
Kalla dan Sephia, sudah berada di dalam mobil. Kalla berkali-kali menghubungi Nami, namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Kalla memutuskan untuk mengantar Sephia ke apartemen kekasihnya, setelah membantu Sephia mengambil beberapa perlengkapan baju untuk beberapa hari di sana.
Setiba di apartemen Nami, Kalla membawa Sephia masuk. Ternyata Nami sudah berada di sana, dia berdiri memandang keluar jendela kaca besar itu, menatap malam yang semakin larut.
"Sayang, kamu udah pulang," Kalla mendekat memberikan kecupan pada pipi Nami.
Nami tak bergeming, tatapannya marah namun tetap memandang pada kelamnya malam.
"Hei kamu kenapa? Phia, duduk dulu ... jangan lupa minum obatnya." titah Kalla.
Nami menoleh, dilihatnya Sephia yang masih berwajah pucat bersandar pada sofa. Sahabatnya itu sepertinya memang sedang sakit. Nami melangkah mendekat.
"Masih panas badannya Phi, kamu udah makan?" tanya Nami dan di jawab anggukan dari Sephia. "Masuk ke kamar kamu gih, istirahat setelah minum obat," ujar Nami, meski hatinya sakit melihat pemandangan di rumah sakit tadi tetap dia tak tega melihat Sephia terkulai tak berdaya.
"Sayang, aku mau bicara," ucap Kalla saat Sephia sudah masuk ke kamarnya.
"Bicara di kamar aja ... aku juga mau bicara sama kamu," ujar Nami dingin.
"Tadi aku ke rumah sakit waktu bawa Sephia periksa, aku hubungi kamu ... kata resepsionis kamu lagi ada persalinan," kata Kalla yang sudah melepas kemejanya berganti dengan kaos yang ia ambil di dalam lemari.
"Kamu mau tidur di sini?" tanya Nami.
"Iya, emang kenapa?" Kalla merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Gak ... Kal, tadi di rumah sakit aku liat kamu sama Sephia ...."
"Itu yang mau aku bicarain sama kamu ... sini," Kalla menepuk tempat tidur di sisinya agar Nami mendekat padanya.
"Jadi ... kamu tau kan, kalo Sephia itu patah hati berat karena di tinggal pacarnya yang katanya menikah karena tanggung jawab dengan gadis lain," ujar Kalla.
"Iya."
"Nah tadi aku dan Sephia ketemu dengan laki-laki itu, dia juga berada di rumah sakit dengan wanita yang minta pertanggungjawaban dari lelaki itu, wanita itu hamil!"
"Terus?"
"Kamu tau gak Sayang, lelaki itu temen aku ... temen akrab aku, astaga aku gak habis pikir ... dunia ini sempit banget," ujar Kalla menepuk dahinya.
"Temen kamu ya mana?"
__ADS_1
"Danar ... inget waktu aku bilang aku mau main golf dengan teman SMA aku, ya itu si Danar."
"Ya ampun ...."
"Terus?"
"Nah setau aku Danar itu gak nikah ... belom nikah, karena dia gak bilang dia nikah, tapi kenapa cewek yang dia bawa tadi hamil ya?"
"Haduh," Nami ikut-ikutan menepuk dahinya, "kasian Phia, Sayang."
"Iya, tadi di mobil dia diem aja ... Nah, waktu kita pamit balik sama si Danar, Phia minta aku melakukan satu hal, tapi kamu jangan marah ya Sayang,"
"Apa? kamu gandengan sama Phia, terus menatap dia penuh cinta gitu, terus Phia manja-manjaan sama kamu, iya kan?"
"Kok kamu tau?"
"Tau lah ... aku kan liat, aku liat kamu tatap dia penuh cinta gitu," sungut Nami. "Jangan bilang kamu juga ada hati sama Phia, iya?"
"Ngaco ... kamu aja udah cukup buat aku, gak ada yang lain ... tapi kalo Sephia mau ya aku gak bisa nolak," Kalla terkekeh dia senang sekali menggoda kekasihnya.
