Sephia

Sephia
I love you to the moon and back


__ADS_3

Sore itu, Sephia dan Danar baru saja tiba di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Sephia membukakan pintu kafe itu untuk Danar yang sedang menggendong bayi kecil mereka.


"Itu mereka Sayang," ujar Sephia menunjuk ke pasangan yang sedang asik bersama anak mereka yang berumur kira-kira satu tahun.


"Phia ...." Nami melambaikan tangannya saat melihat Sephia dan Danar sudah memasuki pintu kafe.


Kalla yang sedang menyuapkan es krim spontan menoleh kepada mereka.


"Apa kabar?" Sephia menautkan pipinya saat Nami merentangkan tangan pada sahabatnya itu.


"Baik, ya ampun ini Antara ... lucu banget sih," ujar Nami meraih Antara dari gendongan Danar. "Sayang, lucu ya," ujarnya pada Kalla.


"Apa kabar lo?" tanya Danar, dua lelaki itu saling berpelukan.


"Baek gue, lo gimana? masih begadang?"


"Udah gak ... sekarang sering begadang sama Bunda nya," Danar terkekeh.


"Yakin gue, Antara bentar lagi dapet adek." Kalla tergelak.


"Jangan dong, masih bayi ini," ujar Sephia.


"Tapi pake alat kontrasepsi kan, Phi?" tanya Nami membelai pipi chubby Antara.


"Gak ... belom, aku masih bingung."


"Jadi?" tanya Nami.


"Masa subur aja sih," kata Sephia.


"Oh i see ...." Nami mengangguk angguk. "Tapi deg deg an juga ya Phi kalo gitu," ujar Nami lagi.


"Banget ... mana suka gak kira-kira lagi ...," kata Sephia lalu menghentikan ucapannya saat Danar membungkam mulut Sephia dengan tangannya.


"Gak kira-kira ya, Phi." Tawa Kalla meledak.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Kalla saat pelayan kembali datang membawakan pesanan Kalla dan buku menu untuk Danar dan Sephia.


"Agni sekarang sudah satu tahun kan?" tanya Sephia saat ia menyuapkan buah-buahan pada Agni anak dari Nami dan Kalla.


"Hampir satu tahun," jawab Nami membersihkan wajah anaknya dengan tisue basah.


"Dia makan apa aja, badannya sampe menggemaskan gini Nam?"


"Masih ASI dan udah makan kan, tapi memang dia penyuka segalanya ... kayak bapaknya," Nami melirik Kalla.

__ADS_1


"Masa sih Sayang, kayak aku?" goda Kalla saat ia sadar jadi bahan perbincangan ibu-ibu muda itu.


"Jadi ini hari terakhir kalian di Jakarta?" tanya Kalla pada Danar.


"Iya, sudah seminggu kita di sini, tiga hari di Jakarta tiga hari di Purwakarta ... besok sore kita balik ke Bali, lo kalo ke Bali ajaklah anak istri ... sendirian terus ntar di sangka masih single loh," Danar mengukir senyum pada Kalla.


"Dia gak mau ajak aku Dan, Kalla bilang ngapain ke Bali, nanti kamu bosen ... gitu katanya."


"Padahal ada Sephia kan di Bali, itu mah alasan dia aja Nam," ujar Danar yang sekarang sudah berperan menjadi kompor.


"Mulut lo Dan ... gue sodok pake sendok mau?" Danar tertawa.


"Eh Phi, kita kesana yuk ... itu istri sepupunya Kalla, baru lahiran juga kayaknya seumur Antara deh," ajak Nami saat melihat seorang wanita cantik tengah duduk bersama kedua anaknya dan seorang bayi di pangkuannya.


"Kita kesana ya Sayang," kata Sephia lalu membawa Antara dalam gendongannya mengikuti Nami yang sudah berjalan lebih dulu.


"Bahagia Dan?" tanya Kalla saat mereka tinggal berdua memperhatikan para mama-mama muda itu bercengkrama.


"Sangat, gue merasa beruntung punya Sephia ditambah lagi kehadiran Antara diantara kami," jawab Danar, "lo sendiri?"


"Sama ... gue selalu merasa mereka segalanya buat gue." Mata Kalla tak bergeming saat menatap istri dan anak yg chubby nya itu.


"Syukurlah ... memang sepantasnya kita bahagia dengan mereka."


"Iya ... sudah seharusnya," kata Kalla.


