Sephia

Sephia
Aku cemburu


__ADS_3

Danar mengungkung tubuh Sephia di dinding kolam, ciumannya di leher gadis itu tak pernah berhenti. Matanya selalu mengawasi Kalla yang sering melihat pada mereka.


"Kamu kenapa sih?" tanya Sephia melingkarkan kedua tangannya pada leher Danar.


"Gak papa, pengen aja ciumin kamu terus."


"Kamu kayak siput, nempel terus," kekeh Sephia, tak sengaja pandangan Sephia saling tatap pada Kalla yang sedang berada diantara dua paha Nami yang duduk di pinggir kolam sementara Kalla berada di dalam.


"Mereka romantis ya, Sayang," ujar Sephia.


"Kita juga romantis, gak kalah romantis apalagi diatas tempat tidur," ujar Danar mengangkat tubuh Sephia naik ke pinggir kolam.


"Ikut aku pulang ke Bali, Phia ... aku gak mau kehilangan kamu lagi," kata Danar menatap netra Sephia dalam.


"Kamu gak bakal kehilangan aku lagi ... ini jangan pernah ragu," ujar Sephia menunjuk dada (hati) Danar.


"Aku cemburu, Phia ...."


"Gak ada alasan buat cemburu," ucap Sephia. "Masuk yuk, aku kedinginan."


"Kal, masuk ...," seru Danar. "Phia, kedinginan."


Kalla mengangguk. Lalu keluar dari kolam dan mengambilkan bathrobe untuk Nami. Mereka beriringan menuju meja makan kayu yang berada di taman itu, sudah terhidang sarapan untuk pagi ini.


"Setelah ini acara apa lagi Kal?" tanya Danar.


"Terserah ibu-ibu ini mau kemana," ujar Kalla menerima suapan dari Nami.


"Mau kemana, Phi?" tanya Danar yang duduk menghadap Sephia yang berada di kursi panjang.


"Aku gak ngerti, kemana aja lah pokoknya ... asal jangan di kamar terus," ujarnya mencebikkan bibirnya pada Danar.


...----------------...


Mengunjungi salah satu tempat wisata yang menyajikan pemandangan alam dan sebuah restoran di pinggir sungai. Udara yang sejuk serta cuaca yang mendukung.


Tangan Danar tak pernah lepas dari pinggang Sephia. Lelaki itu benar-benar posesif, setelah ungkapan perasaan yang Kalla ucapkan malam itu, pikiran Danar selalu saja tak menentu. Wajar sekali jika Kalla menyukai Sephia, gadis itu memang berbeda, selain pintar dan cantik, Sephia adalah teman ngobrol yang menyenangkan.


Tidak ada yang menyalahkan Kalla jika dia juga jatuh hati. Namun yang salah adalah dia sudah memiliki Nami, perempuan serba bisa dan juga seorang dokter, sungguh sempurna. Begitu juga dengan Sephia yang merupakan kekasih sahabat baiknya.


Sephia mengenakan hotpants dan kaos berwarna putih, dia terlihat santai dan menikmati liburannya. Begitu pun dengan Nami, waktu yang Nami miliki bersama Kalla itu bisa di hitung dengan jari karena kesibukannya. Bertemu hanya saat malam hari, itu pun jika ia ingin berada di apartemen Kalla atau Kalla yang ingin berada di apartemennya. Belum lagi Kalla yang selalu keluar kota karena proyek-proyek yang harus dia pantau.


"Sayang, sini!" seru Sephia saat berdiri di atas batu kali dan memainkan kakinya memercikkan air ke arah Nami.


"Phia, kita gak bawa ganti loh," teriak Nami yang sudah kewalahan menghadapi percikan air dari Sephia.


Tubuh Sephia limbung, tak dapat menahan tubuhnya dan terpeleset. Untung saja saat itu, Kalla sedang menuju ke arah Nami dan melewati Sephia, dengan sigap Kalla menahan tubuh Sephia.


Perasaan Sephia tak karuan saat netra mereka saling mengunci. Cepat-cepat Sephia alihkan dan mencari sosok Danar yang sudah berlari kearahnya.


"Hati-hati," bisik Kalla.

__ADS_1


"Kamu gak papa, Phi?" Danar menyambutnya dengan pelukan.


"Gak papa, untung ada Kalla ... Nami, maaf ya bajunya jadi basah."


"Yang penting kamu gak apa-apa."


"Kita balik ke villa sekarang gimana?" ajak Kalla saat melihat pakaian Nami basah semua begitu juga dengan Sephia.


"Kal, kayaknya gue dari villa langsung balik ya, besok sore gue udah harus balik ke Bali, jadi gue gak bisa terusin malem ini di villa, takut gak ke uber besok," ujar Danar.


Kalla menatap Sephia, Kalla tahu Sephia masih ingin menikmati waktu di sana, tapi tidak bisa juga dia mencegah jika mungkin malam ini Danar ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya.


"Oke, gak papa Dan ... ketemu minggu depan di Bali ya."


...----------------...


Setelah meninggalkan villa dan kembali ke kost Sephia, Danar terlihat banyak diam. Sepanjang jalan hanya Sephia yang berceloteh. Sephia sendiri merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Toh kejadian dia terpeleset pun tadi itu kecelakaan.


