadi iri deh sama kita," ucap Kalla saat melihat mata gadis itu begitu sendu melihat kedekatan antara Kalla dan Nami.
"Eh, emang kenapa iri?" tanya Nami.
"Biasa putus cinta, dia aku tawarin sama aku gak mau, Sayang."
Plak
Pukulan telak di lengan Kalla dari Nami membuatnya mengaduh kesakitan. Sephia tertawa melihat kekonyolan pasangan kekasih di depannya itu.
"Ya jelas aja Phia gak mau, kamu kan udah sama aku ... emang Phia mau di juluki pelakor, dimana-mana tuh yang namanya cewek baik-baik pasti gak mau ambil jalan pintas kayak gitu, iya kan Phi?"
Perkataan yang seperti pukulan untuk Sephia. Sayangnya Nami tak tahu cerita sejarah kisah cintanya. Tapi memang sepantasnya tak tahu, jangan kan Nami, Kalla saja hanya mengetahui garis besarnya dari kisah cinta Sephia.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu sahabat aku," ujar Nami. "Aku suka sama kamu dari pandangan pertama Phia, aku percayakan Kalla sama kamu, aku gak mau dia nerima sekretaris yang gak jelas yang cuma bisanya nge godain pasangan orang di banding kerja yang bener," ungkap Nami.
"Gimana Phia, mau macem-macem sama aku Sayang, dia gak punya waktu mikirin itu ... yang di pikiran Sephia itu kerja dan kerja aja, malah aku yang takut ntar dia dapet jodoh gak ya fokus banget sama kerjaan."
"Kok kamu yang takut?" Nami tertawa.
Sephia pun tertawa, atasannya itu memang sangat perhatian, entah lah Sephia nyaman sekali bersama Kalla sudah seperti keluarga baginya. Terkadang malah Sephia yang merasakan takut, jika kehadirannya akan membawa dampak buruk bagi Kalla dan Nami.
"Dua minggu lagi, aku berangkat ke Bali ... kamu mau ikut gak?" tanya Kalla pada Nami.
"Dua minggu lagi tanggal berapa?"
Sephia membuka jadwal Kalla di tabletnya.
"Tanggal 21, Kalla ada meeting dengan investor pembangunan hotel di daerah Sanur selama tiga hari di sana." Jelas Sephia.
"Tanggal 21 aku jadi dosen tamu, jadi gak bisa ikut kalian ke Bali."
"Aku gak sama Sephia, aku pergi sendiri ... hanya survey dan meeting, sepertinya belum membutuhkan Sephia."
"Tuh kamu kalo sendirian malah bikin aku deg deg an, serius deh ... mending Phia ikut deh, dia bisa jadi mata-mata aku." Ide konyol dari seorang dokter spesialis yabg takut kekasihnya tergoda oleh orang lain.
"Selalu gitu ... lagian kan aku pulangnya ke kamu, Sayang ... bukan ke tempat lain," jawab Kalla lalu mendaratkan ciuman di pipi Nami tanpa malu pada Sephia.
Sore ini dihabiskan Sephia melihat drama kehidupan pasangan kekasih yang tanpa segan-segan dan malu menyatakan perasaan mereka satu sama lain.
Sephia melemparkan pandangannya keluar jendela, melihat seorang anak kecil berusia dua tahun sedang berkejaran dengan ayahnya, lalu berguling di rumput tertawa lepas bersama, sementara sang istri yang sedang mengandung tertawa dari kejauhan.
Suatu saat nanti dia pun merindukan hal itu, merindukan kedekatan seperti Nami dan Kalla. Namun sepertinya hal itu masih jauh dari jangkauan Sephia. Dia masih harus menata serta menyembuhkan hatinya terlebih dahulu.
***enjoy reading 😘
yang belom baca Secret Admirer karya pertama aku... cusss baca, disana ada cerita kisah cinta orang tua Nami 😘***
__ADS_1