Sephia

Sephia
Pamit


__ADS_3

Seminggu setelah acara pertunangan, Sephia menepati janjinya pada Danar untuk mengajukan surat pengunduran diri pada perusahaan. Sebelum Sephia mengundurkan diri, segala sesuatu yang menyangkut pekerjaan telah ia selesaikan semua.


Permintaan maaf dari Nami dan Kalla pun sudah dia terima karena tak dapat datang ke acara pertunangan mereka.


"Kalla," ujar Sephia saat masuk ke dalam ruang kerja Kalla.


"Iya, Phi."


"Ini surat pengunduran diri aku," ucap Sephia.


"Jadi?" Kalla tersenyum.


Sephia menarik kursi di depan meja Kalla, lalu membalas senyuman lelaki itu.


"Jadi dong, masa gak ... kasian Danar sendirian di sana."


"Kamu gak kasian juga sama aku?"


Sephia menepuk keningnya.


"Kalo aku kasian sama kamu, terus Nami harus kasian sama siapa?" Sephia terkekeh.


Kalla menyingkirkan sedikit laptopnya, meraih tangan Sephia.


"Kalo kamu butuh sesuatu, kalo kamu butuh tempat untuk sekedar bercerita, dan kalo kamu kembali butuh pundak untuk menangis ... aku akan senang hati menerima kamu kembali ... aku dan Nami," ucap Kalla tulus, namun helaan nafasnya mengisyaratkan begitu berat dia harus melepas Sephia kembali.


"Makasih Kalla ... atas bantuan kamu selama ini sama aku, dan juga baiknya kalian berdua sama aku, semoga kalian selalu berbahagia." Sephia menepuk-nepuk punggung tangan Kalla.


Seutas senyum terukir di wajah mereka, entah senyum keikhlasan menerima semua yang telah terjadi atau hanya berusaha ikhlas untuk pura-pura melupakan.


Hari ini terakhir Sephia bekerja di perusahaan milik Kalla. Kalla mengajaknya untuk menikmati makan siang bersama di restoran milik keluarganya, sudah ada Nami di sana.


"Jadi, berangkat kapan Phi?" tanya Nami sembari dia sibuk mengambilkan beberapa menu untuk Kalla.


"Besok Danar datang, kita pulang dulu ke Purwakarta untuk pamit, lalu besoknya baru ke Bali."


"Ih, seneng banget pasti ya ... udah dapet restu, terus bisa bareng-bareng terus," kata Nami.


"Rencana kerja lagi di sana, Phi." Kalla menyeruput minumannya.


"Iya, Danar yang minta ... tapi kali ini jadi sekretaris dia, ada-ada aja dia tuh."


"Bagus dong, Phi ... jadi kesempatan yang aneh-aneh pun gak terbuka lebar," Nami melirik Kalla.

__ADS_1


"Mulai deh." Kalla mengacak rambut gadis itu.


"Memang sebaiknya gak usah pake sekretaris, kalo mau pake mending sekretaris cowok," ujar Sephia.


"Ah, ide bagus itu," Nami menjawab cepat.


"Aku jadi inget ayah aku," ujar Kalla.


"Kenapa?" tanya Nami.


"Sekretarisnya kan dulu cowok, itu om Riza ... kaki tangannya bokap."


"Gak ada salahnya di coba Nami, kamu yang seleksi ... saranku sih cari yang agak melambai, biasanya kerjanya cekatan dan rapih." Sephia memberikan masukan.


"Bener ini bener banget ... Sayang, besok kita buka lowongan cari pengganti Sephia tapi yang cowok." Nami semangat.


"Semangat sekali ibu dokter satu ini," Kalla tertawa.


"Aku gak mau kecolongan lagi," Nami mencebik.


"Eh, kecolongan apa?" Sephia menaikkan satu alisnya, jangan-jangan Nami sudah mengetahuinya.


"Kecolongan pokoknya," Nami memberikan pukulan di lengan Kalla karena gemas.


"Hati-hari besok, Phi." Kalla seakan memberikan kata-kata perpisahan.


"Kalian sering-sering main ke Bali ya, hitung-hitung memanfaatkan waktu bersama di sela kesibukan, itu harus biar tetap gereget," Sephia terkekeh.


...----------------...


"Udah siap semua?" tanya Danar pada Sephia setelah menutup kopernya.


