
Umur Antara sekarang menginjak hampir dua bulan, perkembangan bayi itu begitu pesat. Tubuhnya mulai terlihat lebih padat dan berisi. Kesibukan Sephia mengurus suami dan anak benar-benar menyita waktunya.
Masih sering terbangun di malam hari jika Antara ingin menyusu atau dia harus membangunkan Danar jika Antara sama sekali tak mau tidur. Benar kata orang, tiga bulan pertama menjadi ibu itu luar biasa. Tubuh yang tadinya berisi dan segar bisa jadi terlihat kurus dan kurang tidur. Meski Antara tidak menangis namun seringkali bayi kecil itu terjaga hingga subuh menjelang.
Sore itu Danar mempercepat kepulangannya ke rumah, semenjak ada Antara diantara mereka Danar selalu pulang sebelum jam 4 sore. Seperti sore ini, Danar perlahan membuka pintu kamarnya. Ia melihat posisi tidur dua belahan jiwanya itu rasa ingin tertawa. Sephia tertidur dengan satu dada yang terbuka sementara Antara tertidur dengan posisi terlentang dengan kedua tangan berada di sisi kepalanya.
Inilah rumah yang sesungguhnya bagi Danar, mendapati gambaran seperti yang ia lihat sekarang baginya itu sangat merindukan. Dia kancingkan piyama Sephia lalu memindahkan Antara ke box bayi agar tidurnya lebih aman, lalu ia membaringkan tubuhnya di sisi Sephia.
Memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, ia tatap wajah lelah istrinya. Membawa Sephia kedalam pelukannya, sedikit membuat Sephia bergerak dan membuka matanya namun tetap meringsek masuk ke dalam dekapan Danar.
Pukul lima sore rumah itu kembali ramai dengan celotehan Danar yang sedang mengajak putranya berbicara, sambil memperhatikan Sephia yang sedang memakaikan baju Antara.
"Udah ganteng anak Bunda, tinggal nunggu Bunda sebentar ya setelah itu kita keliling-keliling Bali ya Ayah," ujar Sephia, Danar pun mengangguk.
...----------------...
Disinilah mereka di sebuah Mall berseberangan dengan pantai Kuta. Setelah mencari cemilan untuk stok di rumah dan perlengkapan bayi yang sekiranya sudah habis atau tinggal sedikit. Antara diam seakan menikmati perjalanannya mengikuti kedua orangtuanya.
"Gak papa Sayang, kita bawa Antara jalan-jalan umur belom tiga bulan?"
"Gak papa sih ... setau aku yang penting dia nyaman aja," ujar Sephia. "Inget mbak Wulan bawa Lintang umur dua minggu naik pesawat, dia santai aja."
"Ah, dia mah emang gak betahan di rumah, untung aja bisa ngurus anak sama suami."
"Kamu kalo ngomong mulutnya jahat banget sih," ujar Sephia meraup wajah suaminya.
"Pampers cukup segitu aja?" tanya Danar saat mereka sedang berada di rak tumpukan Pampers untuk Antara.
"Segitu aja deh ... keseringan pake Pampers kasian, suka ruam."
"Apalagi?"
"Udah itu aja ... kapas udah, tisu basah juga udah, apalagi ya?" Sephia sedikit berpikir.
"Yakin ya?" tanya Danar dan akhirnya Sephia mengangguk. "Susu untuk menyusui?" tanya Danar lagi. "Biar ASI melimpah," ujarnya usil dengan tersenyum nakal.
"Gak ... di rumah masih ada, udah yuk ... Sayang makan steak ya, aku laper."
Duduk di sebuah steakhouse di daerah Legian, Danar memesan tiga porsi steak kesukaannya dan Sephia.
"Kok tiga?" tanya Sephia.
__ADS_1
"Sama Antara ... jadi tiga." Danar menjawab asal, karena dia tahu kebutuhan nutrisi Sephia selama menyusui. Wanita itu akan makan dua kali dari porsi dia biasanya semenjak menyusui bayi kecil itu.
"Tau aja." Sephia tersenyum.
"Aku udah gak nge rokok lagi," ujar Danar menyuapkan potongan steak ke mulutnya.
"Pantes."
"Kok pantes?"
"Aku jarang cium bau-bau rokok di baju kamu hampir sebulan ini. Makasih ya," ujar Sephia membelai lembut pipi suaminya.
"Iya, kupikir juga sudah bukan saatnya lagi aku mentingin diriku sendiri ... ada kamu dan Antara." Danar mengecup kening Sephia.
