Sephia

Sephia
Kalla dan Nami


__ADS_3

Sore itu Nami meminta Kalla menjemputnya di sebuah kafe dimana ia dan Sephia berjanji untuk bertemu. Nami menemui Sephia, karena Sephia memintanya untuk bertemu dan membicarakan sesuatu.


Dan benar saja, ternyata Sephia mengabarkan kabar gembira padanya bahwa Sephia dan Danar akhirnya akan melangsungkan pertunangan.


Beberapa hal yang Sephia bicarakan seakan mengisyaratkan sesuatu pada hubungan Nami dan Kalla. Apalagi saat Nami menanyakan ada apa sebenernya hingga Sephia mengatakan agar ia dan Kalla selalu berbahagia. Sephia juga mengatakan tak dapat lagi menjaga Kalla seperti yang Nami minta.


Dan Sephia juga mengatakan agar Nami jangan terlalu percaya dengan orang terdekat sekalipun.


Nami seperti merasakan sesuatu, apakah yang ia rasakan selama ini benar? Tapi, apa mungkin wanita itu Sephia, Nami memberikan kepercayaan padanya bahkan dia serahkan Kalla pada Sephia, jika Kalla membutuhkan sesuatu atau ingin ditemani selama Nami sibuk dengan pekerjaannya.


Nami membuang pikiran itu jauh-jauh karena tidak mungkin Sephia, Sephia pernah merasakan sakitnya hati dikhianati dan Nami yakin Sephia tidak akan melakukan hal yang sama pada Nami.


Hingga kekasihnya datang, pandangan Nami tak lepas dari cara Kalla menatap Sephia. Berbeda, tatapan itu berubah bukan tatapan seorang teman. Nami merasakannya itu, namun tatapan Sephia tidak sedikitpun berubah masih sama seperti biasanya. Ada apa ini? ada apa dengan mereka.


"Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu dan Danar," ujar Kalla lalu merangkul pundak Nami yang duduk di sebelahnya. Nami pun mengangguk tanda mendoakan hal yang sama.


"Aku juga mendoakan kalian selalu bahagia, secepatnya halalkan Kal ... sudah terlalu lama menunggu, aku rasa Nami juga sedang menunggu ajakan menikah secepatnya."


"Pasti ... secepatnya," ujar Kalla menatap netra Nami dengan sungguh-sungguh.


Ada yang Nami lewatkan di sini, tapi apa? hal itu terus berputar di benaknya. Hingga akhirnya Sephia berpamitan dan menolak untuk meraka antar pulang. Dari situ Nami mengerti, Sephia seperti menjaga jarak pada mereka dan kepergian Sephia secepatnya ke Bali adalah salah satu cara untuk menjauh dari konflik ini.


...----------------...


"Ke apartemen aku apa kamu, Sayang?" tanya Kalla.


"Aku aja," jawab Nami datar.


Di dalam mobil selama perjalanan mereka pulang, Nami hanya terdiam. Dia masih menerka-nerka apa yang akan ia lakukan pada Kalla, bertanya langsung atau hanya diam.


"Kamu dari tadi diem aja, kenapa?" tanya Kalla meraih tangan Nami saat Nami akan berlalu ke kamar mereka.


"Gak papa," jawab Nami melepaskan genggaman tangan Kalla.


"Ada yang mau di bicarakan?" tanya Kalla lagi menarik dagu gadis bertubuh semampai itu.


Nami sejenak berpikir, sekarang atau tidak sama sekali.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Sephia?" tanya Nami menatap Kalla tajam.


"Gak ada ... hubungan apa sih? kan teman ... teman aku teman kamu, sekretaris aku teman kepercayaan kamu," kata Kalla dengan alis yang mengkerut.


"Jujur sama aku ... sekarang atau tidak sama sekali dan akan menjadi boomerang bagi hubungan kita," tegas Nami.

__ADS_1


Kalla meletakkan kedua tangannya pada bahu Nami, menghadapkan gadis itu dan menatap dalam-dalam netra Nami.


"Gak ada apa-apa antara aku dan Sephia, gak ada yang harus kamu curigai ... semuanya baik-baik aja."


Nami menggeleng. "Aku bukan gadis ABG yang bisa di bohongi oleh pacarnya, Kal ... bilang jujur sama aku, apa yang aku pikirkan ini benar? kalo kamu menyukai Sephia."


Boom


Kalla terdiam, tak menjawab.


"Aku anggap iya," Nami membalikkan tubuhnya, membanting pintu kamarnya.


"Nami, denger dulu ... ini gak seperti yang kamu pikirkan," Kalla masuk ke dalam kamar mereka, Nami duduk di sisi tempat tidur.


"Jelasin!" Mata gadis itu berkaca-kaca.


Kalla menghela nafasnya, dia bersimpuh diantara dua lutut Nami, menggenggam tangan gadis itu.


"Maafin aku," ujarnya. "Maafin aku sudah merusak kepercayaan kamu, maafin aku sudah membuat kamu terluka ... aku sendiri gak pernah tau kapan rasa itu datang, aku merasa Sephia yang selalu ada di saat aku butuh teman untuk berbagi, di saat aku butuh teman untuk bercerita dan di saat itu kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu, aku merasa jenuh, Nami. Dan, Sephia hadir di antara kita ...."


