
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Danar mengarahkan laju mobilnya menuju kediaman Sephia. Danar yakin sesuatu terjadi pada Sephia, bisa jadi Sephia mendapatkan kabar dari seseorang atau jangan-jangan Sephia sendiri yang melihatnya bersama Wulan sore tadi.
Danar memukul kemudinya berkali-kali.
"Shitt," Danar kesal sekali bagaimana mungkin bisa terjadi, bagaimana bisa Sephia mengetahui semuanya lebih dulu.
Danar memarkirkan mobilnya di pekarangan kost itu, menaiki anak tangga dan sekarang dia sudah berdiri di depan pintu kamar Sephia. Mengetuknya beberapa kali, Danar tak menemukan jawaban dari dalam.
"Phi ... buka pintunya," ujar Danar lembut. "Phi ... Sayang, buka pintunya, aku mau bicara."
Ketukan pintu itu semakin keras, Danar kembali bersuara.
"Phi ... buka, gak enak sama tetangga kamu kalo suaraku akhinya membangunkan mereka ... buka!"
Kunci pintu itu terdengar, gadis itu menampakkan wajahnya. Matanya begitu sembab, hidungnya memerah, rambutnya tak beraturan.
Mata mereka saling berpandangan, sakit hati Danar melihatnya, akhinya dia berhasil membuat Sephia terluka. Inginnya tak seperti ini, namun semua tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
"Phi," ujar Danar meraih tangan gadis itu.
"Siapa dia?"
"Aku jelasin ...."
"Aku liat kamu di pantai Kuta tadi, siapa dia? Pacar kamu? tunangan? calon istri?"
Semua yang Sephia sebutkan nyaris benar, Ya Tuhan Danar tak sanggup menjelaskannya. Janjinya membuat gadis ini bahagia bersamanya pupus sudah.
"Jelasin sama aku, Danar!"
"Phia ...." Danar tercekat. "Dia ... kekasih aku ... mantan kekasih, aku menganggapnya mantan kekasih, tapi dia masih menganggap kami punya hubungan."
"Astaga," Sephia menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Sakitnya ... sungguh sakit, apa ini? kenapa bisa begini? kepala Sephia kembali berdenyut.
"Aku minta maaf Phi," Danar menangkup wajah Sephia.
Mata gadis itu sudah membengkak karena menangis, Danar patut mendapatkan hukuman karena ketidaktegasannya dalam menyelesaikan masalahnya.
"Sakit hati aku, Danar." tangis Sephia, "tega kamu," ujarnya dalam isakan.
"Aku minta maaf Phia, tapi keadaannya sebelum bertemu kamu pun sudah rumit," lirih Danar. "Maafin aku," ujar lelaki itu lagi.
Danar menghapus kedua air mata yang masih menetes deras di pipi Sephia.
" Lalu kita?" tanya Sephia melepaskan tangan Danar dari wajahnya.
"Aku cinta sama kamu, Phia."
"Dan juga cinta sama dia?"
"Gak ... ini beda Phia, ini tentang tanggung jawab aku sama dia ... bukan tentang cinta," jelas Danar.
"Apa maksud kamu tentang tanggung jawab? apa kalian ---?" Kata-kata itu terbata-bata saat Sephia ucapkan. "Jangan bilang kal--- Ya Tuhan."
Sephia membalikkan tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat, tangisnya semakin terdengar.
__ADS_1
"Kalo gitu tinggalin dia" Kali ini Sephia harus egois mempertahankan sesuatu yang memang menjadi haknya.
"Aku gak bisa ... Aku gak bisa, Phi ...."
"Kenapa? Kamu cinta dia? Terus aku apa?"
"Aku cinta dia ... Tapi dulu, aku cinta kamu sekarang dan untuk seterusnya"
"Maka tinggalin dia, Danar ... Itu kalo kamu memang cinta aku."
"Aku gak bisa ... Aku melakukan kesalahan fatal dulu ... Aku harus tanggung jawab, Phi," ujar Danar frustasi.
"Kesalahan fatal," ujar Sephia mengangguk, hatinya begitu sakit.
"Aku melakukannya dulu saat kami berada di UK, aku dalam keadaan mabuk, Phia ... aku gak sadar aku gak tau tiba-tiba semua terjadi."
"Ketika semua terjadi kamu bilang kamu gak tau... Brengsek kamu!" Tatapan tajam itu bagai sembilu menusuk hati Danar.
"Aku memang brengsek Phi, karena itu aku mau tanggungjawab ... Aku juga brengsek sudah bikin kita berada di posisi ini ... aku---"
"Aku mau sendiri ... Tolong tinggalin aku," ujar Sephia berjalan membuka pintu kamarnya. "Tolong pergi," matanya berkaca-kaca.
Sakit sungguh sakit, hati ini Danar buat hancur berkeping-keping. Jika pun harus di rapihkan serpihannya sudah tak akan lagi sama.
Danar berjalan gontai, ingin sekali dia rengkuh tubuh gadis itu ke pelukannya. Menghapus kembali air matanya, mengucapkan ribuan kata maaf.
"Kita sudahi saja," ujar Sephia saat Danar berdiri di sisi pintu menuju pintu keluar kamar itu.
Danar menoleh menatap gadis itu dengan sungguh-sungguh. Apa yang harus dia lakukan, dia melukai hati seorang yang sangat ia cintai.
"Phia ...."
Sephia tutup pintu itu, dia menangis di balik pintu yang memisahkan antara dia dan Danar. Danar masih terpaku, terdiam tak dapat lagi berkata apapun.
