Sephia

Sephia
Sebuah rasa


__ADS_3

"Aku boleh cemburu?" Mata Kalla menatap tajam gadis yang dulu dia bantu untuk menata hati serta menyembuhkan luka dihatinya.


Sephia rasa ini masih terlalu pagi untuk membahas hal mengenai hati. Namun Sephia harus bisa membuat Kalla sadar akan perasaannya. Sephia berlalu, menutup pintu ruangan itu.


Tak pernah Sephia sangka, jika Kalla memendam rasanya sedalam ini. Bagaimana dengan Nami, tidak berpikir kah Kalla akan hati gadis itu. Gadis yang sudah ia pacari selama empat tahun, dan gadis yang sudah percaya pada Sephia untuk menjaga Kalla di saat dia tidak ada di samping kekasihnya itu.


Sephia tak habis pikir, apa yang sudah merasuki Kalla hingga dia bisa memendam rasa sedalam ini. Setahunya lelaki ini tulus membantunya. Apa karena selama ini dia sering menghabiskan waktu berdua lalu Kalla merasakan kenyamanan?


Kalla berusaha untuk tidak menunjukkan rasanya pada Sephia selama berada di Puncak kemarin, setelah dia mengutarakan uneg-uneg di malam sebelumnya. Namun melihat Sephia bersama Danar ada rasa tidak terima di dalam hatinya. Kalla menyadari perasaannya pada Sephia berubah saat Danar kembali merajut asa pada gadis itu.


Salah memang, Kalla juga tak pernah tahu akan seperti ini jadinya. Kenyamanan saat bersama gadis itu, cara bicaranya, bahasa tubuhnya kadang sentuhan-sentuhan kecil yang seakan membawa aliran listrik pada tubuh Kalla pun sungguh terasa nyata.


Bagaimana dengan Nami? Kalla memang sudah gila. Berkali-kali dia menyugar rambutnya frustasi. Hari ini tak ada satu pekerjaan pun yang bisa dia fokuskan.


"Sial," ujarnya. Lalu pintu ruangan itu terbuka.


Seorang gadis dengan penampilan yang sangat manis membawakan beberapa paper bag untuknya.


"Hei," sapa Nami berjalan menuju Kalla. "Kata Phia, kamu lagi gak sibuk ... jadi aku datang kesini bawain kamu ini," ujar Nami.


"Kamu telpon Phia?"


"Sephia yang telpon aku, dia bilang kamu lagi butuh aku."


Gadis itu, ada saja caranya agar Kalla bisa bersama Nami. Mungkin ini salah satu cara Sephia agar perasaan Kalla semakin tak meluas.


"Tadi pagi belom sarapan kan? Mima bilang ke aku kalo kamu gak sempet sarapan karena bangun kesiangan. Jadi, aku bawain kamu ini." Nami mengeluarkan kan dua buah kardus makanan yang berisi nasi goreng seafood dan mie goreng bakso kesukaan Kalla. Dan ada dua buah jus di sana serta beberapa cake yang Nami pesan untuk calon ayah mertuanya.


"Makan dong ... aku suapin?"


Seketika pintu perlahan terbuka, Sephia masuk ketika Nami sedang membujuk Kalla untuk membuka mulutnya.

__ADS_1


"Maaf," ujar Sephia.


"Eh, gak papa Phi, ayo sini gabung ...." Ajak Nami pada gadis yang sudah membawa beberapa laporan.


"Makasih Nami, aku cuma nganterin ini ... aku taruh di sana ya," Sephia berjalan ke meja kerja Kalla.


Tatapan mata Kalla tak lepas memandang Sephia.


"Kalla, tinggal di tandatangani ... hanya laporan RAB yang di revisi kemarin, sudah aku cek," ujarnya.


"Sini ikut makan," ajak Kalla pada Sephia.


"Gak usah ... nikmati waktu berdua kalian, kerjaan aku masih banyak." Sephia tersenyum lalu meninggalkan sepasang kekasih itu.


Ada rasa kecewa pada hati Kalla, Sephia sepertinya sudah menjaga jarak padanya. Dari mengusahakan Nami datang hingga yang biasanya dia ikut bergabung jika sedang makan bersama-sama, namun kali ini tidak.


...----------------...


Sore menjelang, Sephia baru saja merapikan meja kerja Kalla. Lelaki itu setelah siang tadi mengantarkan Nami ke rumah sakit untuk praktek, lalu mengunjungi ruangan ayahnya karena ada meeting dengan salah satu investor hotel yang sedang mereka bangun di Bali.


