Sephia

Sephia
Lembaran baru


__ADS_3

Malam ini, Danar akhirnya menginap di sebuah hotel di daerah Sadang. Pencarian hari ini tidak sedikitpun membawa hasil. Dia sudah mengabari Mama Diana karena malam ini dia akan bermalam di Sadang.


Konyol memang, seperti mencari jarum di tumpukan jerami itu adalah hal tersulit. Sadang adalah sebuah kecamatan yang cukup luas, sedangkan keluarga Sephia bukan siapa-siapa di sana, artis bukan apalagi pejabat. Tetap saja Danar berusaha mencarinya.


Danar rebahkan tubuhnya lalu memandang langit-langit kamar hotel itu. Diulanginya kembali memori tentang gadis itu, sungguh dia merindukan Sephia.


Kamu dimana Phi ... aku kangen, sumpah! batin Danar mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Pagi berlalu, Danar kembali menyusuri jalanan untuk mencari Sephia. Berhenti lalu turun bertanya, terus saja seperti itu berulang kali. Hingga ponselnya berdering, Mama Diana menghubunginya.


"Kamu dimana Dan?"


"Masih di Purwakarta, Ma."


"Belum ketemu?"


"Belum, Ma ... gimana Ma? kenapa telpon?"


"Sore pulang kan? Nanti malam Mama mengadakan makan malam dengan besan, keluarga Wulan ... sebaiknya kamu pulang Dan, keluarga kita harus lengkap."


"Kan kemarin udah Ma, kenapa banyak sekali ritualnya."


"Gak boleh gitu, kan ada adat-istiadat nya ... gak papa kita ikuti aja."


"Siang nanti Danar pulang, biar gak kena macet ... Danar juga harus packing besok harus kembali ke Bali."


Danar menyelesaikan panggilan telponnya, di depan sana sedikit macet ada sebuah mobil travel yang berhenti mengangkut penumpang. Danar membunyikan klaksonnya agar mobil travel itu cepat berlalu.


"Ih, itu orang gak sabar banget sih ... Bapak Ibu, Phia pamit ya doain keterima, nanti Phia kabari kalo Phia udah sampe," Phia buru-buru naik ke mobil itu sembari mengumpat klakson mobil-mobil di belakang mobil yang ia tumpangi.


...----------------...


Sephia berada di depan bangunan dengan beberapa kamar yang saling berhadapan, mungkin sekitar 10 kamar. Ini adalah tempat tinggalnya, alamat yang diberikan Kalla sebagai fasilitas kantor yang akan dia pergunakan.


Masuk ke dalam sebuah kamar kost, dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Ada AC, TV, tempat tidur berukuran 100x200m, sebuah nakas yang berada di sebelah tempat tidur, lemari, kamar mandi lalu terdapat dapur kecil. Sephia akan membuat daftar barang-barang apa saja yang masih dibutuhkan untuk melengkapi kamarnya ini.


Ponselnya berbunyi ketika Sephia sedang menyusun lembar demi lembar baju di dalam lemari. Nama Kalla terpampang di layar ponselnya, calon Bos nya ini memang sangat perhatian. Dari awal dia berangkat menuju Jakarta hingga dia berada di tempat tinggalnya yang baru ini, Kalla sudah menelponnya lebih dari 10x.


"Halo Pak," sahut Sephia.

__ADS_1


"Biasa aja gak usah pake Pak, berapa kali aku bilang kan bukan di kantor," jawab lelaki itu.


"Ok ...."


"Gimana tempatnya? nyaman?"


"Baru juga nyampe ... tapi mudah-mudahan nyaman, makasih ya Kalla," ucapnya tulus.


"Sama-sama, aku cuma bantu aja ... dan kebetulan memang itu fasilitas kantor jika merekrut karyawan dari luar Jakarta."


"Apa gak berlebihan tempatnya, ada AC, TV segala," ujar Sephia.


"Kalo itu aku yang kirim, tapi tenang aja itu gak gratis ... setiap bulan bisa di potong dari uang gaji kamu."


"Ya ampun, aku kira emang kamu beneran baik," sungut Sephia dan suara tawa Kalla yang renyah pun terdengar.


"Aku cuma mau kasih tau, besok ketemu HRD untuk mengurus data-data kamu ya, aku sudah katakan pada pihak HRD kalo kamu rekomendasi aku dan masih ada hubungan keluarga, jadi tidak melalui interview dan segala macamnya."


