
November 2020,
Ini kali kedua Sephia menapaki kakinya di pulau yang katanya adalah surga dunia. Sephia begitu merindukan kota ini. Melihat hamparan laut lepas dari dalam pesawat sebelum pesawat mendarat mengingatkan Sephia pada saat meninggalkan kota ini.
"Kenapa?"
"Aku jadi ingat saat pergi dari Bali waktu itu, aku kira aku gak bakal kesini lagi."
"Maafin aku ya," Danar menuntun kepala Sephia untuk bersandar di pundaknya.
Seutas senyum tipis terukir di sana.
"Kalo inget itu,hati aku kayak di remas ... traumanya belum hilang," Sephia mendongak sedikit ke arah Danar.
"Aku perbaiki semuanya." Danar memberi kecupan pada kening Sephia. "Jangan diinget lagi ya." Sephia mengangguk.
"Lalu aku kenal Kalla saat berada di pesawat saat itu."
"Oh ya? jadi kenal Kalla saat kamu lagi sedih-sedihnya?" tanya Danar dan kembali Sephia mengangguk.
"Terus aku ditemenin sama dia di ruang tunggu sampe bapak dan ibu datang menjemput." Sephia bercerita dengan polosnya.
"Oh terus?" dada Danar semakin bergemuruh.
"Ya udah, terus dia kasih kartu nama, terus aku telpon dia saat aku butuh kerja."
"Oh."
"Dari tadi oh terus ...."
"Pantes."
"Pantes kenapa?" tanya Sephia bingung.
"Gak papa, udah mau mendarat ... pegang aku erat-erat," ujar Danar saat pesawat akan berada di posisi landing.
...----------------...
Bali dan suasananya yang tak pernah berubah, selogan everyday is holiday memang selalu melekat. Mobil itu berhenti di sebuah rumah minimalis berpagar kayu, Made assisten Danar menjemput mereka saat sudah berada di Bandara tadi.
"Rumah yang kamu sewa?" tanya Sephia
"Aku beli."
"Serius?" Dan Danar mengangguk.
__ADS_1
Mereka bersama-sama turun dari mobil. Lalu Made berpamitan untuk kembali lagi ke kantor. Danar membuka pagar rumah, Sephia mengikutinya dari belakang dengan menarik satu koper.
"Itu motor?" Mata Sephia terbelalak saat ia melihat motor Scoopy berwarna pink miliknya dulu sudah berada di sana.
"Iya, motor kamu," Danar menjawab santai. "Aku yang beli, saat itu Ardi menawarkan pada Made, Made kasih tau ke aku, ya aku beli."
Membuka pintu rumah itu, membawa barang bawaan mereka ke dalam. Sephia mengedarkan pandangannya, rumah ini begitu rapih seperti ada yang merapikannya. Hanya ada dua kamar di sana, ruang tamu sekaligus ruang keluarga dengan sofa dan TV yang sudah terpasang di tembok. Lalu ada kamar mandi, ruang makan yang tergabung dengan dapur, di batasi pintu sekaligus jendela kaca yang memisahkan ruangan dengan taman kecil di bagian belakang rumah serta tempat mencuci dan menjemur baju. Sangat minimalis, tak terlalu menyeramkan jika di tinggal sendiri oleh Sephia.
"Suka?" tanya Danar memeluk Sephia dari belakang. "Aku lebih suka kamu tinggal di rumah di banding kamu berada di kost an, aku cari rumah mungil ini buat kamu."
"Kamu bilang sewa? kenapa jadi berubah beli?"
"Aku bilang sewa biar kamu gak ngomel kalo tau aku beli."
"Ini aku mau ngomel ... ngapain beli rumah? kan sayang uangnya, kamu di sini ada rumah malah beli lagi ... gimana sih!" Sephia membalikkan tubuhnya menghadap Danar.
"Nanti kalo kita nikah, kita pindah ke rumah aku karena belum nikah jadi harus sendiri-sendiri ... atau kalo kamu mau sekarang kita satu rumah juga gak papa." Danar tersenyum menggoda.
"Hilih, rumah beda juga ntar kamu sering tidur di sini kalo gak kamu bawa aku ke rumah kamu, iya kan?"
Danar menjawil hidung Sephia. "Tau aja sih." Lelaki itu tertawa merapatkan kembali tubuh mereka.
"Nanti kalo rumah ini udah gak kamu tempati bisa kita sewa kan, atau kita jadikan guest house, intinya rumah ini bisa jadi sesuatu yang menghasilkan." Sephia mengangguk angguk mendengar penjelasan Danar.
