Sephia

Sephia
Perbincangan dua wanita


__ADS_3

Sephia kembali masuk ke dalam ruang kerja Kalla. Kalla sedang duduk menghadap laptopnya, dia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Kembali melihat cincin yang berada di jari manis Sephia saat gadis itu memberikan lagi proposal dan membereskan beberapa berkas yang akan mereka bawa meeting siang ini.


"Sudah selesai? kita mau jalan sekarang?" tanya Sephia.


"Iya."


Suasana di dalam mobil itu cukup hening dan ... kaku. Ini meeting pertama mereka setelah kejadian beberapa hari lalu. Kecanggungan sungguh terasa berbeda dengan suasana sebelum-sebelumnya.


"Jadi ... sudah resmi?" Kalla memecahkan keheningan, namun tatapannya masih lurus ke depan, fokus dengan lalu lalang kendaraan.


"Hah?"


"Cincin kamu ... sudah resmi?" tanyanya lagi.


Sephia lalu melihat cincin di jari manisnya.


"Oh iya, peresmiannya minggu depan ... Danar udah bilang ke kamu, kan? Kalla mengangguk.


"Aku baru kali ini, merasakan memendam cinta pada seorang gadis ... dan sayangnya gadis itu milik sahabat aku," ujarnya. "Harusnya saat pertama kali ketemu kamu, aku sudah menentukan langkah." Kalla menoleh pada Sephia.


"Kalau pun pertama kali kamu menentukan langkah ... aku gak menjamin bisa melangkah bersamaan dengan kamu." Sephia membalas tatapan Kalla.


"Sesulit itu kah membalas perasaan aku, Phi?"


"Masalahnya adalah kamu dan aku sudah mempunyai seorang yang sudah mengisi hati kita Kal ... aku rasa pembicaraan kita kemarin sudah mewakilkan segalanya, maaf aku gak bisa!"


"Pikirkan Nami ... dulu kamu berusaha membantu aku untuk bisa menyembuhkan luka di hatiku kenapa sekarang kamu menoreh luka di hati wanita yang sudah bersama kamu sekian lama, Kal."


Kalla menepikan mobilnya.


"Aku tanya sama kamu sekarang," ujar Kalla. "Pernah terbesit di hati kamu, menyukai aku atau lebih dari itu?"


Sephia tercekat. "Gak ... gak pernah, karena semuanya sudah di penuhi oleh Danar."


"Bohong kamu!"


"Terserah ... tapi kenyataannya memang seperti itu."


"Please ... perasaan kamu ke aku bisa kamu kubur dalam-dalam dari sekarang Kal, kamu hanya jenuh dengan Nami, tapi kalian masih bisa memperbaikinya. Nami cinta sama kamu, kalian hanya butuh waktu bersama, kalian bisa saja cepat melangsungkan pernikahan .... Apa yang kamu harapkan dari aku, aku cinta Danar bukan cinta kamu." Sephia kembali menegaskan.


Kata-kata telak dari Sephia, menyakitkan tapi memang benar. Cinta tak bisa di paksa dan cinta sudah memilih tempatnya.


Kalla kembali menjalankan mobilnya, dan Sephia sudah tak lagi memperdulikan Kalla. Sephia mengusap layar ponselnya, mengirimkan pesan untuk seseorang agar bertemu dengannya malam ini.


...----------------...


Pukul tujuh malam, Sephia sudah menunggu Nami di sebuah kafe. Siang tadi dia mengirimkan pesan pada Nami untuk menemuinya.


"Hai Phia, sudah lama?"


"Lumayan," Sephia tersenyum. "Duduk, Nami."


Setelah memesankan makanan dan berbincang-bincang, Sephia memberitahukan niatnya.

__ADS_1


"Aku mau undang kamu dan Kalla, datang ke pertunangan aku," ujar Sephia.


"Hah? serius? ya ampun akhirnya ... Danar gerak cepat ya takut kehilangan lagi rupanya." Nami terlihat bahagia. "Selamat ya Phi, penantian selama ini berbuah manis ...," ujarnya tulus.


"Makasih Nami ... kamu dan Kalla gimana?"


"Aku? entah lah aku merasa seperti jauh dari dia sekarang ... dia di dekatku tapi hanya tubuhnya sedangkan pikirannya entah kemana."


Kamu pernah merasakan seperti ini, Phia?"


"Entahlah ... dulu saat kenal Danar sebelum adanya peristiwa itu, aku merasa Danar cuma milik aku, tapi kemudian kejadian itu terjadi ... rasanya sakit ...." Sephia mengingat kembali saat dirinya harus menerima kenyataan pahit atas kehadiran Wulan saat itu.


"Nami, kamu cinta Kalla, kan?"


"Jelas."


"Aku gak pengen kamu bernasib sama kayak aku ... kamu harus bisa yakinkan Kalla, kalo kamu pantas buat dia, aku gak mau hubungan kalian rusak," ucap Sephia menggenggam tangan Nami.


