
Suara riuh di sebuah kamar rumah sakit terdengar, tawa dan canda serta kegembiraan keluarga Hermawann Wicaksana menyambut anggota baru keluarga mereka. Terlihat Agung sedang menyuapkan makanan pada Wulan, sedangkan bayi kecil mereka, mama Diana dan pak Hermawan sedang heboh menentukan nama untuk bayi cantik itu.
"Jadi siapa namanya?" tanya Danar yang duduk di sebelah Sephia. "Aku mau yang kecil kayak gitu, Sayang," bisik Danar di telinga Sephia lalu mencium pundak belakang gadis itu.
Sephia hanya tersenyum. "Mau yang banyak," kata Danar lagi, "kalo bisa tiap hari kita buat." Sebuah pukulan mendarat di paha Danar, Danar pun tertawa.
"Namanya Lintang, Lintang Agung Wicaksana," ujar Agung.
"Cakep ... artinya Mas?" tanya Danar.
"Lintang adalah bintang, gue berharap dia selalu menyinari keluarga kecil kami dan bermanfaat bagi orang banyak," jawab Agung lalu mengecup kening istrinya.
"Anak kita nanti namanya siapa, Phi?" Danar benar-benar membuat wajah Sephia merona merah.
"Nikah dulu ... baru punya anak," seloroh mama Diana.
"Oh ya ... mumpung lagi menyinggung pernikahan ...," ujar Danar.
Dan pintu kamar itu pun terbuka, kedua orang tua Sephia serta Fadil adiknya datang berkunjung.
"Ibu, Bapak ... ya ampun, kok udah sampe kesini, padahal besok kita baru mau kesana," Sephia menyambut uluran tangan orangtuanya begitu pun Danar.
Semua saling menyapa, bak sebuah perjumpaan kembali kedua keluarga calon besan.
"Semalam Mama telpon Ibu ... bilang kalau kalian ada di Jakarta, sekalian aja Mama undang kesini, tadi di jemput supir," jelas Mama Diana.
Sephia yang masih bergelayut manja dengan sang ibu pun, tersenyum senang. Tidak habis pikir ia benar-benar di terima di keluarga ini. Kebaikan keluarga serta tidak memandang status sosial seseorang.
"Jadi tadi mau membicarakan apa Dan?" tanya Pak Hermawan.
"Oh iya, emm ... jadi gini, karena semua keluarga sudah berkumpul semua di sini ... Danar dan Sephia ingin memberitahukan bahwa kami sepakat akan mengadakan pernikahan tiga bulan lagi terhitung dari sekarang," ujar Danar menoleh pada Sephia dan meraih tangan kekasihnya itu.
"Kenapa harus tiga bulan lagi?" tanya Mama Diana. "Kenapa gak awal tahun ini?".
"Itu berarti tiga minggu lagi Ma?"
"Iya, emang kenapa? gak susah Mama rasa ... tentukan tempat, jaman sekarang semua di permudahkan? panggil WO, gampang." Mama Diana memberikan masukan.
__ADS_1
"Jadi gini Danar ... sebelumnya Ibu minta maaf ya, kami berdua ini kan orangtua yang mempunyai anak gadis, selalu ada rasa was-was di hati kami, apalagi Sephia jauh ... bukannya gak percaya sama Nak Danar, tapi memang ada baiknya kita percepat saja," ujar ibu Widya dan diangguki oleh semuanya.
"Kalo Danar sih sebenarnya terserah sama Phia, Bu ... karena yang sering bilang nanti dulu itu Sephia ... kalo Danar sudah siap lahir batin," katanya lalu tersenyum.
"Kelamaan juga gak baik Dan ... ntar kayak gue," celetuk Agung yabg sadar diri.
"Lo mah karena gak bisa nahan," kekeh Danar.
"Aseeeemmm ...." Agung melempar satu bungkus roti kepada Danar.
"Sudah ... sudah, jadi gimana Sephia? awal tahun kita adakan acara pernikahannya?" tanya pak Hermawan.
Sephia terdiam lalu tersenyum. "Kalau semua keluarga setuju ... Sephia ikut saja." Gadis itu menjawab dengan malu-malu.
"Oh ya ... mengenai pakaian sepasang pengantin udah tenang aja, aku sudah desain buat kalian dari jauh hari," ujar Wulan. "Nanti aku suruh pegawai butik untuk ukur kalian berdua ya, tenang aja semua udah aku siapin."
