Sephia

Sephia
Secercah harapan


__ADS_3

"Udah dimana?" isi pesan singkat dari Danar siang itu pada Kalla.


Hampir satu jam dia menunggu Kalla, namun lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Sorry Dan, gue telat ... ada kerjaan di kantor, ribet kalo sekretaris gak masuk, mana macet pula, pagi tadi gue telat bangun, ngurusin Sephia kan sakit ... jadi gue harus standby di sampingnya, badannya panas banget," cerocos Kalla dan tentu saja dia berbohong dengan kata harus standby di samping Sephia semalaman.


"Di apartemen lo?"


"Hooh." Kalla mengangguk, "tapi kayaknya hari ini udah enakan dia, subuh tadi panasnya udah turun ... biasalah tipus kan emang harus banyak istirahat, gak boleh stres juga."


"Tidur bareng?" pertanyaan bodoh.


Kemakan umpan dah lo gumam Kalla dalam hati.


"Iya lah, biar dia juga nyaman kan."


"Tapi kan lo ... sama dokter itu---"


"Nami? gak tau dia ... jangan sampe tau, Sephia itu sekretaris gue yang gue mau jodohin ke lo tapi lo gak mau, ya udah lah ... selagi adil ye kan, kenapa gak?" pancing Kalla.


Tangan Danar mengepal, rahangnya mengeras, emosinya mulai tersulut.


"Kal ... gue minta lo tinggalin Sephia," ujar Danar menatap tajam Kalla.


"Wow ... kenapa lo? kemarin gue jodohin gak mau tiba-tiba suruh gue ninggalin dia, gak lah ... gue sayang sama dia, sama kayak gue sayang Nami, selagi gue berlaku adil gue rasa mereka pasti ngerti ... gak mungkin gue sia-sia in gadis kayak Sephia, she is perfect," sahut Kalla membalas tatapan tajam pada Kalla. "Bodoh aja, laki-laki yang ninggalin Phia, orang yang tulus mencintai malah di sia-sia in."


"Stop Kal, please ... sudahi drama lo, jangan kira gue gak tau lo cuma mau menyulut emosi gue," tegas Danar, matanya memerah menahan marah.


"Kalo lo tau, harusnya lo mikir Dan ... lo gak tau terluka kayak apa Sephia selama ini, lo gak tau dia berusaha keras menata hatinya, lo gak tau gimana dia bangkit buat nyembuhin luka yang udah lo sayat ... gila lo, perempuan sebaik Sephia, setulus dia ... liat muka nya aja gue gak tega buat maenin Dan!"


"Gue gak ada niat buat maenin dia Kal! gue bilang ke dia kasih gue kesempatan tapi dia malah ninggalin gue, lo tau sendiri perjuangan gue nyari dia ...."


"Perjuangan apa? perjuangan kok bisa hamilin anak orang, cih!" Kalla benar-benar kesal, jika saja bukan di kafe mungkin Danar sudah di hajarnya dengan pukulan.


"Siapa yang hamilin?"


"Cewek yang lo bawa semalem ... lo bilang gak kawin tapi hamilin cewek itu," ujar Kalla emosi.


"Dia istri Mas Agung," sanggah Danar.


"Hah?"


"Istri Mas Agung ... tadinya pacar gue, ternyata dia sama Mas Agung punya affair di belakang gue, ah ... dia juga gak tau kalo gue adiknya Mas Agung, tiba-tiba dia datang minta nikah dengan alasan gue merawanin dia pas lagi mabuk, ternyata itu cuma setting an dia, biar gue tanggung jawab Kal ... lo tau gue Kal, dari dulu gue pasti menepati janji ... yang ternyata jadi boomerang buat gue sendiri sampe harus kehilangan Phia," ujar Danar menyugar rambutnya.

__ADS_1


"Untungnya Mas Agung datang menjelaskan semuanya, sampai akhirnya Wulan setuju di nikahi Mas Agung, karena memang dia sudah hamil anak Mas Agung."


"Gila ... kalian gila," Kalla takjub dengan keluarga itu.


"Bantu gue Kal, bantu gue ketemu Phia ... hampir setengah tahun Kal ... gue kayak orang gila Kal ... bantu gue ... tolong," Danar mengiba.


"Sephia sakit, gue gak mau kalo lo ketemu dia sekarang, lo harus sabar sampe dia bener-bener sehat," ujar Kalla menatap Danar yang sudah meraup wajahnya kasar.


