
Jumat sore, Danar dan Nami sudah berada di ruangan kerja Kalla, sedangkan si empunya tempat sedang melakukan rapat dengan para jajaran direksi, termasuk Sephia.
"Udah lama, Dan?" tanya Nami yang baru saja datang.
"Udah ... hampir dua jam," jawab Danar santai.
"Astaga, udah lama itu."
"Dari sebelum mereka rapat sampe sekarang belum kelar."
"Haha, memang begitu ... nanti keluar dari sana tetep ngebahas kerjaan, kadang aku ngerasa yang kayak obat nyamuknya" kekeh Nami.
"Gak cemburu?"
"Cemburu? sama Phia?"
"Iya ...."
"Gak ... malah aku ngerasa Phia bisa jaga Kalla dari serangan perempuan lain, kalo Kalla jauh dari aku, aku udah percaya sama mereka. Kenapa? kamu cemburu?" Nami melangkah ke meja kerja Kalla.
"Kadang ngerasa cemburu, tapi berusaha aku singkirkan pikiran itu," Danar menghela nafas. "Tapi kalo kamu bisa percaya sama Kalla, kenapa aku gak bisa percaya sama Sephia."
Nami mengangguk angguk. "Susah memang, tapi harus di lakuin, sama siapa lagi kita percaya kalo bukan sama pasangan masing-masing. Hingga detik ini mereka gak pernah buat aku merasa gimana gitu."
"Gitu ya ...."
Suara dua orang yang mereka tunggu pun terdengar, masuk ke dalam ruangan itu masih membahas hasil rapat tadi.
Demi Tuhan, Danar senang sekali melihat Sephia yang terlihat smart dengan setelan celana pensil dan kemeja yang dimasukkan ke dalam, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Seksi pikir Danar.
"Sayang," sapa Kalla memberikan kecupan di pucuk kepala Nami yang duduk di kursi kerja Kalla. "Udah lama?"
"Setengah jam."
"Sebentar ya," Kalla menerima sebuah berkas dari Sephia, sementara Sephia tersenyum pada Nami.
...----------------...
Pukul tujuh malam, pasangan itu sampai di Puncak. Memasuki sebuah villa yang nyaman milik keluarga Kalla. Beberapa hidangan pun sudah tersedia di atas meja makan. Menempati kamar mereka masing-masing. Danar dan Sephia melangkah memasuki kamar yang sudah disediakan.
Sephia baru saja mengikat rambutnya tinggi, ketika Danar memeluknya dari belakang. Danar menciumi tengkuk gadis itu. Lalu membalikkan tubuh Sephia menghadapnya.
"Kamu makin hari makin cantik, Phi," ujar Danar menciumi leher Sephia. Sephia menengadahkan lehernya menikmati setiap kecupan dari Danar.
"Aku masih lengket, belum mandi," kata Sephia, sementara tangan Danar sudah melepaskan satu per satu kancing kemejanya. "Semalam kan udah, Sayang." Sephia menahan tangan itu menelusup masuk ke dalam.
"Pikiran aku gak bisa tenang kalo sudah berdua sama kamu, Phi," bisik Danar yang sudah menurunkan kemeja Sephia ke lantai.
Dada gadis itu begitu indah, hanya berbalut pembungkus berwarna hitam. Suara desahan pun terdengar dari Sephia ketika tangan Danar meremat salah satu dada nya.
"Sayang ...."
Saling berdiri berhadapan, Danar masih menyusuri leher hingga pundak mulus yang terbuka itu. Tangan Danar turun ke bawah untuk membuka resleting celana Sephia. Sementara kedua tangan Sephia mengacak rambut Danar yang berada di antara dadanya.
Tubuh Sephia hanya berbalut pembungkus dada dan **** *************. Sephia menegang saat tangan Danar menyentuh bagian sensitifnya.
"Danar ... nan--- ah."
"Aku mau Phi," ujar Danar mendorong pelan Sephia ke atas tempat tidur, matanya menatap sayu.
__ADS_1
Danar membuka perlahan pakaiannya, hanya meninggalkan boxer untuk menutupi bagian kelakiannya. Namun, ketukan di pintu menghentikan aktivitas mereka yang mulai panas itu.
"Phia," suara Kalla terdengar di luar sana. "Kita makan dulu, itu udah di siapin semuanya."
Sephia mendorong tubuh Danar yang sedang menyesap pucuk dadanya.
"Kita makan dulu, gak enak sama Kalla," kata Sephia mengangkat wajah kekasihnya dari keasikan memainkan lidah di dada.
"Ganggu aja."
"Hei ... ingat ini double date." Sephia tersenyum.
"Mandi gih," titah Sephia pada Danar yang terlihat kesal. "Nanti lagi," ujarnya mencium pipi lelaki itu lalu memakai kembali pakaiannya.
...----------------...
"Nami mana?" tanya Sephia ketika mendapati Kalla sedang merokok di taman samping.
"Mandi," jawab Kalla hanya menoleh pada Sephia. "Danar?"
"Mandi juga," Sephia melangkah berdiri bersebelahan dengan atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa cowok suka nge rokok?"
"Hah?"
"Kamu sama Danar kayak kereta api kalo udah nge rokok."
Kalla hanya terkekeh. "Belum mandi?" Kalla memperhatikan Sephia yang masih memakai pakaian kerjanya.