Bantal pun melayang, menghantam tubuh Kalla bertubi-tubi. Suara mereka tertawa pun menggema di sudut kamar. Lalu hening, lambat laun tawa itu terdengar seperti desahan dan erangan. Malam kesalahpahaman itupun terselesaikan di atas tempat tidur.
...----------------...
"Itu tadi yang namanya Sephia?" tanya Wulan pada Danar di dalam mobil menuju kediaman Mama Diana.
"Iya."
"Kenapa gak kamu kejar?"
"Belum saatnya, takutnya malah tambah kacau."
"Tapi sudah kacau kan, Sephia sudah dengan teman kamu itu."
"Gue yakin gak ... seingat gue, tunangan Kalla dokter di rumah sakit itu, kalo pun Kalla berselingkuh, ngapain dia bawa Sephia ke rumah sakit tempat kekasihnya bekerja."
"Iya juga, terus langkah kamu?"
"Besok gue hubungi Kalla, menuntut penjelasan dari dia, gue rasa dia tau cerita kami." Danar masih memandang lurus ke depan, fokus dengan jalan raya yang masih terlihat hectic meski malam sudah menyapa.
__ADS_1
"Dan ... maafin aku," ujar Wulan.
"Semua udah terjadi Lan, gak ada yang perlu dimaafin, setidaknya sekarang lo sudah menemukan kebahagiaan dengan Mas Agung."
"Iya, makasih ya Dan ... meski kamu dan Sephia harus mengalami kesalahpahaman ini."
Danar berkali-kali menelan salivanya kasar, hatinya masih tak menentu, pikirannya masih kacau. Harusnya tadi dia kejar Sephia, tapi melihat gadis itu pucat dengan keadaan tubuh yang panas, Danar harus menahan dirinya untuk tidak gegabah.
"Mas Agung kapan pulang?"
"Lusa," jawab Wulan.
"Udah lo kirim, poto USG nya? bilang sama dia, lain kali kalo jadwal istri kontrol jangan sampe benturan sama jadwal keluar kota," sungut Danar, ia kesal saat di kira suami dari Wulan.
Wulan hanya tersenyum, lelaki yang pernah mengisi hatinya itu sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Karena dia lah semua ini terjadi, harusnya dia yang menyatukan kembali Danar dan Sephia, tapi apa mau di kata semua keterbatasannya membuatnya tak bisa melakukan apa-apa sekarang.
"Sephia cantik ya Dan ... sepertinya gadis yang lembut, pintar dan punya pendirian."
"Iya, dia lembut ... segala yang dia lakukan di mata gue selalu sempurna dan menggemaskan." Danar kembali mengingat kenangan-kenangannya bersama Sephia.
Malam ini ada perasaan bahagia dan lega bisa bertemu kembali dengan Sephia, meskipun dengan keadaan yang tak di duga sama sekali.
Mobil telah sampai di pekarangan rumah Danar, setelah Wulan luar dari mobil, Danar masih tetap duduk di sana. Merogoh saku celananya lalu mengetikkan sebuah pesan pada Kalla.
"Lo harus jelasin semua nya sama gue, Kal ... besok gue tunggu di kafe sepupu lo, ketemu di sana jam 11."
...----------------...
Kalla baru saja melepaskan cumbuannya malam ini, kekasihnya sudah tidur terlelap meringkuk di sampingnya. Tubuh gadis itu sudah tertutup sepenuhnya oleh selimut tebal.
Kalla meraih ponselnya di atas nakas, membaca pesan dari Danar. Kalla tersenyum, sepertinya besok adalah hari yang penuh dengan drama di hidup Danar. Tak ada salahnya jika dia sedikit menambahkan bumbu penyedap di dalamnya.
Kalla menjawab pesan itu, dengan balasan yang sedikit dingin.
"Ok ...." Kalla tersenyum.
Kita liat besok Dan ... sebesar apa cinta lo sama Phia batin Kalla. Lalu kembali memeluk Nami menciumi pundak mulus kekasihnya.
***jangan lupa like dan komen ya😘
__ADS_1
enjoy reading 😘***