
Pagi itu, Sephia dan Danar setelah sarapan berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Dengan membawa beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh ibu subuh tadi untuk bekal Sephia di kostnya.
"Kami pulang dulu Pak, Bu," ujar Danar mencium punggung tangan kedua orang tua itu, begitu pun Sephia.
"Ibu tunggu kabar baiknya ya, Nak Danar," kata Ibu dan diangguki oleh Danar.
"Ingat pesan Bapak, boleh ke Bali jika status kalian sudah jelas." Pak Asep kembali mengingatkan.
"Iya Pak," jawab Danar meski ada sedikit kecewa karena tak bisa membawa Sephia secepatnya ikut dia ke Bali.
"Phia pamit ya Pak, Bu ... salam buat Fadil kalo pulang, akhir bulan Phia kesini lagi." Sephia memeluk ibu dan bapak serta memberikan kecupan di pipi orangtuanya.
Mobil melaju keluar dari halaman rumah itu, menuju Jakarta. Selama perjalanan, genggaman tangan Sephia tak sedikitpun Danar lepaskan, sesekali dia kecup cincin yang melingkar di jari manis Sephia.
"Apaan sih, lebay deh."
"Tadi aku telpon Mama, kamu siapkan buat makan malam nanti?"
"Kita apa gak kecepatan ya?"
"Apanya?" tanya Danar.
"Ke keluarga kamu, kok aku takut ya."
"Takut kenapa?"
"Karena aku ... ah udah lah, gak usah di bahas." Sephia terdiam, dia seakan diingatkan kembali jika ia bukanlah dari kalangan berada. Bapak hanya seorang pensiunan guru. Kehidupan mereka pun sangat sederhana.
"Kenapa? takut keluarga aku gak nerima kamu karena kamu gak seperti kami?"
Sephia menolehkan wajahnya, Danar selalu tahu apa yang sering menjadi kegundahannya.
"Gak usah takut, Mama juga dari kalangan biasa, almarhum ibu aku dulu juga dari kalangan biasa ... kenapa banyak sekali orang sering berpikir kalo orang berada sulit menerima kalangan biasa? pikirannya terlalu picik menurutku, aku gak mau kamu berpikiran seperti itu terlebih kamu belum mengenal keluarga aku."
"Kok kamu jadi marah." Sephia cemberut.
"Aku gak marah, aku cuma pengen kamu gak mikirin hal kayak gitu ... hanya akan menghabiskan energi dan pikiran kamu, ntar malah sakit ... tambah lama kita kawin" goda Danar.
"Kawin ... nikah, MENIKAH." Sephia menegaskan kata menikah.
Danar terkekeh, "salah ya aku."
Mobil berhenti tepat di depan kost Sephia, Danar membawa satu koper berisi pakaian mereka serta dua paper bag yang berisi makanan dari Ibu Widya.
Sephia masuk ke dalam dan membereskan semuanya, sementara Danar sudah kembali sibuk membuka laptopnya.
"Sayang, nanti malam aku pake baju apa ya?"
"Sini," Danar mengulurkan tangannya agar Sephia mendekat dan duduk di sisi tempat tidur.
"Pake apa aja kamu terlihat cantik," ujar Danar menutup laptopnya, meletakkan di sampingnya. "Lebih cantik lagi ... kalo di depan aku gak pake apa-apa."
"Apa sih, kamu pikirannya gak jauh-jauh dari itu."
"Masih siang, Sayang ... ayo," ajaknya dengan senyum menggoda.
"Aku tuh nanya, aku pake baju apa nanti malam ... malah diajakin yang enggak-enggak," Sephia menyingkirkan wajah Danar yang sudah ada di ceruk lehernya, Danar sibuk menempelkan bibirnya di sana.
Sephia kembali beranjak, meninggalkan Danar yang masih ingin berduaan dengannya. Melangkah dan membuka lemari pakaiannya, Sephia menarik dua pakaian yang menurutnya tepat untuk malam nanti.
"Bagus yang mana?" Sephia menunjukkan pada Danar dua buah pakaian. Satu dress dengan panjang diatas lutut dan potongan tangan panjang berwarna hitam dan satu lagi setelan berwarna sedikit emas dengan model kerah tinggi dan potongan tanpa lengan serta bawahan yang merupakan rok bermodel A-line sebatas lutut.
"Yang mana?" tanya Sephia lagi.
Danar memperhatikan kedua pakaian itu, menurutnya apapun yang di pakai oleh Sephia semua terlihat bagus dan cantik. Namun, dia menjatuhkan pilihannya pada pakaian yang kedua, setelan itu memperlihatkan pundak mulus milik Sephia serta kaki kekasihnya yang jenjang.
"Yang kedua, itu cantik."
Pukul lima Danar dan Sephia sudah bersiap, Danar mengenakan kaos berlengan pendek berwarna hitam dengan celana chinos berwarna abu-abu yang membuatnya terlihat formal namun santai. Riasan wajah Sephia pun tak terlalu mencolok, pas untuk menghadiri undangan makan malam.
