
Hari ini seperti yang diperintahkan oleh Danar, Sephia diminta menghubungi Cindy. Namun, belum sempat Sephia menghubungi wanita itu, Cindy sudah berada di depan ruangannya mengetuk pintu ruangan Sephia.
"Hai," sapa Cindy.
"Hai, masuk."
"Sorry, aku dateng kesini tanpa menghubungi pihak kantor kamu," ujarnya menarik kursi di depan Sephia.
"Gak papa, tapi Danar sedang ada meeting dengan salah satu klien kami."
"Oh ...." Cindy terlihat berpikir, wajahnya sedikit kecewa.
"Maaf ya belum sempet hubungi kamu, baru mau aku hubungi, kamu udah di sini," kata Sephia lalu tersenyum.
"Kalo aku boleh tau, gimana keputusannya?" tanya Cindy penuh harap.
"Em ... sebelumnya kami minta maaf, menurut info dari HRD ... kita memang sedang tidak membutuhkan karyawan baru, karena semua posisi sudah terpenuhi. Maaf, ya."
"Tidak bisakah di bantu?"
"Aku cuma bisa memberikan informasi seperti itu, maaf ya," ujar Sephia lagi.
Ada perasaan tak enak hati yang di rasa oleh Sephia, dia membayangkan jika menjadi Cindy harus menghidupi dirinya dan anaknya setelah bercerai dari suaminya. Tapi demi kebaikan semuanya dan juga rumah tangga yang baru saja akan ia bina bersama Danar, maka ia harus egois. Di lain sisi juga perusahaan memang tidak membutuhkan karyawan untuk saat ini.
"Bukan karena kamu takut ada affair antara aku dan Danar kan?" Cindy sepertinya sudah hilang akal menanyakan sesuatu yang bodoh menurut Sephia.
"Maksudnya?" tanya Sephia, lalu ia menyandarkan punggungnya dan melipat tangan di dada seakan menuntut penjelasan.
"Sorry, maksud aku ... kamu pasti tau hubungan aku dan Danar dulu seperti apa, mungkin kamu takut jika Danar berpaling dari kamu karena status aku yang akan segera menjadi janda." Cindy tersenyum tipis dan mengangkat satu alisnya.
"Oh ...." Sephia mengangguk dan mengerti arah pembicaraan ini. "Jadi menurut kamu, aku takut kalo kamu di sini lalu berselingkuh dengan Danar?"
"Mungkin." Wanita itu mengangkat bahunya.
"Tapi sayangnya, kamu salah ... yang harus Danar takutkan adalah jika aku pergi dari kehidupannya, karena sampai kapanpun Danar akan selalu mencariku keujung dunia manapun, dan kamu tau artinya? Karena Danar gak bisa hidup tanpa aku, dan sudah jelas yang ada di sini Danar," ujar Sephia menunjuk kepalanya, "dan di sini Danar," katanya lagi menunjuk dadanya, "hanya ada aku, gak akan ada yang lain," ujarnya lagi menirukan kata-kata Danar.
Wanita itu terdiam, sepertinya dia berhadapan dengan orang yang salah.
"Apapun yang kamu rencanakan, sekecil apapun itu sepertinya kamu salah menjatuhkan pilihan kepada kami sebagai target kamu." Sephia kali ini sedikit menyombongkan diri.
"Tadinya aku pikir, aku akan sedikit kasihan sama kamu, tapi aku rasa aku harus bersyukur ternyata semesta masih berpihak sama aku untuk dijauhkan dari orang seperti kamu," Sephia tersenyum sinis.
"Kamu ---" ujarnya kesal. Cindy berdiri dari duduknya wajah cantik yang awalnya terlihat memelas itu sekarang berubah menjadi sadis dan angkuh, tangannya mengepal kesal.
__ADS_1
Wanita itu meninggalkan ruangan Sephia dengan perasaan marah, dan malu karena ternyata rencana yang ia pakai tak berhasil.
Sephia hanya menggelengkan kepalanya, dia harus segera menghubungi Danar. Ingin sekali ia menceritakan bagaimana reaksi mantan yang katanya terindah itu, saat Sephia bisa menghadapinya secara elegan.
...----------------...
"Lo pasti kaget kemarin gue ketemu sama siapa," ujar Danar pada Kalla saat mereka baru saja menyelesaikan meeting mengenai kerjasama hotel yang Kalla bangun dengan produk furniture perusahaan Danar.
"Siapa?" tanya Kalla menyesap rokoknya.
"Cindy ... Cindy, bro." Danar meneguk air mineral dingin di hadapannya.
"Cindy SMA ... yang dulu kita taksir? yang akhirnya dia milih lo?" Kalla kembali mengingat-ingat masa SMA mereka dulu.
