
"Sayang ... Phia, kamu kenapa?"
"Perut aku sakit, mules banget ... bawa aku ke rumah sakit, Sayang ... sekarang!" Sephia begitu panik, dia tak mampu menyembunyikan rasa takutnya.
Danar melajukan mobilnya bak setan, melesat tanpa perduli makian dari pengendara yang lain. Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai di rumah sakit itu.
"Aku gendong?" tanya Danar saat membukakan pintu untuk Sephia.
"Gak usah Sayang, gak papa."
Sephia melihat wajah kecemasan pada Danar. Ia sama takutnya, takut terjadi apa-apa pada anak di dalam kandungannya. Sebisa mungkin Sephia singkirkan perasaan itu.
Seorang security dengan sigap menyediakan kursi roda untuk Sephia. Danar melangkah besar mendorong kursi itu untuk sampai di ruang IGD, menceritakan semuanya pada dokter yang berjaga di sana. Hingga akhirnya Sephia di rujuk langsung ke ruang praktek dokter kandungan mereka.
"Kita periksa ya," ujar dokter.
Pemeriksaan USG pun dilakukan, raut wajah sang dokter tak dapat di terka, Sephia merasakan ada sesuatu pada janinnya. Gimana Dokter?" tanya Sephia.
"Terdapat bercak ... ini dan ini," dokter menunjukkan layar di hadapan mereka. "Ibu, saya periksa melalui transvaginal ya ... suster tolong di bantu."
Dokter menunggu Sephia bersiap dengan di bantu seorang perawat. Sephia terkejut ketika dia membuka ********** menemukan bercak darah, wajah wanita itu semakin pucat dia takut yang dia rasakan akan terjadi. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara Danar masih terpisah dibatasi oleh tirai berwarna putih.
"Sayang," panggil Sephia.
"Aku di sini, kamu tenang ya," ujar Danar dari balik tirai.
"Sayang, ada darah," ujar Sephia panik.
Perawat membantu menenangkan Sephia, dokter kembali masuk saat posisi sudah siap, begitu pun Danar yang sesekali menghela nafas merasakan bagaimana istrinya meringis saat benda itu di masukkan ke dalam mulut rahimnya. Dokter memeriksa dengan seksama.
"Gimana Dok?" tanya Danar ikut duduk kembali sementara Sephia merapikan pakaiannya.
"Kita observasi selama satu minggu ya, kita lihat perkembangannya, darah yang keluar juga tidak banyak, saya berharap dia masih tetap berada di sana."
"Maksud Dokter?" tanya Sephia dengan mata berkaca-kaca, tangannya Danar genggam begitu erat.
"Bed rest adalah satu-satunya cara kita melihat perkembangannya di dalam sana, Ibu jangan stres, jangan melakukan kegiatan berat, cukup berbaring di tempat tidur, saya resepkan penguat kandungan dan beberapa obat serta vitamin untuk kelangsungan hidup janin Ibu, jangan lupa makan yang bergizi, mudah-mudahan dia kuat ya."
Hati Sephia merasa seperti tercabik, rasanya seperti tak dapat dia ungkapkan, bagaimana mungkin janin yang berada di dalam rahimnya sedang berjuang untuk hidup. Penyesalan luar biasa di hatinya. Beberapa kali dia menyeka air matanya, Danar membelai lembut punggung istrinya.
"Gak papa, dia kuat kok ... jangan banyak mikir yang aneh-aneh ya." Danar menenangkan lalu mereka beranjak pergi, membantu Sephia kembali duduk di kursi roda dan akan kembali dalam waktu satu minggu ke depan.
"Kamu mau kita opname di rumah sakit aja?"
"Di rumah aja, aku mau di rumah aja Danar," ujar Sephia sambil menangis.
"Iya kita di rumah, jangan berpikir yang macem-macem ya, kamu harus kuat biar anak kita juga kuat." Danar mendorong kursi roda itu sampai ke parkiran mobil.
Selama perjalanan, tangan mereka saling bertaut saling menggenggam saling menguatkan. Danar tak mengerti lagi bagaimana hatinya bisa menerima ini, ingin marah tapi tak bisa tak mungkin juga ia menyalahkan istrinya, yang harus ia lakukan sekarang adalah menguatkan Sephia.
__ADS_1
Hari berlalu, Danar tak pernah sedikitpun meninggalkan Sephia. Ketika mama serta ibu mertuanya mengetahui keadaan Sephia namun tak bisa datang di karenakan ayah Sephia yang saat itu sedang sakit, begitu juga dengan mama Diana yang harus mengurus pak Hermawan yang memang sudah tak bisa lagi di tinggal untuk waktu yang lama, mereka pun memakluminya.
