Sephia

Sephia
Libur


__ADS_3

Akhir bulan Februari 2021, musim hujan tidak sesering sebelumnya. Kegiatan suami istri ini masih sama dengan sebelum-sebelumnya, umur pernikahan yang baru seumur jagung itu tak kenal bosan untuk saling bercumbu. Ya, setiap pengantin baru pasti akan seperti itu, bukan?


Hari itu, wajah Danar terlihat pucat sedari pagi tadi ia merasakan tubuhnya yang merasa sedang tak enak. Sephia masuk ke ruangan itu membawa satu cangkir berisi kopi pahit. Seperti biasa, jika Danar sedang merasakan kepalanya pusing maka ia akan meminta Sephia untuk membuatkan kopi hitam pahit, Danar katakan jika mengkonsumsi kopi hitam pahit banyak manfaatnya antara lain melancarkan peredaran darah.


"Apa gak sebaiknya kamu minum obat aja, Sayang," ujar Sephia meletakkan tangannya di kening Danar.


"Gak apa-apa, paling cuma masuk angin ... kan udah biasa, setelah minum kopi biasanya berangsur enakan," jawab lelaki itu merengkuh pinggang istrinya membawa Sephia ke pangkuannya.


"Kamu pulang aja gimana? biar aku selesaikan kerjaan sama Made," bujuk Sephia.


"Sebentar lagi selesai Sayang, nanti kamu tolong panggil Made kesini ya, aku mau membahas produk sama dia sebentar." Danar meletakkan kepalanya di dada sang istri.


"Mau kerokan?" tanya Sephia. "Badan kamu anget loh."


"Gak ah, udah gak papa sebentar lagi juga baikan," ujar Danar meyakinkan Sephia.


"Aku panggil Made dulu ya." Sephia membelai rambut suaminya.


"Kamu kalo belai-belai gini bikin aku jadi pengen," goda Danar.


"Aih ... aku panggil Made dulu ya." Sephia melepaskan rangkulan tangan Danar.


"Nanti, aku butuh obat sekarang," ucapnya lagi.


"Aku ambilin dulu," Sephia beringsut dari pangkuan suaminya.


"Mau kemana?"


"Ambil obat, tadi katanya mau obat."


"Obatnya kamu." Danar mencium bibir Sephia, menyesapnya lama.


"Anget," kata Sephia tersenyum.


Danar terkekeh. "Sana, panggil Made." Danar membiarkan tubuh Sephia beranjak, sebelum Sephia beranjak pergi Danar masih menyempatkan diri menepuk bokong istrinya itu. Sephia menoleh dengan mata melotot, suami yang jahil.


...----------------...


Sore menjelang, tubuh Danar semakin tak karuan rasanya. Ia hanya berbaring di sofa ruang kerjanya, sedangkan Sephia masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang, pulang yuk." Sephia masuk melihat Danar sudah meringkuk menggigil.


"Astaga, badan kamu masih hangat ... Sayang, kita ke dokter ya? masih mual?" tanya Sephia, karena setelah makan siang tadi Danar beberapa kali memuntahkan makanannya.


"Perut aku gak enak banget, Phi." Danar memeluk istrinya yang duduk di sebelah ia berbaring.


"Ayo pulang, kita ke rumah sakit sebentar ... kamu pucet banget." Sephia membereskan meja kerja suaminya.


Seperti yang Sephia katakan tadi, jika mereka akan singgah ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Danar. Lelaki itu terkulai lemas di kursi panjang menunggu namanya di panggil untuk masuk ke ruang praktek dokter. Baru saja ia mengeluh ingin muntah pada Sephia, Danar mengatakan perutnya seperti di obrak abrik sesuatu di dalam sana.


"Keluhannya?" tanya dokter umum itu pada Danar.

__ADS_1


"Sepertinya asam lambung saya bermasalah, Dok," ujar Danar.


"Pusing? mual muntah?" tanya dokter itu lagi dan Danar mengangguk. "Kita periksa dulu," ujar sang dokter lagi.


Beberapa saat setelah Danar melakukan pemeriksaan,


"Sudah berapa hari?"


"Baru hari ini, Dok," jawab Sephia membangun menjawab.


"Saya resepkan obat ya, tapi kalau dalam waktu tiga hari tidak ada perubahan bisa datang lagi kemari," ujar dokter itu.


"Sementara diagnosanya apa, Dok?" tanya Sephia penasaran.