"Dan bodohnya aku, rasa itu aku rasakan sendiri ... Sephia bahkan tak membalasnya." Kalla menatap wajah Nami yang menunduk.


"Maafin aku sudah menyalahgunakan kepercayaan kamu, sudah buat kamu nangis." Kalla menghapus derai air mata itu. "Aku tau kesalahanku bahkan melewati batas ... aku terima hukuman dari kamu apapun itu," ujar Kalla menggenggam tangan Nami.


"Nami, maafin aku ... aku mohon ini kekhilafan aku, Sephia bahkan gak membalasnya, karena dia sayang sama kamu, Nami ... aku yang salah, aku yang gak punya malu ... hukum aku, hukum aku jika itu bisa membuat kamu merasa puas."


"Aku gak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya, aku sadar diri ... tapi bukan berarti dengan Sephia, Ya Tuhan ... dia sahabat aku, kekasih sahabat kamu, aku butuh waktu untuk mencerna ini semua." Nami mengusap air matanya.


Kalla terpaku, lelaki itu mendudukkan dirinya di lantai. Kekacauan memang sudah ia yang ciptakan, maka dia harus terima apa yang akan terjadi selanjutnya.


Perlahan dia berdiri, membelai rambut Nami lembut, menelan salivanya kasar.


"Aku pulang," ujar Kalla


Entah mengapa rasa tak rela ditinggalkan bergelayut di dada Nami. Kalla melangkah membuka pintu kamar itu, menoleh ke belakang meski berat tapi ini harus ia lakukan. Membiarkan mereka untuk saling introspeksi diri itu adalah langkah awal.


Hubungan ini terjalin karena rasa, dan jika rasa itu sudah mulai memudar hanya ada dua pilihan membiarkannya semakin memudar atau kembali menebalkannya kembali dengan rasa yang ada.


Nami menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah, sakit rasanya. Di saat Sephia dan Danar menuju kebahagiaan, kenyataan berbalik pada hubungan dia dan Kalla.


Mendengar pintu apartemennya tertutup, Nami tersadar jika Kalla akan benar-benar pergi darinya. Rasa di hatinya tak dapat menerima itu, dia mencintai lelaki itu sangat mencintainya. Nami buru-buru melangkah keluar dari kamarnya, berlari membuka pintu apartemennya mencari sosok Kalla.


Berlari menuju lift, Kalla berada di sana ... Nami berteriak memanggilnya.

__ADS_1


"Kallaaaa ...."


Kalla yang menunduk mengangkat wajahnya dan menahan pintu lift dengan menekan tombol open. Nami berlari dan melompat ke tubuh kekasihnya, memeluknya erat dengan isak tangis.


"Aku mau kita memulainya lagi dari awal," ujar Nami di balik ceruk leher Kalla. "Tidak ada lagi kebohongan, hanya ada setia dan percaya," ujarnya lagi menjauhkan wajahnya dari bahu Kalla.


"Aku janji ... aku janji sama kamu, maafin aku ... kita mulai lagi dari awal." Kalla menciumi bibir gadis yang masih bergelayut di gendongannya itu bak seorang bayi.


Ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh dengan hasrat yang menuntut. Kalla menyudutkan tubuh Nami pada dinding lift, menciuminya dengan liar. Hingga tersadar saat pintu lift berdenting dan terbuka.


"Kita masih di lift," bisik Nami.


"Kamu mau lanjut di lift apa di kamar?" tanya Kalla tersenyum lalu mencium bibir Nami kembali.


...----------------...


Malam panjang mereka habiskan dengan nafas yang saling menderu. Segala rasa bercampur di dalam ruangan itu, Kalla tak henti-hentinya menghentakkan gerakannya. Rasa saling memiliki itu pun telah kembali lagi.


Sofa ruang keluarga itu menjadi saksi erangan dan desahan sepasang kekasih itu. Wajah kelelahan tersirat di sana. Namun rasa bahagia pun tak dapat di ungkapkan.


"Sephia dan Danar bertunangan kita mau datang?" tanya Nami.


"Jumat depan aku ada meeting, kalo kamu mau datang gak papa titip salam untuk mereka," kata Kalla mencium pundak Nami yang membelakangi tubuh Kalla.


"Jumat aku ada jadwal persalinan 2 pasien, gimana ya?"


"Mereka pasti ngerti ... nanti kalo mereka nikah baru kita datang kesana." Kalla merapatkan kembali pelukannya.


"Kita menikah?"


"Bulan depan," jawab Kalla. Nami beringsut menghadap kekasihnya.


"Serius?"


"Serius ... kamu mau gak?"


"Mau dong ... nikahi aku Bang." Nami dan Kalla tertawa lalu kembali berpelukan tanpa sehelai benangpun.


kan aku udah bilang ... cinta itu liku.


***yang nanya kenapa Kalla dan Nami gak Dateng ke pertunangan Sephia dan Danar, sudah terjawab ya ...


enjoy reading 😘 jangan lupa like dan komen ya 😘***

__ADS_1


__ADS_2