Tetapi, belum sempat ia membuka pintu itu, Kalla sudah membukanya terlebih dahulu dari arah luar.


"Oh, aku kira kamu udah pulang," ujar Kalla berdiri di depan pintu.


"Ini baru mau pulang."


"Aku antar." Kalla menarik lengan Sephia untuk kembali masuk ke ruang kerjanya.


"Gak usah, aku pulang sendiri aja," kata Sephia.


"Sampai kapan mau nolak aku?"

__ADS_1


Kalla mendekatkan tubuhnya. Pintu itu perlahan ia tutup.


"Aku ngerasa kamu agak menjauh sekarang, terlebih ketika aku bilang aku cemburu sama Danar. Apa gak boleh aku cemburu? Apa salah kalo aku juga punya perasaan sama kamu? Aku udah berusaha jujur Phi, aku cuma ngungkapin apa yang aku rasa, selebihnya memang kita gak mungkin bisa sama-sama, tapi setidaknya cukup bersikap dewasa jangan kayak gini, itu sama aja kamu buat aku semakin gak bisa menghapus rasa ini."


"Rasa kamu udah salah Kal, memang gak sepatutnya diteruskan. Pikirin gimana perasaan Nami, aku gak mau Nami juga ngerasain apa yang aku rasain saat aku kehilangan Danar dulu. Ini semu belaka ... kamu hanya suka dan itu bisa kamu kubur dalam-dalam, ini hanya sesaat Kalla bukan untuk selamanya."


Kalla menatap tajam netra Sephia, sumpah demi apapun rasa ini membuat jantungnya selalu berdebar. Selama ini selalu dia acuhkan, namun semakin lama semakin terasa. Debaran saat pertama kali dia menggenggam tangan Sephia, ketika Sephia meminta tolong padanya saat bertemu Danar pertama kali. Debaran yang sama saat ia menyatakan perasaannya yang terpendam saat malam itu.


"Tapi aku gak bisa membohongi perasaan aku Phi, rasa ini nyata ... meski memang kita gak bakal sama-sama tapi setidaknya beri aku kesempatan buat mencurahkannya sama kamu."


Sephia menggelengkan kepalanya. "Maaf aku gak bisa Kal! seharusnya ketika rasa itu hadir sudah kamu buang jauh-jauh, terluka karena rasa itu akan sangat menyakitkan dan jangan sekali-kali kamu pupuk menjadi subur."


"Dan aku ... aku sudah menentukan pilihan aku, sebelum semua ini terjadi begitu juga dengan kamu, kita gak mau membuat mereka lebih terluka daripada kita. Jadi aku mohon hentikan."


"Beri kisah kita sedikit waktu Phi, sampai dengan waktu itu juga yang akan memisahkan kita."


Kalla menatap Sephia, membawa kedua tangannya berada di leher Sephia untuk memastikan gadis itu masih bersamanya.


Sephia menahan tangannya berada di dada Kalla. Pikirannya kacau, sekelebat bayangan Danar melintas di benaknya, bahkan wajah Nami yang tulus memberikan kepercayaan padanya melintas begitu saja.


Perlahan Kalla mendekatkan wajahnya, sapuan hangat dari hembusan nafasnya membuat Sephia semakin tak karuan. Hati kecilnya berkata ini salah ... ini salah!


Mata Kalla seakan mengintimidasi seluruh inci sisi wajah Sephia. Lelaki itu perlahan memiringkan kepalanya, menyatukan bibir mereka. Ciuman lembut itu begitu menyesakkan dada, Sephia memejamkan matanya. Rasa bersalah pada Danar bahkan Nami bergejolak di pikirannya, namun juga tak dapat menolak perasaan yang sekarang sedang berkecamuk di hatinya. Kalla menarik dirinya, menatap mata yang masih terpejam itu.


"Sekarang kamu percaya, kalau rasa itu ada dan debaran itu nyata."


Kadang cinta emang liku ... Suka gak mau di salahin. Tapi, nyelonong masuk ke hati orang tanpa assalamualaikum 😂


***Chida ngumpet dulu bentaran doang ya kalo ada yang mo timpuk Chida, timpuk pake mawar atau siram pake kopi juga boleh 😂


enjoy reading 😘***

__ADS_1


Kalla



__ADS_2