"Udah, tinggal pamit sama Ibu dan Bapak."


"Ayo ... nanti keburu malem sampe rumah." Danar menarik satu buah koper besar milik Sephia yang berisi sisa pakaiannya yang berada di rumah.


Mereka menemui bapak dan ibu di ruang tengah. Ibu sudah menyiapkan beberapa makanan kering yang biasa dibuatkan untuk Sephia.


"Itu makanannya jangan lupa sering dihangatkan ya, Ibu masak banyak jangan gak dihabiskan."


"Besok pesawat jam berapa, Nak Danar?" tanya Pak Asep pada Danar yang sudah duduk di sisinya.


"Jam 10 pagi, tapi dari rumah jam 7 pagi, takut macet."

__ADS_1


"Bapak titip Sephia ya, saling menjaga lah kalian di sana, jangan yang aneh-aneh, jangan sampai kalian menyalahgunakan kepercayaan yang Bapak kasih ... ingat kembali niat awal kalian apa?" Pesan Pak Asep begitu terdengar sebagai suatu peringatan bagi Danar.


"Iya Pak." Danar mengangguk.


"Ayo, udah semua nih," ajak Sephia karena mereka harus memburu waktu.


"Barang-barang yang di kost gimana?" Bu Widya teringat barang yang tersisa di kost putrinya.


"Sudah Phia kirim semua lewat ekspedisi tiga hari lalu, jadi nanti yang di bawa hanya sisa satu koper ini dan satu lagi di mobil," kata Sephia merangkul Bu Widya lalu melangkah ke depan.


"Ibu sehat-sehat ya, nanti Phia bakal sering pulang," ujarnya mencium pipi sang ibu.


"Jangan sering-sering pulang,lebih baik uangnya di tabung," kata ibu memeluk putrinya, mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca.


"Bapak, baik-baik ya ... sehat-sehat, jangan kangen sama Phia," Sephia tertawa namun air matanya menetes, dia peluk lelaki yang rambutnya sudah penuh dengan rambut berwarna putih. "Bapak, sarungnya ganti ah udah Phia beliin banyak doyannya pake sarung itu terus."


Tertawa di balut rasa sedih akan perginya sang putri itu sangat terasa bagi pasangan suami istri ini. Anak perempuan satu-satunya dan pergi merantau. Kembali teringat oleh pak Asep bagaimana dulu Sephia memohon padanya untuk pergi ke Bali karena pekerjaan, berat rasa hati melepaskannya seorang diri meski sudah bersama Danar tunangannya.


Pagi itu Sephia berpamitan dengan calon mertuanya, setelah mendapatkan wejangan yang isinya kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan oleh bapak Sephia.


"Hati-hati di sana ya," ujar Mama Diana. "Danar ingat kata Mama, jangan melebih batas." Mama Diana membulatkan matanya pada Danar lalu memberikan pelukan perpisahan pada Sephia.


Begitupun dengan Wulan. "Ketemu lagi nanti pas aku lahiran ya, Phi ... jangan gak pulang kesini, kamu harus liat cantiknya anak aku."


"Iya Mbak, Phia janji pulang kalo Mbak Wulan melahirkan."


"Ingat pesan Papa, Danar kalian diberikan kepercayaan jadi jangan sampai terulang lagi," ujar Pak Hermawann mengingatkan kembali kejadian beberapa bulan lalu yang sempat membuatnya kecewa kepada kedua anaknya.


Danar mengangguk, tanda mengiyakan setiap perkataan dari orangtuanya lalu membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam mobil.


Menuju bandara, tatapan mata Danar tak lepas dari Sephia. Terkadang senyum tipis terlintas di sana, akhirnya keinginan Danar terkabul.


"Nyesel gak?" tanya Danar pada Sephia ketika mereka sudah berada di dalam pesawat.


"Apa?"


"Kamu nyesel gak dengan keputusan ini, ikut sama aku." Danar menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.


Sephia menggeleng, lalu meletakkan kepalanya di bahu kanan Danar.


"Apapun yang menyangkut kamu, aku gak akan menyesal," ucap Sephia.


Danar mencium punggungnya tangan Sephia seraya berkata "makasih untuk kesetiaan kamu selama ini, Phi ... ini awal baru untuk hubungan kita."

__ADS_1


***enjoy reading 😘


bantu aku dengan selalu like dan komen ya 🙏***


__ADS_2