"Udah?" tanya Danar dari balik tubuh Sephia yang berdiri di depan kaca.
__ADS_1
"Udah ...." Sephia menempelkan kedua bibirnya untuk merapikan sapuan lippen.
"Perfect."
"Thank you."
...----------------...
Pukul enam lebih dikit mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mungkin terlalu besar menurut Sephia. Terbesit dibentaknya, jika ia yang tinggal di dalam sana harus berapa jam dia membereskan setiap ruangannya.
"Phi, kok malah ngelamun." Danar membuyarkan lamunan konyol kekasihnya. "Ayo, turun."
Berjalan dengan bergandengan, rumah itu terlihat sepi. Danar dan Sephia memasuki ruang tamu lalu menuju ruang keluarga, tak ada satu orang pun yang mereka temui.
"Kamu yakin, sudah kasih tau orang tua kamu?"
"Iya ... biasanya di halaman samping, ayo." Danar kembali menggenggam tangan Sephia.
Dan benar kata Danar, keluarganya sudah berada di taman belakang menunggu mereka. Seorang wanita setengah baya yang masih sangat terlihat cantik mendatangi mereka.
"Ah, akhirnya dibawa kesini juga ... setelah Mama nunggu berbulan-bulan." Wanita itu merentangkan tangannya menautkan pipi mereka secara bergantian. Sungguh ramah, untuk seorang ibu tiri namun harusnya memang lebih tepat menjadi ibu kandung. Benar-benar berhati mulia.
"Kenapa baru datang sekarang Sephia? Mama sudah lama loh nungguin kamu ... pantas saja di uber sampai dapat, ternyata memang cantik dan lembut." Mata Mama Diana mengarah pada Danar.
"Ayo, jangan malu-malu ... kita gabung kesana." Mama Diana menggaet lengan Sephia menuju sebuah meja makan panjang yang berada di tengah taman.
Di sana sudah ada Mas Agung, Wulan dan seorang lelaki paruh baya yang sepertinya semakin terlihat segar setelah terkena serangan stroke tahun lalu.
"Pa, kenalin ini Sephia," ujar Danar.
Bapak Hermawan Wicaksana itu menyambut uluran tangan Sephia, Sephia pun tanpa ragu mencium punggung tangan ayah dari kekasihnya. Sephia melemparkan senyum pada Agung dan Wulan, lalu duduk di sisi Danar.
"Yang Papa dengar dari Agung, kamu sering pulang ke Jakarta, tapi gak pulang ke rumah," Pak Hermawan bicara dengan perlahan mengingat memang sudah tak bisa lagi berkomunikasi dengan cepat.
Danar tersenyum, namun melempar tatapan tajam pada kakaknya.
"Iya, Pa." Danar menggenggam tangan Sephia di bawah sana, karena Danar tahu Sephia pasti merasa tak enak.
"Cuma dua hari di Jakarta, setelahnya pulang lagi ke Bali." Danar menjawab santai.
"Di makan dulu, keburu dingin gak enak." Mama Diana menangkap sesuatu yang menegangkan akan terjadi. "Sephia, di cobain dong ... itu sop iga Mama yang buat, nah kalo yang ini ... dendeng balado Wulan yang bikin, dia suka banget makanan pedas."
"Ma, kan baru selama hamil, Wulan sukanya," pungkas Wulan.
"Tapi perut kamu tahan ya, pedes gitu ... cobain Phia, enak loh." Mama Diana memberikan semangkuk sop iga pada suaminya lalu memberikan juga pada Sephia.
Perbincangan selama makan malam itu tak terlalu kaku, Agung yang memang sedikit pendiam juga tak banyak bicara, sementara Wulan asyik melayani suaminya, sepertinya perubahan dari Wulan sangat banyak. Setelah vakum dari dunia model, Wulan banyak menghabiskan waktunya di butik yang ia kelola sejak memutuskan menikah dan tinggal kembali di tanah air.
"Pa, Danar mau menyampaikan sesuatu ...." Danar kembali melanjutkan pembicaraannya. "Danar kemarin melamar Sephia di depan kedua orang tua Sephia."
Mama Diana dan Wulan bersamaan menutup mulut mereka dengan tangan. Rasa tak percaya jika Danar mempunyai keberanian seperti itu tanpa di dampingi oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa gak bilang ke keluarga Dan, kan kita bisa persiapan datang secara khusus kesana," ujar Mama Diana.
"Memang gak ada persiapan Ma, tadinya Danar kesana hanya untuk memperkenalkan diri dan minta izin untuk bawa Sephia ke Bali."
"Ke Bali?" Semua orang bertanya serentak.
"Iya, Danar mau Sephia ikut ke Bali tinggal lagi di sana."
"Lalu?" Pak Hermawan kembali bertanya.
