
"Ah ... Danar," desah Sephia siang itu di kamar mereka.
Tangan wanita itu mengacak-acak rambut suaminya yang sedang berada di bawah sana, Danar memainkan lidahnya berkali-kali hingga membuat tubuh sang istri melengkung tak kuasa menahan buncahan hasrat.
Peluh keringat di ruangan ber AC itu tak lagi terasa. Jari danar dengan lincahnya membelai lembut daerah sensitif milik istrinya. Danar kembali merangkak naik, ia memandangi wajah istrinya, Sephia masih menggigit bibir bawahnya. Danar lalu menyesap bibir Sephia, merasakan manisnya bibir itu untuk kesekian kalinya. Dirasa cukup bermain-main, Danar bersiap kembali memasuki tubuh istrinya. Dari tatapan mata Sephia, Danar tahu jika istrinya sudah tak dapat menahan lagi untuk melepaskan hasratnya.
"Ugh ...." erangan suara Danar kembali terdengar, "Phi ...." desah Danar yang memompa Sephia dengan tempo yang cepat, menghentakkan pinggulnya hingga pelepasan itu akhirnya terjadi.
Danar jatuh di atas tubuh Sephia, siang hari yang luar biasa untuk kegiatan mereka. Danar tertidur lemas, ia belum sama sekali melepaskan kelakiannya dari tubuh Sephia.
"Sayang," lirih Sephia merasakan berat tubuh Danar.
"Hhmm."
"Berat ih," Sephia menggerakkan tubuhnya, Danar bergerak perlahan merubah posisinya.
"Aku lapar," rengek Sephia.
"Delivery order lagi aja," jawab Danar menelungkupkan badannya.
"Lagi? aku bosen," rengek Sephia lagi.
Ya, ini adalah hari ketiga sesudah pernikahan mereka, satu hari lalu keluarga besar mereka berpamitan untuk pulang ke Jakarta dan Purwakarta. Berbagai wejangan dari kedua orang tua mereka pun sempat diberikan mengingat mereka hidup berdua di sana sebagai pasangan suami istri.
Rasa percaya dan selalu berkomunikasi dalam bentuk apapun harus selalu di pupuk itu yang dikatakan oleh Mama Diana kemarin, karena belajar dari apa yang sudah terjadi di masa lampau jangan terulang kembali. Begitu pun ibu Widya berpesan agar Sephia tahu memposisikan dirinya sebagai istri, mengurus suami meskipun ia juga tetap bekerja.
"Danar ... aku lapar," ujarnya lagi.
"Aku capek Phi," jawab Danar menolehkan wajahnya pada istrinya lalu tersenyum.
"Makanya ...." Sephia mencebik.
Sephia beranjak dari tidurnya, berlalu tanpa sehelai benangpun berjalan mengarah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
20 menit berlalu ketika Sephia sudah selesai membersihkan dirinya, Danar masih dengan posisi yang sama, tertidur. Dan pada akhirnya, Sephia memutuskan memesan sesuatu untuk mereka makan siang ini.
Setelah semua menu yang ia pesan datang, Sephia menyusunnya di atas meja makan. Lalu kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya.
"Sayang ... ayo, bangun," ujar Sephia menggerakkan tubuh Danar lalu mengecupi punggungnya. "Ayo dong, bangun." Danar beringsut, membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Jam berapa?" tanyanya.
"Sudah jam dua, makan yuk ... aku lapar," ucap Sephia.
"Aku mandi dulu ya," ujar Danar sambil mengecup kening Sephia.
...----------------...
"Kamu bosen gak di rumah?" tanya Danar menyuapkan satu sendok makan ke mulutnya.
"Tiga hari sama kamu sih aku gak bosen, apalagi gak ngapa-ngapain," jawab Sephia terkekeh.
"Tiga hari ini kita ngapa-ngapain kok," goda Danar.
Sephia lalu berdiri membereskan perlengkapan makan yang sudah kotor, dan berjalan menuju wastafel.
"Bulan madu mau gak?" tanya Danar memeluk Sephia dari belakang.
"Kita udah di Bali, sama aja kayak bulan madu." Sephia tersenyum.
"Ya ke tempat lain, masa kita udah di Bali bulan madunya di Bali." Danar mulai menciumi leher jenjang istrinya, sementara tangannya sudah merayap masuk ke balik baju Sephia.
"Luar negeri atau dalam negeri?" tanya Danar.
"Terserah kamu ... ah," Sephia mendesah saat Danar meremat buah dadanya.
"Mau lagi gak?" bisik Danar di telinga Sephia, Sephia menggeleng namun tubuhnya sudah menegang.
Tangan Danar semakin turun menuju ke bagian bawah tubuh istrinya.
