Sephia

Sephia
Launching


__ADS_3

Pagi itu Danar baru saja selesai membersihkan dirinya, lalu bersiap untuk pergi ke kantor. Sedangkan Sephia sudah berada di dapur sejak tadi, menyiapkan sarapan untuk suaminya di bantu oleh mbok Marni.


"Sarapan dulu, Sayang," ujar Sephia ketika melihat Danar keluar dari kamar mereka.


Danar menghampiri lalu memberikan kecupan sekilas di pipi istrinya.


"Nanti sore jadi check kan?"


"Iya, kamu pulang jangan terlalu sore ya."


Iya, kehamilan Sephia sudah memasuki usia kandungan 38 minggu, sudah beberapa kali mulai check kandungan setiap minggunya.


Setelah kepergian Danar ke kantor, hari-hari Sephia dihabiskan hanya di rumah. Sephia memutuskan untuk tidak lagi bekerja setelah kandungan menginjak usia tujuh bulan. Danar juga tak lagi tertarik untuk merekrut sekretaris baru pengganti Sephia, selain menghindari sesuatu dan lain hal, Danar ingin hidupnya tenang bersama Sephia dimulai dari dirinya memberikan keyakinan pada Sephia.


"Hari ini Ibu ada jadwal senam hamil kan?"tanya mbok Marni saat mengantarkan susu ibu hamil untuk Sephia.


"Harusnya tapi di undur besok Mbok," jawab Sephia. "Tapi siang nanti sepertinya aku mau ke kantor aja, Mbok masak apa?"


"Hari ini Mbok mau masak sambal kentang ati, tempe goreng dan sop iga," ujar mbok Marni tersenyum.


"Wah boleh tuh, nanti siapkan untuk aku bawa ke kantor ya Mbok," kata Sephia diikuti anggukan kecil dari mbok Marni.


Tanpa memberitahukan suaminya, tepat pukul setengah satu siang Sephia sudah tiba di kantor suaminya. Senyumnya terlontar pada beberapa orang yang ia temui. Sebelum sampai ke ruangan suaminya, Sephia menyempatkan diri menemui Ni Luh.


"Mbok Ni Luh," sapanya.


Si empunya nama pun menoleh, "hei, udah kangen aja mau ngantor lagi."


"Bosen di rumah ... udah makan?" tanya Sephia pada Ni Luh.


"Udah."


"Gimana sama Bli Made?"


Ni Luh terdiam. "Putus."


"Hah? kok bisa?"


"Bisa lah ... kalo masih berada di kubangan masa lalu."


"Oh i see ... kenapa gak balikan aja dia sama mantan istrinya kalo masih cinta?" Sephia bertanya pada Ni Luh dan Ni Luh hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aw," Sephia meringis.


"Kenapa, Phi?"

__ADS_1


"Gak tau dari tadi perut bagian bawah gak enak ... berasa udah di bawah banget ini."


"Ya udah nanti kita cerita-cerita lagi, yang pasti aku sama Made udah putus baik-baik, gak ada yang tersakiti sebelum semakin jauh."


"Nanti pasti dapet yang lebih baik lagi," ujar Sephia masih mengelus lembut perutnya, "aku ke Danar dulu ya," pamitnya.


Sephia melangkah menuju ruangan Danar, ruangan itu terbuka sedangkan saat ia menoleh ke ruangan Made, Made berada di sana. Ah, mungkin Danar sedang menerima tamu. Sephia berjalan dengan santainya, siang ini dia hanya mengenakan dress baby doll di balut blazer berwarna krem dengan flatshoes berwarna senada.


Sephia memajukan sedikit kepalanya, Danar terlihat sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu terlihat cantik dan elegan, duduk tak jauh dari Danar sepertinya sedang menerangkan sesuatu. Tapi dari gelagat yang Sephia lihat sepertinya wanita itu menyukai suaminya, dari tatapannya memperhatikan wajah Danar.


"Sayang," panggil Sephia.


"Hei ...." Danar berdiri lalu menghampiri Sephia, memberikan kecupan di pipi Sephia. "Kok gak bilang mau kesini."


"Aku bosen di rumah, pengen main kesini ... aku bawain sop iga kesukaan kamu." Sephia melirik wanita tadi.


"Oh kenalin, Sayang ini Ara ... purchasing manager hotel Alila, kita ada kerjasama dengan hotel mereka."


"Mbak Ara ini Sephia istri sekaligus sekretaris saya."


Sephia menerima uluran tangan dari wanita bernama Ara itu dengan sedikit senyum tipis di wajahnya.


"Diterusin aja Sayang, aku tunggu di kursi kamu aja," ujar Sephia kembali menyunggingkan senyum pada Ara.


Sekitar setengah jam Sephia menunggu Danar dan kliennya berbincang mengenai kerjasama furniture yang akan masuk ke hotel tersebut. Hingga akhirnya wanita itu berpamitan pada Sephia dan Danar.