...----------------...


Dua minggu sudah, setelah kejadian itu, Sephia sudah nampak seperti biasa. Namun tidak dengan atasannya, Kalla setiap hari mendapatkan teror dari Danar. Danar tak henti-hentinya menelpon menanyakan bagaimana kelanjutan pertemuannya dengan Sephia.


"Apa?" Kalla menjawab panggilan telepon Danar.


"Gimana?"


"Besok lo ke apartemen gue, bisa?".


"Buset, gue masih di Bali ini ...," jawab Danar. "Mendadak banget sih, kemarin gue telpon lo gak ada rencana apa-apa."


"Suka-suka gue lah, kan gue bos nya di sini sekarang, Phia dalam pengawasan gue."


"Astaga, jadi gimana?"


"Oke, deal ...."


Pesawat baru saja mendarat pukul setengah enam sore waktu Jakarta, Danar tergesa-gesa memanggil sebuah taksi untuk mengantarkannya ke sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan.


Sore dan ini Jakarta, sudah pasti crowded jam pulang kantor yang hectic. Danar hanya bisa berdoa pukul tujuh dia sudah berada di sana. Seandainya pesawat yang membawanya tadi tidak bisa delay mungkin Danar masih bisa menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya.


Perjalanan hampir memakan waktu satu jam setengah dari Bandara, Danar tiba di apartemen Kalla tepat pukul tujuh lewat sepuluh, dia sudah memberitahukan pada Kalla jika ia sudah sampai di unit apartemennya. Danar menekan bel apartemen itu.


"Biar aku yang buka," ujar Kalla yang baru keluar dari kamarnya.


"Kamu ngajakin siapa, Sayang?"


"Temen, gak papa kan?"


"Gak papa ... Phi, saladnya keluarin aja deh dari kulkas," ujar Nami.


"Oke, spaghettinya udah siap ... yang lain?" tanyanya pada Nami.


"Udah dong, aku susun dulu di meja ya," Nami berjalan keluar dari dapur.

__ADS_1


"Sayang, kenalin ini temen aku," ujar Kalla pada Nami, Nami menerima uluran tangan Danar.


Disaat yang bersamaan, Sephia membawa salad dan spaghetti dari dapur, berdiri dengan tatapan tak percaya.


"Hai ... Phia," ujar Danar mengulas senyum di wajahnya.


Makan malam yang seharusnya penuh dengan tawa bahkan banyolan dari Kalla seperti biasa, kali ini agak sedikit sepi dan kaku. Tatapan Danar selalu mengarah pada Sephia yang duduk di depannya.


"Sayang, mau salad?" tanya Nami.


"Mau ... tapi taro di balkon aja deh, kayaknya enak ngobrol di balkon ya Dan," ajak Kalla pada Danar yang baru selesai menyiapkan makanan terakhirnya.


Sementara dua lelaki itu berada di balkon, Nami dan Sephia membereskan sisa makan malam mereka.


"Danar temannya Kalla SMA, katanya Kalla mereka dulu akrab banget, pisah karena Danar nerusin kuliah di luar negeri, pulang ke Indonesia sebentar terus ngelanjutin S2 lagi di Inggris apa ya," jelas Nami pada Sephia yang sedang meletakkan piring-piring yang sudah selesai dia cuci.


"Kalla bilang ke aku, kalo kamu kenal Danar?" tanya Nami hati-hati.


"Iya, dulu atasan aku di Bali," jawab Sephia singkat.


"Phia, kamu gak nyaman ya?"


"Biasa aja Nam ... gak papa kok, nanti aku langsung pulang aja ya, gak usah di anterin," kata Sephia lagi, Nami mengangguk.


"Kal," panggil Sephia dari balik pintu kaca.


Kalla menoleh, mematikan asap rokoknya begitu juga dengan Danar.


"Ya Phi."


"Aku pulang ya."


"Aku antar," ujar Danar cepat.


"Gak usah, makasih." Sephia hanya tersenyum sekilas, lalu menatap Kalla lagi seakan memohon.


"Di sini aja, aku antar Nami pulang dulu ... hhm, sebaiknya masalah kalian selesaikan dulu dan gunakan waktu sebaik mungkin." Mata Kalla beralih pada Danar.


Kalla berlalu, kemudian menuntun kekasihnya yang masih penasaran akan peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya.


***enjoy reading 😘


jangan lupa like dan komen ya***

__ADS_1


__ADS_2