Iya, ini salahnya ... salahnya menghindari masalah, salahnya menutupi semuanya dan salahnya memberikan cinta pada Sephia. Gadis itu begitu rapuh, Danar menyesali itu. Seandainya dia tak memasuki kehidupan Sephia, mungkin tak akan seperti ini akhirnya.
Sungguh dia mencintai gadis itu, seperti menemukan belahan jiwa. Danar hanya mampu merutuki nasibnya saat ini.
...----------------...
Pagi itu, Sephia datang agak sedikit terlambat. Hari ini ada beberapa hal yang harus ia kerjakan termasuk mengontrol uang masuk dan keluar untuk pendanaan acara peluncuran produk baru hari Jumat nanti.
Sephia masih berusaha seperti biasa melakukan tugasnya. Dia harus mengesampingkan urusan pribadinya.
"Sephia, laporan setelah makan siang bisa selesai?" tanya Bu Ratna pagi itu.
"Bisa Bu."
"Ok, setelah aku cek, bisa kamu minta tanda tangan Pak Danar?"
Sephia bingung, dia menoleh pada Ni Luh namun tak mungkin juga dia mengharapkan Ni Luh.
"Baik." Sephia memberikan anggukan.
Hari berjalan sebagaimana mestinya, sampai saat seorang wanita cantik melewati ruangannya menuju ruangan Danar. Sephia tahu sosok cantik itu, orang yang sama yang iya lihat di pinggir pantai sore itu.
Ya Tuhan, demi apapun kenapa ini harus bertepatan saat dia akan memberikan laporan itu kepada Danar. Sephia menghela nafasnya panjang, mengeluh pun sudah tak mungkin apalagi berteriak meminta pertolongan entah pada siapa.
__ADS_1
Sephia melangkah lesu menuju ruangan itu, semua bisa terjadi saat ia memasuki ruangan. Sephia sibuk menata hatinya ketika Made menghampirinya.
"Jangan ngelamun, hadapi aja ... ini memang harus Phia lalui," ujar Made bijak.
Hubungan mereka hanya Made dan Ni Luh yang mengetahui, tidak ada yang lain. Made selaku assisten Danar dan Ni Luh sahabatnya Sephia. Dada gadis itu semakin sesak, dia harus menguatkan dirinya, apapun yang ia temukan di dalam sana, dia harus mengingat satu hal jika hubungannya dengan Danar sudah berakhir.
Ratusan kali dia berkata, dia mencintai Danar namun bila lelaki itu bukan miliknya maka itu tak akan terjadi sampai kapanpun.
Beberapa kali mengetuk pintu itu, Sephia membuka perlahan. Nampak Danar duduk di meja kerjanya sedangkan wanita cantik itu berada di sisi mejanya, bergelayut manja dengan tangan yang melingkar di leher lelaki itu.
Sakit rasanya tapi tak berdarah, mendapati orang yang ia cintai berdampingan dengan wanita lain. Ternyata Sephia memang belum sanggup untuk rasa ini, hatinya begitu sakit.
Danar mengangkat wajahnya saat mengetahui ada yang masuk ke ruangannya, dia melepaskan rangkulan tangan Wulan di lehernya. Danar menatap gadis itu, tatapan yang sama yang ia berikan pada Sephia sama seperti hari-hari yang dulu mereka lalui.
"Maaf Pak, saya mengantarkan laporan keuangan yang sudah di tanda tangani dan di periksa oleh Bu Ratna," ujar Sephia sudah berdiri di depan meja Danar.
Berkali-kali Sephia menelan kasar salivanya, jantungnya berdebar tak menentu. Pertemuan mereka bertiga benar-benar membuatnya ingin pergi dari ruangan itu.
"Dimana saya harus tanda tangan?"
"Di periksa dulu, Pak ... biar tidak ada kesalahan, laporan ini bisa saya tinggal," ujar Sephia, ingin sekali dia memegangi dadanya yang terasa sakit itu.
Danar menatapnya, Sephia menunduk.
"Kamu bisa duduk dulu di sofa, Lan? Ada yang harus aku bahas dengan stafku."
Staf?? Ya Tuhan ... rasanya ingin menangis, mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca.
Wulan melangkah menuju sofa, Sephia meliriknya sedikit. Sungguh benar-benar cantik, lelaki manapun pasti tak akan menolak jika berhadapan dengannya. Sungguh sempurna.
"Dimana?"
"Ya?"
"Yang harus saya periksa."
Di sini dihatiku Sephia membatin.
"Ini Pak, sesuai pengajuan dari pihak marketing."
Danar memeriksa sebentar laporan itu, beberapakali dia membenarkan kacamatanya, melirik gadis itu.
Maafin aku Phi gumamnya dalam hati.
"Sayang, masih lama ya?" tanya Wulan manja. "Aku lapar, kita makan di Potatoes head ya," ujarnya lagi.
Si kepala kentang batin Sephia.
Tempat pertama kali Sephia mengantarkan Danar saat perjumpaan mereka di Kuta waktu itu. Sephia rindu lelaki itu, lelaki yang bukan lagi miliknya.
"Saya permisi Pak," ujar Sephia merapikan berkas laporannya.
Sentuhan tangan yang tanpa sengaja itu membuat debaran dahsyat pada jantungnya. Tatapan mata mereka saling mengunci. Dua manusia yang masih saling mencintai, namun saling menyakiti.
***Periiiiihhh 😥
enjoy reading 😘***
__ADS_1