Sephia

Sephia
Mencari


__ADS_3

"Gimana De?" tanya Danar pada Made yang menelponnya saat ia baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


"Tetangga kost nya bilang gak tau, dia cuma bilang kalo Sephia tinggal di daerah Ciomas Bogor," ujar Made.


"Nama bapaknya? ibunya? nama lengkap adiknya? tau?"


"Udah aku tanya, dia bilang gak tau, dia cuma bilang bapak Sephia itu guru Matematika di SMA negeri di Ciomas ... saranku tunggu bagian HRD besok, Dan."


"Tapi De, sebisa mungkin jangan sampe banyak orang yang tau, orang HRD cukup Pak Putu aja dan kasih alasan yang masuk akal, ngerti?"


"Iya ... hhmm, motor udah aku bayar ya ... tadi nanya ke Ardi uangnya di suruh langsung transfer ke Sephia, aku tanya nomer telpon, Ardi juga bilang udah ganti katanya, Ardi gak tau," jelas Made lagi.


Danar menghela nafas, "Ya sudah, tolong di urus besok ya, inget jangan banyak orang yang tau, aku takut nama Sephia jadi jelek kalo kantor tau hubungan kami." Danar mengakhiri pembicaraannya.


"Siapa Sephia?" tanya suara wanita itu.


"Mama ...."


"Siapa Sephia?" tanya Mama Diana lagi.


"Sephia ... itu, eemm ...."


"Kamu kayak ABG yang ketauan pacaran Dan," sang Mama terkekeh. "Gak mau cerita sama Mama?"


"Nanti aja kalo Danar udah siap ... Danar ketemu papa dulu," ujarnya berlalu dari hadapan Mama Diana.


"Pa ...."


"Hhmm," jawab lelaki yang sebenarnya masih terlihat gagah jika setahun kemarin tidak terkena stroke.


"Gimana? kemajuan Papa sudah banyak kan?"


"Iya, kamu kenapa pulang?" tanya Pak Hermawan pelan masih dengan sedikit terbata.


"Danar ada urusan yang harus diselesaikan."


Pak Hermawan mengangguk angguk. Obrolan singkat antara ayah dan anak itu pun hanya membahas sekitar kemajuan perusahaan mereka.


...----------------...


"Hallo Mbok Ni Luh, apa kabar?" tanya Sephia saat menghubungi Ni Luh siang itu tepat di hari Senin.


"Phia," seru Ni Luh sambil berbisik, dia meloncat kesenangan.


"Lagi apa?"


"Biasa ... bikin laporan," ujar Ni luh, "Ini nomer kamu? aku save ya ... Phia, kata Ardi uang motor udah di transfer ke rekening kamu."


"Iya, tapi kayaknya Mas Ardi kelebihan transfer deh, itu banyak banget," ujar Sephia.

__ADS_1


"Mungkin yang beli suka warna motornya Phi, girly gitu kan, jadi dilebihin."


"Lagi banyak banget ya Mbok kerjaannya? aku kangen suasana riwehnya kita, Mbok."


"Biasalah ... kerjaan tiap hari ngecek in uang perusahaan tapi uang aku gak nambah-nambah " kekeh Ni Luh, namun mendadak dia terdiam ketika dia melihat Made berdiri di depan pintu.


"Surat resign aku udah di ajukan?"


"Sudah ... Phia, aku sudahi dulu ya, ada Pak Made," bisik Ni Luh memutus pembicaraan.


"Ada yang bisa di bantu Pak Made?" tanya Ni Luh.


"Ni Luh ikut saya ke ruangan," ujarnya.


Ni Luh menoleh pada Ardi, Ardi hanya mengedikkan bahunya. Ni Luh mengikuti Made dari belakang hingga masuk ke dalam ruangan lelaki itu.


"Duduk," ujar Made. "Kamu pasti tau kenapa saya panggil kamu kesini."


Ni Luh terdiam, dia sudah mulai membaca apa yang dimaksud oleh Made.


"Kamu tau kan, hubungan Pak Danar dan Sephia?" Ni Luh mengangguk. "Jadi saya harap kamu bantu saya."


"Apa yang harus saya bantu, Pak?"


"Saya baru dapat data pribadi dari HRD itupun gak lengkap, hanya ada alamat RT RW kabupaten dan kecamatan."


"Saya tau, makanya saya tanya kamu ... Sephia pernah kasih tau kamu nama Bapaknya, adik atau ibunya?"


Ni Luh menggeleng, "terus kamu temenan ngapain aja?"


"Hah? maksudnya?"


"Maksud saya, sedekat itu kamu berteman dengan Sephia tapi gak tau keberadaan dia sekarang ada dimana ... saya curiga kamu tutupi." Made seakan mengintimidasi Ni Luh agar mau bekerjasama dengannya untuk membongkar keberadaan Sephia dimana.


