
Matahari baru saja menampakkan wujudnya, Danar sudah dua kali memuntahkan isi di perutnya. Sementara sang istri membuatkan teh hangat untuk Danar.
Sephia masuk ke dalam kamar, ia buka jendela kaca lebar yang menghadap ke kolam renang, kolam renang itu baru saja selesai di kerjakan sekitar tiga bulan lalu sebelum mereka menikah. Sephia buka jendela kaca itu lebar-lebar agar udara bertukar.
"Minum dulu ... ya ampun kenapa jadi tambah parah Sayang." Sephia menyodorkan secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Gak tau ... sumpah gak enak banget ini, Phi." Danar meringis menahan perih di lambungnya.
"Apa kita opname aja?" tanya Sephia yang khawatir akan kondisi Danar.
"Gak usah, ini juga badannya udah gak anget kan ... cuma mual muntahnya aja yang masih berasa."
"Di minum, Sayang." Danar mengikuti perintah istrinya, ia menyesap sedikit sedikit teh hangat itu. "Enakan?" Danar mengangguk.
"Phi."
"Apa?" Sephia memberikan kaos ganti untuk Danar.
"Aku pengen sesuatu."
"Hah? pengen apa?"
"Pengen siomay bumbu kacang," ujarnya.
"Sepagi ini?? cari dimana?" Sephia menggelengkan kepalanya.
"Bukan yang di kedai-kedai, Sayang."
"Hah? dimana?"
"Yang di jual di sepeda sama abang-abang."
"Hah?"
"Nanti aku telpon Made biar dia yang cari," ujar Danar.
"Ngaco, ini hari Rabu ... dia ada kerjaan di kantor malah kamu suruh nyari siomay, nanti biar aku yang cari, naik motor aja biar cepet." Sephia beranjak dari tempat tidur.
"Eh mau kemana?"
"Cari siomay."
"Aku ikut."
"Loh?"
"Kamu nyari siomay naek motor sendiri?" Danar meraih hoodie nya.
"Ini masih pagi mau cari di siomay dimana?" Sephia setengah menggerutu lalu ikut meraih sweater nya.
Danar sudah menghidupkan mesin motor ketika Sephia keluar dari rumah dan mengunci pintu. Hawa segar pagi hari di pulau Bali, Sephia merapatkan pelukannya di belakang punggung suaminya.
"Kita mulai cari darimana?" tanya Danar.
"Gak tau, tapi ... kita coba ke daerah Sesetan, mungkin ada," jawab Sephia.
"Oke."
__ADS_1
Motor melaju dengan kecepatan sedang, sebelum berangkat tadi Sephia sudah mengabarkan Made agar pekerjaan hari ini dia yang handle.
"Sayang," panggil Sephia.
"Kenapa?"
"Kamu kuat gak bawa motornya?"
"Kuat ... gak tau kenapa kalo keluar rumah malah lebih enakan."
"Manja ... pengennya jalan-jalan gitu, kalo diem di kantor sama di rumah mual muntah ... bilang aja kamu bosen," kekeh Sephia.
"Kayaknya ... apa kita honeymoon aja, Sayang?" Danar menolehkan sedikit wajahnya ke sisi kanan.
"Kemana?"
"Ke Jakarta," jawab Danar lalu tertawa.
"Ih, itu mah gak honeymoon namanya tapi pulang kampung." Sephia mencubit pinggang suaminya dan Danar mengaduh kesakitan.
"Eh, ada bubur ayam Jakarta tuh," tunjuk Danar saat melewati gerobak bubur ayam yang mulai ramai. "Makan itu aja ya."
"Gak jadi siomay?"
"Maunya bubur ayam."
"Ya ampun."
"Enak ya," kata Danar masih asik menyuapkan sendok berisi bubur ke mulur Sephia.
"Iya ... enak, kamu udah enakan?" Sephia melihat wajah bahagia Danar menemukan bubur ayam Jakarta, sebab tak terlihat lagi wajah pucatnya.
"Oh iya, aku lupa."
"Sepulang dari sini kita coba ya."
"Tapi, kalo misalnya ...." Kata-kata itu menggantung.
"Gak usah misalnya-misalnya, nanti kita coba dulu ... ya." Danar meyakinkan istrinya.
"Ibu ... ibu aku termasuk wanita yang susah punya keturunan," ucap Sephia. "Butuh waktu lima tahun untuk mereka baru bisa mendapatkan aku," ujar Sephia lagi.