"Aku mau lagi," desah Danar setelah tangannya meringsek masuk menyentuh milik Sephia.
"Sayang ... hhmm," Sephia mulai tak bisa mengontrol gerakan tubuhnya.
Danar membalikkan tubuh Sephia menghadapnya, mata wanita itu mulai terlihat sendu. Sephia menuntut sesuatu yang lebih hanya sekedar sentuhan. Tangan Sephia melingkar pada leher Danar, bibir wanita itu sudah ia tautkan pada bibir suaminya. Ciuman lembut itu semakin mendominasi, Danar menyusuri kembali leher istrinya, menarik kaos berwarna biru laut itu lolos dari kepala sang istri. Sephia yang tak mengenakan pembungkus dada, membuat Danar semakin tak karuan saat melihat dada yang bulat yang jika ia sentuh pas dengan satu tangannya.
Danar mengangkat tubuh Sephia ke atas meja dapur hingga dada sang istri tepat berada di depannya. Danar mulai memainkan lidahnya di puncak dada Sephia, wanita itu mendesah mengacak rambut dan meremas rambut suaminya. Sephia berhasil menarik kaos putih dari tubuh Danar, sekarang mereka sama-sama tak memakai sehelai benang di bagian atas tubuhnya.
Danar kembali menyesap bibir lembut dan manis milik Sephia, lidah yang saling berbelit dan saliva yang saling bertukar di dalam sana membuat tubuh Sephia menggelinjang tak tentu arah.
__ADS_1
"Mau di sini apa di kamar?" Danar melepaskan ciumannya, nafas mereka saling memburu mata sayu itu tak dapat menjawab.
Danar menggendong istrinya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka hingga ke ruang tengah. Merebahkan tubuh Sephia yang sudah tergolek pasrah. Lelaki itu melepaskan hotpants yang Sephia pakai hingga hanya tertinggal dalaman berenda berwarna hitam. Danar berdiri menanggalkan boxer yang ia pakai, dan mulai mengungkung tubuh Sephia di bawah sana. Menciumnya perlahan dan turun menyusuri lekuk tubuh istrinya. Danar menggesek kelakiannya dibawah sana dan sedikit menekan tubuh wanita itu hingga Sephia meringis.
"Mau di buka gak?" goda Danar saat ia menumpukan lututnya di sisi kanan kiri tubuh Sephia tepat diatas daerah intim milik Sephia, sementara satu tangannya menuntun tangan Sephia untuk sama-sama meremas dada wanita itu.
"Buka Sayang, aku gak kuat," ujar Sephia memohon, dia menelan salivanya kasar.
Danar tersenyum, ia mulai menarik ke bawah bahan berenda itu. Danar mulai kembali membuat Sephia seakan melayang ke angkasa. Lelaki itu turun naik memompa tubuh Sephia dengan tempo yg semakin lama semakin cepat. Sephia sudah menggigit bibir bawahnya, tatapannya tak lepas dari mata Danar. Lelaki itu sesekali membasahi bibirnya dan mengeraskan rahangnya saat beberapa kali hentakan ia lakukan.
Sephia melakukan beberapa kali pelepasan, Danar tersenyum sekarang adalah giliran dia menanamkan benih kembali ke tubuh istrinya. Ritme yang Danar berikan semakin cepat membuat suara-suara desahan Sephia kembali memenuhi seisi ruangan. Semakin cepat Danar memompa tubuhnya hingga pelepasannya pun berakhir.
Suami istri itu terlihat begitu lelah, peluh keringat mereka saling menempel di tubuh masing-masing. Danar memeluk Sephia, ia letakkan tangannya di atas dada Sephia. Istrinya itu sedang mengatur detak jantung yang bertalu.
"Jadi bulan madu?" tanya Danar mengecup pucuk kepala Sephia.
Sephia menggeleng.
"Kenapa?"
"Di rumah aja, begini terus sama kamu lebih dari bulan madu." Sephia memiringkan tubuhnya menghadap Danar.
"Yakin di rumah aja?"
"Aku belum mikirin bulan madu kemana, tapi menurutku sama saja kita habiskan waktu di rumah dengan melakukan hal seperti ini lalu keluar rumah jalan-jalan keliling Bali itu menurutku sudah bulan madu," ujarnya.
"Jadi?"
"Di rumah aja ... kalo kita bosen kita bisa ke villa kamu, kalo bosen lagi kita bisa tidur di hotel," kata Sephia lagi.
"Oke," jawab Danar membelai punggung sang istri. "Sore ini kita kemana?"
"Jimbaran? mau?"
"Let's go," ujar Danar mengukir senyum di wajahnya.
***udah pada sarapan??? Danar sama Phia udah dua kali 😂
enjoy reading 😘
__ADS_1
tinggalkan jejak kalian***