"Ya maksud Danar dan Sephia, meminta restu sama Papa, Mama dan Mas Agung."
"Restu menikah?" tanya Mas Agung.
"Menikah sepertinya membutuhkan persiapan yang matang Mas," ujar Danar.
"Kata siapa? gue tiga hari kelar ngurus-ngurus."
"Ish, lo kan pengecualian." Sindir Danar.
__ADS_1
"Sudah-sudah ... jadi maksud Danar, Danar meminta Papa dan Mama melamar Sephia kepada kedua orang tua Sephia?" tanya Mama Diana dan Danar mengangguk.
"Kapan?" Pak Hermawan kembali bertanya.
"Secepatnya Pa," jawab Danar.
"Beh, gak sabaran dia." Agung menimpali dengan senyum menggoda.
"Tunangan Mas, belum nikah."
"Minggu depan? kelamaan gak?" tanya Mama Diana.
"Sip ... gimana Sayang?" tanya Danar pada Sephia yang sedari tadi hanya diam mendengarkan rencana keluarga ini yang tiba-tiba begitu saja menerimanya.
"Gak usah pikirin yang enggak-enggak, Phia ... keluarga kami menerima kamu, kami sudah cukup mengenal kamu dari cerita-cerita Danar selama ini," ujar Agung.
"Selamat bergabung di keluarga Hermawann Wicaksana, Sephia," ujar Wulan tersenyum tulus pada Sephia.
"Ya ampun Pa, kok aku sedih ya." Mama Diana menyeka air matanya. "Sebentar lagi aku mau punya cucu ... dan minggu depan anak kedua aku mau lamaran."
Danar beranjak dari tempat duduknya memeluk sang Mama dari belakang lalu mengecup pucuk kepala wanita yang sudah mengasuhnya dari kecil.
"Sephia ... keluarga ini terbuka untuk kamu," kata Pak Hermawan dengan mengukir senyum di wajahnya.
Makan malam itu di akhiri dengan rancangan rencana untuk lamaran dan pertunangan Sephia dan Danar minggu depan. Malam semakin larut, obrolan yang sudah berpindah tempat di ruang keluarga itu pun akhirnya berakhir. Sephia di minta untuk menginap di sana oleh Mama Diana.
"Ini baju tidurnya, dan ini pakaian dalam buat ganti besok pagi, masih pada baru," ujar Wulan yang sudah berada di kamar Danar untuk memberikan perlengkapan kepada Sephia.
"Makasih, Mbak Wulan."
"Sama-sama, Phia ... aku senang akhirnya bisa kenal dekat sama kamu," ujar Wulan. "Nanti aku minta nomer ponsel ya, aku mau buatin kamu baju untuk acara tunangan."
"Aih, Mbak kok repot-repot."
"Anggap itu hadiah dari aku dan sebagai permintaan maaf dari aku karena dulu ...."
"Mbak ... makasih ya."
Pelukan hangat kedua wanita itu pun merupakan awal pertemanan bagi keduanya.
Ketukan di pintu kamar malam itu mengagetkan Sephia yang hampir terlelap. Sephia membuka perlahan pintu itu, dan mendapati Danar sudah bersandar pada kusen pintu.
"Ngapain?"
"Aku mau tidur di sini." Lelaki itu masuk dengan santainya dan berbaring di tempat tidurnya.
"Danar, jangan aneh-aneh deh." Sephia menarik tangan Danar agar beranjak dari sana.
Tarikan tangan yang seharusnya menarik tubuh Danar untuk pergi dari sana, berbalik membuat tubuh Sephia terjatuh di atas tubuh lelaki itu.
"Jangan berisik nanti malah bikin semua orang di rumah ini bangun," Danar terkekeh lalu mencium bibir Sephia.
Tangannya sudah menyusuri punggung serta turun ke bokong gadis itu. Remasan pada bokong Sephia membuat daster yang di pinjamkan oleh Wulan tadi terangkat naik ke atas.
Sephia melepaskan ciuman mereka, menatap sayu mata Danar lalu tersenyum.
"Kamu bahagia banget ya?" tanya Sephia.
Tangan lelaki itu membelai lembut bagian belakang Sephia yang sudah tersingkap.
"Aku bahagia, karena sebentar lagi bakal bisa sama-sama terus dengan kamu, gak ada yang ganggu ... gak ada yang diam-diam suka sama kamu, gak ada yang bakal nikung aku dari belakang."
Sephia mengerutkan alisnya, sepintas teringat olehnya ketukan Danar di pintu ruang kerja Kalla saat mereka berpelukan. Apakah Danar mendengar atau melihat semuanya?
hampir 2000 kata yeess.. masih kurang panjang? cuusss kita ngopi bareng aja yuk 😂
enjoy reading jangan lupa like yang banyaaak biar Chida bahagia 😘
Danar dan Sephia malam ini
__ADS_1