
"Sekarang kamu percaya, kalau rasa itu ada dan debaran itu nyata." Kalla menatap sendu Sephia yang sudah menunduk.
"Maaf, aku gak bisa Kal ... maafin aku, seharusnya kita gak kayak gini," ujar Sephia membalikkan tubuh lalu pergi meninggalkan Kalla dengan perasaan yang tak karuan.
Sephia menghapus air matanya, rasa bersalah pada kedua orang yang ia sayangi pun menghantam dadanya. Sephia sendiri bingung, apa yang terjadi padanya. Entah apa yang ia pikirkan tadi hingga kejadian itu cepat sekali terjadi.
Sephia berlari meninggalkan lobby kantor, memanggil taksi yang melintas. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ya ampun, apa yang harus aku lakuin sekarang ... Danar aku butuh kamu batin Sephia, air matanya mengalir. Bodohnya ia, Sephia merutuki dirinya, bagaimana bisa?
Berkali-kali ponsel itu bergetar, nama Kalla nampak di layar ponselnya. Sesampainya di kamar kost, Sephia membenamkan wajahnya menangis sejadi-jadinya. Rasa bersalah lebih tepatnya pada dua orang yang ia sayangi. Mengapa secepat itu hati Kalla berubah, banyak kata mengapa, mengapa dan mengapa yang bermukim di kepalanya.
Harus bagaimana dia meminta maaf pada kedua orang itu. Sungguh hatinya tak mampu. Membayangkan apa yang telah terjadi kali ini, rasa berdosa yang luar biasa.
Ponsel itu bergetar kembali, nama Danar di sana. Sephia berusaha menetralkan suaranya,
"Iya."
"Kamu tidur, Phi?"
"Gak, baru sampe ... macet banget," bohongnya.
"Phi, besok aku ke Jakarta lagi ... aku menang tender untuk hotel yang di bangun oleh Kalla, lumayan besar tendernya karena ini hotel bintang lima ... kamu bisa ambil cuti untuk lusa?"
"Kenapa?"
"Kamu bilang, mau ngajak aku ketemu bapak."
"Oh ... secepat ini?"
"Iya ... aku butuh ijin bapak untuk bawa kamu kembali ke Bali, aku gak mau kamu lama-lama di Jakarta sendirian, gimana?"
"Eem ... ya sudah besok aku ajukan cuti, kamu sampai Jakarta jam berapa?"
"Pagi aku berangkat, karena meeting dengan Kalla dan ayahnya jam dua siang, tapi aku ke kantor dulu, karena nanti bakal ada Mas Agung yang nemenin juga."
"Kok aku gak tau jadwal ini ya?"
"Baru sore ini, assisten ayah Kalla hubungi aku."
"Oh ... kamu dimana?"
"Di kamar ... lagi mikirin kamu." Danar tersenyum di seberang sana.
"Sayang ...." Hati Sephia makin tak menentu.
"Apa?"
"Aku ...."
"Kenapa?"
"Gak papa ... aku cuma kangen," ujarnya berkata dengan memejamkan mata merasa sesuatu yang tak enak di dadanya.
__ADS_1
"Padahal kita baru pisah satu hari, kamu udah kangen ... kita nikah aja Phi, biar bisa bareng terus."
Sephia tersenyum, cepat bawa aku pergi dari sini Danar, rasa ini menyiksa aku, kamu, Kalla dan Nami batin Sephia lalu mengusap sudut matanya.
"Tidur gih, kita ketemu besok ya ... yang cantik, aku pengen liat kamu cantik dari hari ke hari."
"Kamu juga tidur ... Sayang, kurangi ngerokok nya."
"I love you, Phia."
"I love you, Danar."
Sesak jika kita mengatakan kata I love you pada orang yang kita cintai namun di saat yang bersamaan pikiran kita menuju orang yang lain, dan ini sedang Sephia alami.
Sebuah pesan masuk dari Nami juga Kalla secara bersamaan.
[Nami : Phi, besok makan siang bareng ya, aku mau cerita]
[Kalla : Aku minta maaf Phi, tapi tolong jangan seperti ini]
Hanya pesan dari Nami yang Sephia balas, mereka akan bertemu di sebuah kafe saat makan siang esok hari. Sementara pesan dari Kalla, hanya ia baca tanpa membalas.
...----------------...
Matahari pagi mulai perlahan masuk melalui celah tirai jendela. Pagi-pagi sekali Danar sudah menelepon Sephia mengabarkan keberangkatannya jam tujuh waktu Bali.
Danar mengatakan agar Sephia tidak lupa untuk mengajukan cuti hari ini untuk dua hari ke depan.
Sephia tiba seperti biasa lebih dulu, mempersiapkan segala sesuatu di meja kerja Kalla. Hari ini dia sudah berjanji akan bersikap seperti biasanya. Anggap saja kejadian kemarin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Kalla datang dengan setelan dengan kemeja berwarna putih berbalut jas model santai juga celana chinos berwarna abu senada dengan jas yang ia pakai.
Kalla melewati meja Sephia tanpa menegurnya seperti biasa, Sephia mengikuti langkah lelaki itu seperti biasa dengan mengatakan jadwal-jadwal yang harus dia lakukan hari ini termasuk bertemu Danar membicarakan tender proyek hotel di Bali.