"Aku mau beresin dulu barang-barang ya, kamu mau bantuin?"
"Aku gak ada waktu," ujar Sephia melepaskan pelukan Danar. "Aku mau selesai sekarang, nanti sore aku mau ke pantai," ujarnya lagi lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sayaaang," panggil Sephia dari dalam kamar.
"Apa? gak usah teriak, kamu ngagetin aku."
"Ini baju siapa?" tanya Sephia saat melihat lemari pakaiannya ada beberapa helai baju tidur berbahan transparan tergantung di sana.
"Kamu lah ... siapa lagi."
"Kok bisa?"
"Ya bisa ... buktinya udah ada di situ." Danar terkekeh lalu merebahkan tubuhnya.
"Aku gak pernah pake ginian, kamu ngarang."
"Ya mana aku tau," jawab Danar santai lalu memejamkan matanya.
"Ish, kamu yang beli ya? buat apa?"
__ADS_1
"Buat di simpen, malam pertama." Danar menutup wajahnya dengan bantal.
"Ya ampun ... kan masih lama, Sayang."
"Ya udah di simpen dulu, ntar di pake kalo lagi pengen."
"Gila ... gak ada!" Sephia melipat tiga baju berbahan minim itu.
Pikiran Danar memang tak pernah bisa di tebak, pernikahan juga belum ada menentukan kapan akan dilaksanakan, tapi sudah DP pakaian minim duluan, Sephia mendumel dalam hati.
...----------------...
Setelah selesai membereskan semua barang-barang yang ia bawa, Sephia beralih membuka beberapa kardus yang berisi sepatu dan tas yang sudah sampai terlebih dahulu dari mereka, lalu ia susun.
Merasa perutnya lapar dan Danar masih tertidur lelap, Sephia melangkah menuju dapur, menghangatkan beberapa menu yang dibawakan oleh Ibu Widya kemarin. Sephia terkagum-kagum ketika mendapati dapur itu sudah lengkap dengan segala alat tempurnya. Semua sudah di lengkapi oleh Danar, bahkan stok makanan dan minuman ringan pun penuh di lemari makanan.
Aku kayak orang kaya, Sephia terkekeh.
Menikmati makanannya seorang diri, mata Sephia terarah pada satu sandal jepit berwarna pink tergeletak di dekat buffet TV. Seperti tak asing, sandal itu dulu sering menemani hari-harinya, bahkan pernah di pakai oleh Danar saat mereka pertama kali berjalan bersisian di pantai Kuta setelah makan bakso Pak Gatot dulu. Sephia tersenyum, Danar memang tak pernah sedikitpun melupakannya, motor Scoopy kesayangannya sampai dengan sandal jepit itu menandakan jika lelaki itu memang selalu ingin bersamanya.
"Aku laper." Suara itu mengagetkan Sephia yang sedang mengenang masa lalunya bersama Danar.
Lelaki itu sudah bergelayut manja, mengalungkan kedua tangannya di pundak Sephia dari belakang.
"Cuma ada ini, rendang buatan ibu baru aku hangatkan tapi gak ada nasi, mau di bikinin mie?"
"Mau," Danar menarik kursi di sebelah Sephia, Sephia beranjak membuatkan makanan untuk Danar.
"Jadi mau ke pantai?" tanya Danar menyuapkan sesendok mie goreng yang di campur lauk rendang buatan calon mertua.
"Jadi dong, naik motor kayak dulu ya." Sephia tersenyum, Danar mengedikkan kedua alisnya.
"Phi, buruan ... keburu sore, gak dapet sunset nya," panggil Danar yang sedang menghidupkan motor.
Sephia keluar dari pintu rumah dan menguncinya. Gadis itu mengenakan hotpants dan kaos berwarna putih dengan di balut sweater abu-abu kesayangannya. Dan di kakinya sudah terpasang sandal jepit berwarna pink yang biasa dia pakai jika berkunjung ke pantai.
"Sandalnya kayak kenal," ujar Danar.
"Iya, sandal jepit cinta namanya." Sephia mengulas senyum, lalu naik ke boncengan motor dan memeluk Danar erat-erat.
"Erat banget? takut lepas ya?"
"Iya ... biar kamu gak bisa kemana-mana lagi." Sephia kembali tersenyum begitu pun Danar sudut bibirnya mengembang.
***enjoy reading 😘
__ADS_1
jangan malu-malu untuk sekedar like dan komen di karya aku yaaah, matur tengkyuuuhh 🙏***