
Alunan suara salah satu group band di sebuah kafe malam ini mendayu-dayu memanjakan telinga para penggemarnya. Begitu juga dengan Sephia dan Danar, mereka sangat menikmati sajian malam ini. Makan malam yang romantis setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan dan urusan pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan.
Betapa bahagianya hatiku
Saat kududuk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Namun bila hari ini
Adalah yang terakhir
Namun ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
~Akad, Payung Teduh~
Genggaman tangan Danar begitu erat, sedangkan Sephia menikmati bait demi bait dari lagu itu.
Sepulang mereka dari Jakarta beberapa hari yang lalu, keluarga meminta agar Sephia dan Danar mengikuti acara adat sebelum pernikahan yaitu di pingit. Pernikahan yang tinggal dua minggu lagi itu pun membuat Danar kalang kabut jika harus mengikuti acara di pingit tadi, itu berarti keluarga Sephia dari Purwakarta sementara harus tinggal bersama Sephia di Bali. Dan esok hari kedua orang tua Sephia sudah berada di Bali. Kesempatan untuk berduaan dengan gadis itu pun tinggal hitungan jam.
"Kenapa sih?" tanya Sephia saat menyadari Danar memandanginya.
"Ini malam terakhir kita berduaan loh, kamu gak takut bakal kangen sama aku, tidur gak bareng aku, ketemu cuma di kantor doang itu pun kalo ibu setuju kamu masih ngantor mendekati hari H," ungkap Danar.
"Astaga ... aku kira kamu mikir apa." Sephia menggelengkan kepalanya. "Kita di pingit cuma saru minggu loh, itu berarti setelah kita sah kamu sama aku bakal sama-sama terus," ujar Sephia tertawa kecil.
"Aduh aku pusing, kita tuh tiap hari bareng-bareng terus Phi, seminggu itu berat," ujar Danar menyandarkan kepalanya pada bahu Sephia.
__ADS_1
"Ayo, pulang," ajak Sephia.
"Kok pulang?"
"Udah malem Sayang, besok kita masih harus kerja ... aku ngantuk."
"Ke rumah aku apa ke rumah kamu?"
"Terserah kamu," ujar Sephia yang sudah tak begitu perduli mau di bawa oleh Danar kemana.
...----------------...
Sore menjelang, Sephia dan Danar sudah berada di Bandara menunggu kedatangan kedua orang tua Sephia.
"Itu mereka, Sayang," ujar Sephia lalu melambaikan tangan pada keduanya.
Seketika perubahan wajah Danar pun terlihat ketika di belakang kedua calon mertuanya didapati kedua orangtuanya, serta Wulan dan bayi kecil berumur dua minggu itu pun ikut di sana.
"Itu bayi kecil kenapa ngikut juga, gak sekalian bapaknya ikut juga biar perusahaan di Jakarta gak ada yang handle, astaga aku yang mau kawin mereka yang udah kayak pindahan," gerutu Danar namun tetap melangkah menuju rombongan yang baru sampai itu.
Total yang datang sore ini adalah kedua orang tua Sephia, orang tua Danar, Wulan beserta bayinya, satu orang baby sitter, satu orang yang akan mengurus pakaian pengantin, dan satu orang yang di perbantukan untuk mengurus pak Hermawan selama di Bali. Sedangkan Fadil dan Agung akan menyusul tiga hari sebelum hari H.
"Mama gak bilang mau kesini," ujar Danar, merogoh ponselnya untuk menyuruh supir kantor menjemput mereka di bandara.
"Kelamaan nunggu supir, kasian papa kita naik taksi aja," ujar wanita paruh baya yang masih terlihat tanggap dalam melakukan segala hal itu.
"Maksud Danar kenapa gak bilang, Mama dan semua barengan dateng kesini, kan Danar bisa siapin semuanya, pesenin hotel dan lain-lain."
"Mama gak mau di hotel, kita mau tinggal di rumah kamu," ujar Mama Diana.
"Kenapa sih?" tanya Mama Diana terkejut.
"Danar, biasa aja dong kamu bangunin Lintang nih," sahut Wulan yang kembali menenangkan bayinya.
"Kamar di rumah kamu ada empat kan, cukup buat kita semua," kata pak Hermawan.
"I--iya sih, cuma kan itu ... belum di bersihin," kata Danar melirik Sephia.
Bagaimana tidak beberapa baju Sephia, sepatu bahkan pakaian dalam Sephia pun masih berada di sana.
"Nanti biar mbak-mbak ini yang beresin, kamu tenang aja, itu taksinya ... kamu antar calon mertua kamu dulu sana, biar Mama dan yang lain langsung ke rumah kamu, mana kunci?"
"Ini, Danar telpon yang beresin rumah biar kesana dulu, beresin semuanya," Danar menyugar rambutnya pasrah.