"Sayang," ucap Danar.
"Iya."
"Akhir bulan kita ke Jakarta, mau?"
"Mau banget ... ini serius?"
"Iya, setelah kita nikah, kamu gak pernah pulang ke Purwakarta kan?" Sephia menjawab dengan anggukan.
"Mbok, akhir bulan ikut kita ya ke Jakarta," ajak Danar pada mbok Marni saat mereka sedang berada di dapur.
"Waduh ... saya takut Pak naik pesawat, kalo boleh saya di rumah aja ... bener saya takut."
"Padahal kita mau ajak Mbok jalan-jalan liat ibukota," ujar Sephia yang sudah berganti daster melangkah ke arah suaminya.
"Gak usah deh Bu, saya bagian jaga rumah aja ... bener saya takut naik pesawat." Mbok Marni mengulang-ulang perkataannya takut untuk naik ke pesawat.
"Ya udah kalo gitu, karena mbok Marni gak mau ikut berarti gak ada penyesalan ya," canda Danar.
Mbok Marni tertawa, dia memang benar-benar menghindari pergi keluar kota dengan pesawat, entahlah mungkin mbok Marni takut ketinggian.
"Antara sudah tidur?" tanya Danar memeluk istrinya dari belakang.
Mereka sedang berdiri di pinggir kolam, salah satu tempat favorit untuk sekedar berbincang sebelum beranjak tidur.
"Sudah ... kamu mau tidur sekarang?"
__ADS_1
"Kamu?"
"Aku masih mau di sini ... kamu mau?" tanya Sephia menyodorkan satu sendok salat buah ke arah Danar yang berada di belakang ceruk lehernya.
"Gimana gak ASI nya banyak ya Sayang, baru kelar makan A sekarang kamu udah makan B."
"Aku harus selalu siap amunisi Sayang," jawab Sephia.
"Termasuk malem ini, kamu siap juga?"Danar menyusuri leher istrinya.
"Gak malu di liat mbok Marni," kekeh Sephia.
"Makanya, ke kamar yuk ...." Ajakan yang selalu tak dapat Sephia tolak.
Dia menerima uluran tangan suaminya, berjalan beriringan. Sementara mbok Marni melihat pasangan itu lalu tersenyum, memilih untuk lebih baik langsung masuk ke kamarnya.
Danar memberikan kecupan selamat malam pada bayi kecil yang berada di dalam tempat tidur bayi itu.
"Dia ganteng ya, kayak aku." Danar mencium bibir Sephia.
"Ganteng banget kayak kamu ... makanya aku jatuh cinta," jawab Sephia melingkarkan tangannya di leher Danar.
"Sejak kapan?" tanya Danar.
"Sejak pertemuan kita di supermarket dulu, kamu main masuk antrian tanpa dosa, tersenyum tanpa melepas kacamata hitam kesayangan kamu itu," jelas Sephia mengenang pertemuan pertama mereka.
"Aku juga ... jatuh cinta sejak pandangan pertama sama kamu saat itu ... seakan semesta mendukung, kita dipertemukan lagi di kantor."
Danar mengulas senyum lalu mengangkat daster istrinya hingga lolos dari kepala Sephia, melemparkannya jauh ke sudut ruangan. Perlahan danar membuka semua pakaiannya, sepertinya dia sudah siap hari ini. Selama 40 hari lebih dia menunggu Sephia hingga semuanya benar-benar siap. Ini adalah minggu kedua setelah masa nifas, Danar selalu memberikan yang sentuhan terbaiknya hingga membuat Sephia melayang.
Direbahkannya tubuh Sephia perlahan, Danar mulai mengungkung tubuh istrinya. Sephia hanya bisa tersenyum dan menikmati setiap permainan suaminya. Danar sudah sangat hapal daerah-daerah dimana istrinya bisa menegang berkali-kali. Dan Sephia menikmati itu.
"Kamu tau," bisik Danar pada Sephia saat dia sudah memasuki tubuh istrinya dengan lembut
Sephia menjawab dengan sedikit mendesah, kala hentakan kecil Danar berikan.
"Kamu tau Sayang," ujar Danar mesra memberikan tempo pelan pada pergerakannya. "You're my home."
***enjoy reading 😘
jangan lupa like dan komen setelah membaca ... terimakasih masih setia menikmati kisah cinta receh dari pasangan ini, jangan bosen dulu yaaa... aku takutnya kalian malah kangen ketika kisah ini akan berakhir 😘
__ADS_1
Chida ❤️***