Sephia melangkah menuju tempat dimana Wulan berbaring.
"Makasih ya Mbak," ujarnya tulus lalu memeluk wanita itu.
"Nanti setelah Lintang tiga bulan ... kita akan adain resepsi ya," Agung memberikan kecupan pada istrinya, seakan tahu keinginan terpendam Wulan selama ini.
"Pernikahan aku minta diadakan di Bali, boleh?" tanya Danar hati-hati.
"Jelas boleeeeh," jawab seluruh orang yang ada di ruangan itu dengan gembira, bagaimana tidak itu adalah momen yang paling di tunggu. Resepsi dan liburan.
...----------------...
"Kamu seneng banget," ujar Sephia saat mereka baru saja memasuki kediaman Danar.
Mama Diana dan pak Hermawan masih berada di rumah sakit, sedangkan orang tua Sephia dan Fadil setelah makan siang berpamitan untuk pulang. Karena di rasa penentuan hari sudah disepakati oleh kedua belah pihak.
"Seneng dong ... kan sebentar lagi, aku gak nunggu sampe tiga bulan," ujar Danar menarik Sephia duduk di sofa ruang keluarga.
"Kamu seneng aku deg deg an ...." Sephia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Kok deg deg an? aku ambil minum dulu," ujar Danar melangkah ke dapur lalu kembali membawa dua gelas dan satu botol air dingin.
__ADS_1
"Ya deg deg an, kan ketika sudah menikah aku hidup udah berdua sama kamu, gak hanya mikirin aku terus tapi ada kamu juga," ucap Sephia.
"Minum dulu." Danar menyodorkan satu gelas air pada Sephia. "Sebenarnya sama aja kayak sekarang, berdua terus tapi ada ikatan yang lebih suci lalu nanti punya anak, dan aku harus lebih bertanggungjawab pada kamu dan anak-anak aku nantinya."
"Iya sih ... tapi tetep aja deg deg an."
"Bukan deg deg an malam pertama kan?" goda Danar yang sudah menempelkan bibirnya pada pipi gadis itu.
"Itu juga sih," Sephia terkekeh.
Danar mulai menyusuri leher Sephia, rasanya sehari saja tidak mencium gadis itu selalu ada yang kurang. Itulah mengapa dia bahagia sekali ketika hari pernikahannya di percepat.
"Nanti ada bibik loh." Sephia mulai mendesah ketika tangan Danar sudah menelusup masuk ke dalam baju yang ia pakai.
"Di kamar mau gak?" Mata Danar mulai sendu, nafasnya mulai memburu.
"Hhmm." Dan Sephia kembali terlena.
"Ayo ...."Danar menuntun Sephia menaiki tangga , menuju kamarnya di lantai dua.
Lelaki itu sudah melepas kaos Polo berwana biru tua itu meninggalkan jeans yang masih menempel di tubuhnya. Bibirnya kembali memberikan sesapan dan gigitan pada bibir Sephia. Pelan ia menurunkan rok mini yang di pakai oleh Sephia hanya meninggalkan dalaman dan kaos yang masih Sephia pakai.
"Phia ...." Suara parau milik Danar begitu seksi terdengar di telinga Sephia.
Danar membalikkan tubuh Sephia membelakanginya, menelusuri setiap lekuk tubuh gadis itu dengan telapak tangannya. Masuk diantara celah baju Sephia, meremat dada gadis itu perlahan, menciumi ceruk leher Sephia sehingga Sephia merasakan sensasi seperti terkena sengatan listrik di tubuhnya. Tangan itu sungguh bebas menyusuri bagian-bagian sensitif gadis itu. Hingga Danar membalikkan kembali tubuh Sephia pada posisi semula, dan mencium bibirnya semakin dalam. Saling melilitkan lidah serta bertukar saliva, tangan Sephia meraba dada lelaki itu, lalu bergantian Sephia menyusuri ceruk leher Danar, hingga mencium dada Danar dan meninggalkan bercak merah di sana. Mereka sama-sama tersenyum lalu kembali saling menautkan bibir.
"Kalo aku minta malam pertamanya sekarang boleh?" Mata Danar begitu memohon.
"Danaaar ... Phia, kalian di dalam?"
"Mama ...." Mata sepasang kekasih itu terbelalak karena terkejut.
***Nakal siiiiih 🤣✌️
enjoy reading 😘
komen like jangan lupa ya, aku sedih kalo komennya dikit 😓***
__ADS_1