"Kamu marah?" tanya Sephia saat mereka sudah berada di dalam kamar Sephia.


"Gak ... marah kenapa?"


"Aku cuma ngerasa, kamu tiba-tiba diam gak banyak bicara ... kalo aku ngelakuin kesalahan aku minta maaf, aku gak ada niat buat bikin kamu marah," kata Sephia menarik tubuh Danar merapat padanya.


"Aku gak marah ... aku bilang aku cemburu, aku denger semua yang Kalla katakan malam itu dengan kamu di taman samping."


Sephia menatap netra lelaki itu, dia rapihkan helai-helai rambut Danar yang menutupi dahinya. Ia belai rambut-rambut halus yang berada di rahang lelaki itu.


"Ikut aku ke Bali, Phia ... kita mulai lagi di sana, kamu kerja lagi di kantor ... sungguh aku gak kuat liat kedekatan kamu sama Kalla," Danar memohon.


Sephia mengangguk, itu berarti dia mengiyakan permohonan Danar.


"Tapi kamu harus ijin sama bapak, karena bapak yang masih berhak atas aku." Sephia menarik lolos kaos dari tubuh Danar.


"Kapan kita ketemu bapak?"


"Secepatnya," ujar Sephia yang pasrah saat kaos yang ia pakai pun dilucuti oleh Danar.


"Besok aku pulang, jadi biarkan malam ini kita nikmati berdua," ujar Danar yang sudah menautkan bibirnya pada Sephia.


Tangan mereka pun saling menjelajahi satu sama lain, erangan Danar yang meminta lebih malam itu mendominasi seluruh ruangan kecil itu. Desahan demi desahan kembali saling bersautan.


Tubuh itu tak lagi berbalut benang sehelai pun, mata mereka sama-sama sayu. Mata Danar menjelajahi setiap lekuk tubuh Sephia. Menyusuri belahan dada itu dengan satu jarinya lalu turun membuat lingkaran di perut rata Sephia. Berhenti di sana lalu menyusuri bagian dimana Sephia semakin menegang.


"Danar ...."


"Aku mau, Phi." Danar bertumpu pada lututnya. Sephia memejamkan matanya dia benar-benar takut.


"Buka Phi, liat aku."


Sephia perlahan membuka matanya, ini pertama kalinya bagi Sephia setelah sekian lama mereka sering bercumbu. Baru kali ini dia melihat tubuh lelaki polos tanpa busana.

__ADS_1


"Liat aku, aku ingin jadi yang pertama," Danar sudah dipenuhi dengan kabut asmara.


Kembali Danar membenamkan wajahnya pada kedua belah benda yang memabukkan itu. Memainkan lidahnya di sana, gerakan menggesekkan itu memberikan rasa yang luar biasa pada Sephia karena kali ini tak ada yang menutupinya.


"Sayang ... ki--ta, ah."


Danar berusaha melakukannya.


"Danar, stop ... sakit! aku gak mau ...." Sephia memohon.


Danar menghentikan aktivitasnya, lalu mengecup kening kekasihnya itu. Mengusap keringat di dahinya dan dahi Sephia.


"Maafin aku," lalu menyelimuti tubuh mereka bersama.


...----------------...


"Pagi, Phi," sapa Kalla pagi itu. "Danar sudah pulang?"


Sephia mengikuti langkah atasannya itu memasuki ruangan sambil melihat tablet di tangannya.


"Danar berangkat Minggu sore, karena hari ini ada meeting dengan kliennya," ujar Sephia tetap melangkah tanpa melihat ke depan.


"Jadwal aku hari ini apa?" tiba-tiba Kalla berhenti hingga membuat tubuh Sephia menabrak Kalla dari belakang.


"Ups ...." Sephia hampir terjatuh karena heelsnya.


"Hampir aja kan," Kalla menarik tubuh gadis itu.


Jarak mereka sungguh dekat, tatapan mereka saling mengunci dan baru kali ini sedekat ini oh tidak dua kali saat kejadian di kali waktu itu.


"Sorry Kalla." Sephia melepaskan dirinya. " Jadwal hari ini ada meeting setelah makan siang dengan Bapak Langit di ruangannya." Sephia berusaha sebisa mungkin untuk menetralkan hatinya.


Kalla kembali melangkah ke meja kerjanya. Sakit memang memendam perasaan yang tak berbalas dan sayangnya perasaan itu datang terlambat.


"Itu aja?" tanya Kalla.


"Iya ... aku permisi ya." Sephia membalikkan dirinya berjalan ke arah pintu keluar.


"Phia ...."


"Iya ...." Sephia berhenti dan kembali memutar tubuhnya.


"Aku boleh cemburu?" Mata Kalla menatap tajam gadis yang dulu dia bantu untuk menata hati serta menyembuhkan luka dihatinya.


***Kalla said : "ingin ku bunuh pacar mu saat dia cium bibir merah mu, di depan kedua mata ku, hatiku terbakar jadinya cantik... aku cemburu!!"


ada yang tahu petikan lagu Dewa itu?


enjoy reading 😘


jangan salahkan perasaan 😘***

__ADS_1


__ADS_2