"Gantian sama Danar."
"Enak aja." Sephia tertawa.
"Bahagia, Phi?" Kalla menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Bahagia ... banget."
Kalla menatap gadis itu, Sephia ikut menolehkan wajahnya. "Kenapa?" tanya Sephia menatap netra Kalla.
"Akur seneng kalo kamu bahagia," ujarnya.
"Bukannya memang harus seperti itu, aku juga bahagia liat kamu sama Nami sering menghabiskan waktu sama-sama sekarang."
"Pernah gak terpikirkan oleh kamu, menyukai orang lain selain Danar."
"Gimana?" tanya Sephia sedikit bingung.
"Manusia itu katanya gak pernah ada kata puas, di saat menemukan yang lebih dari yang ia miliki sekarang maka keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih baik itu pasti muncul." Kalla menatap gadis itu, lalu menghembuskan asap rokoknya ke sisi lain.
"Hhmm ... jadi inget sebuah pepatah, jika kamu sudah menemukan yang terbaik lalu berjalan dan bertemu dengan yang lebih baik lagi maka percayalah semua itu hanya semu belaka, sejatinya manusia memang tidak akan pernah puas dengan apa yang telah di milikinya."
"Gimana dengan hati?"
"Hati hanya butuh ketidakraguan dalam memilih." Sephia menatap Kalla kembali. "Kamu menyukai seseorang? gimana Nami? Nami terlalu baik untuk disakiti, perjalanan kalian hanya tinggal selangkah lagi, jangan berbuat ceroboh hanya karena suka bukan karena cinta pada orang lain."
"Kalo aku menyukai kamu?"
Deg
__ADS_1
Jantung Sephia terasa berdetak cepat, bagaimana mungkin seorang yang sudah dianggapnya sebagai sahabat bahkan malaikat pelindungnya itu merubah perasaan itu menjadi suka.
Sephia terdiam. "Hanya suka bukan cinta, jadi kubur dalam-dalam perasaan itu, Kal ... Nami dan Danar itu tujuan kita, maka jangan rusak itu semua, cukup kamu dan aku yang tahu."
Kalla meraih tangan Sephia, "makasih ...."
"Untuk apa?"
"Karena kamu mengingatkan semuanya, dan makasih karena kamu sudah mau mendengarkan kejujuran perasaan aku."
"That's what friends are for," jawab Sephia lalu tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Kalla.
Danar sudah berdiri sedari tadi mendengarkan pembicaraan kekasih dan sahabatnya itu. Benar kata Nami, hanya cukup percaya pada mereka. Sephia dan Kalla akan mampu melewati itu semua.
"Eh, sudah selesai mandinya?"
Sephia sedikit terkejut ketika menemukan Danar yang sudah berdiri di sana.
"Udah, kamu mandi? apa kita langsung makan? Nami mana, Kal?"
Meski Danar mengetahui apa yang sudah terjadi, namun ia tak ingin terlihat canggung. Danar usap punggung tangan Sephia yang tadi sempat di genggam oleh Kalla, lalu menciumnya. Menuntun gadis itu menuju meja makan.
Nami sudah terlihat segar saat tiba di meja makan, merangkul Kalla yang sudah duduk di sana. Kalla melakukan hal yang biasa dia lakukan mengecup pucuk kepala tunangannya itu. Sephia tersenyum, senyum tulus untuk seorang sahabat.
...----------------...
"Kamu berenang pake itu?" tanya Danar pag itu ketika melihat Sephia sudah memakai baju renang berwarna hitam dengan punggung yang terbuka lebar.
"Terus aku mau pake apa? celana panjang?"
"Ya gak juga sih, tapi masa pake itu kan ada Kalla di situ."
Danar melongok keluar balkon, di bawah sana sudah ada Nami dan Kalla yang sudah bercumbu di kolam renang.
"Malah ciuman lagi di situ."
"Siapa?" Sephia ikut melongok keluar balkon. "Tuh, Nami aja pake bikini malahan." Sephia merengek.
"Mereka udah biasa Sayang, kalo kamu kan gak."
"Iya, tapi kan ada kamu kan juga ada di sana ... ya udah deh gak usah aja," gadis itu cemberut.
"Ya udah, tapi gak boleh deket-deket Kalla ya," ujar Danar, memeluk Sephia dari belakang dan meraba dada gadis itu. "Atau kita di kamar aja Phi, mengulang yang semalam." Goda Danar.
"Gak ... aku mau berenang, Sayang ...," rengeknya.
Akhirnya mereka menuju ke kolam renang dengan tubuh Sephia yang berjalan di belakang Danar. Kalla yang sedang asik di dalam kolam melihat mereka datang saling bergandengan.
"Elah Dan, kayak pengantin baru aja sih, ayo sini gabung," ajak Kalla.
"Inget ya, gak boleh deket-deket." Danar memberikan ultimatum.
"Astaga ... iya."
***yang kemarin nanya perasaan Kalla, udah ke jawab yaaah... cinta memang aneh suka tiba-tiba datang suka tiba-tiba pergi...
enjoy reading 😘
jangan lupa like dan komen, boleh kalo mau kasih bunga sekebon atau kopi pagi ini buat Chida 😘***
__ADS_1