"Serius?"


"Eits ... tapi ini gak gratis, ada bayarannya."


Danar tertawa kembali. "Aku bercanda kok, tapi aku pengen kamu cepat belajar karena segala sesuatunya di perusahaan ini geraknya cepat dan disiplin itu aja kuncinya."


"Baik Pak," jawab Sephia.


"Bapak-bapak ... emang aku udah tua banget ya."


"Banget," Sephia terkekeh.


Gadis itu bersyukur selalu di kelilingi orang-orang baik yang dengan senang hati selalu membantunya.


"Hidup baru di mulai, lembaran baru akan aku buka, tatap masa depan, fokus dan fokus ...," ujarnya menyemangati diri.


...----------------...


Hari pertama Sephia memulai pekerjaannya, orang-orang baru, suasana baru bahkan bidang pekerjaan yang sangat baru untuknya.


Sephia sama sekali tidak punya pengalaman di bidang sekretaris, selama ini dia berkecimpung pada bidang keuangan serta pajak perusahaan. Sephia bahkan belum mengerti bagaimana membuat notulen rapat dan lain sebagainya.

__ADS_1


Cepat belajar itu yang di minta oleh Kalla, bagaimana bisa belajar jika tidak ada seorang pun yang mengajarkannya pikir Sephia. Dan sebuah informasi untuknya sendiri bahwa Kalla adalah seorang pemimpin yang tegas dan berani.


Penampakannya saja yang terlihat konyol namun ketegasan Kalla itu patut diacungi jempol dan disegani oleh para karyawannya.


Sephia mengetuk pintu ruangan Kalla, membukanya perlahan. Lelaki itu sedang menerima telepon dari seseorang. Sephia menunggu berdiri di depan meja kerja Kalla, Kalla hanya melirik sedikit lalu kembali berbincang dengan lawan bicaranya.


"Ntar lo atur aja gimana proposalnya, gue berharap sih lo yang menang tender buat masukin di projects terbaru gue," kata Kalla. "Iya lah, gampang itu ... terus masalah lo udah selesai ... susah juga ya, yang terbaik aja lah bro, semoga semesta ngedukung lo," ujarnya lalu mengakhiri hubungan telepon itu.


"Gimana Phi, udah di salin semua?"


"Udah ... dan ini ada beberapa laporan dari keuangan untuk di tanda tangani, lalu ini dari pihak PT. Antariksa development mengenai surat kerjasama."


"Cepat juga kamu belajar ya."


"Harus, saya takut di tagih hutang Pak."


Kalla tertawa, "mana yang harus aku tanda tangani?"


Sephia menunjukkan tempat untuk di tanda tangani oleh Kalla, seperti dejavu Sephia kembali pada saat ia dan Danar berinteraksi dulu.


Ya Tuhan, rindunya batin Sephia meringis, ternyata sesak itu masih ada. Sesak karena menahan rindu.


"Ngelamun lagi ... aku gak mau ngeliat kamu banyak ngelamun ya, bisa-bisa kerjaan nanti terlantar semua."


"Siap Pak, saya cuma ngerasa dejavu Pak ...." Sephia mengulas senyum.


"Yang berlalu udah gak usah di inget, yang kamu liat itu yang ada di hadapan kamu sekarang, berjalan ke masa depan jangan selalu dihantui masa lalu yang malah bikin kamu stuck di tempat." Entah apa maksud Kalla berkata seperti itu namun dia tulus memberikan masukan serta saran untuk Sephia.


Itu salah satu petuah dari Kalla, Sephia merasa dia bukan hanya sekedar atasan tapi juga seorang teman baginya.


"Inget, yang kamu liat yang ada di hadapan kamu sekarang, fokus jangan sampai meleset."


"Iya Pak, yang saya liat yang ada di hadapan saya Pak, tumpukan pekerjaan memang harus fokus kalo gak dikerjakan yang ada hutang AC dan TV saya lama lunasnya," kekeh Sephia.


Karena jelas bukan kamu yang ada di hadapan aku Kalla ... karena memang itu gak akan mungkin.


***enjoy reading ๐Ÿ˜˜


selalu sempatkan like dan komen ya teman๐Ÿ˜˜***

__ADS_1


__ADS_2