"Manis apaan?"


"Sikap kamu sama si Ara Ara itu."


"Cemburu ini? jelek amat," goda Danar. "Aku mau makan, mana sop iganya?"


"Pengalihan issue." Sephia cemberut.


"Apaan sih," Danar terkekeh.


"Iya, pengalihan pembicaraan ... tiba-tiba minta makan."


Sephia berjalan ke meja sofa, menyiapkan makan siang untuk suaminya.


"Klien dateng masa aku sambut dengan muka datar, kan gak mungkin ... kalo kamu dateng aku sambut dengan buka baju itu mungkin banget," ujar Danar mencium leher istrinya.


"Gak usah sok manis gitu sama aku ... nih makan." Sephia menyerahkan tempat makan yang sudah berisi beberapa menu.


"Suapin dong, dulu aja sukanya suapin aku kalo makan," ujar Danar manja.

__ADS_1


"Ih, gak ya ... aku gak pernah suap-suap kamu, yang ada kami serobot makanan aku." Sephia gemas sekali dengan Danar.


"Lagian ngapain sih tadi duduknya deket-deketan gitu," ujar Sephia kembali membahas tentang Ara.


"Kan dia kasih tau aku tata letak dan semuanya," jelas Danar.


"Tata letak kan harusnya bisa dengan anak-anak marketing atau anak-anak design, niat banget dia mau ketemu kamu ... gak ada aku kayaknya gak ke kontrol ya semua jadwal, seenaknya bikin jadwal dan bikin janji ketemu, coba kalo aku tadi gak dateng ... udah pasti ngajak makan siang itu si Ara, nyebelin." Kesal Sephia mengelus perutnya yang menegang.


"Aku mau makan, Phi ... gak mau dengerin kamu ngomel gak tentu arah gini," ujar Danar santai.


"Kamu tuh sedikit aja ngerti kalo aku lagi kesel bisa gak sih." Sephia beranjak dari tempat duduknya.


"Aku harus ngerti gimana ... kan emang gak ada apa-apanya, kecuali hubungan kerja ... kamu terlalu sensitif Phia." Danar meraih tangan istrinya.


"Gak tau ah ... aku gak suka sama si Ara itu, dia keliatan suka sama kamu, dia perhatiin kamu sebelum aku masuk tadi, mana seksi lagi ... kan enak kamu liatnya di banding badan aku yang udah gede ini." Mata Sephia berkaca-kaca.


Danar berdiri, menggenggam tangan istrinya, membelai lembut pipi Sephia. Lalu dia tersenyum menatap mata istrinya yang memerah.


"Badan kamu gede gini kan karena aku yang bikin, karena aku kamu jadi mengandung anak aku, karena aku kamu jadi kehilangan bentuk tubuh kamu yang dulu ... tapi aku suka, ibu hamil itu seksi tau gak ... kalah si Ara Ara itu," ujar Danar menirukan kata si Ara Ara seperti yang Sephia katakan.


"Boong banget," ujar Sephia membuang mukanya ke arah jendela.


"Serius aku, ini kamu semakin berisi," Danar meremas bokong Sephia, "ini kamu semakin kencang," kata Danar lagi meremas dada istrinya. "Ini kamu ...." Danar berhenti lalu menautkan bibirnya, "makin gemesin." Lelaki itu tersenyum.


"Tukang gombal."


Danar mengulum senyumnya. "Yang ada di kamu mengalahkan wanita manapun." Danar kembali menyesap bibir Sephia lembut.


"Aduh ...." Sephia mengusap-usap perutnya.


"Kenapa?"


"Daritadi dia kencang terus ... aw ... kok semakin ke bawah ya, Sayang."


"Kamu serius Phi?" Danar mulai panik, "jadwalnya masih dua minggu lagi loh," ujarnya bersiap membawa tas istrinya lalu berjalan memapah sang istri yang mulai meringis.


"Dan ... mau kemana?" tanya Made yang kebetulan akan masuk ke ruangan Danar.


"Mau launching kayaknya, De ... tolong urus ruangan gue ya," pintanya buru-buru sebelum masuk ke lift. "Oh ya De, satu lagi ... tolong hubungi keluarga gue ... gue rasa Sephia mau launching malem ini."


"Launching? ngaco ... emang aku mau keluarin produk baru apa," ujar Sephia di sela-sela ringisannya.


Sephia mengaduh beberapa staf Danar seakan ikut meringis menahan sakit pada perut Sephia, Ni Luh dengan sigap membantu atasannya mengurusi sang istri.


***enjoy reading 😘

__ADS_1


semakin kesini like dan komen semakin sedikit padahal yang baca banyak ... aku sedih loh 😥


Chida ❤️***


__ADS_2