
Hari pertama kembali ke dunia kerja, banyak mata memandang mereka sambil tersenyum. Tak dapat di pungkiri aroma pengantin baru memang luar biasa membawa dampak bagi perusahaan. Danar dan Sephia memasuki lobby kantor dengan bergandengan tangan, bagi sebagian pegawai wanita masih tak menyangka jika Sephia pelabuhan terakhir pimpinan mereka.
Memasuki ruangan kerja Danar, Sephia kembali seperti layaknya Sephia yang bekerja pada atasannya. Membacakan beberapa jadwal Danar yang sempat tertunda dikarenakan acara pernikahan mereka serta cuti yang mereka ambil. Setelah selesai dengan jadwal kerja suaminya, Sephia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Untuk hari pertama pekerjaan wanita itu dapat ia selesaikan dengan sangat baik, hingga sampai saat makan siang, Danar memdatanginya. Lelaki itu duduk di depan Sephia, memperhatikan wajah istrinya yang sedang mempersiapkan berkas untuk rapat beberapa direksi yang akan diadakan di Bali besok.
"Serius banget." Danar duduk dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Sebentar ya, sedikit lagi ... oke, done. Mau makan dimana?" tanya Sephia mendekati suaminya.
"Mau makan kamu aja," ujar Danar jahil menarik tangan istrinya hingga duduk di pangkuannya.
"Maunya tiap hari kalo itu," ujar Sephia membelai lembut rambut Danar.
"Sekarang ... di sini, mau?"
Sephia tertawa. "Gak ah, ayo ... aku udah laper." Sephia beringsut dari pangkuan suaminya.
Mereka berjalan bersisian, selayaknya pasangan suami istri, Sephia melingkarkan tangannya di lengan Danar. Mereka baru saja keluar dari lift ketika seorang wanita memanggil nama Danar.
"Danar," ujar suara itu.
"Cindy." Danar menghentikan langkahnya, begitupun Sephia.
Sephia ingat betul wanita ini yang mereka temui dua minggu lalu sebelum hari pernikahan. Alis Sephia mengerut, dia sedikit bingung dan juga Danar yang menoleh pada Sephia.
"Kok di sini, Cin?" tanya Danar.
"Aku ada perlu sama kamu, mungkin kamu bisa bantu aku," ujar wanita cantik itu.
"Ada apa, Cin?"
"Apa gak sebaiknya duduk dulu ... di sana," ujar Sephia menunjuk sofa yang berada di lobby kantor.
"Ada apa, apa yang bisa aku bantu?" Danar memulai pembicaraan.
"Aku butuh pekerjaan," ujar Cindy.
Sephia sedikit terkejut, bagaimana mungkin wanita secantik ini butuh pekerjaan dan terlihat seperti sosialita.
"Gimana?" tanya Danar.
__ADS_1
"Aku dalam proses bercerai dengan suami aku, aku dan anak aku pindah ke Bali untuk memulai lagi hidup baru," ujarnya menatap Danar bergantian pada Sephia.
"Aku gak tau pasti ada lowongan atau gak Cin, karena setahuku semua divisi sudah terpenuhi."
"Apa aja Dan, terserah posisi apa ... aku harus menghidupi anak aku dan kehidupan aku," ujarnya memelas.
Danar sedikit berpikir karena dia juga harus memikirkan perasaan Sephia jika harus satu kantor dengan mantan terindahnya itu. Danar melihat Sephia, Sephia hanya mengangkat kedua bahunya. Di hati Sephia seperti tak rela jika kehidupan yang baru akan mereka bina ini harus di hantui bayangan masa lalu orang yang pernah dekat dengan suaminya.
"Aku akan tanyakan pada pihak HRD, kamu bisa kasih nomer kamu ke istri aku, kalo ada posisi yang kosong di sini, istri aku yang akan hubungi kamu, karena yang menyangkut aku dia yang meng handle semuanya," ujar Danar.
"Oke, makasih Dan ... ini nomer aku," Cindy memberitahukan nomer ponselnya pada Sephia. "Maaf mengganggu acara makan siang kalian," ujar Cindy lalu berpamitan.
...----------------...
Danar menatap Sephia, istrinya itu masih dengan santainya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Lalu dia membalas tatapan Danar.
"Kenapa?"
"Gimana menurut kamu?" tanya Danar.
"Tentang?" tanya Sephia kembali.