"Gak papa ... selagi kita yakin, semoga di kasih kemudahan." Danar mengusak rambut Sephia. "Pulang yuk, aku gak sabar mau lihat hasilnya," ujar Danar.
...----------------...
"Gimana?" tanya Danar saat masuk ke dalam kamar mereka dan duduk di tepi tempat tidur bersisian dengan Sephia.
"Itu, aku gak berani liat." Tunjuk Sephia pada testpack yang tergeletak di atas meja rias.
"Astaga, gak papa ... gak jadi juga gak papa, Phi ... lagian kita kan juga baru nikah, belum di kasih bulan ini mungkin bulan depan atau bulan-bulan selanjutnya," ujar Danar menghibur Sephia lalu berjalan ke meja rias meraih alat itu.
"Ini gimana bacanya?" tanyanya saat melihat testpack dan membolak-balikkannya.
"Kalo garisnya satu berarti gak jadi, kalo garisnya dua berarti jadi," jawab Sephia yang sudah bersiap menutup wajy dengan bantal.
"Kalo garisnya satu terang satu samar?" tanya Danar lagi sambil mendekatkan dan menjauhkan alat itu, barangkali matanya yang salah.
__ADS_1
"Hah? mana liat." Sephia beranjak lalu meraih testpack di tangan Danar.
"Gimana itu bacanya, kalo gitu." Danar tersenyum tipis memeluk Sephia dari belakang.
"Aku ... aku gak tau, ini masih meragukan," kata Sephia yang masih ragu akan hasil alatnya.
"Masih ada lagi gak testpack nya?"
"Ada ... tapi yang model stik."
"Coba deh, biar gak penasaran." Danar masih tersenyum geli.
"Kok kamu senyum-senyum sih."
"Aku gak senyum ... tuh aku gak senyum." Danar membuat raut wajah datar.
"Aku coba lagi ya." Danar hanya mengangguk lalu menunggu Sephia keluar dari kamar mandi.
"Sayang ...." Sephia keluar dengan senyum di wajahnya.
"Masih ragu?" Danar merentangkan tangannya membawa Sephia ke dalam dekapannya.
"Aku hamil ... aku hamil anak kamu," ujar Sephia lalu membenamkan wajahnya di dada Danar.
"Aku tau, aku yakin kamu hamil anak aku, ketangguhan aku gak ada yang bisa meragukan." Lelaki itu berujar sombong sambil tertawa.
"Iya, kamu memang tangguh," ujar Sephia ikut tertawa.
Sephia sedikit menengadahkan wajahnya menatap Danar.
"Makasih ya," ujar Danar. "Kamu mau mengandung anak aku." Danar memberikan kecupan di kening, mata, pipi dan juga memberikan sentuhan lembut di bibir istrinya.
Sephia membalas dengan sama lembutnya, "makasih juga karena kamu mempercayakan aku mengandung anak kamu." Sephia mencium kembali bibir Danar, lalu mereka saling berpelukan.
"Anak kamu, anak aku, anak kita ... ini hadiah terindah," ucap Danar.
"Kita mau berdiri gini aja?" tanya Danar.
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau nengokin anak kita," ujarnya membelai punggung sang istri.
"Apa gak sebaiknya kita ke dokter?" tanya Sephia.
"Siang ini?"
"Iya, lebih cepat lebih baik ... kan kamu mau nengokin anak kita." Sephia menggoda dan melepaskan tubuhnya berjalan ke arah kamar mandi melepaskan satu per satu helai demi helai pakaian yang membalut tubuhnya.
Danar memperhatikan kelakuan sang istri, senyumnya mengembang. Lelaki ini patut menyombongkan diri atas keberhasilannya memupuk benih di rahim istrinya.
Sephia berhenti di depan pintu kamar mandi, dengan tubuh yang tak memakai selembar benangpun.
"Mau ikut gak? katanya mau ke dokter." Ajak Sephia.
Sephia melihat suaminya sudah melepaskan kaos yang Danar pakai lalu selanjutnya tak memakai apapun, Danar melangkahkan kakinya lebar-lebar menyusul calon ibu itu untuk bermain-main sebentar di dalam sana. Samar terdengar gelak tawa yang berubah menjadi desahan yang saling bersahutan.
***enjoy reading 😘
__ADS_1
jangan lupa like dan komen yaaah... terimakasih untuk bunga" nya sudah di semai sama mbak Phia loh 😘***