"Setelah pertunangan nanti, rencananya Danar akan membawa aku kembali ke Bali ... aku udah gak bisa jagain Kalla buat kamu, kamu yang harus menjaga Kalla sendiri sekarang. Dan, jangan terlalu percaya dengan orang meski itu orang terdekat kamu."


"Maksud kamu?"


"Kamu terlalu baik Nami ... aku juga ingin yang terbaik buat kamu, pertahankan Kalla jika menurut kamu Kalla pantas di pertahankan, kalo kamu ngerasa Kalla seakan jauh dari kamu maka buat hatinya kembali sama kamu ... aku sebagai sahabat hanya ingin kalian baik-baik saja."


"Phia, ada apa?"


Sephia terdiam, dia tak ingin merusak sesuatu yang nantinya malah menghancurkan segalanya. Sephia berjanji akan menutup rapat-rapat ini semua demi kebaikan Nami. Sephia yakin cinta Kalla masih sangat besar untuk Nami.


Lalu pandangannya menatap seorang lelaki masuk ke kafe dan menghampiri mereka.


"Sayang," ujar Nami saat melihat Kalla sudah berada di sana.


Kalla mencium pucuk kepala Nami seperti biasa, dan ini yang Sephia suka dari mereka. Mereka selalu tak malu-malu mencurahkan perasaan meski saat ini hubungan itu sedang terasa hambar.


"Sorry, tadi aku minta Kalla jemput aku kesini ... gak papa kan, Phi?"


"Gak papa, aku malah senang ... bisa liat kalian sama-sama lagi, baik-baik kalian ya," ujar Sephia tulus menatap sahabat-sahabatnya.


"Ada yang aku lewatkan?" tanya Kalla memandang dua gadis itu bergantian.


Entah mengapa Sephia merasa ada yang berbeda pada Kalla, tiba-tiba sikapnya berubah seperti dulu lagi. Apa mungkin Kalla sudah bisa menerima ini semua, tentang hubungan mereka yang jika diteruskan malah akan menyakitkan.


Sephia tersenyum tipis, "aku undang kalian datang ke acara pertunangan aku ... dan," Sephia terdiam.


"Dan?" tanya Kalla.


"Dan setelah pertunangan nanti aku akan mengajukan surat pengunduran diri secara resmi di kantor."


Kalla tidak begitu terkejut, karena teringat yang di katakan Danar, bahwa memang Danar akan membawa Sephia ke Bali cepat atau lambat. Kalla hanya dapat tersenyum.


"Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu dan Danar," ujar Kalla lalu merangkul pundak Nami yang duduk di sebelahnya. Nami pun mengangguk tanda mendoakan hal yang sama.


"Aku juga mendoakan kalian selalu bahagia, secepatnya halalkan Kal ... sudah terlalu lama menunggu, aku rasa Nami juga sedang menunggu ajakan menikah secepatnya."

__ADS_1


"Pasti ... secepatnya," ujar Kalla menatap netra Nami dengan sungguh-sungguh.


...----------------...


Terdengar suara dering ponsel milik Sephia saat ia baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur. Nama Danar terlihat di layar ponselnya.


"Lagi apa?"


"Mau tidur."


"Tadi jadi ketemu Nami?"


"Jadi ... kamu dimana?"


"Masih di kantor."


"Sudah jam segini, berarti jam 10 waktu Bali ... ngapain?"


"Lembur ... tiga bulan lagi akhir tahun, aku mau nyicil ngecek laporan anak-anak ... jadi inget lembur bareng kamu dulu," Danar tersenyum di seberang sana begitu pun Sephia.


"Kamu kangen ya sama aku?"


"Banget ... aku gak sabar minggu depan."


"Langsung bawa aku pergi dari sini ya ...." pinta Sephia.


"Kenapa? udah gak tahan mau bobok bareng?" Danar terkekeh dia yakin wajah Sephia pasti merona.


"Sembarangan ... aku pengen cepet pergi dari sini, biar gak kepikiran semuanya."


"Mikir apa?" tanya Danar, lebih tepatnya dia pura-pura bertanya, karena Danar tahu kegundahan hati kekasihnya.


"Gak ada ... oh ya, Jumat nanti Wulan minta aku ke butiknya untuk ukur baju."


"Kok bisa?"


"Bisa lah ... Wulan bilang ini hadiah dari dia sebagai permohonan maafnya sudah membuat kesalahpahaman selama ini."


"Phi,"


"Iya ...."


"Mau janji satu hal sama aku?" Danar beranjak dari kursinya, lalu berdiri di depan jendela kaca memandangi langit malam.


"Apa?"


"Jika nanti suatu saat kamu bosan sama aku atau aku bosan sama kamu, tolong kita saling mengingatkan ya ... tarik kembali hati aku buat kamu dan juga sebaliknya aku akan tarik hati kamu buat aku, agar kembali pada posisinya masing-masing."


"Sayang, aku tau yang kamu pikirin ... percaya saja sama aku, begitu juga aku akan selalu percaya sama kamu."


***enjoy reading 😘


jangan lupa like dan komen setelah membaca yaaaah***

__ADS_1


__ADS_2