"Cindy ... apa perlu kita membantu dia?"
"Hhmm," Danar menghela nafasnya, tentu saja Sephia tidak menginginkan Cindy berada di sekitar mereka, Danar tahu betul pasti Sephia akan berpikir yang tidak-tidak.
"Aku serahin ke kamu, keputusan ada di tangan kamu, kira-kira di perusahaan ada posisi kosong atau tidak, setidaknya itu juga harus kita tanyakan pada HRD. Kalo aku pribadi yang berpendapat jujur aku gak mau kamu terima dia sebagai karyawan kamu mengingat track record kalian dulu," ujar Sephia tanpa ragu. "Tapi karena aku manusia yang punya hati melihat manusia lain membutuhkan uang untuk hidup dia dan anaknya, silahkan saja ... asal, kamu tau sendiri apa yang aku maksud."
Danar mengangguk, sebenernya ini dilemma bagi mereka berdua, di satu sisi ingin membantu namun di sisi lain mereka ingin menghindari sesuatu yang buruk dalam hubungan mereka.
"Sebaiknya nanti tanyakan pada HRD apakah ada divisi yang kosong, kalo pun ada Cindy harus mengikuti tahap-tahap penerimaan karyawan," ujar Danar.
Sephia hanya mengangkat kedua alisnya, lalu kembali menikmati es krim yang dia pesan sebagai penutup malam siangnya.
"Biasa aja Sayang makan es krimnya, kamu buat aku pengen," ujar Danar menggoda.
"Sayangnya aku gak pengen, hilang napsu," kata Sephia.
"Kenapa? kok gitu?"
"Gak pa-pa, gak enak ati aja," ujarnya lagi menjilat sendok es krimnya dan itu tidak dibenarkan oleh mata Danar.
__ADS_1
"Kita pulang aja yuk."
"Kok pulang?"
"Sumpah, kamu bikin aku pengen." Danar menarik tangan Sephia lalu meninggalkan sejumlah uang di restoran itu.
"Sayang, kita beneran pulang?"
"Iya," jawab Danar melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka.
"Kerjaan kita?"
"Biar Made yang urus," jawab Danar santai.
"Kamu kebiasaan deh."
Tak perlu waktu lama, mereka sampai di halaman rumah. Baru saja Sephia melepaskan sepatunya dan menaruh tas nya di atas meja, tangannya sudah di tarik oleh Danar.Danar menyudutkannya di dinding kamar, benar-benar efek memakan es krim yang menurut Sephia tidak ada apa-apanya itu ternyata berakibat fatal pada Danar.
Danar menciumi bibir istrinya dengan sangat liar, rok Sephia dia angkat ke atas sementara Sephia membalas ciuman suaminya dengan kewalahan.
"Danar, pelan-pelan," ujar Sephia menahan tubuh suaminya.
Danar membuka kancing kemejanya dan Sephia melakukan hal yang sama. Tangan Danar kembali meremat dada istrinya, benda yang sudah menjadi kesenangannya itu tak akan ia lewatkan sedetikpun. Satu tangan Danar sudah memberikan sapuan lembut di paha Sephia hingga membuat Sephia merasakan kembali sensasi itu.
Seakan terhuyung-huyung tanpa melepaskan pagutan mereka, Danar akhirnya berhasil membawa istrinya ke atas tempat tidur.
"Ugh ... Phi," erang Danar saat tubuh mereka sudah tak lagi berbalut apapun.
Danar terus memompa bagian tubuhnya, Sephia sudah bergerak tak beraturan mengikuti ritme yang Danar berikan. Seakan menghujam terlalu dalam, Danar melakukan hentakan untuk kesekian kalinya, lengkingan suara Sephia kembali terdengar. Desahan dan erangan saling bersahutan. Sampai tubuh Danar ambruk di sisi istrinya.
"Phi ...." Danar mengatur nafasnya begitu juga Sephia.
"Apa?"
"Enak?"
Sephia terkekeh, ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Rasanya malas sekali ingin berlari membersihkan dirinya jika sudah berada dalam pelukan Danar.
"Enak gak? ditanya malah diem," goda Danar. "Enak ya?" Sephia menyembunyikan wajahnya di lengan suaminya, bisa dipastikan wajahnya merona merah hanya karena kata "enak".
***enjoy reading 😘
__ADS_1
jangan lupa jempolnya darling... arahkan pada tempat yang seharusnya 😘😘***