"Maag ... mungkin suami ibu stress, atau telat makan dan beberapa faktor lainnya bisa jadi pemicunya," ujar dokter menjelaskan.


"Oh ...."


"Pengantin baru?" tanya dokter itu saat melihat cincin yang melingkar di jari manis Sephia.


"Maaf?" Sephia mengerutkan keningnya.


Dokter berusia sekitar 40 tahun itu tersenyum. "Biasanya pengantin baru masih suka pakai cincin nikah," ujarnya lagi lalu kembali menuliskan resep.


Danar tersipu malu, "baru dua bulan, Dok."


"Hhmm, jangan lupa beli testpack, saran saya." Dokter menyerahkan kertas berisi resep pada Danar. "Bisa jadi ini gejala kehamilan simpatik atau sindrom Couvade bisa terjadi pada suami, siapa tau kan?" Dokter itu tersenyum kembali.


"Masa?" Danar bertanya-tanya.


"Apa?"


"Masa bisa, yang hamil kamu yang ngerasain aku," ujar Danar.


"Gak tau, aku juga gak paham."


"Sekalian Sayang, testpack nya ... bisa jadi dokter tadi bener," ujar Danar saat mereka mengantri obat di apotek rumah sakit itu.


"Yakin?" tanya Sephia dan Danar mengangguk.


"Gak ada salahnya di coba, ya kan."


Sephia memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah. Lalu membantu suaminya yang baru saja memuntahkan kembali isi perutnya saat perjalanan pulang ke rumah.


"Kamu mau mandi apa bersih-bersih badan?" tanya Sephia. "Aku siapin air hangat dulu."


Danar masih meringkuk di atas tempat tidur, menahan perutnya yang perih karena sering sekali memuntahkan apa yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Ayo, bersih badan dulu ... gak usah mandi ya." Sephia melepaskan kemeja suaminya, lalu celana panjang lelaki itu.


"Maaf ya jadi ngerepotin kamu," ujar Danar merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Aku istri kamu, sudah jadi tugas aku ... air hangatnya udah aku siapin, mau aku bantu atau kamu sendiri?"


"Sendiri aja ... kalo kamu bantu nanti malah lama di dalam sana," ujar Danar tersenyum menggoda.


"Kamu tuh sakit masih mikirnya begitu."


Sephia meninggalkan Danar di kamar mandi, ia menuju dapur membuatkan teh tawar hangat dan menghangatkan kembali sop ayam yang tadi dia beli saat perjalanan pulang ke rumah.


"Minum dulu, biar perutnya hangat setelah itu makan ya, biar perutnya ada isi ... sedikit-sedikit aja, setelahnya minum obat."


Danar duduk di meja makan menyambut suapan demi suapan yang di berikan Sephia padanya.


"Pelan-pelan aja, ntar kalo laper lagi makan lagi ... ini obatnya." Sephia menyerahkan beberapa butir obat pada Danar. "Habis ini istirahat, tidur ya ... tidur."


"Berarti malem ini gak dong," kata Danar manja.


"Libur, Sayang ... lagian masa tiap hari, kamu gak ada capeknya."


"Emang kamu capek?" Danar terkekeh.


"Gak juga sih." Sephia pun tertawa. "Khusus malam ini libur ... kamu harus istirahat."


Danar lalu mengangguk, berjalan lemas ke kamar mereka. Sementara Sephia membereskan meja makan, setelahnya membersihkan tubuhnya dan ikut berbaring di sisi Danar.


"Sayang," bisik Danar.


"Iya."


"Testpack nya kapan di coba?"


"Aku deg deg an, takut berharap."


"Gak papa kalo gak jadi kita bikin terus sampe jadi," ujar lelaki itu meremas bokong istrinya.


"Mudah-mudahan ya, besok pagi aku coba."


"Iya, mudah-mudahan ... Sayang," panggilnya lagi.


"Apa?" Sephia baru saja ingin memejamkan matanya.


"Berarti malam ini kita libur?"


"Ya ampun ... libur Sayang ... libur, istirahat ... kamu sakit," jawab Sephia menarik selimutnya.


"Kasian."


"Siapa?"


"Dia," ujar Danar menuntun tangan Sephia ke bagian bawah tubuh lelaki itu.


***enjoy reading 😘

__ADS_1


setelah membaca jangan lupa like dan komen yaaa😘 terimakasih untuk hadiah bunga, kopi dan vote yang teman" tebar di karya ini... matur tengkyuuuhhšŸ™***


__ADS_2