"Hanya itu jadwal hari ini, untuk laporan hanya ada beberapa proposal yang harus di cek dan di tanda tangani," ujar Sephia berdiri di depan meja kerja Kalla sementara Kalla mendengarkannya.
"Ok makasih," Kalla mulai membuka laptopnya. "Ada lagi?" tanyanya dingin.
"Aku mau ngajuin cuti dua hari sampai dengan lusa, bisa?"
"Silahkan, asal pekerjaan kamu sudah selesai dan jadwal aku sudah di atur sedemikian rupa."
"Baik, makasih," Sephia tersenyum.
Kalla memperhatikan punggung gadis itu hingga ia tak nampak lagi terlihat. Hati Kalla seperti tercabik-cabik, melihat sikap Sephia yang seolah biasa saja dan sementara dia sendiri harus berperang dengan hati agar terlihat tidak canggung.
Siang itu Sephia menepati janji menemui Nami di sebuah kafe tak jauh dari kantor Sephia.
"Udah lama?" tanya Sephia pada gadis manis itu.
"Baru juga, pesan apa, Phia?
"Disamain aja."
__ADS_1
"Mau cerita apa?" tanya Sephia setelah Nami memesankan makanan.
Nami menghela nafasnya lalu menatap Sephia. Sephia merasa dia seperti terdakwa yang ketahuan mencuri.
"Aku curiga Kalla sepertinya menyukai wanita lain, Phi."
Deg
Kata-kata itu sangat menohok untuk Sephia dengar. Perasaan bersalahnya seketika muncul.
"Kok bisa?" tanya Sephia yang merasa kecurigaan Nami menuju padanya.
"Entah, aku merasa ada yang beda ... menurut kamu aku harus gimana, Phi?"
Sephia hampir saja terbatuk saat dia mendengar permintaan pendapat dari Nami.
"Menurutku ... kalian harus segera menikah, sudah terlalu lama hubungan kalian. Aku takut semakin lama hubungan kalian tanpa kepastian maka semakin banyak halangan yang akan datang."
"Kasih aku satu alasan kenapa kamu belum mau di ajak nikah sama Kalla," ujar Sephia lagi.
"Aku mau liat kesetiaan Kalla sampai dimana," jawab Nami memandang lekat kepada Sephia.
"Menurut kamu, hingga detik ini Kalla setia atau gak?" tanya Sephia memastikan jawaban dari Nami.
"Hingga detik ini? yang aku liat ... dia setia."
Sephia mengangguk angguk, aku harap dia akan selalu setia sama kamu Nami gumam Sephia dalam hati.
"Berarti kamu cuma harus meyakinkan hati kamu, Nami ... untuk menjatuhkan pilihan yang tepat jika Kalla adalah tujuan kamu selama ini."
Ada perasaan lega di hati Sephia saat dia mengatakan itu pada Nami. Sephia ingin semuanya kembali normal seperti sedia kala.
Selepas pertemuannya dengan Nami, Sephia kembali ke kantor dengan perasaan yang sedikit lega.
"Sudah makan siangnya?" tanya Kalla saat Sephia berada di ruangan lelaki itu untuk mengantarkan beberapa berkas laporan.
"Kamu tau?"
"Nami yang bilang ... Kamu bilang apa sampe Nami tiba-tiba mengatakan ingin menikah secepatnya," ujar Kalla meraih tangan Sephia saat gadis itu memberikan satu berkas untuk di tandatangani.
"Kalla please ...."
"Kamu bilang apa ke Nami, Phi?" Kalla bangkit dari duduknya tanpa melepaskan genggaman tangan itu.
"Aku cuma pengen semuanya kembali pada tempat yang seharusnya ... aku, kamu, Danar dan Nami ... kita sudah punya pilihan masing-masing, jangan dikacaukan dengan keadaan kita yang bahkan bisa menghancurkan semuanya." Sephia berusaha melepaskan cengkraman tangan Kalla.
Kalla terdiam, benar yang dikatakan Sephia, semua harus dikembalikan pada posisinya masing-masing, begitupun perasaannya pada Sephia memang selayaknya dia kubur dalam-dalam.
"Maaf Kalla ... aku gak bisa, aku gak bisa menyakiti mereka berdua, perasaan aku sama kamu pun mungkin hanya sepintas lalu, begitupun dengan kamu, kita hanya berada di suatu keadaan yang mendukung, kamu dengan kesibukan Nami sedangkan aku, hubungan aku dan Danar yang dipisahkan oleh jarak ... jadi aku mohon, hentikan semua ini sebelum semuanya runyam." Mata Sephia berkaca-kaca sungguh dia tak ingin kehilangan orang-orang yang dia sayang termasuk Kalla. Kalla adalah penolongnya dan Sephia tidak akan merubah itu.
Kalla menarik Sephia ke dalam pelukannya, sungguh dia harus benar-benar mengubur perasaan yang baru saja tumbuh demi orang-orang yang mereka sayangi.
Ketukan di pintu membuat mereka saling melepaskan pelukan, Sephia menghapus sudut matanya yang berair sementara Kalla melangkah kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
Pintu itu perlahan terbuka, Danar masuk dengan senyuman, senyuman rindu untuk kekasih hatinya.
enjoy reading 😘