"Butuh apa?" tanya Danar pada Sephia yang tidur menyamping menatap kolam renang di samping kamar mereka.
Sephia menggeleng, dia hanya diam. Seringkali Sephia berbicara pada janinnya untuk bertahan, darah yang keluar pun setiap hari selalu ada walau hanya sedikit. Nami menelponnya beberapa kali berusaha menguatkan Sephia, Nami juga sempat memberikan beberapa saran agar Sephia tetap pokus pada janinnya dan jangan terlalu stress.
"Makan ya?" tanya Danar lagi.
Pembicaraan mereka berdua pun tak seperti kemarin-kemarin, Sephia benar-benar merasa tak enak hati pada Danar atas apa yang menimpa anak mereka, meski Danar berkata jangan terlalu di pikirkan namun tetap saja Sephia merasa bersalah, ia melihat wajah kecewa pada Danar.
"Kenapa darahnya masih sering keluar walau sedikit?" tanya Sephia namun tatapannya nanar, "aku takut dia kenapa-kenapa, kita ke dokter sekarang aja, gak usah nunggu dua hari lagi." Pinta Sephia pada Danar.
Danar ikut merebahkan tubuhnya di belakang Sephia, dia mengecupi pundak wanita itu, melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya lalu menggapai tangan Sephia untuk di pegang dan ia bawa pada dada Sephia.
"Aku tau kamu takut," bisik Danar. "Aku tau perasaan kamu yang sesungguhnya, perasaan seorang ibu gak akan pernah salah tentang anaknya, kalo kamu ikhlas maka lepaskan dia ... aku masih butuh kamu, merelakannya pergi membiarkan dia bahagia di sana itu jauh lebih baik di banding kita mempertahankannya di sini tapi dia tersiksa, aku percaya feeling kamu Phia, semakin berat kita melepaskannya maka semakin hancur hati kita, aku yakin dia ...," ujar Danar meraba perut Sephia, "aku yakin anak aku akan lebih bahagia melihat kita bahagia di sini, Sayang ... maka relakanlah kalo kamu yakin dia sudah gak bisa kamu pertahankan."
Sephia menangis, menangis sejadi-jadinya, tubunya bergetar, rasa bersalah ini sangat menyakitkan. Dia menginginkannya namun jauh di lubuk hatinya mengatakan bahwa janin yang ia kandung sudah pergi, sudah lagi tak ada di sana. Ya, perasaan seorang ibu tak akan pernah salah.
Sephia membalikkan tubuhnya, ia menatap Danar, lelaki itu sudah meneteskan air mata. Keinginan kuat Danar untuk mempunyai seorang anak pupus begitu saja dan ini karena kelalaiannya. Namun suaminya itu dengan legowo melepaskan apa yang seharusnya menjadi milik mereka.
"Maafin aku," lirih Sephia, air matanya sudah tak lagi tertahan.
"Gak ada yang salah, Sayang. Ini hanya masalah waktu, kita belum siap," ujar Danar menghapus air mata istrinya. "Tuhan tau yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan ... tanpa meminta pun Tuhan sudah menyediakan untuk kita," ujar Danar dengan suara bergetar, mereka pun berpelukan saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
...----------------...
Sore itu tanpa menunggu harus satu minggu, Danar dan Sephia datang kembali ke rumah sakit. Sephia mengatakan jika darah masih sering keluar walaupun hanya berupa flek.
"Dengan terlepasnya plasenta dari janin Ibu bisa kita simpulkan jika janin tidak berkembang, karena tidak menerima asupan makanan yang Ibu berikan, saya turut berdukacita," ujar dokter kandungan.
"Itu artinya, janin saya memang sudah tidak bernyawa Dok," ujar Sephia berusaha tegar sementara matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, Ibu mengalami abortus spontan ... keguguran," ujar dokter pelan.
Danar merangkul pundak Sephia, lalu membawanya kepelukan. Perasaan mereka sama-sama sakit, anak pertama yang mereka inginkan memang benar-benar sudah pergi. Danar mengecupi pucuk kepala istrinya, menyeka air mata Sephia.
"Kamu udah janji sama aku, kita sudah merelakannya." Danar mengingatkan kembali, meski hatinya ikut hancur.
"Saya harus melakukan beberapa prosedur, Pak," ujar dokter lagi. "Karena janin masih di dalam, ada dua pilihan yang harus Bapak dan Ibu pilih, mengeluarkan janin dengan cara meminum obat hingga nanti janin akan keluar sendiri atau dengan cara kuretase, mengeluarkan janin dengan cara melebarkan leher rahim," jelas dokter.