...----------------...


Waktu berjalan dengan semestinya, kehidupan berumah tangga bagaikan air yang mengalir kadang tenang kadang juga bergejolak. Itulah yang Sephia dan Danar lalui, hingga detik ini mereka masih terus mencoba menyesuaikan diri masing-masing.


Pagi itu Danar membuka matanya, lagi-lagi dia mendapati pemandangan yang hampir setiap pagi dia temui. Dada Sephia terbuka, menjadi kebiasaan Sephia jika terlalu mengantuk dan di saat Antara sudah melepaskan susunya maka dada itu terbuka begitu saja, tugas Danar adalah menutupnya kembali.


Setelah memindahkan Antara ke tempat tidur bayinya, Danar kembali masuk ke dalam selimut mendekatkan dirinya pada Sephia. Memberikan kecupan selamat pagi adalah kebiasaannya sejak dulu.


"Selamat pagi," ujarnya saat Sephia mulai membuka matanya.


Sephia menutup kembali matanya, bersembunyi di balik dada lelaki itu.


"Sayang, udah pagi," ujar Danar lagi.


"Liburkan? ini hari Sabtu," jawab Sephia dengan suara paraunya.


"Ya udah berarti kita tidur lagi," kata Danar memeluk erat sang istri.


"Hari ini Antara enam bulan ... cepet banget waktu berlalu ya," kata Danar lalu Sephia mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya ... anak kita semakin pintar."


"Kayak ayahnya?"


"Iya, kayak kamu semua ...." Sephia kembali membenamkan wajahnya.


"Mau ada yang kayak kamu? berarti kita harus lebih giat lagi." Danar terkekeh.


Tiba-tiba Sephia bangkit dari tidurnya.


"Kenapa?"


"Sebentar," ujar Sephia lalu melangkah terhuyung-huyung menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Sephia, keluar dari kamar mandi. Dengan senyum lebar dia melihat Danar sudah menggendong anak pertama mereka lalu membuka tirai dan jendela.


"Kenapa? kok mukanya gitu ... senyum-senyum kayak yang dapet hadiah aja," ujar Danar.


"Sini, Antara sama Bunda yuk." Sephia membawa Antara ke pelukannya. "Ini buat Ayah," ujarnya memberikan alat tespack pada Danar.


"Ah ... serius? ini bener?" Danar membelalakkan matanya, wajah bahagia terukir di sana. Rasa tak percaya seperti dulu saat mereka pertama kali mendapatkan kabar yang menggembirakan.


"Aku berhasil lagi?" tanyanya masih dengan tatapan mata penuh arti.


"Kamu berhasil lagi dalam waktu enam bulan," ujar Sephia merentangkan satu tangannya membawa suaminya ke dalam pelukan Sephia.


Danar kembali membawa Antara padanya, merangkul pundak istrinya memberikan kecupan pada Sephia, kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.


"Tuhan begitu baik sama aku, melengkapi kehidupanku dengan kehadiran kalian, aku gak bisa janji apa-apa Phi, aku cuma menawarkan kebahagiaan buat kamu dan anak-anak kita." Kata-kata indah itu meluncur begitu saja dari Danar, sejatinya dia hanya manusia biasa yang tak luput dari ketidaksempurnaan tapi setidaknya sampai maut memisahkan mereka Danar akan selalu ada untuk keluarga kecilnya.


"Cukup kamu ada di sini, bersama kami itu sudah melebihi apapun Sayang, aku cuma minta kita bisa tua bersama-sama, melihat anak-anak tumbuh dan hidup bahagia ... selalu berada di samping aku di setiap aku membuka mata saat pagi menyapa dan selalu ada di sisi aku saat malam menjelang menghantarkan ratusan mimpi untuk kita untai," ujar Sephia menyandarkan kepalanya di dada Danar menatap lurus ke depan menikmati pagi ini dengan kicauan burung, udara sejuk dan matahari pagi yang menyapa mereka.


"I love you, Sephia."


"I love you to the moon and back, suamiku."


Bibir itu saling bertaut, sementara Antara memandang kedua orangtuanya dengan celoteh-celoteh kecilnya yang menggemaskan.


~END~


Karena pada sejatinya kata setia itu adalah komitmen pada hati kita sendiri, berusaha setia atau tergoda.


Salam rindu dari kami 😘


Danar&Sephia

__ADS_1


Chida ❤️


__ADS_2