"Saya bener gak tau Pak, nomer ponselnya aja saya gak tau sekarang apalagi alamat rumah, daerah mana, nama seluruh keluarganya siapa ... saya kan bukan petugas sensus," jawab Ni Luh kesal.


"Kalo sampe saya tau kamu menyembunyikan sesuatu ... awas kamu!" ancam Made lalu mendekati Ni Luh. "Saya bakal kasih kamu hukuman berat." Lelaki itu berkata sambil berbisik membuat Ni Luh menegang.


Ni Luh bangkit lalu meminta ijin untuk kembali ke ruangannya, sementara Made hanya tersenyum tipis.


...----------------...


"Halo ... gimana De?" tanya Danar yang baru keluar dari gerbang rumah mengendarai mobil menuju apartemen Wulan.


"Ni Luh tetap bungkam Dan ... aku juga gak bisa maksa dia buat ngomong, takutnya malah gak dapet info sama sekali," ujar Made.


"Tapi alamat dari HRD ada?"


"Ada ... cuma ya itu langsung RT RW kabupaten kecamatan, gak ada nama jalan."

__ADS_1


"Kamu chat deh ke aku."


"Kenapa gak sewa orang aja buat nyari sih?"


"Ini bukan di novel-novel De, Sephia kayak buronan aja sampe kita nyewa orang ... aku masih ada waktu tiga hari di sini, aku cari sendiri aja, setidaknya aku harus tau dia tinggal dimana sekarang, biar perasaan aku lega."


Danar memandang jauh ke depan menikmati kemacetan sore ini, rencananya dia akan menjemput Wulan untuk mengenalkan wanita itu kepada kedua orangtuanya dan kakaknya.


Pagi tadi Wulan merengek ingin dikenalkan langsung pada orang tua Danar, dan Danar masih butuh waktu untuk mengiyakannya. Sayangnya, Wulan adalah wanita yang keras kepala dan nekat, dia berjanji akan datang sendiri jika hari ini tidak dikenalkan pada keluarga Danar.


Sampailah dia di lobby apartemen wanita itu, Wulan sudah menunggunya di sana, mengenakan dress sepanjang lutut berwarna merah marun, dengan lengan panjang dan membentuk lekuk tubuhnya.


"Sayang," ujarnya saat memasuki mobil Danar. "Kok lama sih?"


"Ada urusan," ujar Danar menyingkirkan tangan Wulan yang berada di atas pahanya.


"Kita beli apa dulu gitu ya, masa aku kesana dengan tangan kosong, kan mau kenalan sama calon mertua." Wulan membelai pipi Danar, dan itu membuat Danar merasa risih.


"Wulan,"


"Iya Sayang."


"Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan Sayang!"


"Salah?"


"Terasa asing di telinga aku." Danar tetap memandang lalu lalang kendaraan di depannya.


Wulan hanya mencebik, ini resiko yang harus dia ambil, tapi bagaimanapun hanya Danar yang tepat untuknya. Lambat laun Danar juga akan mencintai dia kembali.


"Dan tolong satu lagi, di depan orang tua aku tidak usah terlalu berlebihan." Tegas Danar.


Empat puluh menit perjalanan menuju rumah Danar diselingi kemacetan kota Jakarta di sore hari. Mobil itu memasuki pekarangan rumah yang cukup besar dan nyaman. Senyum sumringah di wajah Wulan terpancar dengan sangat indah.


Danar menunggu hingga Wulan mensejajari langkahnya masuk ke dalam rumah itu. Rumah itu terlihat begitu sepi, namun suara langkah kaki dari atas tangga menuju ke bawah pun sayup terdengar.


Wanita tua yang masih terlihat cantik itu pun melemparkan senyumnya pada Wulan. Melangkah mendekat pada Danar dan Wulan.


"Cantiknya ... Jadi ini yang namanya Sephia?" tanya Mama Diana pada Danar diikuti raut wajah Wulan yang berubah dari tersenyum dan terlihat bingung.


"Sephia?" Matanya menuntut penjelasan dari Danar.


***salah nama Tante...


haiii aku mau ucapin terimakasih buat kalian semua sudah mendukung Sephia hingga detik ini. Sephia berada di ranking 20 karya baru minggu ini, semoga pelan-pelan bisa naik ya. Ini semua berkat kalian 🙏 bantu Chida terus perlahan naik ke atas ya dengan karya ini.


makasih jempol likenya, komen" lucu kalian maaf belom aku bales satu-satu ya dan makasih atas bunga sekebon dan cangkir kopi itu, serta yang dengan suka rela memberikan vote nya buat karya aku... terimakasih banyak...


enjoy reading 😘***

__ADS_1


__ADS_2