"Saya ikut mana yang terbaik untuk istri saya saja Dok," jawab Danar.
Maka di pilihlah cara kuretase agar rahim kembali bersih dan tidak tersisa satu apapun yang nantinya akan menimbulkan penyakit. Sebelum di bawa ke ruang tindakan, Sephia bermalam di rumah sakit, guna proses sebelum kuretase yaitu di berikannya obat di dalam sana sehingga Sephia merasakan mulas seperti ingin melahirkan dan berproses selama delapan jam kurang lebih. Danar mengikuti proses itu, dia dengan setia berada di sisi sang istri.
Hingga pagi menjelang, Sephia sudah di siapkan untuk tindakan pembersihan rahimnya. Sephia di bius secara total, sementara dokter melakukan tugasnya, selang beberapa jam setelah pemulihan, Sephia kembali ke ruang rawat inapnya.
Betapa terkejutnya ia mendapati ibu serta mama mertuanya sudah berada di sana. Tangis haru mewarnai kamar itu, Sephia berusaha untuk tegar.
"Mama, Ibu ... Phia minta maaf belum bisa jaga cucu kalian," ujar Sephia.
__ADS_1
"Gak usah kamu pikirkan, sekarang kamu sehat dulu," ujar Mama Diana. "Waktu kalian masih banyak untuk memberikan kami cucu." Mama Diana menggenggam erat tangan menantunya.
"Sehat dulu, setelah semua berlalu nanti kalian pikirkan lagi kapan mau kasih Ibu sama Mama Diana cucu, kalo untuk sekarang Ibu ingin kamu sehat, Nak." Ibu Widya meneteskan air matanya.
"Sudah ... semua sudah lewat, anak kita ingin kita bahagia," ujar Danar membelai lembut rambut Sephia. "Kita hadapi ini bersama-sama, ada aku, ada keluarga kita semua akan kembali seperti dulu lagi, jangan berpikiran terlalu jauh," ujar Danar lagi.
Siang itu juga mereka sudah di perbolehkan untuk pulang. Mama Diana dan ibu Widya untuk beberapa hari akan tinggal di Bali sampai dengan Sephia pulih.
"Istirahat ya, kamu mau aku ambilin apa? buah?" tanya Danar, Sephia menggeleng.
"Aku gak mau apa-apa ... aku pengen kamu temenin aku di sini," ujarnya menepuk sisi di sebelah kirinya.
"Manja," ujar Danar mengukir senyum, Danar mendekatkan dirinya pada Sephia. "Kalo keguguran gini ada masa nifasnya gak ya?"
"Kenapa?"
"Gak papa nanya aja," kata Danar tersenyum tipis.
"Dokter bilang kalo bisa gak berhubungan badan paling lama satu bulan, terus kasih waktu rahimnya untuk recovery kurang lebih tiga bulan baru boleh di buahi lagi."
"Kok kamu jadi jelasin itu."
"Karena kamu udah nanya-nanya sih, pasti ngarahnya kesitu." Sephia terkekeh.
"Aku seneng liat kamu udah bisa senyum, udah bisa ketawa walopun gak banyak."
"Emang kenapa?"
"Karena selama hampir seminggu aku kayak nemenin orang yang gak aku kenal, senyum enggak, kalo di tanya geleng, di peluk gak respon," ujar Danar mengingat selama hampir seminggu ini dia diperlakukan seperti itu.
"Maaf ya, suasana hati aku bener-bener gak nyaman."
"Gak papa yang penting sekarang kamu sudah kembali lagi, dan anak kita sudah bahagia di sana apalagi liat ibu nya udah bisa senyum."
Danar menautkan bibirnya dalam, ia rindu Sephia, ia rindu istrinya. Pagutan itu di balas Sephia dengan lembut dan sama rindunya.
"Aku kangen kamu, Phi."
"Aku juga," jawab Sephia mengusap bibir Danar.
"Nanti kita buat lagi ya," ujarnya membawa Sephia kedalam pelukannya.
"Iya tapi harus sabar nunggu ya." Danar mengangguk, mengelus pipi Sephia lalu mereka memejamkan mata untuk sesaat hingga sore menyapa kembali.
***everything will be ok 😘 hidup gak melulu diuji tentang materi, tentang orang ketiga, tentang ****, bahkan tentang anak pun itu suatu ujian.
enjoy reading 😘
jangan lupa like komen kalian tinggalkan di tempat yang seharusnya...
__ADS_1
Chida ❤️***