"Iya, jadi sebelum nikah sama Phia, kira-kira seminggu sebelum nikah gue ketemu sama dia, udah punya anak Kal ... sempet ngobrol sebentar .... Nah, kemari dia dateng ke kantor gue tiba-tiba minta kerjaan, mana di depan Sephia lagi dia ngomongnya," jelas Danar.
"Terus?"
"Ya gue bilang hari ini dihubungi kalo ada kerjaan kosong ... tadi pagi gue dapet info kalo di perusahaan gue gak ada ada posisi kosong."
"Cantik Dan?"
"Siapa?"
"Cantik sih, cuma gue liat kayaknya hidup dia terlalu glamor," ujar Danar.
"Sosialita?" Kalla mencebikkan bibirnya.
"Ya gitu lah ... terus dia bilang dia sedang dalam proses cerai sama suaminya, makanya dia ke Bali, mau hidup di sini dan cari kerja di sini."
"Hhmm ... gimana ya gue mo kasih tau Lo," kata Kalla seolah ada sesuatu yang akan dia ceritakan.
"Apa Kal?"
"Jadi katanya, saat kita lulus SMA dulu ... Cindy itu sering main .... Kalla memberikan tanda kutip dengan kedua jarinya. "Sering main sama Om-om, Dan."
"Masa?"
"Gak percaya kan lo, padahal mukanya lugu banget ya ... tapi gue gak tau sih alasan dia melakukan itu untuk apa," kata Kalla.
"Dan katanya lagi, yang gue tau ya kebetulan gue inget nih, lo inget Melly kan temennya Cindy waktu SMA, Melly bilang Cindy itu simpanan," Kalla berceloteh memberikan fakta baru pada Danar.
Danar menghelakan nafasnya, semoga keputusannya kali ini tidaklah salah. Menolak orang yang nantinya akan menjadi boom waktu di dalam rumah tangganya bersama Sephia.
__ADS_1
"Syukurlah, setidaknya gw gak Nerima dia itu udah keputusan yang tepat."
"Tapi setidaknya lo harus hati-hati juga sama dia, Dan ... takut nekat," ujar Kalla bergidik ngeri.
Danar lalu meraih ponsel di atas meja, men dial nama Sephia di sana.
"Kamu udah makan?" tanya Danar pada Sephia.
"Udah ... kamu?" jawab Sephia di seberang sana.
"Ini lagi makan bareng Kalla, sebentar lagi aku balik ke kantor, kenapa? udah kangen?" goda Danar.
"Ngaco ... kalo udah kelar cepet balik ke kantor," titah Sephia.
Danar menutup pembicaraannya dengan Sephia, dengan perasaan lega. Setelah menyelesaikan pertemuan dengan Kalla, Danar mengarahkan mobilnya menuju kantor.
Danar masuk ke ruangan Sephia, wanita itu selalu serius jika sudah menghadap laptopnya dan mendengarkan musik menggunakan earphone.
Danar melangkah menghampiri, istrinya tersenyum penuh arti. Entahlah perasaan memiliki itu semakin besar, Sephia tak ingin sedikitpun memberikan celah bagi orang-orang yang akan menggangu hubungan mereka.
"Tadi Cindy datang," ujar Sephia, dia lalu menceritakan semuanya kepada Danar, wajah Danar terlihat kesal ternyata benar kata Kalla tadi jelas Cindy punya kehidupan yang tak beres.
"Terus setelah itu dia pergi dengan muka marah," ujar Sephia lagi.
"Biarin aja, jelas dia salah target," Danar tersenyum.
"Pulang yuk?" Danar melirik arloji di tangannya. Dia menundukkan wajahnya memutar kursi Sephia menghadapnya.
"Masih satu jam lagi, kita gak boleh loh pulang seenaknya gak enak di liat yang lain meski kamu pemimpin perusahaan ini."
"Kalo gitu kita habiskan waktu satu jam di sini aja, gimana?" Danar mulai menggoda Sephia, Sephia menggeleng, wanita ini tahu betul keinginan suaminya yang suka seenaknya dan sembarang tempat.
"Setengah jam lagi," Sephia menahan wajah Danar dengan tangannya saat akan mendekati wajah Sephia.
"Gak mau, mau nya sekarang." Danar memaksa, Sephia tertawa dan akhirnya seperti biasa dia mengalah, tapi untuk kali ini dia mengalah untuk melakukannya di rumah daripada di kantor mereka.
"Ayo pulang," ujar Sephia beranjak dari duduknya.
"Yes." Danar menang lagi kali ini.
***enjoy reading 😘
pastikan jempol kalian meninggalkan jejak di karya ini ya... matur tengkyuuuhh 😘***
__ADS_1