"Aku pulang ya," ujar Danar saat itu dengan muka yang sedikit cemberut.
Danar kemudian masuk ke dalam rumah berpamitan dengan calon mertuanya.
"Baju-baju aku di sini udah kamu simpan semua kan?" tanyanya memastikan.
"Udah, kan emang selalu ada di lemari ... baju-baju aku di rumah kamu juga aman kok, gak ada yang berceceran," goda Sephia.
"Besok ke kantor aku jemput?"
"Gak usah, aku berangkat naik motor aja ... udah kamu gak usah khawatir in aku, Sayang." Sephia menyandar di badan mobil.
"Aku gak khawatir sama kamu, aku khawatir sama diri aku sendiri satu minggu lebih gak tidur sama kamu," ujar Danar meraih tangan gadis itu.
__ADS_1
"Gak usah lebay ah, gitu aja ... dulu juga gak kayak gini, bisa aja kamu tidur tanpa aku," pungkas Sephia.
Danar tersenyum, tapi nanti bayarnya pas malam pertama ya," katanya lalu mengedikkan kedua alisnya.
"Pulang gih, gak enak sama Mama mereka di rumah kamu lama-lama di sini."
"Iya, aku pulang Phi." Danar memberikan kecupan di kening Sephia.
...----------------...
Satu minggu berlalu, kedua insan ini hanya bertemu di kantor itu pun Mama Diana menyarankan agar Sephia sudah harus mengambil cuti.
Persiapan pernikahan mereka semua sudah di tangani oleh WO beserta kecerewetan Mama Diana dalam menangani semuanya. Pakaian pernikahan pun sudah disiapkan semua oleh Wulan dan stafnya.
"Sayang," panggil Danar di pintu ruangan Sephia.
"Kenapa?"
"Besok kamu jadi cuti?"
"Iya, besok mulai cuti dan menikmati paket dari WO," ujar Sephia dengan wajah girang.
"Aku juga ya?"
"Mau kamu ambil apa gak terserah, kalo aku sih aku ambil, lumayan Sayang perawatan semua dari ujung kaki sampe ujung kepala, belun lagi yang lain-lainnya," kata Sephia lagi membayangkan dia berlama-lama perawatan spa dan lain-lain.
"Kamu gak mau rawat aku dulu, sebelum beneran kita gak ketemu?" Danar melangkah ke meja Sephia.
"Aku mau rawat kamu apa nya?" Sephia balik menggoda.
"Apa aja ... biar aku gak terlalu kangen," ujar Danar yang sudah menarik Sephia ke dalam pelukannya.
"Di mulai darimana?" bisik Sephia di telinga Danar, gadis itu benar-benar membuat Danar meremang.
"Terserah kamu mau mulai dari mana," ujar Danar menata degub jantungnya.
Kedua tangan Danar sudah berada di leher Sephia, ia mendekati wajahnya pada Sephia. Sapuan hembusan nafas dari lelaki itu begitu hangat, Sephia membuka sedikit bibirnya bersiap menerima sesapan dan pagutan dari tunangannya itu.
Bibir itu saling bertaut, berciuman dengan lembut, Danar perlahan mendorong tubuh Sephia hingga gadis itu terpojok di sisi meja kerjanya. Perlahan Danar mengangkat tubuh Sephia duduk diatas mejanya, membuka kedua paha Sephia yang hanya menggunakan rok dengan model Aline.
Pagutan itu tak juga lepas, sementara tangan Danar sudah membelai lembut paha mulus Sephia. Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi liar ditambah kecepatan tangan Danar yang sudah membuka tiga kancing kemeja Sephia.
"Aku pasti kangen ini untuk beberapa hari ke depan," ujar Danar terengah-engah saat tangannya meremat dada Sephia. Lalu menciumi leher jenjang gadis itu.
Nafas Sephia yang mulai menderu tak beraturan serta tubuhnya yang mulai bergetar saat sebelah kakinya menekuk pada pinggang Danar.
"Sayang, kita ha--rus ah," desahan kecil Sephia berhasil membuat adrenalin Danar terpacu.
Danar merebahkan Sephia di atas meja kerjanya, Danar seakan tak ingin kehilangan kesempatan mencumbui tunangannya itu. Rambut lelaki itu sudah tak karuan ulah tangan Sephia yang mengajaknya saat wajah Danar dibenamkan di dada Sephia. Hingga ketukan di pintu mengagetkan mereka untuk menghentikan kegiatan awal di pingit yang sesungguhnya.
***masih up 1 part yaaah... maapkeeuunn 😂 aku bener-bener lieeuurr urusan dunia ini 🤣
enjoy reading 😘
biasakan untuk mengarahkan jempol cantik kalian pada tempatnya yaaah, dan jangan lupa berikan komen" kalian yang cetar membahana itu agar aman dunia ini.
Chida ❤️***
__ADS_1